It'S Perfect

It'S Perfect
Ego


__ADS_3

Saga begitu kesal dengan Arga yang selalu berdekatan dengan Lesya. meskioun Arga mengatakan ia hanya membahas tentang pekerjaan, namun Saga sebagai suami dari Lesya tetap merasa cemburu.


menyadari akan hal itu, Arga menarik salah satu sudut bibirnya. saat itu tiba-tiba muncul sesuatu dipikirannya, ia akan memulai untuk melancarkan rencanya untuk menghancurkan kehidupan Lesya dan itu dimulai dari rumah tangganya.


"Lesya tolong ambilkan gu-, maksudku ambilkan map warna biru yang ada di ruang kerjaku."


Arga memang memanggil Lesya dengan sebutan lo-gue hanya jika mereka sedang berdua, selain keadaan itu ia akan memanggil Lesya dengan aku dan kamu.


"maaf pak, ruang kerja bapak ada dimana?"


"ada dilantai tiga, kamu bisa menggunakan lif itu supaya tidak menyita waktu."


"baik pak"


dengan segera Lesya bergegas untuk pergi ke ruang kerja Arga yang ada di lantai tiga. sementara itu, Saga hanya bisa menggerutu didalam benaknya.


'enak aja dia main perintah istri gua kaya gitu. liyat aja, setelah gua berhasil jadi orang sukses gua gak bakal biarin lu nyuruh-nyuruh istri gua, karna gua gak akan biarin istri gua kerja ditempat lu.'


'ah iya ngomong-ngomong gua kan gak jadi keluar dari kerjaan gua. mending gua izin karena semalem sama nanti pasti gua gak bisa kerja!'


Saga mulai memeriksa ponselnya, ia menekan tombol untuk mengaktifkan ponselnya. namun ternyata baterai ponselnya butuh pengisian daya. saat itu ia memutuskan untuk masuk kekamarnya, namun sebelum itu ia ingat bahwa ia tidak membawa charger ponselnya.


"emm permisi, dimana gue bisa dapet charger disini?"


"kamu bisa tanya dengan satpam"


"oh.. oke"


saat itu dengan langkah malas, Saga pergi menuju pos satpam. karena rumah Arga yang besar, halamannya pun cukup luas sehingga butuh waktu beberapa saat untuk sampai di pos satpam.

__ADS_1


"gue belum bikin rencana supaya lo pergi, ini lo sendiri malah yang bantuin gue biar rencana gue sukses!" ketika Saga berjalan keluar, Arga segera pergi ke ruang kerjanya. ia ingin memancing Saga supaya semakin merasa resah dengan kehadiran Arga ditengah-tengah rumah tangganya. ia akan menanamkan sebuah keraguan didalam hati Saga, agar nantinya Lesya akan merasakan kehilangan seseorang yang ia cintai.


"apa lo belum nemuin map yang gua maksud?"


Lesya terjingkat saat mendengar suara Arga. pasalanya saat itu ia tengah sibuk mencari map yang diperintahkan oleh Arga.


"saya belum menemukannya"


'ya gak bakallah lo bisa nemuin map yang gue maksud, karna map itu emang gak ada dimeja'


Arga lagi-lagi menarik sudut bibirnya.


"mungkin ada dirak atas, cepet lo ambil!"


"tapi itu tinggi banget pak?" protes Lesya.


"pakek itu" Arga menunjuk sebuah bangku untuk digunakan sebagai pijakan Lesya.


Lesya melangkah dan menarik bangku tersebut untuk lebih dekat dengan rak buku yang tadi ditunjukkan oleh Arga. Lesya pun mulai menaikkan satu kakinya. awalnya ia ragu, namun ia tetap harus melakukannya karena memang saat ini ia hanyalah seorang bawahan, bukan CEO seperti saat ia di kantornya sendiri.


Lesya menarik nafas dalam, lalu ia membuamgnya kasar dan perlahan naik ke atas bangku yang cukup tinggi. hingga akhirnya ia mendapatkan map yang ia cari.


"yup.. akhirnya dapet!"


"ya sudah cepat bawa kesini, gue mau periksa isinya bener apa engga!"


"enghh iya sebentar pak, saya ini juga sedikit ngeri karena lupa masih pakek heels tau pak!" dan benar dengan ketakutannya, saat itu Lesya kehilangan keseimbangan dan,


brug

__ADS_1


Lesya memejamkan matanya. namun saat itu ia merasakan nafas hangat yang menerpa kulit wajahnya dan perlahan ia membuka matanya. saat itu ia berada dipelukan Arga yang menatap lekat kedua manik matanya.


"Lepasin istri gua!" Saga yang baru datang segera mengambil alih. rahangnya yang mengeras membuat Lesya tau bahwa saat ini suaminya sedang sangat kesal.


Saga menarik Lesya keluar ruangan, ia membawa Lesya turun kelantai dasar. setelah itu ia menghempaskan tangan Lesya dengan cukup kasar.


"Saga.."


"aku gak habis pikir sama kamu Lesya, kenapa kamu mau-maunya disentuh sama laki-laki itu? apa kamu gak perduli disini ada suami kamu! udah cukup kamu perhatian bahkan kamu rela buat membuang racun ular buat dia, walaupun itu bisa bahaya buat kamu. tapi kali ini kamu malah mau disentuh sama dia hemm?" Saga menyugar rambutnya kemudian kembali memegang kedua pundak Lesya cukup membuat Lesya kesakitan.


"Saga, apa yang kamu bilang barusan? aku bukan perempuan kaya gitu Saga, apa selama ini kamu gak bisa memahami aku sebagai istri kamu?"


Saga membelakangi Lesya yang saat itu meminta jawaban.


"aku tau saat ini aku bukan Saga yamg bergelimang harta, tapi bukan berarti kamu mau disentuh sama laki-laki itu Lesya. aku tau dia kaya! tapi aku saat ini sedang berusaha!"


"Saga tenanglah.." Lesya menangkup dagu Saga, ia berusaha menahan egonya. ia tau saat ini ujian didalam rumah tangganya adalah ekonomi.


"aku sangat paham dengan apa yang kamu katakan barusan itu hanya karna emosi Saga, aku tau aku tadi salah karna bertanya sama kamu dan mempertanyakan tentang pemahaman. tapi aku harap didalam keadaan seperti ini kita bisa mengurangi ego kita dan kita bersama saling menyemangati satu sama lain Saga!"


Lesya kemudian memeluk suaminya dengan lembut. saat itu Saga mendadak melunak dan membalas pelukan dari Lesya.


"apa yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu pikirkan Saga. sebenarnya tadi aku hanya ingin mengambil map yang ada di rak paling atas, tapi aku kehilangan keseimbangan. dan saat aku membuka mata, pak Arga sudah menangkapku Saga"


Saga lalu merenggangkan pelukannya saat itu ia menatap kedua netra Lesya dengan mata yang berbinar. namun dengan segera ia kembali menarik Lesya kedalam pelukannya. Saga justru memeluk Lesya lebih erat.


"maaf sayang, aku memang tidak bisa bersikap dewasa jika aku lihat istri aku deket sama laki-laki lain. dan aku kaya gini karna aku gak mau kehilangan istri aku"


Lesya yang mendengar perkataan Saga, ia mendongak dan tersenyum. dan hal itu seketika membuat hati Saga merasa teduh. Saga kemudian mengecup lembut kening Lesya dan kembali memeluknya.

__ADS_1


sementara disisi lain Arga ternyata diam-diam mengamati mereka dari lantai dua. Arfa mengepalkan tangannya hingga buku-buku kuku tangannya memutih.


__ADS_2