
Liyora kesal ketika Saga pergi begitu saja dan Saka justru mengikuti Saga yang entah kemana tujuannya.
Setelah berbicara lewat ponselnya, Saga terlihat sangat buru-buru begitupun dengan Saka yang mengikutinya.
Cukup lama Saka Bersabar mengikuti Saga yang sedang menuju ke suatu tempat, dan bisa dilihat jika itu adalah hal penting. Jika saja kalian melihat raut wajah Saga, maka kalian pun berpikir hal sama dengan apa yang dipikirkan oleh Saka saat ini.
Yang benar saja, Saga justru pergi ke rumah sakit. Siapa yang sakit? Tentu saja itu yang ingin di ketahui oleh Saka ketika melihat kecemasan di wajah Saga saat ini.
"Huh, bukannya dia adalah istri Alden?"
Tentu saja Saka tidak berhenti di situ saja, ia memutuskan untuk melihat siapa yang di jenguk oleh Saga.
Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Saka mencoba melihat siapa orang yang tengah dirawat. Namun ketika ia hampir melihat wajah seseorang yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan beberapa alat rumah sakit yang menempel di tubuhnya, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Maaf, apa anda ingin masuk kedalam?"
"Oh tidak dok, saya sedang buru-buru. Permisi"
Saka segera pergi, ia akan kembali lagi nanti setelah Saga sudah pergi. Sementara itu, saat ini Saka memutuskan untuk pergi.
Ketika di jalan menuju ke suatu tempat, Saka mampir ke sebuah toko bunga. Ia memesan satu buket bunga dengan sebuah kartu ucapan yang manis. Di sepanjang jalan, sesekali Saka melirik buket bunga yang biasa letakkan di kursi sebelah kemudi.
Senyumnya mereka seperti bunga yang ia pandang. Saka semakin semangat melajukan mobilnya. Sehingga ia menambah kecepatan mobilnya. Setelah membelah padatnya jalanan, Saka berhenti didepan sebuah rumah.
Seseorang datang menghampiri mobilnya yang sudah berhenti.
"Maaf Pak, apa anda ingin menemui tuan Saga?"
"Tidak, aku ingin menemui Lesya. Apa dia ada? "
"Oh ada, pak. Silahkan"
Setelah satpam itu pergi, Saka berjalan dan menekan tombol bel rumah Lesya. Dimana saat itu seorang pembantu yang membukakan pintu rumahnya.
"Sore bik, aku ingin menemui Lesya"
"Maaf Pak, bu Lesya sedang istirahat bersama baby Elgara."
"Apa tidak bisa di bangunkan? "
"Saya tidak berani, pak. Bu Lesya kelihatannya sangat letih karena bu Lesya baru saja kembali dari rumah sakit"
__ADS_1
Dan setelah mendengar apa yang dikatakan oleh pembantu di rumah Lesya, Saka berpikir inilah saatnya ia mengorek informasi siapa yang berada di rumah sakit yang di jenguk oleh Lesya. Bisa saja itu orang yang sama yang saat ini di jenguk oleh Saga. Siapa tau itu hal yang bisa membuat rumah tangga Saga dan Lesya bermasalah.
"Eum bik, memang siapa yang di rumah sakit? Maksud ku siapa yang sakit? "
"Oh itu pak, saya juga kurang tau. Ya sudah saya permisi masuk dulu ya pak"
"Oh iya bik, eh tapi aku nitip ini sama bibik ya. Tolong kasih langsung sama Lesya"
"Baik pak"
Pembantu Saga memang orang yang tidak mengenal siapa Saka dan apa hubungannya dengan Saga, sehingga ia tidak langsung mengusir Saka dari rumah majikannya itu.
Setelah kepergian Saka sang pembantu itu mengusap dadanya perlahan. "Untung aja tadi nggak keceplosan. Bu Lesya kan udah pernah bilang, kalo jangan sampai aku memberitahu sembarangan orang kalau den Alden yang di rawat."
