It'S Perfect

It'S Perfect
Seseorang Yang Menguasai Hati


__ADS_3

Setelah mendapat penanganan dari dokter, Via tersadar dan terlihat lemah. Matanya yang satu menyaou tidak sudut ruangan.


"Andi" Panggilnya hingga membuat Andi yang tengah melihat ke arah ponselnya segera mendekat ke arah Via.


Sementara Arga yang mendengar suara Via juga terus melihat ke arah Via dengan tatapan datarnya.


"Andi, aku mau kita pulang. Aku tidak betah ada disini, rasanya aku sangat ingin makan es krim"


"Huh, malam-malam begini Vi?"


Dengan tatapan memohon, Via mengangguki ucapan Andi. Memang seperti ini lah wanita hamil, bisa kapan saja ia menginginkan sesuatu. Seperti apa yang dialami eh Via kali ini, yang baru tersadar dari pingsan justru menginginkan makanan dingin seperti es krim.


"Tapi Vi, kamu baru aja pingsan. Ku jangan makan es krim dulu ya"


Via hanya menunduk, tanpa Andi duga saat itu Via menangis tanpa suara. Dan hal itu Andi sadari ketika melihat tetesan air mata tangan Via yang terlihat basah.


'Astaga, jadi Via nangis?tapi lebih baik besok saja aku bertanya pada dokter apakah dia bisa memakan es krim. Ini sudah terlalu malam, lagi pula aku tidak ingin via kenapa-kenapa jika aku ceroboh memberinya sesuatu tanpa berkonsultasi dengan dokter'


"Aku akan keluar mencari udara segar" Ucap Arga meninggalkan ruang rawat Via.


Setelah sekitar dua puluh lima menit Arga datang dengan sebuah paper bag ditangannya. Ia meletakkan paper bag tersebut dibalas di sebelah Via berbaring. Sementara Andi justru sudah tertidur, tanpa tau jika saat itu Via masih terjaga.


"Makanlah, setelah ini kau bisa tidur"


Via masih tidak membalas ucapan Arga. Ia justru membuang makanan tidak ingin menatap Arga yang berdiri di samping kanannya.


"Aku berbicara denganmu nona Via"


Seketika Via menoleh dan menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyum smirk.


"Kenapa malam ini kau berbicara sopan denganku tuan Arga?"


"Memang kapan aku tidak sopan dengan perempuan nona Via? "


"Ternyata kau orang yang pelupa ya tuan Arga, aku kira seseorang yang cerdas dan kaya raya seperti anda tidak bisa lupa"


Arga mengerutkan dahinya dan menatap lekat Via yang saat itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Sudahlah cepat makan ini, atu sebentar lagi es krim ini akan meleleh! Aku sudah bertanya dengan dokter yang menangani tentang ini, dan ini boleh untuk kau konsumsi nona Via"


"Aku tidak memintamu untuk memberikanmu es krim, jadi makanlah"

__ADS_1


"Kau yakin, baiklah. Kalau kau tidak mau aku akan makannya sendiri"


Arga mulai membuka paper bag yang berisi es krim rasa vanila dan cokelat, dimana kedua rasa tersebut adalah rasa kesukaan dari Via.


Arga membuka kemasannya dan memakannya tepat dihadapan Via.


Glek.


'Aku sangat menginginkannya, tapi aku tidak mau karena itu dari tuan Arga. Aku masih marah dengan ucapannya yang merendahkanku'


Dengan sengaja Arga memakannya dengan sangat menggoda bagi Via. "Kau yakin tidak ingin mencobanya?"


Ketika Arga ingin memakan es krim yang ada ditangannya, dengan segera Via meraihnya dan melahab sisa es krim yang sudah dimakan oleh Arga.


"Karena kau memaksa jadi aku memakannya tuan Arga. Lagi pula nanti kau bilang aku tidak sopan jika aku tidak memakannya." Via beralasan. Bahkan Via mengambil es krim yang masih ada di dalam paper bag.


Arga menahan tawanya, namun ia berusaha untuk tetap terlihat dingin di hadapan Via yang sesekali memakan es krim sembari melihat Arga yang menatapnya.


Arga membulatkan matanya ketika Via mengembalikan wadah es krim yang sudah kosong kepada Arga.


