
Saga dan Lesya tertegun ketika mendapati ayah mereka berdua datang bersamaan. keduanya terlihat sangat tegas dengan wibawanya masing-masing. disatu sisi Saga yang mulai merasa ciut, dan disisi lain ia merasa tidak enak dengan Guntara ayah mertuanya.
"om.." Saga mencium punggung tangan kedua ayahnya begitupun dengan Lesya.
"papa tidak ingin kamu menceraikan Lesya Saga! papa tau, mungkin saat ini kamu tidak mengingat jika Lesya adalah istri yang kamu cintai, tapi jangan mengambil keputusan secepat ini jika kamu belum mengingat semuanya. dan asalkan kamu tau nak Saga, Lesya tidak seburuk yang kamu pikirkan!" ucap Tuan Guntara.
"tenang mas Gun, Saga tidak akan menceraikan Lesya!" sahut Darmawan.
"papa, dimana mama? kenapa mama gak ikut kesini?" Lesya berusaha mengalihkam pembicaraan agar tidak semakin mengerucut.
"mama kamu harus kerumah oma sayang, karena mendengar Saga tidak mengingatmu. oma kamu mendadak drop, dan mamamu harus merawat dan menguatkannya!"
"kalau begitu lebih baik setelah mami sembuh, kita ke rumah oma ya pa?lagi pula sudah lama Lesya gak kesana kan!"
sementara Lesya yang tengah berbincang dengan Ayahnya, kini tuan Darmawan menarik Saga kesudut untuk berbicara sesuatu. setelah mereka selesai dengan papa yang mereka bahas, kini mereka kembali bergabung dengan Lesya dan tuan Guntara.
"Lesya, tolong kamu temani Saga untuk ambilkan baju ganti buat papi ya, soalnya tadi koper papi udah dibawa supir pulang. bisa kan sayang?"
"emm iya pi, ya udah Lesya pulang dulu ya pi, pa"
Lesya pun segera bergegas menuju ke area parkir rumah sakit dan di susul oleh Saga di belakangnya.
"tunggu mba, biar gua yang bawa mobilnya!"
tanpa membalas ucapan Saga, Lesya langsung duduk di samping pengemudi sembari memperhatikan Ponselnya. Saga yang melihat tingkah Lesya pun mengerutkan dahinya.
'kenapa dia diem aja? apa dia marah sama gua? ah bodo amat, kalo dia kaya gini malah makin gampang nanti kalo gua minta pisah!'
disepanjang perjalanan, Saga dan Lesya hanya saling diam. suasana hening membuat semakin tidak nyaman. terlebih hari itu Lesya belum memakan apapun sedari pagi.
dan setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di kediaman Darmawan.
setelah memasuki rumah, Lesya langsung pergi kekamar mertuanya untuk menyiapkan baju ganti ayah mertuanya. namun setelah Lesya membuka pintu kamar, ia tidak menemukan koper yang ayah mertuanya katakan sudah dibawa pulang oleh supir yang mengantarnya.
"disini gak ada koper?" Lesya berpikir akan sesuatu hingga ia akhirnya berencana untuk menemui sang supir.
Lesya menuju ke garasi rumahnya, namun ia tidak menemukan ada supir disana. bahkan mobil ayahnya pun tidak ada sama sekali.
"apa ayah sengaja, menyuruhku dengan Saga pulang?" seakan tau niatan dari ayah mertuanya, akhirnya Lesya hanya membawakan baju ganti seadanya yang ada di lemari.
setelah usai menyiapkan baju untuk ayahnya, tiba-tiba lampu padam.
"kenapa lampunya mati? lebih baik aku gunakan ponsel untuk penerangan!"
__ADS_1
gubrak
brus
bug
prank
"ada apa di bawah, kenapa sangat bising?"
"tolong lepaskan saya, saya gak tau apa-apa. saya hanya pembantu disini!" ucap asisten rumah tangga yang tengah di ikat oleh orang yang tak di kenal dengan masker yang menutupi wajahnya.
Lesya terperanjat saat melihat beberapa asisten rumah tangganya dan juga Saga yang sudah di ikat oleh beberapa orang yang tidak dikenal.
"apa mereka perampok? lebih baik aku menghubungi polisi!"
"halo, polisi disini dikediaman Darmawan ada perampokan!"
"woy tangkap wanita itu!"teriak salah satu penjahat.
bukannya lari, Lesya justru mendekat untuk melawan orang-orang itu. terjadi pergulatan yang sengit. sebagai perempuan, Lesya sangat tangguh dan pemberani. meskipun beberapa kali terkena pukulan, Lesya tidak menyerah untuk melawan. hingga salah satu penjahat menodongkan pis*u di dekat leher Saga.
