
Setelah dua hari akhirnya beberapa orang datang melamar sebagai perawat untuk Saka. Lesya dan juga Saga tidak menerima perawat begitu saja, mereka memberi beberapa tes dan juga meminta sertifikat untuk pengalaman yang mereka miliki. Setelah melakukan serangkaian tes dan melihat beberapa sertifikat dari pelamar, akhirnya Lesya memilih seseorang yang bernama Dina.
Dina adalah seorang perempuan yang bisa dikatakan seumuran dengan Lesya yang berpenampilan sederhana dan mengenakan kacamata besar. Ia juga berbicara bahasa indonesia dengan logat jawa, sehingga terkesan sangat sopan dan juga lembut.
"Dina,besok kamu bisa mulai bekerja ya.." ujar Lesya
"Injeh mba Lesya, saya sangat berterimakasih karna mba Lesya sudah mau terima saya. Karena jujur, saya ini sangat butuh pekerjaan untuk membiayai keluarga saya dikampung" timpal Dina
"Kamu tidak perlu seperti ini Dina, aku menerimamu karna kamu memang kandidat yang tepat. Aku harap kita bisa bekerja sama ya Din?" Balas Lesya ramah.
Ketika mereka tengah berbincang, saat itu Saga menghampiri Lesya. "Sayang, aku harus berangkat ke kampus. Dan setelah pulang dari kampus, aku harus melihat keadaan coffee shop. Karna semenjak kak Saka kecelakaan, aku belum memeriksa beberapa coffe shop kita."
"Tapi, itu berarti kamu gak pulang untuk makan siang Saga? Dan kapan kita akan menemui papa sama mama Saga?"
"Tenang sayang, untuk makan siang nanti aku suruh pegawaiku untuk memesannya. Dan buat ketemu mama papa, aku udah atur. Dan besok malam kita kesana karena kak Saka juga udah ada yang ngerawat. Udah bukan kamu lagi yang harus ngurusin kak Saka kan?" ucap Saga seraya mengusap lembut puncuk kepala istrinya.
"Oh.. jadi mas Saga ini punya coffe shop?" Celetukan Dina membuat Saga menoleh ke arahnya.
"Iya Dina. Aku meiliki beberapa coffe shop di kota ini dan di luar kota." Sedangkan Dina membulatkan bibirnya karena kagum.
"Ya udah sayang, kamu baik-baik ya.. oh ya kenapa gak mulai sekarang aja Dina kerja, biar kamu juga ke kantornya sekalian aku antar"
Lesya lalu melihat ke arah Dina menatap penuh maksud. "Oh iya ndak apa-apa kalo mba Lesya nya mau kerja, saya sudah bisa mulai bekerja. Dan untuk baju, nanti setelah mba Lesya dan mas Saga pulang saya bisa langsung mengambilnya dikosan saya." sahut Dina.
"Kamu yakin gak pa-pa Din, apa aku gak ngerepotin kamu ni?"
"Iya beneran mba, mau besok atau sakarang saya bisa kok mba" Dina meyakinkan.
"Terimakasih ya Din" Lesya tersenyum simpul.
Dan tanpa mereka sadari saat itu Saka memperhatikan mereka dari pintu kamarnya. Ia tak lena dan terus memperhatikan Lesya yang sudah menjadi candu baginya sejak lama, terlebih ketika Lesya merawatnya dua hari terakhir.
"Kenapa kamu harus mencari perawat untukku Lesya? aku lebih suka jika kamu yang merawatku!" Gumamnya.
_Flasback On
Hari ini hari pertama Saga mengajak Saka tinggal dirumahnya. Mulai hari ini Lesya lah yang mengurus Saka.
"Kak Saka, ini kamar kakak" ucap Saga datar. Meskipun ia mengizinkan Saka tinggal disana, namun ia tetap merasa cemburu melihat Lesya mengurus kakaknya sekalipun hanya membantunya untuk duduk dikursi roda. Untung saja Lesya mengusulkan mencari perawat, jadi Saga sedikit lebih lega.
Pasalnya saat itu Saga yang membawa barang-barang Saka, sehingga ia harus mengizinkan Lesya yang mendorong kurai roda Saka.
Tring
Ponsel Saga berdering, saat itu ia mendapat telfon dari seseorang yang mengharuskan ia pergi.
"Sayang, kamu hati-hati dirumah. Aku harus pergi mengurus sesuatu"
Lesya mengangguki ucapan Saga, kemudian Saga bergegas langsung pergi.
"Lesya, aku sangat haus" ucap Saka
__ADS_1
Saat itu Lesya segera membawakan segelas air putih dan makanan dengan beberapa lauk pendamping.
"Aku hanya haus Lesya"
"Aku tau, tapi kak Saka belum makan sejak tadi. Kak Saka harus menghabiskannya, sekarang aku harus menata pakaian kak Saka di lemari"
Saka akhirnya menuruti ucapan Lesya. Seharian penuh Lesya merawat Saka dengan baik. Meskipun Lesya tau Saka dulu sangat ingin membuat rumah tangganya hancur, namun ia yakin Saka sudah tidak sejahat itu.
"Lesya, aku minta maaf karna aku sempat berpikir ingin memilikimu. Padahal kamu memang sudah ditakdirkan oleh tuhan untuk Saga."
