It'S Perfect

It'S Perfect
Jadi Aneh


__ADS_3

Liyora tersenyum miring didepan cermin yang ada di kamarnya. ia begitu merasa senang saat membayangkan apa yang akan terjadi kepada Lesya dan juga Saga malam ini.


"gue yakin, Lesya bakal marah besar. dan setelah itu mereka bakalan cerai."Liyora kembali tersenyum licik dengan harapannya yang membuat dirinya semakin percaya diri.


_Flashback On_


"Emm Yora, apa nanti acaranya bakalan lama?"


"emm gak tau deh Saga, udah sekarang kamu ikut aku cari baju buat kamu ya.."tanpa menunggu persetujuan dari Saga, Liyora kangsung menarik Saga memasuki butik yang biasa ia datangi.


setelah selesai dengan acara mencari pakaian, kini Saga dan Liyora menghadiri acara makan malam. saat itu Liyora tiba-tiba mengambil foto saat Saga tengah meyunyah makanannya.


'mumpung Saga masih fokus sama makanannya, mending gue kirim ke nomornya Lesya. gue kan waktu itu sempet nyimpen nomornya'


_Flashback Off


"gue gak sabar denger perceraian mereka." perlahan Liyora terlalap tanpa menghapus riasan diwajahnya.


sementara itu ditempat lain, Saga masih memeluk erat tubuh Lesya. "kenapa lu gak bales pelukan dari suami lu mba Lesya?" ditengah pelukannya, itulah kata-kata yang terlontar dari mulut Saga.


"dengar Saga, aku tau kamu mengatakan itu karena ucapanku barusan! tapi aku lebih suka saat kamu jujur, aku tidak ingin dikasihani untuk masalah hati Saga!"


Lesya sedikit memundurkan badannya dari Saga, saat ini ia menatap Saga dengan lekat. begitupun dengan Saga yang menatap tiap inci wajah Lesya yang ada dihadapannya.


"tolong kamu bersikap sewajarnya Saga. jangan buat aku semakin susah buat lepasin kamu untuk pacar kamu!"


"gua gak mau lu nyerah secepat ini mba Lesya."


Lesya mengernyitkan dahinya ketika Saga mengatakan hal itu. ia tidak mengerti kenapa Saga melarangnya untuk menyerah. seharusnya Saga senang dengan keputusan Lesya saat ini. namun saat ini ia justru berkata demikian.


"jangan main-main dengan ucapan kamu Saga!" hardik Lesya


"gua cinta sama Liyora, tapi gua gak bisa denger mba Lesya ngoming kaya gitu. mungkin ini terkesan egois, tapu gua minta mba Lesya jangan nyerah secepat ini!" setelah itu mereka berdua hanya saling bertukar pandang dengan pikirannya masing-masing.


-


Akhir-akhir ini Dikta terlihat sangat dingin. entah kenapa ia menjadi sering menyendiri, dan hal itu disadari oleh teman-teman disekitarnya. saat berjalan dikoridor sekolah, ia tidak sengaja bertemu dengan Friska.


"Dikta.." sapa Friska dengan senyum yang mengembang.


namun seketika senyum itu luntur dari wajah Friska yang tidak mendapat balasan dari Dikta yang hanya melewatinya.


"Saga tunggu!" Friska meneriaki Dikta, namun hasilnya masih sama. Dikta terus berjalan tanpa menghiraukan Friska yang terus memanggilnya.


Akhirnya Friska memutuskan untuk mengejar Dikta hingga ketika Dikta sampai di lapangan basket, Friska mencekal pergelangan tangan dari Dikta dihadapan tim basketnya.


"wiihh di samperin sama ayang ni.."

__ADS_1


saat itu Dikta hanya melirik Friska sekilas dan menghempaskan tangan Friska dari lengannya.


Dikta tidak mengatakan apapun sehingga membuat Friska kesal.


"Dikta! gue manggil lo dari tadi! lo ngapain si jadi aneh kaya gini?"


Dikta hanya melirik Friska dengan menarik salah satu ujung bibirnya. ia menatap remeh Friska yang menahan diri untuk tidak memaki Dikta.


"udah Dikta sikat aja, tu cewe kayaknya ngebet banget!" ucap salah satu teman Dikta.


"gua plintir mulut lo!" sarkas Dikta dan seketika membuat semuanya bergidik ngeri. dan setelah itu Dikta memilih untuk pergi begitu saja tanpa memperdulikan Friska yang sudah mengejarnya.


'kenapa sekarang lo jadi sekasar ini Dikta? padahal lo dulu yang paling sabar di antara Saga dan Alden' Friska tertegun saat melihat perubahan sikap Dikta yang signifikan.


"kenapa Friska, lo masih berharap Dikta perduli sama lo?"


