
Saga terus mengamati Lesya yang tengah mengerjakan sesuatu dengan Arga. saat itu ia tidak bisa menganggu karena memang saat ini adalah jam kerja untuk istrinya.
"mending gua cepet-cepet ngidupin hp gua, mau ngidupin istri udah idup sevelum gua lahir" Saga terkekeh sendiri dengan ucapannya sendiri. setelah puas menertawakan ucapannya sendiri, Saga segera memeriksa ponselnya yang kini sudah ia aktifkan setelah daya ponselnya terisi.
setelah beberapa saat ponselnya aktif, ada beberapa notifikasi masuk diaplikasi chat miliknya. Saga menyipitkan matanya ketika Dikta sampai beberapa kali mengirim pesan, dan hal itu tidak biasa dilakukan oleh seorang Dikta.
kedua netra Saga membulat sempurna setelah membaca pesan yang dikirim oleh Dikta. "ini kenapa bisa Alden yang disalahin kaya gini? dan apa bener Friska bun*h diri?"
saat itu Saga segera mendatangi Lesya yang tengah duduk disebuah sofa yang ada di ruang tamu milik Arga. "Sayang, ada yang harus aku katakan." Saga meraih oergelangan istrinya, namundengan cepat Arga memegang yangan Lesya yang satunya.
"dia sedang bekerja, kamu tidak bisa membawanya begitu saja!"ujar Arga sembari menatap datar Saga yang mulai kesal.
"gua cuman mau ngomong sama istri gua, gua gak mau bawa dia balik sekarang kok!"
"ada saatnya kamu berbicara dengan istrimu, tapi kali ini tidak bisa karna dia harus membahas msalah penting denganku!"
"gak bisa gitulah, gua itu mau ngomong penting! iya kan mba istri?" Saga menggerakkan alisnya keatas sekilas.
"pak saya mohon izin sebentar pak!"sahut Lesya.
"kamu pikir kamu bekerja di perusahaan kamu sendiri? ya aku tau kamu adalah seorang CEO, tapi itu diperusahaanmu sendiri. tidak dengan disini, disini kamu hanya seorang asistenku mengerti!" tegas Arga yang semakin membuat Saga geram.
"gua gak perduli" Saga menarik istrinya dengan cepat, karena genggaman Arga yang erat justru saat itu tangan Saga terlepas dan membuat Lesya jatuh diatas pangkuan Arga yang terduduk diatas sofa.
kedua pandangan Lesya dan Arga saling bertemu, saat itu Arga merasa ada sesuatu yang aneh. entah kenapa ia terhipnotis dengan bibir ranum milik Lesya yang saat ini hanya berjarak sekitar satu jengkal dari wajahnya.
"eh apa-apaan ini!" Saga segera membantu Lesya bangkit dan memeluk istrinya. "gua tau Lesya itu cantik dan cerdas. tapi bapak Arga yang terhormat tidak bisa menyukainya, jarna dia istri gua sekarang. bapak tidak bisa mengambil kesempatan seperti itu.
setelah mengucapkan hal itu, Saga membawa Lesya ke ruang tengah. sementara itu, Arga masih terkesiap. bukan karena ucapan Saga, tetapi ia tertegun saat didalam pikirannya justru tertarik dengan bibir Lesya. ia seperti terhipnotis, bagai sebuah magnet yang ingin menariknya untuk merasakan tiap incinya.
"huh, ini gak bisa dibiarin!" Arga menggelengkan kepalanya, ia menepis semua yang ada didalam benaknya yang tiba-tiba begitu tertarik dengan Lesya.
__ADS_1
"pak Arga, saya izin untuk pergi pak. teman suami saya meninggal, dan kami harus segera kesana!" saat itu Lesya ragu Arga akan mengizinkannya.
"tunggu sebentar!"
"astaga ni bos gak ada nurani apa? kita mau pergi ketemlat orang meninghal pak bukan mau main!" sahut Saga.
bukannya mebalas ucapan Saga, Arga justru sibuk berkutat dengan ponselnya. ia beberapa kali mengetikkan sesuatu yang entah apa tidak diketahui isinya oleh Lesya dan juga Saga yang sudah sangat geram dengan sikap Arga.
"pergilah, Doni bilang diluar sudah aman!"