"Apa apaan ini? "


Mau tidak mau akhirnya Arga membuang nya keluar ruangan.


Dan ketika dirinya kembali kedal ruangan, ia mendapati Via yang yang sudah memejamkan matanya dan tertidur dengan pulas.


Gerakan tangannya yang tidak bisa ia kendalikan mendarat di bibir Via dan mengusap noda sisa es krim yang Via makan. Dan tanpa sadar Arga justru tersenyum melihat Via yang tidur dalam keadaan wajah yang cemong.


"Astaga, apa yang baru saja aku lakukan. Ingat Arga, perempuan yang pantas untukmu adalah Kesya, bukan Via! "


Kini Arga mengingatkan dirinya kembali, yang entah ia sadari atau tidak bahwa hatinya justru tertuju kepada Via, bukannya Lesya.


Sementara itu Dita yang tengah bersama dengan Dylan pun terkejut ketika mendengar Saga yang hilang.


"Kenapa bisa Saga menghilang kak Dylan?"


"Aku belum tau pasti Dita, tapi ada kemungkinan jika ini sudah direncanakan!" Balas Dylan.


"Apa, direncanakan? "


"Ya, dan aku curiga hal ini berkaitan dengan bisnis yang di jalani oleh Saga. Karena yang aku tau saat ini coffee shop miliknya maju sangat pesat"

__ADS_1


Ketika Dylan berhenti berbicara, ia menyadari bahwa kini Dita justru sibuk dengan lamunannya sendiri. Dengan segera Dylan menyentuh lengan Dita untuk menyadarkannya dari lamunannya.


"Eh kak Dylan"


"Kamu mikirin Yoo joon yang saat ini bersama dengan Lesya?"


"Huh, enggak kok kak"


"Kamu jangan berbohong Dita, aku tau kalau kamu dan Alden tidak sungguh-sungguh dengan hubungan kalian"


Ucapan Dylan memang benar adanya. Entah sampai kapan Dita akan terus berpura-pura menjalin hubungan dengan Alden yang kini mulai dekat dengan Kenan.


Dita menarik nafas dalam-dalam kemudian duduk di teras rumahnya. Dan diikuti dengan Dylan yang duduk disebelahnya.


"Apa kak Yoo joon akan tetap lupa sama aku ya kak? Dan bagaimana aku bisa menjelaskan hubunganku dengan Alden jika kak Yoo joon sendiri bahkan tidak mengingatku sedikitpun" Dita tertunduk lesu.


"Aku yakin Yoo joon akan mengingatmu kembali Dita, dan berikan penjelasan kepada Kenan dengan perlahan" Dylan menenangkan Dita dengan mengusap pundaknya lembut.


"Tapi, aku rasa kak Yoo joon tidak akan mengingatku karena yang aku tau kak Yoo joon dari dulu sangat memperdulikan mba Lesya. Bahkan aku merasa mba Lesya adalah seseorang yang menguasai hati kak Yoo joon kak"


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? " Tanya Dylan penuh selidik.


"Aku tau ketika kak Yoo joon menatap mba Lesya kak"


"Yang aku tau itu hanya masalalu. Dan kamu ingat Dita, apa yang membuatnya kecelakaan kan? "


"Dari cerita mba Lesya ketika memarahiku, sepertinya itu karena kak Yoo joon salah paham kak Dylan"


"Jadi, kau harus jelaskan setelah Hoo joon mengingatmu kembali" Dita mengangguki ucapan Dylan dan tersenyum tipis.


"Ya sudah Dita, aku harus segera ke bandara untuk menyusul mereka"


Selang beberapa jam Dylan tengah sampai di kita tujuannya. Disana ia segera menuju hotel dimana Yoo joon sudah memberitahukannya.


Ketika Dylan sampai di daerah dekat hotel tersebut, ia melihat Dikta bersama dengan Alden begitu akrab yang bahkan Alden tertidur di pangkuan Dita yang tengah sibuk mengutak-atik laptop miliknya di bawah pohon rindang dimana letaknya tidak jauh dari hotel yang ia tuju.


Dylan mengernyitkan dahinya, namun ia tidak menganggap hal itu serius. Melainkan Dylan hanya berpikir jika Dikta dan Alden sperti itu karena sudah berteman sangat lama.


.


. Bersambung

__ADS_1


__ADS_2