
Via masih tercekat mendengar perkataan Andi. Meskipun saat ini mereka masih tidur didalam kamar yang terpisah, Andi memutuskan untuk tidak megakhiri pernikahannya dengan Via.
Ketika melihat jarum jam, Via membelalakan kedua netranya. Dimana disana terlihat jelas sudah pukul 1 dini hari.
"Kenapa masih gak bisa tidur si? Jangan GR Via.. Andi cuman bilang dia gak terpikir soal perpisahan, bukan berarti dia bakal cinta sama lo. Jelas-jelas saingan lo itu seorang CEO yang cantiknya setara dewi pinternya diatas rata-rata. Lo gak ada seujung kukunya tau Vi" Via kembali mengingatkan dirinya untuk tidak terlalu percaya diri.
Setelah berusaha untuk tidur akhirnya Via tertidur pukul 4 pagi, dan ketika alarm ponselnya berdering ia masih belum tersadar.
Sementara Andi saat itu yang sudah bersiap untuk pergi ke kantor, ia terus melihat pintu kamar Via yang belum terbuka.
"Apa Via belum bangun?" Andi menghampiri pintu kamar Via, saat itu ia mulai mengetuk beberapa kali hingga ketukan yang kesekian kali Via membuka pintu kamar. Namun saat itu Andi tidak menyadari pintu sudah terbuka karena ia tengah melihat ke arah jam tangannya.
"Auh..." Via mengusap dahinya yang terkena tangan Andi hingga memerah.
"Lo gak papa kan Vi? Sini ikut gue duduk!" Andi menyibak poni yang menutupi dahi Via yang tidak sengaja terkena pukulannya. Dan benar saja, dahinya memerah dengan lembut Andi mengusapnya dan meniupnya.
Dag dug dag dug
'Mati gue, kalo sampek Andi denger detak jantung gue bisa tengsin ni gue'
"Vi, lo sakit?" Via hanya menggeleng.
"Tapi lo keringet dingin, lo juga pucet banget?"
Andi memeriksa leher dan kening Via hingga membuat desiran yang berbeda yang dirasakan oleh Via.
"Emm gue gak pa-pa kok Andi. Ya udah gue mau siap-siap soalnya gue semalem gak bisa tidur makanya gue kesiangan" tanpa mendengar persetujuan Andi, Via sudah berlari ke dalam kamarnya kembali.
Selang 30 menit Via keluar dari kamarnya lengkap dengan pakaian kantornya. Dan saat itu ia melihat Andi yang sudah duduk dimeja makan dengan dua porsi nasi goreng.
"Sarapan dulu Vi"
"Jadi lo masak Ndi?" Andi mengangguki ucapan Via dan mereka segera menyantapnya. Disela acara makan, Andi memulai pembicaraan.
"Emm.. untuk yang semalem lo jangan pikirin itu ya Vi! Itu cuman prinsip gue aja, gua gak mau ngebebanin lo. Karna gue tau kita nikah cuman buat nyenengin nenek, dan karena nenek udah gak ada gue gak mau paksa lo buat stay sama gue."
Via masih belum mengatakan apapun, ia masih menyuap makanan kedalam mulutnya.
"Ya walaupun kita gak saling cinta, gue tetep mau bertahan. Karna prinsip gue, nikah itu sekali seumur hidup. Tapi.. gue bakal ngubah prinsip gue yang ini. Karna apa? karna gue gak mau ngancurin lo stay sama gue dengan terpaksa. Gue tau lo pasti punya impian buat pernikahan lo sama orang yang lo cinta"
"Dan gue cuman mau pastiin aja, kalo lo mau stay atau.." Andi tidak melanjutkan perkataannya. Saat ini ia hanya menatap dalam kedua netra Via.
"Okey, karena lo udah mulai bahas hal ini, gue juga akan ngutarain apa yang mau gue omongin." Via mulai mengatur nafasnya. "Mungkin kita memang menikah bukan karena cinta, gue juga sependapat sama lo Andi."
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Ya gue setuju soal menikah sekali seumur hidup, jadi lebih baik kita jalani aja dulu pernikahan ini. Selanjutnya kita serahin sama Tuhan. entah kita berjodoh atau tidak." Sambungnya lagi dengan mengulas senyum tipis diwajahnya.
Andi pun tersenyum dengan mencubit hidung Via hingga memerah. "Ini sahabat gue jadi lebih dewasa ya sekarang"
"Dewasa si dewasa, tapi gak pakek nyubit kali Ndi.." Via mengerucutkan bibirnya.
Seusai acara sarapan, Andi dan Via berangkat bersama. Namun ketika diperjalanan Andi mulai lagi pembicaraan.
