It'S Perfect

It'S Perfect
Perasaan Yang Sama


__ADS_3

Dikta masih tertegun dengan pernyataan dari Alden. Meskipun saat ini Alden masih dalam pengaruh obat, tetapi Dikta senang karena ternyata perasaannya juga sama dengan Alden.


"tapi sejak kapan lu suka sama gua Al?"Dikta tak hentinya memandangi wajah Alden yang tengah terlelap dengan senyung yang terus mengembang diwajahnya.


Sesekali Dikta bermain dengan wajah Alden sehingga Alden menggeliat. Saat itu Alden membuka matanya sekejap dan kembali terpejam. karena malam sudah semakin larut, kini Dikta tidur dengan memeluk Alden. Perlahan ia memasukkan wajahnya keceruk leher Alden.


_


"bu Leysa.." Andi mengejar Lesya yang hendak masuk kedalam ruangannya, namun ia menghentikan langkahnya karna panggilan dari Andi.


"ada apa Andi?"


"didalam ada pak Saga bu Lesya. Ia sudah menunggumu sejak lima menit yang lalu"


"benarkah? Ya sudah kau kembali ke mejamu. Aku akan mengurusnya."


"baik bu"


Ceklek


Kedua netra Lesya menyusuri tiap sudut ruangannya, dahinya berkerut. Pasalnya seseoang yang ia duga sedang menunggunya justru ia tidak menemukam keberadaan siapapun diruangan tersebut selain hanya secangkir teh .


"Dimana Saga? Andi bilang tadi dia menungguku disini tapi.."


Lesya segera menunu kamar yang ada diruangannya. Namun setelah ia masuk, ia juga tidak menemukan siapapun. Lesua berbalik hendak kembali keruangan kerjanya.


"astaga.." Lesya sangat terkejut dengan keberadaan Saga yang tiba-tiba ada dihadapannya.


"pagi mba istri.." ucap Saga dengan memperlihatkan barisan giginya yang seperti gigi kelinci yang putih bersih.


"kamu bener-bener gak sopan ya Saga! Cepat keluar dari sini, kau ini tamu. tidak pantas kau masuk kedalam ruangan pribadiku."


"orang yang kau bilang tidak sopan ini suamimu Lesya. Dan aku lihat kau juga masih memasang fotoku disana" Saga menunjuk dinding dibelakang Lesya yang terpampanh fotonya betsama Lesya.


"emm itu hanya karna aku lupa tidak melepasnya!"


"ohh jadi mba istriku ini sekarang suka lupa? Tapi.. Kenapa seingatku dulu kali terakhir aku datang ketempat ini tidak ada foto itu?" Saga semakin menggoda Lesyua.


Lesya memasang wajah setenang mungkin, ia tidak ingin membuat Saga menjadi besar kepala jika mengetahui Lesya memasang fotonya hanya untuk mengobati kerinduannya terhadap Saga.


"Kau tidak perlu menanyakan apa yang tidak perlu kau tanyakan Saga!" Tegas Lesya. "Lebih baik sekarang kamu keluar dari ruangan pribadiku dan katakan apa yang membuatmu datang sepagi ini di kantorku" tambah Lesya.


"Tidak perlu buru-buru sayang, aku lihat kau sangat senang aku ada disini. Jadi, lebih baik kau ikut duduk disini denganku." Saga menepuk-nepuk tempat tidur disebelahnya. "Jujur saja aki sangat merindukan saat kita berdua ada disini waktu itu"

__ADS_1


Seketika Saga terbayang saat dirinya dan juga Lesya bercanda ditempatnya saat ini duduk, hingga ayah mertuanya masuk dan membuat Saga dengan Lesya seperti maling yang tertangkap basah.


Mendadam Lesya mengerutkan dahinya melihat Saga yang terus tersenyum dengan pandangannya yang jauh. 'Apa Saga benar-benar membayangkan saat itu?' Batin Lesya.


Tak tak tak


Lesya memetik jarinya beberapa kali untuk membuat Saga tersadar dari lamunan yang ada dikepalanya saat ini.


Saga membulatkan matanya sekilas, ia lalu megukir senyum diwajahnya seraya mencubit pipi Lesya hingga Lesya mengusap pipinya karena merasa sedikit sakit.


"Saga, cukup! Jangan bertingkah seperti kita seakrab itu!" Hardik Lesya menatap nyalang Saga.


"Kita memang sangat akrab Lesya, karna aku suamimu dan kau istriku dan satu-satunya wanita yang aku cintai." Saga terlihat sangat serius ketika ia mengucapkan hal yang baru saja terlontar dari lisannya.


"Jangan berbicara seperti itu, karna aku tidak berpikir demikian!" Lesya memalingkan wajahnya, ia lalu membuka pintu ruang pribadinya. Dan saat itu Saga segera bangkit dari duduknya dan meraih pergelangan tangan Lesya.


