
Andi menemui Ibunya yang tengah berada didalam kamarnya. ia lalu duduk disebelah ibunya dan meraih tangan ibunya.
"aku akan menuruti mama, tapi kasih Andi waktu buat cerai sama Via ma. saat ini Via hamil, jadi Andi gak mungkin ceraiin dia sekarang ma"
Ibunya terperanjat kaget mendengar bahwa kini Via tengah mengandung, tetapi ia berusaha terlihat tidak memperdulikan hal itu.
"baiklah, tapi kau harus bertunangan lebih dulu dengan calon yang mama pilih buat kamu" dengan perlahan Andi menganggukkan kepalanya.
Setelah bernegosiasi dengan ibunya, Andi memutuskan untuk tidak menginap. ketika ia sampai di rumahnya, ia mendapati Via yang tertidur dimeja kerjanya.
"lo ini ceroboh banget Via. mana boleh perempuan hamil tidur dengan posisi seperti ini kan? "
Andi lalu melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"ternyata ini udah jam sembilan, pantes aja lo sampek ketiduran disini Vi"
Andi mengangkat tubuh Via, ia membaringkan Via di atas tempat tidur. perlahan tangannya terulur dan menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah Via.
"lo kelihatan capek Vi, apa gue sanggup buat ceraiin lo. bahkan sekarang gue lihat lo dideketin sama pria lain rasanya panas banget Vi. gue yakin saat ini gue udah cinta sama lo Vi. walaupun gue tau sekarang lo tengah hamil anak orang lain" Andi mengecup dahi Via dengan lembut.
"sebelum rasa ini terlalu dalam, gue harus segera kubur dalam-dalam. dan gue gak boleh bikin Via jatuh cinta sama gue dengan perhatian yang gue kasih. karena gue tau, kalo sampek Via cinta sama gue, dia bakalan terluka. karena gue gak bisa ngecewain mama! "
tanpa terasa Andi menitikkan airmatanya dan kini kembali mengecup dahi istrinya yang terlelap.
"kalo gue yang sakit karena mendem cinta ini sama lo gak pa-pa Vi, asal bukan lo yang terluka"
Ddrrrttt Ddrrrttt
"siapa si jam segini telfon gue? " Andi memeriksa ponselnya yang baru saja ia keluarkan dari dalam saku celananya.
Dahinya berkerut, Andi sedikit heran dengan nama yang tertera di layar ponselnya. karena tidak ingin menganggu tidur sang istri, akhirnya Andi membawa ponselnya keluar kamar dan mengangkatnya.
"iya ada apa pak Doni? " tanya Andi.
"aku menemukan petunjuk baru tentang seseorang yang berbuat jahat kepada Via"ucap Doni diseberang telefon
Sementara itu saat ini ditempat lain Lesya yang masih terpukul terus berada didalam pelukan Yoo joon hingga siapa saja yang melihatnya akan negara jika keduanya bersuami istri.
Karena memeluk Yoo joon terlalu lama, akhirnya Lesya kembali terlelap. dan saat ini Alden dan juga Dikta berada didalam kamar Lesya bersama.
"sebenarnya apa yang terjadi?" Yoo joon mengajak Alden dan juga Dikta berbincang di sofa didekat tempat tidur Lesya.
"polisi menghubungi mba Lesya bahwa mereka menemukan mobil milik Saga. tetapi Saga tidak ditemukan di sana, dan justru polisi menemukan bercak darah dan sobekan kain pakaian Saga" jelas Dikta.
"apa Saga di rampok?"
"polisi belum mastiin itu perampokan atau hanya untuk mencelakai Saga. tapi kalo di lihat dari mobil dan dompet Saga yang masih ada, itu jelas-jelas bukanlah perampokan" tambah Alden.
Setelah mendengar cerita dari Alden dan juga Dikta, Yoo joon menghubungi seseorang . Yoo joon memerintahkan orang-orang nya untuk menyelidiki tentang apa yang di alami oleh Saga.
__ADS_1
Keesokan harinya Lesya terbangun dan melihat keberadaan Dikta, Alden dan juga Yoo joon yang tertidur di atas sofa.
Ddrrrttt
Lesya segera mengangkat telefon yang masuk. dan ternyata telefon tersebut untuk berasal dari kantor polisi yang menangani kasus yang menimpa Saga.
"baik Pak, aku akan kesana."
Lesya begitu tergesa dan menuju kamar mandi. dimana disaat Lesya berada dikamar mandi, saat itu Yoo joon terbangun dan mendapati Lesya yang sudah tidak ada di atas tempat tidur.
"Dikta, Alden, bangunlah" Yoo joon mengguncang tubuh Dikta dan Alden bergantian hingga keduanya terbangun.
"ada apa kak, kenapa kau membangunkanku?" ucap Alden sembari menguap.
"Lesya dimana, kenapa dia tidak ada?" tanya Yoo joon dengan panik.
