
Arga beberapa kali melihat arloji ditangannya. ia terus melihat ke arah pintu. hari ini ia begitu tidak sabar ingin melihat Lesya.
dan sekali lagi, Arga menatap ke arah pintu,
ceklek
pintu ruangan terbuka, dan benar saja. Lesya sudah datang dengan pakaian rapinya dan terlihat sangat menawan dan mencuri perhatian dari Arga. Arga menelan salivanya dengan susah payah.
tanpa aba-aba, Arga menarik Lesya hingga terjatuh diatas pangkuannya. saat ia mendekatkan wajahnya dengan Lesya tiba-tiba Lesya mengguncang tubuhnya dan,
"Arga menjauhlah, lepaskan aku. aku Doni, ada apa denganmu?"
Arga yang kembali dengan kesadarannya, segera mendorong Doni hingga terjatuh ke lantai. seketika Arga memasang wajah datarnya tanpa sepwrti terjadi apa-apa.
"hei, siapa yang kau lihat? apa aku semenarik itu dimatamu!" Doni sengaja menggoda sahabatnya.
"apa kau lupa siapa aku Doni?"
"eghem, maaf boss" ucap Doni yang masih menahan tawanya. ia lalu duduk dihadapan Arga yang masih sibuk berkutat dengan Laptopnya.
tok tok
"masuk"
Saat ini Arga masih enggan melihat siapa yang saat ini masuk keruangannya. ia takut hal yang batu saja ia alami terulang lagi dengan orang lain.
"pagi bu Lesya!" Doni sengaja menyapa Lesya lebih dulu sebelum Lesya.
dan sesuai dugaan Doni, Arga yang tadinya terlihat begitu sibuk dengan laptopnya langsung melihat ke arah Lesya.
" selamat pagi Doni. emm maaf pak Arga,hari ini saya sedikit terlambat"
" sedikit terlambat kamu bilang? kamu harus mendapat hukuman, hari ini kamu harus membersihkan semua kaca yang ada di perusahaan ini dan dimulai saat ini juga!"
"baik pak!" balas Lesya dan segera melakukan apa yang Arga tugaskan.
"Arga, apa ini tidak berlebihan?" bisik Doni.
"aku memang sangat tidak suka dengan orang yang tidak bisa tepat waktu, dan kamu tau itu Doni!" tegas Arga.
__ADS_1
"yasudah, aku datang menemuimu karna aku ingin lapor tentang penyerangan saat itu."
kini pembicaraan menjadi lebih serius. cukup lama Arga dan Doni membahas hal itu. ketika mereka selesai menyusun rencana, Arga dan Doni keluar ruangan. saat itu mereka melihat Lesya yang sesabg menaiki tangga untuk membersihkan kaca bagian atas yang tidak bisa terjangkau dari bawah.
saat itu Doni membuka mulutnya lebar ketika melihat karosma yang kemuar dari Lesya. Doni biasa melihat rambut Lesya yang tergerai, namun kali ini Lesya mengikat rambutnya sedikit tinggi sehingga terlihat leher jenjangnya.
Doni pun tak lekang memperhatikan Arga yang terdiam dan lekat menatap Lesya yang tengah membersihkan kaca bagian atas. namun saat Lesya hendak menuruni tangga, kakinya tertekuk hingga ia terpeleset.
dengan segera Arga berlari dan menangkap Lesya hingga terjatuh diatas tangannya. Lesya perlahan membuka mata dan saat itu nafas Arga menerpa kulit wajah Lesya.
cukup lama Lesya berada diatas lengan Arga yang kekar. detak jantung Arga semakin tidak beraturan sehingga ia segera menurunkan Lesya.
"terima kasih pak, lain kali saya akan lebih berhati-hati"
"ya sudah lanjutkan!" titah Arga
'lihat bang Arvin, aku udah mulai balas dendam buat abang. aku yakin abang terluka saat tau cewe ini dengan mudah lupain abang, tapi aku yakin dia juga bakal ngerasain gimana dia akan mulai dilupain sama suaminya. dan saat di kantor, aku akan ngerjain dia kaya gini bang! dan untuk masalah jantung yang tak beraturan, aku yakin itu karena aku berlari. dan untuk mimpi itu, aku oastikan itu tidak akan mengubah niatanku buat balas dendam!'
