It'S Perfect

It'S Perfect
Barista Baru


__ADS_3

"ada apa dijam selarut ini anda menghubungi saya?"


"sebelumnya saya minta maaf tuan Arga, saya hanyan ingin tau apa anda dan sekertaris anda sudah kembali dari tempat itu?"


mendengar pertanyaan itu, Arga merasa ada sesuatu dengan Saka. "ya kami sudah kembali, meskioun tadi kami sempat diserang oleh hewan buas!"


"lalu bagaimana dengan keadaan Lesya saat ini tuan Arga? apa dia baik-baik saja? apa terluka? dan kenapa anda tidak menghubungi saya?" Saka mencecar banyak pertanyaan sehingga membuat Arga semakin banyak pertanyaan di benaknya.


"anda bisa tenang sebentar tuan Saka?"


"bagaimana saya bisa tenang tuan Arga, oni menyangkut dengan Lesya"


'astaga, apa yang aku lakukan. alu membentak tuan Arga.'


"emm maaf kan saya tuan Arga, sayang hanya khawatir dengan adik ipar saya. maaf saya sudah membentak anda!" ujar Saka penuh penyesalan.


"tidak apa tuan Saka. anda memang kakak ipar yang baik. selarut ini adan begitu mengkhawatirkan adik ipar anda yang keluarganya nyaris membuat perusahaan anda bangkrut. tapi saya akan menjawab semua pertanyaan anda tadi."


"begini tuan Saka, adik ipar anda baik-baik saja. dan saya tidak bisa menghubungi anda, karena tadi keadaannya mendesak dan mengharuskan saya dan Lesya harus segera pergi dari tempat itu. sehingga kami tidak sempat menghubungi siapapun tuan Saka."


"syukurlah.. lalu keadaan anda bagaimana tuan Arga."


"tidak perlu mengkhawatirkan saya tuan Saka, karena adik ipar anda sudah merobek kemeja yang ia pakai untuk menolong saya.!"


"apa? Lesya sampai merobek pakaiannya untuk anda?" Saka terdengar sangat terkejut diujung sana.


"eghem disini tiba-tiba jaringannya sangat susah tuan Saka."


klik


setwlah mendapat respon seperti itu dari Saka, Arga langsung menutup sambungan telfonnya.


"ada apa ini tuan Saka? kenapa anda begitu mengkhawatirkan adik ipar anda?" Arga tersenyum miring.


sesaat setelah ia mnutup ponselnya, Saka beberapa kali kembali menghubunginya. namun saat itu Arga hanya melihat ponselnya yang terus berdering. hingga saat ada pesan masuk ia mengira itu dari Saka, dan ketika ia memeriksa isi pesan itu, ia semakin tersenyum smirk.


Arga lalu menghubungi seseorang diseberang sana. "kerja bagus! aku ingin kita membuat janji untuk bertemu dengan calon klien baru kita"


klik


"gue akan lihat Lesya, apa seberapa kuatnya lo bertahan sama suami lo jika perusahaan mereka akan menjadi saingan" Arga tersenyum miring.


'gue yakin bentar lagi bang Arvin pasti akan dapat keadilan setelah apa yang ia lakuin buat nyelametin cewe yang gak tau diri itu. cewe yang dengan gampangnya ngelupain lu bang!'

__ADS_1


_


sudah satu minggu Saga dan Lesya menjalani rumahtangga mereka dengan sederhana. malam itu Saga bersiap-siap untuk pergi bekerja.


"Saga, apa kamu yakin untuk pekerjaan ini?"


Saga menoleh ke arah istrinya yang saat ini memasang wajah sendu.


"ada apa Lesya.. kenapa sedih hemm?"


"siang hari kita udah gak ketemu karena alasan pekerjaanku dan kamu sekolah. terus malem juga kita gak bisa bareng!"


saat itu Saga melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya "sebenernya aku juga berat sayang.. tapi ini supaya kita bisa buktiin sama mami kalo kita bisa. dan akhir pekan kita bisa habisin waktu berdua kan sayang..? dan malem pulang kerja aku janji gak kemana-mana langsung pulang biar kita bisa ngabisin waktu berdua! ayo semangatin aku dong mba Lesyaku sayang.."


Lesya membuang nafasnya berat. ia kemudian melepas tangan Saga dari pinggangnya. "kamu bener Saga, seharusnya aku bisa lebih dewasa. ini aku justru kaya anak kecil!"


"aku suka kok. dan aku mau istri aku tetep kaya gini sama aku" Saga lalu mencium kening Lesya. ia lalu bergegas untuk pergi bekerja meninggalkan Lesya sendirian di rumah barunya.


ketika Saga sampai ditempat kerjanya, ia mulai mengeejakan apa yang sudah di beritahukan oleh manager coffee shop tersebut. dan saat itu Saga terlihat piawai dalam melakukan pekerjaanya dalam meracik kopi untuk pelanggannya.


