It'S Perfect

It'S Perfect
Hangout


__ADS_3

Saga semakin mendekat ke arah lemari yang ada dihadapannya. rasa penasarannya begitu membuncah saat melihat pintu lemari yang terkunci.


"kamar..kamar gua! ni lemari pasti lemari gua kan? kenapa pakek di kunci segala?"


Saga pun segera mencari kunci lemari di laci nakas. setelah cukup lama Saga mengorek-ngorek laci, akhirnya ia menemukan kunci yang teoat untuk lemarinya.


klek


krek..


satu benda yang benar-benar menyita perhatiannya. Saga tertegun ketika melihat bingkai foto yang bergambar dirinya begitu tertawa lepas dengan Lesya yang ada dipelukannya.


"apa gua bener-bener sebahagia ini sama mba Lesya?" netra Saga kembali menemukan sesuatu yang sangat ingin ia lihat, sebuah berkas yang ada di amplop medis.


perlahan Saga membuka amplop tersebut, ia mulai membacanya dan menemukan nama Lesya yang tertera diatas kertas yang ia baca. sontak kedua bola matanya membulat sempurna.


"mba Lesya pernah keguguran? dan ini, beneran nama gua tertera sebagai nama suaminya?" Saga memijat kepalanya yang terasa pening.


tok tok


mendengar ketukan pintu dari luar kamarnya, ia segera menutup kembali lemari dan mengembalikan kuncinya kedalam laci nakasnya. ia segera bergegas untuk membukakan pintu kamarnya.


"eh bibi, kenapa bi?"


"aden di panggil sama tuan dan nyonya disuruh kebawah den!" ucap asisten rumah tangga.


"oh oke bi, Saga bentar lagi turun."


"baik den, kalo begitu bibi permisi"


ucapan asisten rumah tangganya hanya dengan anggukan kepala sembari menyunggingkan senyum tipisnya.


ketika Saga sampai di ruang tengah, ia tidak mendapati siapapun berada disana. ia lalu mendengar suara di ruang tamu yang cukup bising. dan ketika ia pergi ke ruang tamu, ia menemukan Lesya dan tuan Guntara yang membawa koper cukup besar.


"Saga cepet kesini sayang istri kamu mau ke rumah omanya, kamu gak mau nganterin sampe depan?" ucap nyonya Darmawan.


entah karena apa Saga kali ini tidak membantah ucapan ibunya. padahal setiap siapapun membahas tentang Lesya, ia akan membantahnya ataupun mengalihkan pembicaraan.


"hati-hati om, mba Lesya" itulah kata terakhir yang diucapkan Saga sebelum istrinya dan ayah mertuanya peegi. cukup lama Saga beridiri sembaribterung menatap mobil yang membawa Lesya hingga sudah tidak terlihat.


Saga lalu menyusul keluarganya di ruang makan bersiap untuk sarapan. pasalnya Lesya yang tidak ingin tertinggal pesawat, ia tidak sempat untuk sarapan. dan baru sekarang keluarga Saga bisa memulai aktivitas sarapannya yang visa dibilang sedikit siang terlambat dari jam sarapan biasanya.


"emm mi, apa Lesya akan lama di rumah omanya?" Saka telah membuka membuka pembicaraan.


sebenarnya apa yang ditanyakan oleh Saka adalah hal yang ingin di tanyakan oleh Saga. namun karna gengsi yang terlalu tinggi, Saga enggan untuk menanyakan hal tersbut. ia tidak ingin di anggap menyukai Lesya karena apa yang ingin ia tanyakan.


"entahlah sayang, mungkin saja akan lama. karna yany mami tau, oma Lesya tidak akan mengizinkan Lesya pulang cepat ke indonesia!"

__ADS_1


"pulang ke Indonesia? emangnya rumah omanya mba Lesya dimana mi?" kali ini Saga tak tahan untuk bertanya. pasalnya yang ia kira Lesya hanya pergi ke rumah neneknya yang ia tau hanya di sekitarannya saja.


"rumah omanya Lesya ada di korea sayang, apa kamu lupa? dulu waktu kecil kamu dan Saka sering berkunjung kesana kan?"


"tapi yang Saga inget omanya mba Lesya itu udah meninggalkan mi?"


"sayang, memang omanya Lesya ada yang meninggal. tapi itu oma dari papanya Lesya, kali ini yang ia datangi adalah orangtua dari maminya sayang!"


"kenapa mami gak bikin kesempatan ini buat deketin Saga sama Lesya? dengan Saga ikut Lesya kesana mungkin saja ingatannya akan pulih" celetukan dari Ella membuat Saka tidak suka. namun ia tidak bisa menyela ucapan istrinya dihadaoan orangtuanya dan adiknya.


"mami sudah berpikir kesitu sayang, tapi Lesya melarang mami. dia tidak ingin Saga merasa tertekan dan akan berdampak buruk dengan kesehatannya, jadi dengan terpaksa mami menuruti Lesya!"