"baik pak, saya akan selesaikan semuanya." saat Lesya hendak mengerjakan kembali tugasnya, ia tidak bisa berjalan karena kakinya yang terkilir. Lesya terhuyung dan tertangkap oleh Doni, Arga yang melihat itu segera mengambil alih.
"kamu bisa lanjutkan kerjaan kamu Don, dan untuk Lesya biar aku yang menguruanya!"
"baik bos, kalau begitu saya undur diri untuk melakukan tuga!"
Arga membuka sepatu milik Lesya, dan hendak memijatnya. namun Lesya segera menarik kakinya. "pak Arga mau apa?"
"diamlah!"
Arga tidak menghiraukan ucapan Lesya. saat itu ia mulai mengurut kaki Lesya yang terkilir. saat menahan sakit, Lesya tidak sadar saat itu ia memejamkan matanya dan meremas lengan dari Arga. saat itu pula Arga tiba-tiba memperhatikan wajah Lesya yang terlihat amat kesakitan.
'ada apa si, kenapa aku tidak tega lihat dia kesakitan. ini pasti karena dia memang sangat kesakitan sehingga aku sedikit tidak tega dengannya!'
-
Dikta terengah ketika sampai dirumah Alden. saat itu ia segera menenggak air dingin yang disiapkan oleh asisten rumah tangga milik Alden.
"ada apa Ta, kenapa lu kelihayannya capek bangey? kaya maling mau kegrebek aja!" ujar Alden
"ini lebih dari malong Al, gua tadi waktu mau nyerahin batu ini, gua ngikutin kak Saka!"
__ADS_1
"ngapain lu pakek ngikutin kak Saka Ta?"
"gia ngikutin dia, karna dia ketemuan sama Liyora. dan ada yang lebih aneh waktu mereka ngobrol Al!"
"aneh? maksudnya?" Alden belum mengerti apa yang saat ini dibahas oleh Dikta.
"yang aneh itu, Liyora ngancem kak Saka kalo kak Saka gak.bantuin dia, diabakalan bongkar semuamya ke Saga kalo dia mau ngancurin rumah tangga Saga Al!"
"kayaknya kita gak bisa tinggal diem Al, kita haris kasih tau ini sama Saga!"
"apa yang mau kalian kasih tau ke gua?"
mendengar siara Saga, Dikta dan Alden bersamaan menoleh kesumber suara. Saga bersedekap dan menatap penuh selidik.
"apa yang kaliam tutupin dari gua?"
saat itu Dikta melihat kearah Alden, seakan tau apa yang dimaksud oleh Dikta, Alden mengangguk menyetujui apa yang hendak Dikta sampaikan kepada Saga.
"ini ada kaitannya sama kak Saka Ga!" ucap Dikta.
"kak Saka? maksud kalian?" Saga menautkan kedua alisnya.
"tadi gua lihat kak Saka ketemu sama Liyora, dan Liyora ngancem dia mau kasih tau kalo.." Dikta menjeda ucapannya, ia sedikit ragu untul mengungkapkan wajah asli Saka kepada Saga.
"kalo apa Ta?"
"kalo Liyora mau kasih tau kak Saka lah yang selama ini menginginkan kehancuran rumah tangga kalian kalo kak Saka gak bantuin dia!" sambung Dikta.
"tapi itu gak mungkin Ta, gua tau gimana kakak gua. tapi emang gua sempet curiga sama kak Saka karna dia ngebiarin istrinya gandengan sama cowok lain. tapi gua yakin itu buka karna dia suka sama Lesya." tutur Saga sembari mengingat saat ia melihat Saka dan Ella tempo hari.
"lu jadi adik jangan terlalu naif Ga. gua tau gua bukan orang baik, tapi apa yang dilakuin kak Saka itu patut dicurigai Saga! mana ada kakak yang mau lihat rumah tangga adeknya ancur kalo dia gak suka sama istri adeknya kan?"
"enggak, gua belum bisa percaya ini, lebih baik gua pergi dari sini. atau gua bisa tambah pusing!"
kepergian Saga membuat kedua sahabaynya itu sedikit kecewa. mereka sangat memperdulikan Saga, namun respon dari Saga membuat Dikta tidak habis pikir.
"gua gak tau sama pikiran Saga Al, kalo dia tau kakaknya gak harmonis sama istrinya dan mau ngancurin rumah tangganya, itu udah pasti kak Saka itu suka sama mba Lesya kan?" Dikta menatap Alden yang saat itu terlihat mmikirkan sesuatu.
.
__ADS_1
.
.bersambung