
Ceklek
Seorang pegawai masuk kedalam ruangan Dikta, saat itu ia tidak melihat siapapun.
"Taruh di atas meja, saya sedang dikamar mandi!" Sahut Alden yang sedikit mengeraskan suaranya.
"Baik pak" sahut pegawainya.
Setelah meyelesaikan perintah dari Alden, pegawai tersebut kembali ke lantai dasar untuk melanjutkan pekerjaannya.
Saat itu Dikta masih dengan keadaan yang sama melihat Alden yang berdiri di dekat pintu. Untung saja ruangan Dikta memiliki sekat diantara meja kerha dan tempat tidur, sehingga pegawainya tidak melihat apa yang terjadi dengannya bersama Alden.
Alden beranjak dari ruangan tempat tidur dan membawakan bubur yang sudah ia pesan. Ia lalu duduk disebelah Dikta yang masih menatapnya datar.
"Makanlah Dikta, ini baik untuk seorsng yang sedang mabuk!" Alden meletakkannya diatas nakas. Sevelum Dikta mengatakan apapun, Alden bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
Alden menuruni tangga dan melihat keadaan restorannya yang mulai ramai datang pengunjung. Karena keadaan yang belum ramai, Alden duduk di kursi yang ada diteras restorannya. Disana ia memikirkan sikap dan perkataan Dikta.
Ia termenung sendirian memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk menyelesaikan permasalahannya kali ini.
Entah sejak kapan perasaannya menjadi sedalam ini terhadap Dikta. Biasanya ketika Dikta memarahinya atau mendiamkannya, ia tidak akan serisau saat ini.
'Gue yang salah, jadi pantes Dikta semarah itu. Sampai-sampai dia mabuk seperti itu.' Gumam Alden merutuki dirinya sendiri.
'Sebenernya gue juga gak suka dicium sama cewe itu Dikta. Tapi saat itu aku melihat kak Samuel, jadi aku tidak ingin membuatnya curiga. Karna selama ini yang dia tau, aku sangat menikmati kebersamaan dengan banyak gadis. Dan jika mendadak aku menolak ciuman, apalagi itu dari tunanganku, aku takut dia akan curiga dengan perubahanku ini'
Alden mengacak rambutnya frustasi dan bergegas meninggalkan restoran dengan mobilnya.
Tanpa Alden tahu, saat itu Dikta memperhatikannya dari jendela ruangannya ketika ia duduk di teras restoran yang kebetulan letaknya di diseberang jendelanya.
"Kamu mau kemana Al? Bukannya jelasin semuanya, kau justru menghindariku dengan pergi dari restoran. Padahal tidak ada jadwal kuliah untuk hari ini kan?" Pikiran Dikta mulai gusar, semarah apapun dirinya terhadap Alden, ia tetap tidak ingin jika terjadi sesuatu karena Alden mengemudikan mobilnya cukup kencang.
Di sudut lain dan masih di kota yang sama, terlihat Yoo joon yang menemani Kenan dan juga Dita. Pagi ini Dita meminta izin karena kesehatan adiknya. Dan pihak restoran pun memberikan izin itu karena Dikta dan Alden sudah mengatakan perihal kesehatan Kenan. Jadi kapanpun Dita meminta izin, asalkan itu menyangkut Kenan, pihak restoran tidak akan melarangnya.
Yoo joon mengusap lembut rambut Kenan. Ia menatap wajah Kenan dengan sendu. "Seharusnya anak seusiamu saat ini sedang bermain dan melakukan permainan dan kenakalan dengan teman-temanmu. Tapi keadaanmu justru menuntutmu menjadi diewasa dengan berusaha tabah menerima keadaanmu yang seperti ini Kenan."
"Aku tau kau ini anak yang kuat. Aku sering melihatmu kesakitan, namun ketika kau melihat kakakmu, dengan segera kau menyembunyikan rasa sakit itu!"
Melihat kedewasaan yang dimiliki oleh Kenan, rasanya seperti tamparan yang keras baginya. Seorang anak kecil bahkan bisa berpura-pura bahagia didepan orang yang disayangi, tapi kenapa Yoo joon justru memperlihatkan kekecewaannya saat itu.
'Aku berjanji padamu Kenan, apapun yang membuat kakakmu bahagia aku juga akan bahagia. Meskipun kebahagiaannya dengan orang lain dan tidak melibatkanku. Dan mulai saat ini aku tidak akan menunjukkan kekesalanku jika dia memilih dekat dengan orang lain'
Perlahan netra Kenan terbuka, orang yang pertama kali ia lihat adalah Yoo joon yang saat itu tengah menyeka air mata yang belum sempat lolos dari pelupuk matanya.
"Kak Yoo joon" lirihnya.
"Hei Kenan, kau lama sekali tidur? Aku sangat merindukanmu, padahal aku ingin mengajakmu bertanding!"
Seulas senyum tercetak tanpa beban di wajah mungilnya. Wajahnya yang tirus membuat senyum tipis memenuhi wajahnya.
"Huh jangan berharap menang kak Yoo joon. jika aku sudah pulih, baru satu detik saja kak Yoo joon pasti tumbang"
Ketika menyelesaikan ucapannya, Yoo joon dan Kenan saling menatap dan kemudian keduanya terkekeh bersama.
Mwndengar suara tawa yang memenuhi ruangan, membuat Dita kembali dari dunia mimpinya. Ia membuka kedua matanya dan mengedarkan pandangannya, dimana saat ini adiknya tengah tertawa bersama dengan orang yang sepsial baginya.
__ADS_1
"Kenan, kau sudah bangun sayang?" Dita mengusap lembut rambut Kenan.
"Pagi semuanya."
