
Lesya dan Saga terus mengikuti kemanapun mobil Yoo joon pergi, Yoo joon mendatangi beberapa rumah sakit untuk memeriksa apakah Kenan dirawat di rumah sakit tersebut atau tidak. Namun setelah memeriksa lebih dari lima rumah sakit ia belum menemukan Kenan.
"Ah iya..Bodoh banget si aku, kenapa aku gak periksa rumah sakit terdekat dari tempat tinggal Dita?" Yoo joon menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan.
Ya memang seperti itulah manusia, terkadang seseorang berpikir terlalu rumit untuk seseorang yang ia cintai ketika cemas.
Yoo joon menginjak pedal gasnya untuk menambah kecepatan laju mobilnya hingga setelah beberapa menit, ia sampai di rumah sakit tujannya. Ketika memasuki gedung rumah sakit, ia langsung bertanya kepada resepsionis untuk menanyakan apakan Kenan dirawat di rumah sakit tersebut.
"Maaf suster, saya mau mencari pasien yang bernama Kenan Alfaza. Apakah dia dirawat dirumah sakit ini?"
"Tunggu sebentar ya pak, biar saya cek terlebih dulu" selang beberapa saat suster tersebut mengatakan memang benar Kenan di rawat di rumah sakit ini.
Dengan segera Yoo joon menuju ruangan Kenan. Didalam ia mendapati Dylan yang tengah menemani Kenan, karena saat itu Dita berada di kamar mandi.
"Dylan?"
Seketika Dylan menoleh ke arah Yoo joon yang baru datang.
"Yoo joon, kau kesini?"
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau bisa ada di ruangan Kenan? Dan bagaimana kau tau?" Cecar Yoo joon.
"Aku yang mengantar Kenan ke rumah sakit ini, karena saat itu ketika aku menuju ke kantor aku melihat Dita menggendong Kenan karena tidak kendaraan umum"jelasnya.
"Kak Dylan, siapa?" Tanya Dita yang baru keluar dari toilet. "Kak Yoo joon" sambungnya lagi.
"Iya Dita, ini aku! Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa bisa kambuh?"
"Kenan terlalu banyak bermain, sehingga dia kelelahan dan kambuh kak" dengan menatap Yoo joon sedih.
Yoo joon lalu beranjak mendekati Dita "kak" dengan segera Yoo joon menarik Dita kedalam pelukannya.
Ia menepuk-nepuk punggung Dita dengan lembut.
"Kenan akan baik-baik saja Dita, aku akan berusaha untuk mendapat donor untuk Kenan." Kini Yoo joon mengisap lemubut kepala Dita.
'Kenapa aku baru tau kalau Yoo joon sedekat ini dengan Dita?' Batin Yoo joon.
"Kak.."
Sontak Dita melepas pelukan dsri Yoo joon dan mendekat ke ranjang Kenan yang sudah terbangun.
"Kenan sayang, ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" Kenan hanya menggeleng, ia mengedarkan pandangannya. Ia menangkap sosok yang sangat ia rindukan.
"Kak Yoo joon." Panggil Kenan dengan mata yang berbinar. dengan segera Yoo joon berpindah kesisi sebelah kiri ranjang agar lebih dekat dengan Kenan.
"Aku samgat ingin tanding denganmu kak! Aku kam sudah menguasai banyak jurus taekwondo yang sudah kai ajarkan" ujar Kenan.
Yoo joon memang sudah banyak menguasai banyak jurus yang beladiri yang berasal dari tempat kelahirannya, bahkan ia sudah memiliki sabuk hitam. Dan setiap bertemu dengan Kenan, ia sempatkan untuk mengajari beberapa jurus untuk menghibur Kenan.
__ADS_1
"Kau tentu ingat dengan janjimu kan tuan Kenan?" Ucap Yoo joon sembari menyunggingkan senyumnya.
"Ya, tentu saja aku ingat. Karna aku adalah seorang laki-laki, dan laki-laki tidak akn lupa dengan jamjinya tuan Yoo joon" balas Kenan yang berbicara dengan gaya oramg dewasa. Yoo joon sangat mengenal kenan, yang sangat suka berbicara seperti itu.
"Jika kau ingat, aku ingin mendengarnya lagi"
"Yah tuan Yoo joon, kau ini masih muda tapi pelupa!" Omel Kenan. "Tapi karna aku baik, aku akan mengingatkanmu lagi. Aku berjanji tidak akan patah semangat dan akan segera sembuh dari oemyakit lemah ini untuk membuktikan kalau aku bisa menjaga kakakku! Atau justru aku yang harus melindungimu juga tuan Yoo joon. Kau dengar ucapanku barusan?"
"Akan aku buktikan kalau aku sanggup tuan Kenan, jika kau menepati janjimu" kini semuanya terkekeh setelah Yoo joon membalas ucapan dari Kenan.
Drrtttt drrrttt
Ponsel Dylan tiba-tiba berdering, saat itulah Dylan segera menjauh. Sesaat menerima panggilan, Dylan kembali bergabung. Ia melihat Kenan dan tersenyum
"Kenan" panggilnya.