'aku kira pak Arga tidak akan memberi izin, ternyata dia hanya memeriksa keadaan' batin Lesya.
setelah mendapatkan izin, Saga hendak membawa Lesya keluar dari rumah Arga. namun lagi-lagi Arga menghentikan langakah kaki mereka.
"ada apa pak?" saat itu Lesya dan Saga menatap Arga meminta penjelasan.
"Doni sudah menyiapkan pakaian untukmu, ganti dulu pakaianmu setelah itu kau bisa pergi"
setelah kepergian Saga dan Lesya, Arga tidak melanjutkan pekerjaannya. ia justru pergi kedalam kamarnya. ia berdiri didekat balkon kamarnya. pandangan matanya menyapu hamparan rumah yang dan gedung di sekelilingnya.
sekelabat bayangan tentang Lesya yang terjatuh diatas pangkuannya kembali menguasai benaknya. ia kembali melihat senyuman dibibir ranum milik Lesya, namun saat itu ia segera menyadarkan dirinya sendiri. ia mengingat apa yang sudah Lesya lakukan, yaitu didalam pandangannya Lesya adalah seorang gadis yang tidak lebih baik dari gadis-gadis kebanyakan. ia hanyalah seorang pengkhianat, dan juga gadis yang mudah melupakan kekasih yang sudah mengorbankan nyawanya dengan pria lain yang jauh lebih muda dari dirinya.
merasa lelah dengan pikirannya sendiri, Arga memutuskan untuk merebahkan dirinya dia atas kursi santai yang terletak diatas balkon. ia mulai memejamkan matanya.
meninggalakan Arga yang terlelap, kini Alden merasa risau. ia begitu merasa bersalah atas apa yang dialamk oleh Friska.
dengan susah payah Alden turun dari ranjangnya, ia perlahan mendekat kearah kursi rodanya. dengan sangat kerja keras Alden bisa duduk diatas lirsi rodanya dengan rasa nyeri dikakinya yamg belum benar-benar pulih.
sejak Alden mengalami patah kaki, kamarnya memang berpindah dilantai dasar. saat itu ia memilih untuk pergi keluar rumah. namun saat itu ia melihat sesuatu berserakan dihalaman rumahnya. saat ini ia memang lebih memilih tinggal di rumahnya ketimbang tinggal di sebuah apartemen yang biasa ia tempati, karena kecelakaan ia memanh sulit jika harus tinggal di apartemennya yang berada di lantai yang cukup tinggi.
"itu apaan si, kenapa halaman rumah kotor banget?" akhirnya dikta memilih untuk melihatnya daei dekat. ia mencari-cari seseorang namun ia tidak menemukan siapapun.
__ADS_1
"pak samsul!" panggil Alden yang melihat samsul satpam si rumahnya keluar dari toilet.
"itu apaan pak? apa mbok minah gak bersih-bersih tadi?"
sang satpam pun mengerutkan dahinya saat melihat banyak sampah. "perasaan tadi udah bersih den, waktu saya mau pergi ke toilet aja masih bersih kok!"
"yang bener pak?"
"iya den bener kok! dan tadi waktu mbok minah pergi kepasar juga dia bilang udah beresan den."
"ya udah kita cek aja pak, kita lihat apa yang sebenarnya ada disitu."
dan ketima Alden sudah lebih dekat, ia melihat banyak sekali sampah plastik dan sampah lainnya. bahkan ia melihat ada sebuah kertas yang tergelaletak.
"pak tolong ambilkan kertas itu, biar saya lihat!"
sang satpam memberi salah satu kertas, dantelah itu ia izin untuk mengambil sebuah sapu dan Alden mengizinkannya.
Seorang yang sifatnya kaya sampah itu emang pantes hidupnya sama sampah-sampah ini.
Gara-gara tabiatmu yang buruk, seorang gadis kehilangan masadepan bahkan nyawanya. dasar biadab!!
Alden merasa sangat bersalah ketika ia membaca tulisan-tulisan yang ada dikertas yang berserakan dengan beberapa sampah. saat itu ia keluar dari rumahnya dan berada dijalanan dengan perasaan yang carut marut.
Tiiinnnnnnnn
.
.
.bersambung
__ADS_1