It'S Perfect

It'S Perfect
Kehidupan Sempurna Dalam Rumah Tangga


__ADS_3

Ketika sampai di basement apartemen, Via berlari hingga menabrak seseorang yang batu saja keluar dari mobil.


"Maaf, aku tidak sengaja" tanpa menatap orang yang ia tabrak, Via melanjutkan larinya tanpa menunggu Andi yang berusaha mengejarnya.


"Sepertinya perempuan barusan gak asing Don" ujar Arga.


Keduanya mengingat-ingat, namun belum menemukan siapa nama perempuan yang menabrak Doni.


"Aku harus mengejar perempuan itu Arga, kayaknya dia dikejar sama cowok itu" Doni menunjuk Andi yang tengah mengejar Via.


"Kau benar Don, kejar dia. Biar aku bawa mobil kesana." Kini Doni segera berlari sementara Arga melajukan mobilnya. Karena jika mereka menggunakan mobil bersama, itu akan menyita waktu dan tidak visa mengejar.


Setelah berlari kencang, akhirnya Doni menyusul orag ya g ia kejar. Saat itu ia melihat laki-laki yang tado mengejar perempuan tersebut memcekal pergelangan tangannya.


"Ini gak bisa aku biarin"


Bug


Bug


Doni mwnggujani Andi dengan berapa pukula. Di wajah dan juga perutnya.


"Stop, jangan pukulin Andi" Via menghentikan Doni ya g masih berusaha memukul. Namun keduanya justru terlibat dengan adu pukul sehingga terpaksa Via berdiri di tengah mereka. Padahal tinggal beberapa inci kedua tangan laki-laki yang sedang berkelahi mendarat sempurna diwajahnya. Untung saja Andi dan Doni bisa menghentikannya tepat waktu.


"Kenapa kau menghentikan aku, dia ingin berniat buruk bukan?" Tanya Doni demgan nafas terengah.


"Kau salah, dia temanku. Kau tidak bisa memukulinya seperti ini." Balas Via. Sementara itu Andi memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Kita ke rumah sakit ya Ndi, kita obati lukanya"


"Kalau kalian berteman, kenapa kau tidak Berhenti saat dia mengejarmu?"


"Aku hanya ingin menenangkan diri, tapi aku terima kasih karna kau mau menolongku. Pasti pasangan anda akan nyaman berada disisi seseorang yang selalu melindungi seseorang seperti anda." Tutur Via.


"Eghem.. " Andi berdeham untuk menghentikan Via yang terus berbincang dengan Doni. "Gue pulang aja Vi, gue diobati dirumah aja."


"Ya udah, ayo gue bantu" Via memapah Andi yang tengah kesakitan. "Mari.."


Doni mengangguki ucapan Via. Ketika Via dan Andi meninggalkan Doni dengan menaiki taksi, Aega tiba dengan mobilnya.


"Mana perempuan tadi Don"


"Udah pulang!"datar Doni tak berekspresi.


"Terus cowok yang ganggu dia?"


"Dia itu temennya, aku juga gak tau aneh. Tau gitu aku gak mau susah-susah lari ngejar."


"Kenapa? Kesel banget kayaknya Don? Suka sama cewek tadi?"


"Enggaklah, cuman gak habis pikir sama cewek. Padahal kenal, tapi kalo marah atau apapun bisa bikin yang liyat salah paham. Ya conyohnya tadi itu, kirain penjahat ternyata temennya."


"Ya udahlah mending kita langsung ke apartemen Sharena, dia bilang tadi dia mau bilang sesuatu!"


-

__ADS_1


Kini Andi sampai ditaman komplek perumahan Via, ia sengaja berhenti ditempat itu karena Via lah yang memintanya.


"Kenapa lo ngajak berhenti disini si Vi? Ini udah malem loh, biar gue anter lo pulang!"


"Gue mau ngobatin luka lo lah Ndi, tadi dijalan kita kan udah beli obat." Sahut Via sembari membuka kotak p3k. Ia mulai mengobati lebam di wajah Andi, tanpa ia sadari Andi memperhatikan wajah Via yang begiti dekat dengannya.


'Jadi Via sengaja minya berhenti disini karena mau ngobatin luka gue!dan Kalo dari deket Via imut banget, cantik, apalagi kalo dikasih sedikit polesan kaya gini'


"Andi, lo kenapa? Sakit ya?"


Andi terkejut ketika Via tiba-tiba menanyainya.


"Huh, iya aduh sakit Vi! ssshhh.. perih banget"Andi meringis kesakitan ketika ia menyadari luka diwajahnya sedang diobati oleh Via.


'Gue mikir apaan si, Via itu temen gue! Kenapa bisa gue mikir kaya gitu si'Andi merutukki dirinya sendiri.


"Oh iya udah beres, gue balik dulu ya Ndi"


"Tunggu Vi" Andi meraih pergelangan tangan Via. "Gue anter" sambungnya lagi.


"Gak pa-pa Ndi, lo lagi gak baik kaya gitu. Lebih baik lo pulang terus istirahat, take care ya.." Via melanjutkan langkahnya sembari melambaikan tangannya kebelakang.