"apa kau sudah memeriksa kamar mandi? " tanya Dikta
"aku akan memeriksanya" balas Yoo joon dan berjalan mendekat ke arah kamar mandi.
Namun sebelum ia mengetuk pintu kamar mandi, Lesya sudah keluar lebih dulu. karena terkejut Lesya terjangkau dan alas kaki yang licin membuatnya terpeleset hingga ia jatuh tepat di tangkapan Yoo joon yang saat itu segera menangkap Lesya.
"Hati-hati Sya"
"apa perutmu sakit mba Lesya? " tanya Dikta yang terlihat cemas.
"Joon antar aku kesana"
"mari"
"dan kalian berdua, aku minta tolong kalian tetap disini. tolong lacak keberadaan ponsel Saga" ucap Yoo joon sembari melangkah keluar kamar.
Akhirnya Alden dan Dikta masih tetap di dalam kamar hotel. namun keadaan saat itu berubah menjadi hening, Alden yang masih merajuk segera pergi kedalam kamar mandi. sementara itu Dikta ingin berbicara dengan Alden, namun ia bingun memulainya dari mana.
"kelihatannya Alden masih marah denganku. dan kemarin aku belum sempat meminta penjelasan dari ucapannya. apa yang Alden maksud dengan ucapanku saat aku mabuk?"
Untuk menunggu Alden yang biasanya cukup lama didalam kamar mandi, Dikta memilih untuk memesan sarapan untuknya dan juga Alden.
"baik saya tunggu, tolong jangan terlalu lama" titah Dikta.
ceklek
Alden keluar dengan mengenakan bathroobe hotel. disana ia terpaksa memakai bathroobe karena ia terpeleset hingga pakaiannya menjadi basah.
tuk tuk
mendengar suara ketukan Dikta segera membukanya. dan benar ajaa jika itu sarapan yang ia pesan.
"Al, ayo kita sarapan"
__ADS_1
Awalnya Alden ingin menolak, namun ia ingat jika saat ini bukanlah waktunya untuk berdebat. hingga akhirnya Alden menerima sarapan yang disiapkan oleh Dikta tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Disela acara makannya, Alden memesan pakaian dari toko terdekat menggunakan ponselnya.
"ehem, Alden. aku ingin menanyakan sesuatu"
Alden menghentikan sesendok makanan yang hampir masuk kedalam mulutnya dan mengembalikannya ke atas piring.
Alden menatap Dikta dengan tatapan sedikit tidak suka.
"sebenarnya apa yang kamu maksud waktu itu? ucapan apa yang kamu maksud Al? "
"aku tidak perlu menjawabnya. tanyakan saja dengan hatimu, nanti kamu pasti akan tau! " balasnya.
Karena merasa selera makannya yang sudah turun, Alden bangkit dan hendak keluar kamar. tetapi Alden mencekal tangannya dan menariknya hingga Alden begitu dekat dengannya.
menyadari posisinya yang terlalu dekat, Alden mendorong Dikta.
"jawab aku Al, aku benar-benar gak inget aku ngomong apa waktu aku mabuk! "
"dan aku tidak ingin mengucapkannya"
Karena geram dengan jawaban Alden, Dikta mendorong Alden hingga mebemmpel dengan dinding dan saat itu Dikta mengekangnya hingga Alden tidak bisa berkutik.
"jawab aku Al" kini suara Dikta sedikit meninggi.
"baiklah aku akan memberitahumu. waktu itu itu kau sangat tergila-gila dengan kekasih barumu itu Dikta. jadi sekarang terserah kalo kamu mau dengan wanita itu. karena aku mang gak pantes buat kamu. aku selalu egois dan kamu berpikir kalo aku nggak pernah menghargai kamu, jadi pergi dan kejar wanita pintar itu yang selalu ngehormatin kamu yang bisa muasin kamu saat kamu menciumnya! "
"Alden" Dikta benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang diucapkan oleh Alden.
"mana pernah aku mengatakan aku mencintai Nadia Al, aku cuman cinta sama kamu"
"lalu apa kamu ingat dengan yang kamu ucapain waktu mabuk? atau jangan-jangan kamu akan melakukan hal lain dan kamu akan melupakannya. atau justru kamu akan mencimhhhh" belum selesai dengan ucapannya, Alden sudah dibuat sesak nafas karena Dikta Mel*mat bibir Alden dengan brutal.
tuk tuk
ketukan pertama tidak diperdulikan oleh Dikta. dan Alden mendorong Dikta untuk melepasnya.
"lepas Dikta, aku akan membuka pintunya, atau orang itu akan masuk karena aku sudah menyuruhnya masuk jika akau tidak membukanya. "
namun Dikta justru kembali menarik Alden dan melakukannya kembali. hingga seseorang membuka pintu tersebut.
ceklek
kedua mata Alden membulat sempurna. ia tau jika yang datang adalah seseorang pelayan hotel yang menerima baju miliknya dari toko yang mengantarkan pakaiannya.
.
bersambung
__ADS_1