"Sudahlah kak, tidak perlu membahas hal itu." Lesya pun segera membawa piring kotor kebelakang. Namun setelah ia kembali, ia melihat Saka yang sudah terjatuh dari kursi rodanya.
"Astaga kak Saka" Lesya berlari dan segera membantu Saka dengan memapahnya untuk duduk di ranjang tempat tidurnya.
"Lain kali kak Saka harus lebih berhati-hati" ucapnya dan segera pergi dari kamar Saka
Saka menatap nanar kepergian Lesya. "Aku tau meskipun nada bicaramu dingin, tapi kamu sangat perhatian dan baik kepadaku Lesya.
_Flashback Off
Saka kemudian memutuskan untuk kembali menutup pintu kamarnya. Ia membuka ponsel miliknya, disana ia memasang foto Lesya sebagai gambar latar belakang layar ponselnya.
"Ah iya, lebih baik aku sekarang menghubungi Liyora. Apa yang dia lakukan dengan uang yang aku berikan padanya!"
Tut
Tut
Damn
Saka membanting ponselnya diatas tempat tidur. Rahangnya mengerasa dan tatapannya menjadi setajam pedang. Ia seperti siap memghunuskan kepada siapapun yang membuatnya kesal.
"Kau dimana Liyora? Kenapa disaat seperti ini kau tidak bisa aku hubungi! Apa kau asik-asikan menghamburkan uangku setelah aku bersusah payah membebaskannya dari penjara?"
Meninggalkan Saka yang tengah kesal, kini dilain tempat Dita sudah mulai bekerja karena adiknya sudah diperbolehkan untuk pulang.
Saat itu Dita mengerutkan dahinya ketika melihat kedatangan Dikta dengan seseorang.
"Siapa dia?"
Ketika Dita melihat Dikta bersama perempuan lain, Dita teringat vahwa awal mengenal Dikta, ia sempat menaruh hati. "Untung aja gue sekarang udah gak deketin Dikta, kalo gue masih ngotot bisa-bisa mati kutu. Orang yang deketin dia cantik banget, kaya model gitu" lirih Dita.
"Siang Dit" sapa Dikta dan membuyarkan lamunannya.
"Siang pak Dikta"
"Tumben lo panggil gua pak Dit, biasanya lo panggil gua nama kalo dideoan orang banyak?"
"Iya kan ada mba ini Ta" Dita menyengir kuda memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Oh iya kenalin, dia nadia temen gua!"
__ADS_1
"Halo mba Nadia, saya Dita" ucap Dita seraya mengulurkan tangannya.
"Halo gue Nadia, lo bisa panggil gue Nadia. Gak perlu pakek mba, kayaknya kita seumuran." Tutur Nadia.
"Iya, emang bener kalian seumuran" timpal Dikta. "Ya udah ya Dita, gua mau ngerjain tugas kuliah gua sama Nadia"
"Oh iya iya.. ya udah gue juga mau lanjut kerja"
Ketika Dita hendam bergegas pergi, Dikta memanggilnya.
"Alden belum datang Dit?"
"Kayaknya dia ada di rooftop Ta"
"Okey.. oh ya Dita, nanti anterin cemilan ke rooftop ya.. "
"Siap boss"
Saat itu Dikta segera mengajak Nadia untuk pergi ke rooftop, disana ia menemukan Alden yang tengah berbaring diatas kursi panjang sembari memejamkan mata dan mendengarkan sesuatu di earphon yang ia gunakan.
"Lu sekarang lebih seneng disini ya Al" sontak Alden langsung bangkit karena Dikta duduk di sampingnya.
"Eh lu udah dateng Ta?" Alden menarik ujung bibirmyanmembentuk semyum diwajahnya.
"Hai Al"
Alden menoleh kesumber suara. Seketika senyum yang sempat terukir diwajahnya kini perlahan memudar. Namun karena tidak ingin Dikta merasa aneh, akhirnya Alden berusaha tersenyum kembali seraya menyapa Nadia.
"Hai Nad! Kalian mau ngerjain tugas lagi?" Tanya Alden menatap Nadia dan bergantian Dikta.
"Ya udah lu lanjut santainya, gua mau oindah kesana. Biar enak ngerjain tugasnya."
Alden pun mengangguki ucapan Dikta.
Belum lama Dikta dan Nadia memulai kegiatan mereka, Dita datang dengan minuman dan cemilan yang ia bawakan untuk Dikta dan temannya. Setwlah menaruh semuanya diatas meja kecil Dita kembali melanjutkan pekerjaannya.
Namun ketika Nadia hendak meraih segelas minuman dingin, ia tidak sengaja menumpahkannya sehingga membuat celana Dikta dia atas lutut pun basah.
"Sorry Dikta.." Nadia segera membersihkan noda minuman dengan tisu.
Saat itu Alden merasa sangat kesal karena Dikta diam saja di sentuh oleh orang lain. Pasalnya selama ini dikta akan langsung me ghindar jika ada yang mendekatinya. Tetapi kali ini, Dikta justru memperhatikan Nadia yang memebersihkan celananya.
'Apa Dikta bersungguh-sungguh smaa ucapannya waktu itu, saat dia mau mulai membuka hati!' Sorot kesedian terlihat jelas dimata Alden.
.
.
Bersambung
.
__ADS_1