
Lesya terus bercerita dengan Dylan, hingga ia tidak menyadari waktu sudah malam. dan setelah kepergian Dylan, Lesya pun bergegas. untuk segera pulang kerumahnya.
ketika Lesya baru membuka pintu rumahnya, ia mencium bau harum dari masakan. ia pun mengikuti aroma yang menarik indra penciumannya. saat itu ia melihat Saga yang tengah memasak sesuatu didalam sana.
"Saga?"
"hai mba Lesya, baru pulang?"
"hemm.." Lesya menyapu pandangannya keseluruh ruangan.
"cari siapa mba?"seakan tau yang aada di dalam benak Lesya, Saga pun menanyakan hal itu.
"dimana semuanya Saga? dan kenapa kamu masak, kenapa kamu gak nyuruh bibi buat masak?"
"emm mami papi lagi ketempat sodara di luar kota mba, dan mami ngajakin semua art kita kecuali tukang bersih-bersih. mba Lesya tau kan kalo yang tukang bersih-bersih pulang setiap selesai sama kerjaannya?" Saga yang masih sibuk memasak, iapun menjawab Lesya dengan mata yang tertuju keteflon yang ia gunakan untuk memasak.
"kenapa mami gak bilang sama aku?"
"kayaknya mendadak deh mba, soalnya gua lihat mereka buru-buru tadi-"
"argghh.." karena sedikit meleng, Saga tidak sengaja menyentuh bagian teflon yang panas. seketika Lesya langsung mendekat ke arah Saga.
Lesya mematikan api kompor dan setelah itu Lesya membawa Saga ke kran air untuk membasuh tangan Saga yang terkena panas. saat Lesya fokus membasuh tangannya, Saga justru memperhatikan wajah Lesya yang terlihat cemas.
'lagi cemas aja bikin gemes apalagi kalo lagi senyum' Saga terus menatap Lesya meskipun tangannya masih sakit, ia tidak merasakan sama sekali.
saat itu Lesya menatap Saga yang berada di sampingnya. "kamu duduk, akan aku oleskan salep biar lukanya gak memburuk."
Saga hanya menuruti setiap ucapan Lesya, ia terus memperhatikan kemanapun Lesya bergerak. ia seperti dihipnotis yang terus mematuhi setiap kata yang keluar dari mulut Lesya.
"arghh.. kenapa salepnya dingin banget ya mba?" Lesya hanya menyunggingkan senyum tipisnya menanggapi ucapan dari Saga.
"udah selesai, sekarang kamu tetap disini biar aku yang lanjutin masak."
Saat itu Lesya melihat meja dapur yang berantakan karena ulah dari Saga. ia memijat keningnya yang tak pusing. "Saga, kenapa kamu masak begitu banyak? apa kamu bisa ngabisinnya?"
"iya gua sengaja masak banyak, karena aku mau nebus yang semalem mba!"
mendengar hal itu, Lesya mengerutkan dahinya. kemudian ia menatap Saga dengan penuh tanya.
__ADS_1
"iya gua mau kita makan malam berdua malam ini mba Lesya!"
perlahan Saga mendekat ke arah Lesya. ia mulai memegang spatula yang saat itu ada ditangan Lesya. perlahan ia mulai menggerakkan spatula masih dengan tanga Lesya yang juga ia genggam.
Saga berdiri dibelakang Lesya yang terkesan seperti memeluknya, saat itu perasaan Lesya menjadi naik turun. Lesya kemudian menatap wajah Saga yang begitu dekat dengannya. karena menyadari Lesya memperhatikannya, Saga pun berbalik menatap Lesya.
deg
'aduh ni jantung gua rasanya mau loncat. kenapa mba Lesya cantik banget kalo lagi masak'
saat itu tangan Saga menyibak helai rambut yang ada di wajah Lesya. sontak hal itu membuat suasana canggung. "eghem, gua tunggu disana ya mba"
"i-iya Saga, ini sebentar lagi juga siap"
selang beberapa saat kini semua hidangan sudah tertata di atas meja makan. saat itu Lesya mengambilkan makanan untuk Saga, mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama, hingga hidangan penutup.
seusai menghabiskan makanan, Lesya hendak mencuci piring di dapur. namun saat itu tiba-tiba listrik padam. "Aaa...."Lesya berteriak dan membuat Saga panik.
Saga menyalakan lampu yang ada di ponselnya. saat ia mencari keberadaan Lesya di dapur ia tidak menemukannya. namun saat Saga hendak bergegas mencari ketempat lain, netranya menemukan sesuatu yang membuatnya penasaran. dan benar saja, yang baru saja ia lihat adalah Lesya tergeletak dilantai dalam keadaan pingsan.