"Iya kak Dylan" sahutnya.
"Sepertinya aku harus meminjam kak Yoo joon, kami harus pergi untuk mengurus pekerjaan."
"Yah...ya udah deh, tapi nanti kak Dylan harus balikin kak Yoo joon lagi ya" Dylan mengangguki ucapannya Kenan kemudian beralih menatap Yoo joon. "Ayo Yoo joon, kita harus menemui Saka!"
Yoo joon pun mengangguk setuju. namun sebelum ia meninggalkan ruangan, Yoo joon kembali meatap Kenan.
"He kawan, ingat janjimu itu, aku akan menagihnya! Dan sekarang istirahatlahaku serahkan tanggung jawab untuk menjaga kakakmu!"
"Siap kawan" sahut Kenan dan kembali terkekh.
Sebelum Dylan menarik kenop pintu, pintu sudah dibuka dari luar.
"Dylan" ucap Lesya yang melihat Dylan berdiri didekat pintu.
"Lesya"
"Kenapa kau ada disini? Sambung Lesya kembali.
"Aku menjenguk Kenan , dan ini aku dan Yoo joon harus segera pergi. Dan kau?"
"Emm.. aku mengikuti Yoo joon, karna aku tau dia mencari Kenan."
Saat itu Saga tiba-tiba muncul dan melingkarkan tangannya di pinggang Lesya dihadspan Dylan.
"Kau? Lesya, kenapa bocah ini sama kamu?" Tanya Dylan dengan rahang yang mengeras.
"Dan kenapa dia berani-beraninya pegang-pegang kamu?!" Dengan segwra Dylan menghempaskan tangan Saga dari pinggang Lesya.
"Tolong jangan sentuh-sentuh Lesya , atau memeluknya!" Hardik Dylan.
"Dylan, Saga tidak seperti yang kamu kira selama ini Dylan!" seketika Dylan menautkan alisnya dan menatap Lesya meminta penjelasan.
__ADS_1
"aku sudah tau semuanya Lesya, kamu tidak perlu membelanya." sergah Dylan.
"tapi Dylan-"
"yasudah, tidak ada yangbharus dibahas! Aku peringatkan jangan mendekati Lesya lagi. Mungkin saat ini aku diam karna aku perduli dengan Kenan. Ayo Yoo joon kita beei pelajaran kepada seseorang" Dylan mengukir senyum smirk seraya meninggalkan ruang rawat Kenan.
Saat itulah Dita sadar dengan ucapan Dylan 'tadi kak dylan bilang mau bertemu dengan kak Saka. Dan baru saja dia bilang mau memberi pelajaran untuk seseorang. Apa itu berarti dia mau kasih pelajaran sama kak Saka?'
_
Dikta menarik Alden ke ruangannya. Saat itu Alden bingung kenapa dia tiba-tiba di bawa oleh Dikta, pasalnya ia tengah menikmati sarapan paginya.
"Dikta, lu kenapa si bawa gua kesini? Padahala gua lagi sarapan, lu mau liyat gua mati kelaperan?" gerutu Alden.
"aku mau tau kenapa lu exited banget liyat Yoo joon kesini?"
"cuma itu yang mau lu tanyain Ta? Ya gua heran aja kenaoa dia perhatian banget sama Dita, pakek nyariin Dita segala!"
"oh jadi lu kesel sama Yoo joon, lu cemburu?"
"ya nggaklah Ta, gua cuman mau pastiin orang yang deketin Dita itu harus orang yang tepat. Dita itukan sahabat kita Ta!" celetukan Alden membuat Dikta semakin ingin memancing Alden.
"oh cuman sahabat, bener lu gak cemburu?"
"enggaklah Ta, gua mana ada cemburu. Gua gak suka sama dia sebagai pacar!"
"terus yang lu suka siapa Al?"
"gua suka sama-" tiba-tiba Alden menghentikan ucapannya.
'hampir aja gua kelepasan. Kalo sampek kelepasan, bisa-bisa Dikta marah sama gua!'
"gua sekarang gak suka sama siapa-siapa!" lanjut Alden.
"yakin lu gak suka sama siapa pun?" Dikta terus mendekat kearah Alden hingga Alden tersudut di dinding kamarnya. Perlahan Dikta semakin mendekatkan wajahnya kepada Alden.
Dag dug dag dug
detak jantung Alden semakin tak beraturan, namun Alden berusaha setenang mungkin untuk menutupinya.
"munduran lu Ta, gau mau balik sarapan!"
"lu belum jawab pertanyaan gua Al" Dikta mengangkat sebelah alisnya dan semakin mendekatkan wajahnya. Pandangan matanya berhenti di bib*r Alden.
'si*l gua yang mau bikin Alden jujur, ini kenapa gua yang makin tergoda? Hisst damn. Kenapa gua semakin tertarik'
.
.bersambung
__ADS_1
.