"Oh iya, lebih baik aku saya kasih langsung sama bu Lesya. Sepertinya suaranya sudah bangun"
Tok tok
Diketuk lah pintu kamar Lesya, dan segera ia buka. Dan benar saja, Lesya memang sudah bangun dan kini telah menggendong baby Elgara.
"Permisi bu Lesya, ini aada bujwt bunga untuk ibu"
Lesya mengernyit, namun segera ia mengulas senyum di wajahnya dan menyuruh pembantunya untuk meletakkan buket bunga tersebut di atas meja.
Bunga yang menawan untuk orang yang menawan.
Salam rindu dari diriku yang selalu mengagumimu
~A.D~
Tentu saja senyum Lesya kembali pudar. Tidak mungkin jika Saga yang mengirimkan bunga yang ada di alam. Genggamanya. Saga tidak mumungkin menuliskan hal seperti itu untuk Lesya.
Dan inisial yang tertera di dalam kartu ucapan tersebut, tentu saja itu bukan inisial dari Saga. Siapa? Hal ini membuat perasaan Lesya tidak enak. Akhirnya ia meminta pembantunya untuk membuang bunga tersebut. Ia tidak ingin tercipta masalah baru didalam rumah tangganya.
"Bik, karena suster hari ini nggak berangkat, Lesya minta tolong bibik jagain Elgara bentar ya. Lesya mau mandi bentar"
"Baik bu"
Lesya memutuskan untuk segera masuk kedalam kamar mandi. Ia menanggalkan satu persatu pakaiannya. Didalam sana pikirannya terus berkecimpung memikirkan siapa pengirim dari buket bunga yang ia terima.
Setelah cukup lama ia berendam, Lesya memutuskan untuk segera keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe. Namun setelah ia menutup pintu kamar mandi, direngkuhnya tubuhnya dari belakang dan sesekali mencium tengkuknya yang berbau harum aroma khas bunga.
__ADS_1
"Saga, aku harus mengganti pakaianku"
Saga masih belum menjawab ucapan Lesya, ia justru semakin erat dan sering mencium tengkuk Lesya beberapa kali.
"Saga lepas, aku mau pakai baju dulu"
Namun saat itu ketika Lesya memegang tangan Saga yang melingkar di pinggangnya, Lesya justru mencium aroma yang berbeda dari parfum yang dipakai eh suaminya.
"Saga, sejak kapan kamu menyukai parfum yang terlalu strong seperti ini?"
Karena Saga belum juga menjawab, Lesya segera berbalik. "Aaaaa" Sontak ia berteriak, karena orang yang ada dihadapannya bukanlah suaminya.
"Kak Saka, berani sekali kau memelukku seperti tadi! Dan kenapa kau bisa masuk? "
"Dengar Lesya, kamu tau perasaanku. Dan memang seharusnya kamu adalah istriku" Ucapnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Apa kau gila? Lebih baik kau pergi dari kamarku"
Bukannya menghiraukan ucapan Lesya, Saka justru berjalan menuju tempat tidur dan berbaring diatasnya.
"Apa ini tempat yang biasa kalian gunakan untuk-"
"Buang jauh-jauh pjiranmu itu kak, Saka. Lebih baik. Kau segera pergi"
Lagi-lagi Saka tidak mendengarkan ucapan Lesya, ia justru memainkan lampu di atas nakas dengan menyalakan dan memadamkannya kembali.
"Aku bilang pergi dari sini! Apa kau tidak malu berada di kamar adik yang sudah kau khianati? "
"Tenang Lesya, aku akan pergi. Tapi aku akan kembali lagi untuk mendapatkanmu"
Dengan berhasil membuat Lesya kesal, saat itu Saka segera keluar.
Setelah Saka keluar, Lesya segera mengganti pakaiannya dan memeriksa apa benar Saka sudah meninggalkan rumahnya.
Lesya melihat setiap sudut rumahnya, dan sudah tidak ada Saka disana.
Ceklek
Pintu terbuka, Lesya segera menoleh dengan was-was. Matanya melebar melihat sosok yang membuka pintu rumahnya.
.
__ADS_1
.
. Bersambung