"mba Lesya.." Saga memangku kepala Lesya, ia menepuk-nepuk pipi Lesya pelan. karena Lesya yang tak kunjung sadar, akhirnya Saga mengangkat tubuh Lesya untuk ia bawa kedalam kamar Lesya.
sesampainya didalam, Saga membaringkan Lesya di atas tempat tidur. ia menggosok punggung tangan Lesya yang terasa dingin. saat itulah Lesya tersadar. dengan lampu yang hanya penerangan ponsel membuat Lesya masih ketakutan.
"gua disini mba Lesya. mba Lesya jangan takut okey.."
Saga lalu duduk disamping Lesya 'ga papa lah ya gua nemenin mba Lesya di kamar. lagi pula gua kan suaminya, jadi gak mungkin ada yang marahain suami yang nemenin istrinya ketakutan'
"minumlah ini, supaya mba Lesya lebih tenang."
setelah Lesya meminum air putih dari Saga, saat itu Saga meletakkan kepala Lesya untuk bersandar di bahunya hingga Lesya terlelap. "tidurlah mba Lesya, gua bakal jagain lu, lu gak perlu takut"
Saga mengusap lembut rambut Lesya agar Lesya merasa aman dan nyaman. selang beberapa menit akhirnya listrik kembali menyala. saat itu mata Saga terus menatap Lesya yang tengah terlelap.
'ada apa sama perasaan gua? kenapa gua nyaman banget berada dideket mba Leysa kayak gini? dan setelah gua mengenal mba Lesya, kenapa dia gak seburuk seperti apa yang gua pikir selama ini?' Saga terus bermonolog didalam benaknya, tanpa ia sadari Sagapun terlelap dengan tangan yang terus menenangkan Lesya.
-
sinar matahari yang masuk lewat celah jendela membangunkan Saga, saat itu ia ingin membangunkan Lesya yang masih terlelap. "ah gua gak tega buat bangunin mba Lesya. akhirnya Saga ingin membenatkan posisi keoala Lesya untuk ia letakkan diatas bantal, namu saat itu ia terjingkat.
__ADS_1
"astaga, lu demam mba Lesya"
karena tidak ada anggota keluarga yang ada di rumah selain mereka berdua, akhirnya Sagalah yang merawat Lesya.
Saga mulai mengompres Lesya, dan setelah ia melakukannya beberapa kali Saga memutuskan untuk mencari obat di apotik terdekat dari rumahnya.
Saga terlihat sangat buru-buru dan panik, hingha ia membuka pintu kamar Lesya dengan tergesa-gesa.
Saga mengecek suhu badan Lesya yang belum juga turun.
"ini kenapa panasnya gak turun-turun si, apa gua bawa mba Lesya ke rumah sakit?"
Saga hendak mengangjat tubuh Lesya, namun saat itu Lesya mencekal lengan Saga. "Saga.." perlahan Lesya membuka matanya yang sayu. ia menatap Saga dalam-dalam.
"akhirnya lu sadar juga mba.. ayo kita ke rumah sakit sekarang!"
"gak perlu Saga.." dengan suara paraunya ia berusaha bangkit, dan Saga pun membantu Lesya untuk bersandar dikepala ranjang. "aku hanya takut, tapi sekarang aku suda tidak takut. dan kamu bisa peegi ke sekolah Saga!" titahnya dengan suara yang sangat lemah.
"enggak, gua mau rawat mba Lesya."
"tapi Saga-"
"gak ada penolakan" potong Saga.
"tapi sekolah kamu Saga"
"gak perlu mikirin itu, sekarang yang penting itu kesehatan mba Lesya okey.."
'kenapa kamu bersikap seperti Saga? jika seperti ini aku akan semakin sulit buat relain kamu sama Liyora' bagai tersayat pisau, Lesya menahan rasa yang begitu menyakitkan hingga tanpa ia sadari air matanya lolos begitu saja.
"mba Lesya kenapa nangis? apa ada yang sakit? kalo gitu ayo kita ke rumah sakit sekarang!" Saga begitu mencemaskan keadaan Lesya.
namun Lesya langsung memeluk erat Saga dan membuat Saga mematung "tolong tetap seperti ini sementara waktu Saga. aku hanya ingin mempunyai kenangan manis yang bisa membuatku tersenyum saat kita sudah berpisah"
hati Saga mencelos ketika mendengar permintaan Lesya, yang jujur membuatnya merasa seperti dihantam batu beton didadanya dan merasakan sesak yang tidak bisa dijelaskan.
.
.
__ADS_1
.bersambung
.