"itulah yang papi suka dari Lesya! dia tidak pernah mementingkan kepentingannya sendiri. padahal jika saja ia egois, pasti dia akan mengiyakan saran dari mami. tapi ini dia justru lebih mementingjan kesehatan Saga dari pada perasaannya!" ucap tuan Darmawan dan kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya perlahan.


sementara itu Saga hanya terdiam sembari menghabiskan makanannya. setelah usai dengan makanannya, ia bergegas keluar rumah. Saga mulai melajukan motornya dalam kecepatan sedang.


disepanjang jalan ia masih memikirkan ucapan dari kedua orangtuanya tentang Lesya. "bahkan mba Lesya gak maksa gua buat ikut dia kesana, apa gua bener-bener salah menganggap mba Lesya itu buruk!"


drrttt drrttt


tiba-tiba saja ponselnya berdering, Saga segera menepikan kendaraannya kemudian mengangkat panggilan yang masuk diponselnya.


"iya Yora, ada apa?"


"sayang kamu kenapa si beberapa hari ini gak bisa diajak jalan? kamu kan udah janji waktu itu!" dari suaranya, Liyora terlihat sangat kesal terhadap Saga.


"iya tapi kan anak mami kamu itu bukan cuma kamu Saga, kak Saka kan juga bisa nemenin tante Lisa di rumah sakit!" ketus Liyora.


"oke.. oke.. sekarang kamu berhenti ngomelin aku. sekarang aku jemput kamu buat hangout!"


"kamu gak perlu jemput aku, sekarang kamu langsung ke mall deket rumah aku ya, aku adah disini!"


Saga mengakhiri sambungannya dengan Liyora dan segera pergi menyusul Liyora yang sudah menunggunya disalah satu mall terbesar di kota tersebut.


setelah membelah jalanan yang padat lalu lalang pengendara dan pejalan kaki, akhirnya Saga telah sampai di temoat yang ia tuju. disana ia sudah melihat Liyora yang sudah menunggunya.


Liyora lalu menghambur kepelukan Saga. ia begitu nyaman tanpa memikirkan orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya yang terus menatap mereka berdua.


"udah dong Yora, gak enakkan diliyatin orang-orang!" Saga lalu memundurkan badannya agar tidak terlalu dekat dengat Liyora.


"iya abisnya aku kangen tau Saga! kamu susah banget di ajak jalankan?"


"iya ya udah ayok, kamu mau apa sekarang?"


"aku mau kita cari baju di butik langganan aku okey?" Saga pun menuruti ucapan Liyora.


"sayang ini bagus gak buat aku?"

__ADS_1


"apapun yang kamu pakek semuanya pasti bagus Yora!"


"okey, kalo gitu aku ambil semuanya ya Saga?"uacapan Liyora kembali di angguki oleh Saga dengan senyum diwajahnya.


seusai berbelanja semua pakaian Liyora, kini mereka berjalan dengab terus bergandengan. hingga,


"Saga.." Sapa seorang wanita seusia ibunya.


Saga hanya tersenyum bingung melihat seseoang dihadapannya. wanita itu lalu mendekat dan menatap Liyora dengan raut wajah yang terlihat heran.


"bagaimana dengan mami kamu Saga, apa sudah membaik?"


"oh udah tan, mami udah baikan!"


"oh syukurlah, dan mami kamu sangat beruntung ya Saga, menantunya selalu merawatnya dengan sangat baik! kalau saja waktu itu aku memiliki anak laki-laki sudah tante pastikan nak Lesya untuk jadi menantu tante. ya sudah ya Saga, tante titip salam sama mami kamu." setelah mengatakan banyak hal wanita tersebut pergi meninggalkan Saga bersama dengan Liyora.


"cckk.. reseh banget si tu ibu-ibu, pakek bahas Lesya segala!"


"udahlah Yora, lebih baik kita lanjut kesana"


setelah seharian menemani Liyora, Saga memutuskan untuk pulang kerumahnya. ia membatingkan tubuhnya di atas sofa diruang tengah.


ting


denting ponsel membuat Saga segera melihat layar ponselnya.


Sayang, hari ini mami sama papi nginep dirumah kakak kamu ya. kamu kalo mau makan suruh bibi aja buat masakin kamu ya~


"jadi mami dirumah kak Saka?"


entah kenapa tiba-tiba Saga teringat saat Lesya begitu telaten mengobatinya.


"lu lagi apa disana mba Lesya? apa lu disana juga masak kaya waktu disini?"


tanpa menyadari ucapannya, Saga terlihat begitu merindukan kehadiran Lesya disisinya yang sering ia abaikan.


💜💜


"mungkin ini jalan satu-satunya, gue harus ikut saran daei Liyora buat pertahanin rumah gue!"


langkah kaki Friska berhenti disebuah klub malam yang banyak sekali dipenuhi oleh para lelaki hidung belang.


.


.bersambung


.

__ADS_1


__ADS_2