"beritau harta kalian, atau pria ini akan kami hab*si sekarang juga!"
akhirnya penjahat-penjahat itu berhasil meeingkus Lesya, dan mengikatnya didekat Saga. namun saat penjahat-penjahat itu akan melancarkan rencannya untuk mengais semua harta Darmawan yang ada di rumahnya, tiba-tiba sirine polisi terdengar.
saat para polisi memasuki kediaman Darmawan, semua perampok sudah melarikan diri tanpa membawa sepersenpun harta. mereka justru lebam-lebam karena mendapat pukulan dari Lesya.
"terimakasih pak, kalian datang tepat waktu untuk menyelamatkan kami!" tutur Lesya dan setelah ia mengucapkan terimakasih, polisi-polisi itupun pergi meninggalkan kediaman Darmawan.
"mang, tolong nyalakan listriknya ya. dan untuk bibi, bibi bisa istirahat sekarang!"
"baik non" ucap mereka bersamaan.
ketika Lesya memperhatikan seluruh ruang tamu yang berantakan, akhirnya pandangan Lesya berhenti kepada seseorang yang saat ini terduduk di sofa ruang tamu dengan luka memar di tangan dan diwajahnya. bahkan lehernyapun sedikit tergores oleh pis*u penjahat itu.
Lesya lalu membawa kotak obat dan alat kompres. ia lalu duduk disebelah Saga yang masih kesakitan.
saat itupun Lesya hendak mengobati leher Saga yang terluka, namun tangan Saga segera menyanggah tangan dari Lesya.
"gua bisa sendiri!"
"baiklah, silahkan kamu pegang ini" Lesya menyerahkan kotak obat dan segera meninggalkan Saga.
__ADS_1
"ini gimana gua ngobatinnya? ah mending gua pakek hp gua aja" Saga berusaha untuk mengobati luka yang ada dilehernya, namun hingga beberapa kali ia gagal untuk menempelkan perban di lehernya.
mulai dari menggunakan sebelah tangan hingga menggunakan kedua tangannya.
"yaelah kalo kaya gini caranya gimana kelihatan? oh iya gini ajalah!" Saga menggunakan kedua telapak kakinya untuk memegangi ponselnya yang ia gunakan untuk melihat lukanya,
"arghh anj*r tetep gak kelihatan lagi!"
hingga akhirnya Lesya datang membawa segelas air putih untuk Saga. "lebih baik kamu minum ini, biar aku yang ngobatin luka kamu!"
dengan wajah keputusasaan akhirnya Saga menuruti ucapan Lesya. Lesya dengan sangat telaten mengobati satu persatu luka memar dan lebam di wajah Saga dan di bagian tubuh lainnya hingga selesai.
"sudah selesai, lebih baik sekarang kita makan malam dan abis itu kita langsung pergi ke rumah sakit.!"
-
setelah sampai di rumah sakit, Lesya langsung memberikan baju ganti untuk ayahnya.
"papi, apa mami sudah tidur?"
"iya sudah Lesya, dan tadi papamu harus pergi sebelum kamu sampai karena mama kamu menelfonnya!"
"iya pi, tadi waktu dijalan papa udah kabarin Lesya!"
"Lesya, tangan kamu kenapa sayang?"
wajah tuan Darmawan berubah menjadi cemas saat menyadari memar dibeberapa bagian tubuh menantunya.
"apa Saga yang melakukannya?" belum sempat Lesya mengatakan sesuatu, ayah mertuanya sudah lebih dulu menduga bahwa Saga lah yang melakukannya.
"papi apa-apaan si, papi gak lihat ni wajah sama leher Saga luka-luka kaya gini!" sahut Saga yang baru bergabung.
"sebenarnya ada apa dengan kalian?"
"tadi ada rampok pi dirumah, dan untung saja polisi datang tepat waktu!"ucap Lesya.
"astaga, kenapa kamu tidak memberitau papi? dan apa sudah diobati sayang?" tanya ayah mertuanya.
"Lesya pikir sudah ada Saga dirumah dan polisi juga sudah datang membantu pi! dan untuk ini, nanti Lesya akan meminta salep dari dokter!"
'kenapa gua baru sadar kalo mba Lesya memarnya cukup parah! dan tadi, justru dia yang berusaha ngelindungin gua. padahal gua udah dingin banget sama dia! apa bener mba Lesya itu gak seburuk yang gua kira?'
.
__ADS_1
.bersambung
.