Andi tersenyum melihat Via pergi "punya temen cewe satu aja anehnya kaya gitu! Biasanya cewe selalu minta dianter, ini malah gue diusir" Andi menggeleng dengan senyum yang terus mengembang diwajahnya.


_


Lesya merebahkan tubuhnya diatas ranjangmya, ia kemudian melihat kearah jam tangannya. "Ini sudah jam 6 tapi Saga belum pulang?"


Karena merasa letih, Lesya memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak. Namun tanpa ia sangka, hingga pukul delapan ia baru membuka matanya.


"Engghh.. "


Lesya justru menggeliat, ia tidak langsung merespon keberadaan Saga dihadapannya. Ia justru memeluk Saga seperti guling dan kembali memejamkan matanya.


"Mba istri.." lirih Saga


"Ini suaminya udah pulang loh, enak ya melukin badan atletis suaminya?" Tambah Saga.


Lesya lalu membuka kedua matanya dan tersenyum "aku hanya ingin memeluknya sebentar Saga" baru kali ini Saga merasa bahwa istrinya begitu manja. Karena jarang mendapati istrinya manja seperti kali ini, ia sengaja membiarkannya.


'Baiklah, jika perlu aku akan idur dengan perut kosong!'bayin Saga.


Kruuuk


Lesya menyipitkan matanya, ia lalu melepas pelukannya. Ia kemudian menatap Saga dengan mengernyitkan alisnya.


"Kau lapar Saga?"


Saga hanya menggeleng, namu sesaat setelah itu ia mengangguk. Keduanya pun terkekeh.


Akhirnya Lesya pun membersihkan dirinya dan segera membawa suaminya untuk kedapur. "Kamu duduk, biar aku yang memasaknya"


Setelah itu Lesya langsung membuatkan masakan untuk makan malam. Tetapi bukan Saga namanya jika ia tidak melakukan kejailan apapun.


Saga langsung meniup tengkuk Lesya dari belakang. Seketika Lesya terjingkat.

__ADS_1


"Eghem.."


Mendengar dehaman seseorang, Saga segera mundur dari posisinya. "maaf mba Lesya, mas Saga saya mau memasak untuk mas Saka. Saya kira tidak ada orang didapur" sambung Dina.


"Ah iya Dina, kamu gak perlu masak. Kamu bawa kak Saka kemari, kita makan bareng-bareng"


"Oh baik mba Lesya"


Setelah beberapa saat Dina kembali dengan Saka. Saat itu juga Lesya sudah menyelesaikan masakannya. Kini semua sudah duduk dimeja makan. Lesya mulai mengambilkan makanan untuk Saga.


"Sayang aku mau sambelnya agak banyak ya"


"Jangan dong Saga, besok kamu ada meeting penting buat coffe shop kamu. Jadi makan sambelnya jangan banyak-banyak!"


"Iya deh, kalo mba istri yang minta apa si yang gak Saga turuti"


"Dina, kamu juga ikut makan ya"


"Saya nanti belakangan aja mba, biar saya nyuapin mas Saka"


"Gak perlu, yang sakit itu kaki bukan tanganku. Kamu tidak lerlu menyuapiku" sahut Saka.


"Ya sudah saya permisi kebelakang dulu mba Lesya."


Kini semuanya tengah menikmati makanannya, tanpa mereka sadari Dina terus memgamati mereka dari dapur. Dina meremas gelas yang ada ditangannya.


"Reseh banget si tu kak Saka, kalo dia biarin gue nyuapin dia, gue bisa lebih deket sama Saga kan" gerutu Dina dibelakang.


"Liyat aja, Saga pasti balik sama gue. Itu janji gue! Dengan lo minum ini, lo pasti gak akan bisa punya keturunan dan dengan begitu waktu Saga galau, gue masuk dan menawarkan kehidupan sempurna dalam berumah tangga!"sambung Dina. Ya, Dina adalah Liyora yang menyamar sebagai perawat untuk Saka.


Sementara itu Alden dan Dikta menegang ketika seseorang mengetuk pintu ruangan Alden.


Dikta segera membenarkan penampilannya begitupun dengan Alden yang segera beranjak mendekat ke arah pintu.


Alden kemudiam mutar kenop pintu dan pintu sudah terbuka. Ia begitu terkejut mendapati Dita yang masih berdiri didepan ruangannya.


"Dita, ada apa?"


"Emm gue mau izin besok gak berangkat ya Al, soalnya gue harus temenin Kenan chekup ke dokter spesialis"


"Oh gitu, okey. Semoga Kenan cepet sembuh ya Dit"


"Iya makasih Al"


"Oh iya Al, Dikta kemana? Tadi gue liyat mobil Dikta masih diparkiran, tapi diruangannya gak ada"


'Gue gak mungkin bilang Dikta disini, kalo Dita tau Dimta ada diruanganku malam-malam begini, dia bisa curiga'


.


.


Bersambung


.

__ADS_1


.


__ADS_2