
Langkah kaki beberapa orang yang memasuki ruangan Via membuat Lesya semakin panik, namun Saga berusaha menenangkannya. namun Elgara terbangun dan menangis hingga membuat orang-orang tersebut semakin mempercepat langkahnya.
"kalian tidak bisa masuk ke sana, kalau kalian masuk kalian akan mengganggu kesehatan anakku. dan kalau itu terjadi kalian akan ku laporkan ke pihak yang berwajib."
Orang-orang tersebut ternyata tidak mengindahkan ancaman dari Doni. orang-orang tersebut justru semakin penasaran dengan apa yang sedang ada di dalam. salah satu dari mereka sudah hampir membuka tirainya, namun seseorang melarangnya.
"jangan membukanya, kalian ini siapa? kenapa kamu melihat bayi itu tanpa menggunakan seragam scrub rumah sakit untuk melihat keadaan bayinya? kalian mau ku laporkan ke polisi karena menggangu pasienku? " ucap Dokter yang baru saja masuk.
Karena kali ini yang mengatakannya adalah Dokter, akhirnya orang-orang itu keluar dengan sendirinya dan tanpa paksaan. ketika pintu sudah tertutup akhirnya Doni bisa bernafas dengan lega.
"Terima kasih dok, dokter sudah datang tepat waktu"
"iya sama-sama Pak, saya datang kesini karena di beritahukan oleh pak Yoo joon di luar. dia bilang ada orang yang ingin menganggu kalian. ya sudah kalau begitu saya permisi"
"baik dok, Terima kasih"
Setelah Dokter keluar dari ruangannya, Via mencecar Doni dengan banyak. pertanyaan kenapa dia mengaku sebagai suaminya dan juga termasuk kenapa orang-orang yang tidak di kenal berada di ruangannya. dan siapa pula yang berada di balik tirai sehingga Doni panik ketika orang-orang itu ingin memeriksanya.
"kamu akan segera tau Via"
Tirai terbuka dan Lesya bersama dengan anak dan suaminya keluar dari balik tirai. Saat itu kedua bola mata Via membulat sempurna ketika mendapati atasannya bersama dengan suaminya yang hilang.
"but Lesya, pak Saga? pak Saga masih hidup? "
"iya Via, suamiku masih hidup" balas Lesya
"tapi kenapa, kenapa orang-orang tadi mencari kalian? "
__ADS_1
"mereka adalah orang-orang dari seorang mafia, dimana anaknya sangat menyukai Saga." tambah Lesya.
Ketika mereka tengah berbincang tiba-tiba pintu terbuka dan membuat semuanya panik. mereka mengira yang datang adalah orang-orang yang tadi memasuki ruangan mereka.
"Bu Lesya, pak Saga, mari ikut denganku" dan ternyata orang yang membuka pintu tersebut adalah Andi yang sudah di hubungi oleh Yoo joon untuk membantu Lesya dan Saga keluar dari rumah sakit.
Tapi sebelum mereka benar-benar pergi, Andi mendatangi anak Via yang tengah tertidur. ia mengusapnya dengan lembut "anak ayah, kamu yang sehat sayang"
Meskipun saat itu Andi masih marah dengan Via yang begitu mudah menandatangani surat cerai, namun Andi tetap menyayangi anaknya meskipun bayi itu bukanlah darah dagingnya.
Setelah mengatakan hal tersebut, Andi segera membantu Lesya dan Saga keluar dari rumah sakit.
Akhirnya dengan susah payah Saga dan Lesya sudah berada didalam mobil dimana selain Yoo joon yang sudah menunggu, di sana juga ada Dylan berada di bangku kemudi.
"kita mau kemana Dylan?" tanya Lesya sembari menggendong Elgara yang masih mengenakan Infus.
"kita akan ke suatu tempat Lesya, orang-orang tadi pasti sudah di beri tau rumah kita. kita tidak bisa menanggung resiko dengan membawa kalian pulang" ujar Dylan.
"aku sudah menyiapkan semuanya, jadi kalian tenang."
_
Sementara itu Alden saat ini memberanikan diri untuk datang ke apartemen Dikta. ia ingin menjelaskan segalanya karena Alden merasa tidak kuat untuk berpisah terlalu lama dengan Dikta.
"Dikta aku mau ngomong sama kamu"
"aku tidak ada waktu, lain kali saja kita ngobrolnya" balas Dikta yang hendak pergi. namun saat itu Alden segera meraih lengan Dikta hingga menghentikan langkah kaki Dikta.
__ADS_1
"jangan mengangguk" Dikta menghempaskan tangan Alden. namun hal itu tidak membuat Alden gentar. Alden saat itu justru memeluk Dikta dengan sangat erat.
"maafin aku Ta, aku ingin kita kayak dulu Ta. aku nggak bisa hidup tanpa kamu"
Dada Dikta terasa sangat sesak, namun ia berusaha terlihat setenang mungkin untuk menghadapi Alden.
"kami nggak bisa kayak gini Al, kita udah nggak ada hubungan apapun. dan jangan mempermainkan hubungan, kamu itu sekarang suaminya Dita."
Dikta terus menghindar dari Alden. karena Dikta terus menghindar, Alden akhirnya menarik tangan Dikta dan segera menarik tengkuk Dikta.
Cup
tanpa memperdulikan ucapan Dikta dan gerakan Dikta yang hendak mendorongnya, Alden justru Mel*mat bibir Dikta dengan brutal.
tok
tok
tok
Pintu apartemen Dikta di ketuk dari luar. saat itu Dikta ingin mengakhiri apa yang dilakukan oleh Alden dengan memaksa menciumnya terus menerus, tetapi Alden begitu kuat mengekang Dikta.
"jangan gila Alden, ada orang di luar" ucap Dikta disela ciumannya dengan Alden.
"mama buka ya sayang" ucap dari luar apartemen.
"mama?" "tante?” Keduanya menoleh ke arah pintu apartemen yang hampir terbuka.
__ADS_1
.
. bersambung