'baru juga di omongin udah nongol aja ni anak'


bukannya menjawab ucapan Alden, kini giliran Friska yang melenggang pergi meninggalkan Alden. "wah parah, gua di kacangin!"


bel masuk pun berdering, saat itu Saga terus memikirkan perkataan Lesya yang ingin menyerah dengan hubungan mereka. hal itu terus mengusik benak Saga. saat ia mengingat apa yang di ucapkan oleh Lesya, entah mengapa rasa nyeri menusuk didalam hatinya.


'semoga mba Lesya gak nyerah gitu aja. gua mungkin belum ingat sama masalalu gua tentang mba Lesya, tapi gua udah nyaman setiap dia perhatiin gua masakin gua. dia juga bikin gemes si!'


disisi lain saat ini Lesya yang tengah berada dikantornya pun bertanya-tanya tentang sikap Saga yang melarangnya untuk menyerah.


"itu karna kemarin aku memarahinya, dan aku yakin dia ketakutan dengan ancamanku Lesya!"


sontak netra Lesya tertuju ke arah pintu masuk ruangannya. dan tentu saja suara itu begitu familiar ditelinganya. "Dylan, apa maksuddari ucapanmu?"


Lesya bangkit dari duduknya kemudian mendekat kearah Dylan yang masih berdiri dengan kedua tangannya yang ada disaku celannya. manik mata yang hitam pekat terus menatap Lesya.


"apa aku bukan saudaramu Lesya? kenapa kamu tidak bilang jika Saga mengalami amnesia, dan dia tidak ingat dengan kamu. dan justru saat ini ia tengah menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya!"


"duduklah dulu, aku akan meminta staf untuk membuatkanmu minuman."


Dylan pun menuruti ucapan Lesya dengan duduk di kursi depan meja kerja milik Lesya.


Lesya bingung harus menceritakan perihal ini kepada Dylan atau tidak. pasalnya ia tau jika Dylan tidak akan memberi ampun kepada orang yang menyakiti Lesya seperti waktu dulu.


Dylan dulu pernah membuat sebuah perusahan seketika hancur karena anak dari pemilik perusahaan yang memiliki biat tidak baik terhadap Lesya dalam kurun waktu satu bulan. dan hal itupun yang di takuti Lesya saat ini. ia takut Dylan akan berbuat hal semacam itu terhadap keluarga Saga.


"ada apa Lele.. kenapa kamu diem aja? aku sudah bilang aku akan sigap membantumu untuk menverantas semua orang yang berani menyakitimu bukan?"


Lesya menarik nafasnya dalam-dalam. ia akhirnya memutuskan untuk menceritakan semunya kepada dylan. "aki akan ceritakan semuanya, tapi ada syaratnya!"


"syarat?" Dylan mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"ya, tapi kalo gak mau si juga gak pa-pa!" Lesya menyebikkan mulutnya menatap Dylan pasrah.


"baiklah-baiklah, apa syaratnya?" Dylan menatap malas Lesya.


"aku gak mau kamu berbuat macam-macam terhadap Saga dan keluarganya katena masalah yang akan aku ceritakan!"


"tergantung"


"kan mulai resehnya, males ah aku gak jadi cerita"


"eits jangan dong lele, yaudah aku gak akan berbuat macam-macam, cukup satu macam aja yang bikin Saga kapok!"


"ya udah gak jadi cerita!"


"eh eh janganlah, iya aku gak akan berbuat macam-macam" Dylan lalu membenarkan posisi duduknya.


"sebenarnya Saga hanya tidak mengingat beberapa bulan terakhir. dan kebetulan itu saat Saga sudah menikah sama aku. dan justru mengingat mantan kekasihnya yang dulu pernah mengaku hamil dengan Saga, Dylan."


"jadi Saga udah hamilin cewe lain?" potong Dylan sembari bangkit dari duduknya.


"aku belum selesai Dylan.."


Dylan pun kembali duduk ditemoatnya lagi, ia lali mempersilahkan Lesya untuk melanjutkan ceritanya. "dan ternyata saat itu bukan dia yang hamil, tapi orang lain!"


"tapi setelah terbongkar justru sahabatnya Liyora yang sedang hamil mengaku dihamili oleh kak Saka!"


"jadi Saka ayah dari bayi itu?" namun saat itu Lesya menggeleng pelan.


"lalu?"


"bukan kak Saka yang berbuat, dan saat itu akhirnya Friska mengakui kalau ayah dari bayinya tidak ingin bertanggung jawab, makanya diberbuat seperti demikian!"


Dylan terbatuk saat ia menyesap secangkir teh yang dibuatkan oleh staf Lesya.


"apa kamu bilang? Friska!"


"iya Friska, temen sekolah Saga dan juga Liyora."


'apa Friska yang di maksud adalah Frisma yang saat ini tinggal bersamaku?'


.


.


.


.bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2