"Pagi dok"
"Saya akan memeriksa keadaan pasien dulu ya"
Ketika dokter memeriksa keadaan Kenan, Dita menggunakan kesempatan itu untuk berbicara dengan Yoo joon di luar ruan rawat Kenan.
"Kak Yoo joon, apa kau baik-baik saja?"
"Ya tentu, ada apa kau menanyakannya Dita?"
"Emm... aku merasa kak Yoo joon seperti memikirkan sesuatu?"
Dita terua melihat Yoo joon yang ada didepannya. 'Dan aku merasa kau mebjauhiku kak! Kau tidak lagi perhatian'
"Tidak begitu Dita, aku hanya ingin pergi ke negara asalku untuk mencari donor jantung buat Kenan!"
"Huh..?" Seperti tidak percaya, Dita terhenyak mendengar hawaban seperti itu dari Yoo joon.
'Dan semoga dengan cara ini aku bisa merelakanmu bersama dengan Dylan.'
Ada senang didalam hati Dita ketika mendengar keinginan Yoo joon, tetapi ada rasa tidak rela baginya ketika harus jauh dengan Yoo joon. Ya, Dita sebenarnya memiliki perasaan yang sama dengan Yoo joon, namun karena ia ingin fokus dengan keadaan Kenan, Dita menjawab ungkapan perasaan dari Yoo joon dengan menunggu kesembuhan adiknya terlebih dulu.
_
Hari ini Lesya begitu sibuk dengan pekerjaannya. seperti biasa Andi selalu menyiapkan makan siang untuk Lesya.
'Walaupun kita nikah untuk menyenangkan almarhum nenek, tapi gue tulus sama lo Andi'
"Heh lo kenapa liyatin Andi terus? Lo suka sama dia?" Tanya salah seorang staf.
"Enggak kok, mana mungkin aku menyukai sahabatku sendiri" sanggah Via sembari tersenyum getir.
"Ya bagus deh lo sadar! Lo liyat kan Andi sama lo itu bagaikan langit sama bumi." Setelah mengatakan semua itu, staf itupun pergi meninggalkan Via dengan perasaannya yang berkecamuk.
"Permisi nona.."
"Huh iya.." Via tersentak ketika seseorang berada didepan mejanya tiba-tiba.
"Aku sudah memanggilmu tadi, tapi karena kau tidak menjawabku aku mendekat kesini"
"Oh iya tidak apa pak Doni, maaf aku yang tidak fokus"
Sejenak melupakan permasalahannya, kini Via mulai fokus kembali dengan pekerjaannya.
"ada yang bisa aku bantu?" Tanya Via dengan mata polosnya menatap Doni.
'Wuih.. kalo sedeket ini kenapa dia lebih cantik?' Batin Doni.
"Pak Doni.." Via menggerakkan telapak tangannya untuk menyadarkan Doni.
"Pak Doni, pegawai saya mengajak anda berbicara!" Ujar Lesya yang baru jeluar dari ruangannya bersama dengan Andi.
__ADS_1
Mendengar suara Lesya, Doni pun tersadse daei lamunannya dan beralih melihat ke arah Lesya yang berdiri disampingnya.
"Ah ini bu Lesya, saya mengantarkan berkas yang kemarin tertinggal dan belum sempat kita bahas"
"Baiklah, mari ikut ke ruangan saya pak Doni"
Doni pun segera mengikuti Lesya kedalam ruangannya. Disana ia memperhatikan tidap sudut ruangan yang menurutnya sangat menarik.
"Emm maaf bu Lesya, sepertinya anda mengubah interior ruangan anda?"
Lesya pun mengedarkan pandangannya dan memperhatikan setiap sudut ruangan yang memenag baru kemarin ia mengubah interiornya dengan suasana yang berbau warna biru.
"Emm iya pak Doni, saya memang ingin mengubahnya"
'Ada yang aneh dengan bu Lesya? Biasanya dia sangat suka dengan warna monocrome dan ini, ini benar-benar berbeda dengan seleranya'
"Huwek.."
"Permisi pak Doni, saya harus ke toilet" ucapnya seraya bergegas menuju kekamar mandi.
Setelah beberapa saat Lesya kembali menemui Doni.
"maaf membuatmu menunggu dan tidak nyaman!" Tuturnya.
"Tidak apa bu Lesya. Apa bu Lesya sedang sakit?"
"Tidak pak Doni, ini bisa untuk wanita yang sedang hamil"
"Ooo.." Doni mengangguk mendengar penuturan Lesya.
Akhirnya mereka mulai membahas berkas yang sudah dibawa oleh Doni. Selang beberapa menit kini Doni sudah kembali ke kantornya.
Doni menyusuri kantir dengan berjalan cukup cepat. Saat itu ia mencari keberadaan bossnya.
Dan benar, saat itu Arga tengah menikmati segelas jus di rooftop kantornya.
"Ada yang ingin aku bicarakan Arga"
Sontak suara Doni mengalihkan pandangan Arga yang tengah menatap ke araj hiruk pikuk yang ada dibawah gedungnya.
"Ada apa Doni, kenapa kau kelihatan seperti itu?"
"Apa kau tau Arga, Lesya saat ini tengah mengandung"
"Apa?"
Arga meremas gelas ditangannya hingga pecah. Dan hal itu tidak membuat Doni terkejut, karena memang Arga akan menghancurkan apa saja yang ada ditangannya ketika ia tidak senang.
"Meskipun kamu hamil, aku tidak akan membiarkan milik bang Arvin tetap bersama Saga. Saga tidak pantas untuk Lesya Doni" ucapnya penuh penekan juga tatapan penuh ambisiusnya.
.
.bersambung
.
__ADS_1