"kak.." salah satu pembeli yang terdiri dari tiga gadis yang mengantri.


"ya.." sahut Saga yang masih fokus dengan kopinya.


"kakak baru ya kerja disini?"


"eh kita bisa pesen sendiri kali Sa.." protes kedua teman gadis itu.


'Sya? gua jadi inget Lesya! sekarang dia lagi apa ya dirumah? dia takut enggak ya gua tinggalin.'


Akhirnya setelah pikirannya terus memikirkan istrinya, Saga tersadar dari lamunan dan menyelesaikan kopi yang tengah ia buat.


"ini kopi kalian, silahkan dinikmati!"


"kak tolong liyat kesini dong" ucap gadis yang pertama tadi yang sudah siap dengan live di akun media sosialnya.


"hai guys.. liyat deh di coffee shop langganan aku ada barista baru cakep banget guys.."


saat itu Saga hanya tersenyum tipis sembari melihat ponsel gadis itu sekilas dan melanjutkan untuk membuatkan kopi lain untuk pelanggan yang lainnya. gadis yang bernama Elsa adalah seorang selebgram yang masih duduk di bangku SMA kelas 10.


di lain tempat Alden yang kini bersama dengan Dikta berencana untuk datang ke coffee shop tempat Saga bekerja. tidak hanya mereka berdua, saat itu Friska juga ikut kesana dengan berboncengan dengan Dikta.


ketika mereka sampai di coffe shop itu, mereka tercengang ketika melohat antrian panjang yang didominasi oleh kaum remaja perempuan.

__ADS_1


"gila, ini udah malem tapi pengunjungnya masih sebanyak ini?" ucap Alden sembari menggeleng gelengkan kepalanya.


"coba lu lihat itu Al" sahut Dikta. dan seketika Alden melihat banyak sekali gadis yang meminta foto kepada Saga saat mereka mendapat giliran untuk memesan kopi.


"kalo gue jadi ceweknya Saga, udah gue jambak-jambak tu cewe. berani-berani nyentuh-nyentuh Saga, mana si Saga diem aja pengen gue garuk tu laki!"


"ya untungnya aja lo bukan ceweknya Saga. kalo sampek lo ceweknya Saga, udah pasti si Saga stroek ngadepin cewe kaya lu"


"ih apaan si lo Al. gue itu cuman kasihan tau sama Lesya."


"usia kamu itu jauh dibawah mba Lesya Friska, tolong lebih sopan manggilnya!" potong Dikta.


"iya maksud gue, gue kasihan kalo sampek mba Lesya lihat, pasti dia bakalan sakit hati lihat suaminya pasrah aja tu di cubit-cubit sama cewe kegat*l*n. mana bentukannya kaya gitu lagi!" Friska yerus menggerutu.


'kenapa si gua, bawaannya kesel mulu kalo si Friska deketan sama si Dikta!' batin Alden.


"oii.. Ga kita sisain tiga ya!" ujar Dikta yaang melambaikan tangannya kepada Saga dan membuat gadis-gadis yang berantri menoleh kearahnya.


"kak, itu temennya ya?" tanya salah satu gadis. dan saat itu Saga mengangguki ucapan gadis itu dengan senyum tipisnya.


"wah.. pantesan aja cakep-cakep semua ya guys.." sahut Elsa sang selebgram yang masih sibuk mengambil video. dan saat itu Elsa mendatangi meja Dikta, Alden dan juga Friska.


"hai kak.. boleh gabung?" ucapnya ramah.


"boleh kok silahkan!" ucap Dikta.


seketika hal itu membuat Friska dan juga Alden mendadak terlihat tidak suka.


Elsa yang masih fokus dengan ponselnya tersandung kaki Friska. dan saat itu ia terjatuh di pangkuan Dikta.


dan saat itu pandangan mereka bertemu.


"eh apaan si ini" Friska segera menarik Elsa dari Dikta.


"lo itu maaih kecil, gak usah belajar jadi jal*ng ngerti!" pekik Friska.


"jaga omongan kakak ya, gue tadi itu kesandung sama kaki kakak. harusnya kakak yang disalahin disini"


"lo kok yang salah! lo yang gak fokus dan sibuk mainan hp. jadi lo gak boleh salahin Friska" sahut Alden membela Friska.


Dikta semakin yakin bahwa Alden memang menyukai Friska sehingga ia selalu kesal saat melihat Friska dengannya. 'udah gua putusin, gua harus tolak Friska!' batin Dikta.


.

__ADS_1


.bersambung


.


__ADS_2