"Aku sudah bilang aku tidak pernah berkhianat Lesya, aku pergi karna sebuah alasan" Saga kemudian mengeluarkan ponsel miliknya dan memutar sebuah rekaman video. "Kamu lihat ini sekarang"


Lesya sangat terkejut ketika melihat kejadian yang membuatnya semakin marah dengan Saga. Dan saat ini ia telah melihat apa yang sebenarnya. "Jadi, dia yang berusaha memfitnahmu Saga? Jadi kau bukan yang ingin menodainya?"


Saga mengangguki ucapan Lesya dan semakin mendekat dengan Lesya, Saga menangkup wajah Lesya dan menatap lekat manik mata Lesya. "Dan alasanku pergi karna aku ingin menjadi suami yang pantas untukmu Lesya"


"Apa aku memintamu seperti itu Saga? Apa aku menuntutmu? Kamu pergi saat aku sakit, dan hal itu membuatku sangat terluka Saga!" Ucap Lesya dengan suara yang bergetar.


Dan Saga menarik Lesya kedalam pelukannya. Perlahan perasaan Lesya melunak dan membalas pelukan dari Saga.


"Kamu mau memaafkan bocah tengilmu ini kan sayang" Lesya mendongak dan menatal lekat suaminya, perlahan ia mengangguk sehingga membuat Saga berbinar dan memeluknya semakin erat.


Saga lalu melonggarkan pelukannya, ia mengecup kening istrinya dengan lembut. "karena sekarang kita berbaikan, ada baiknya kita beritau ini sama Alden dan Dikta" ucap Saga.


"kamu benar Saga. Alu sangat jarang bertemu dengan mereka" balas Lesya.


"yaudah ayo kita kerumah Dikta, karena jika kita kerumah Alden, anak itu jarang dirumahnya karena sering tidur ditempat Dikta."


"sebentar Saga, aku harus menanyakan sesuatu dengan Andi. Apakah aku ada jadwal penting atau tidak hari ini"


"mari.." Saga terus memeluk pinggang istrinya hingga Lesya lah yang melepaskannya karena akan merasa tidak pantas jika dilihat oleh para staf kantor.


Dengan segera Lesya memanggil Andi untuk masuk keruangannya. "ada apa ya bu Lesya manggil saya?"


"begini Andi, aku ingin tau schedule ku hari ini!"


"hari ini hanya ada satu jadwal penting, yaitu meeting dengan klien. Namun klien kita yang satu ini meminta meeting nanti malam sekalian makan malam bu"

__ADS_1


Saga yang mendengar itu menautkan kedua alisnya, ia merasa ada sesuatu. Namun Saga tidak mengatakan apapun karna dia tidak ingin merusak suasana hati dari istrinya yang baru saja memaafkannya.


"baiklah Andi, kamu atur itu dan aku harus keluar sekarang."


"baik bu Lesya"


setelah atasannya meninggalkan kantor, Andi pun keluar dari ruangan Lesya. Ia melihat kepergian Lesya bersama dengan Saga.


"ada apa Ndi, kliyatannya lo sedih banget?" tanya Via dari meja kerjanya.


"tidak apa Vi, gue cuman lagi mau persiapin buat meeting nanti malam"


Lesya membulatkan bibirnya sembari mengangguk. 'gue tau kok Ndi, lo pasti cemburu liyat bu Lesya yang kelihatannya udah akur sama pak Saga!'


_


Saga dan juga Lesya tengah sampai di apartemen Dikta. Tanpa memencet bel Saga masuk begitu saja. Ia memag biasa langsung masuk karna memang Dikta memberikan hak itu kepada Alden dan juga Saga yang ia beritahukan tentang password apartemennya.


"Saga, apa tidak masalah kita datang tiba-tiba dan langsung masuk seperti ini?"


"kamu tenang aja, Dikta gak akan marah!"Dikta mengusap lembut tangan istrinya.


"Saga, sepertinya Alden ada disini" Saga dan Lesya melihat dua pasang sepatu laki-laki sehingga Lesya bisa langsung menebaknya.


"mungkin saja dia tidur disini" sahut Saga.


Saat itu Saga segera membuka pintu kamar Dikta. Namun saat itu Saga tidak melihatnya ada didalam kamar.


sementara itu Dikta yang ada dikamar tempat Alden tidur ia mendengar suara Saga. Ia memang bangun leboh awal dari pada Alden.


"astaga, kalo Saga lihat gue disini, bisa-bisa mereka tau kalo gue suka sama Alden. Dan gue gak mau itu terjadi sebelum gue pastiin hal ini sama Alden. Memang gue tau Alden punya perasaan yang sama, tapi apa dia suka jika orang lain tau soal ini!"


Alden terus berpikir untuk mencari cara agar ia tidak ketahuan semalam tidur dikamar Alden.


Klek


"astaga, Alden" pekik Lesya dan menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.


.


.


.bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2