"Oh ya Vi, lebih baik kita tidak mengatakan apapun dulu soal pernikahan kita. Dan tentang pak Yoo joon, gue udah bilang buat jangan mengatakan apapun tentang hubungan kita"
Deg
Entah kenapa rasanya seperti disayat-sayat mendengar Andi meminta untuk merahasiakan hubungan mereka.
"Eghem.. memang apa alasannya?"
"Gue gak mau jika nanti seseorang yang spesial buat lo jauhin lo karna dia tau lo nikah sama gue. Dan gie gak mau jadi penghalang, seperti yang lo bilang jika Tuhan berkehendak kita pasti akan bersama!"
Via hanya tersenyum getir mendengar apa yang diucapkan oleh Andi. Via merasa setelah menerbangkan perasaannya dalam sekejap Andi menjatuhkannya begitu saja.
'Selain itu gue juga tau alasanya Andi. Gue tau gue bukan oramg yang lo mau, emang gur gak bisa sehebat bu Lesya, jadi pantes kok lo berpendapat kaya gitu'
"Pagi bu Lesya, pagi pak Saga" sapa Andi dan Via bersamaan dan berlalu pergi setelah mendapat jawaban dari atasannya.
Sementara itu Saga justru menarik Lesya kedalam dekapannya. Sontak hal itu membuat Lesya melihat sekeliling. "Saga.. ini kantor!"
"Mba istri ini galak banget si.. aku ini suami yang mau pelul istrinya sama calon anaknya lo, masa gak boleh?"
"Iya tapi ada tempatnya Saga"
"Eghem..pagi semuanya"
Seketika Saga dan Lesya menoleh ke arah sumber suara. Dan ketika melihat kedatangan orang tersebut, Lesya menautkan kedua alisnya begitupin dengan Saga.
"Dylan, kenapa kau mengajak mereka?"
"Oh ya Lesya, aku baru ingin memberitau kalo kita saat ini menjalin kerja sama dengan tuan Arga"
"Tapi kenapa kamu tidak meminta persetujuanku Dylan?"
"Aku ingin, tapi kamu saat itu sakit jadi lebih baik aku menerimanya dulu untuk kerja sama yang untungnya bisa dikatakan sangat besar."
__ADS_1
"Tapi Dylan-"
"Ingat Lesya, jangan campur adukan bisnis dengan masalah pribadi." Dylan lalu mendekat ke arah telinga Lesya "bahkan kita harus berteman dengan musuh kita kan Lesya, dengan begitu kita tau pergerakan seperti apa yang akan mereka lakukan" lirihnya.
Akhirnya Lesya mengangguki ucapan Dylan dan mempersilahkan semuanya keruang meeting.
"Sayang, aku harus pergi ke coffee shop. Kamu jaga diri baik-baik, dan jangan lupa jaga calon anak kita" ucap Saga sembari mengusap lembut perut Lesya dan berlalu pergi.
Dylan yang mendengar hal itupun sempat terkejut. "Kamu hamil Lesya?"
Lesya tersenyum dan mengangguk perlahan. "Oh ya Dylan, dimana Joonie?"
"Dia sedang ada urusan Sya"
Dan kini semuanya sudah berada diruang meeting. Saat itu Lesya menyuruh Via untuk membawakan sebuah berkas yang tertinggal. Memang hal itu adalah pekerjaan Andi, namun Andi tidak bisa melakukannya karena sedang meninjau tempat yang akan mereka gunakan untuk projek selanjutnya.
Tok tok
Kedua netra Doni terus menatap kedatangan seseorang yang baru saja mengantarkan sebuah berkas. Dan setelah berkas diantar, mereka tengah memulai meeting.
Selang satu jam lebih mereka usai menjalani meeting. Doni pun segera pergi dan mencari keberadaan orang yang ia lihat sewaktu dirinya memulai meeting.
Dan langkah kakinya berhenti tepat didepan meja Via. "Permisi nona"
"Iya"
"Apa kau ini orang yang tengah berlari ketika berada di apartemen xx malam itu?"
Via lalu mengingat-ingat kejadian malam membuatnya malu. "Ah iya, apa anda orang yang ada di basement waktu itu?"
Doni mengangguk dan mengulurkan tangannya. "Perkenalkan aku Doni, asisten pak Arga"
Dengan segera Via menerima uluran tangan Doni dan menyebutkan namanya dengan senyum simpul.
Dan tanpa mereka sadari seseorang yang baru datang melihat hal itu dan mengerutkan dahinya.
'Apa dia laki-laki yang spesial buat Via? Tapi kenapa selama ini gue gak tau Via deket sama dia?'
.
.
.bersambung
__ADS_1