
Dikta terus memegangi tangan Alden yang masih terbaring dengan mata terpejam. Entah sampai kapan Alden akan tetap seperti ini. Kecemasan terlihat jelas di wajah Dikta hingga ia menitikkan air matanya.
"Apa kamu seperti ini karena masih marah denganku Alden? Tolong bangunlah, aku akan perbaiki semuanya. Aku akan mengatakan semuanya kepada orang tua kita tentang hubungan kita Al, tapi bangunlah lebih dulu"
"Hubungan apa yang kau maksudkan?"
Ketika Dikta di dalam ruangan, semuanya sibuk di depan ruangan lainnya dan tidak menyadari kedatangan orang tua Alden yang kini masuk kedalam ruang rawat Alden. Hal itupun membuat Dikta terperanjat, terlebih Bian dan juga Riana mendengar apa yang di ucapkan oleh Dikta.
Dikta menatap bergantian antara Bian dan juga Riana, lidahnya terasa kelu untuk menjelaskannya.
"Mungkin kalian akan merasa benci denganku, tapi ini saatnya aku mengatakan semaunya"
Kedua orang tua Alden belum merespon dan masih menunggu ucapan Dikta yang masih terjeda. Keduanya saling menatap, karena belum mengerti apa yang akan di sampaikan oleh Dikta saat ini.
"Kami mempunyai hubungan yang lebih dari sahabat om, tante. Kami berdua saling jatuh cinta"
Bak tersambar petir, Riana seketika terhuyung dan dipegangi oleh Bian. Kedua mata Bian membulat sempurna mengetahui anaknya menjalin hubungan dengan sesama jenis.
"Kamu duduk disini ma, aku akan berbicara dengan Dikta di luar"
Karena tidak ingin membuat istrinya semakin syok, Bian mengajak Dikta berbicara di luar ruangan, dimana letaknya jauh dari ruang penanganan dimana semuanya berkumpul disana.
Bug
__ADS_1
Sebuah puk*lan mendarat di perut Dikta.
Bug
Dan satu lagi mendarat di wajahnya tepatnya mengenai sudut buburnya hingga darah segar mengalir dari sana.
Dikta sampai terjatuh d ke lantai ketika mendapat serangan dari Bian. Ia tidak membalas sekalipun setiap Bian memberinya serangan hingga tubuhnya bersandar di dinding dan terperosot ke lantai.
"Pukuli saja aku om Bian, ini salahku. Aku tidak bisa membuang perasaanku dan membuat Alden juga merasakannya"
"Dasar tidak tau malu"
Bug bug bug
"Papa"
Sumber suara yang baru saja memanggil Bian dengan sebutan ayah membuat keduanya menoleh.
"Ada apa ini pa, kenapa papa mukulin Dikta? Dia sahabatku dan Alden pa"
"Jangan menganggap nya sahabat nak, lebih baik jauhkan dia dari suamimu dan juga dirimu. Papa tidak ingin kalian berhubungan dengannya"
Dita tidak mengerti kenapa ayah mertua nya memukuli sahabat dari anaknya. Bahkan ia tidak pernah melihat ayah mertua nya terlihat semarah ini.
__ADS_1
"Tapi pa, Alden pasti akan marah kalau papa melakukan ini dengan Dikta. Dan memang apa penyebabnya pa? "
Bian terdiam, ia berpikir tidak akan memberi tahu Dita. Ia khawatir jika Dita akan meninggalkan Alden setelah tau Alden menjalin hubungan terlarang dengan Dikta.
"Tidak nak, lebih baik kau jangan tanyakan alasannya. Ynag terpenting jaga suamimu dan juga rumah tanggamu"
Biantara berbalik dan masuk kedalam ruangan Alden. Smentara Dita, ia segera membantu Dikta meskipun ia sendiri masih sulit membawa dirinya karena lemas akibat oendarahan yang ia alami.
"Dikta, lebih baik kamu di obati ya. Biar ku antar"
"Om Bian tau tentang hubunganku dengan Alden"
Dita terperanjat kaget mendengar pernyataan dari Dikta hingga menjatuhkan ponsel yang ia bawa dengan bola mata yang hampir keluar.
-
Lesya menenangkan Via yang masih terlihat syok dengan keadaan Arga yang begitu parah.
Ketika semuanya berusaha menenangkan Via, Andi justru merasa aneh. Kenapa seseorang seperti Arga rela membahayakan dirinya hanya untuk orang lain. Hatinya mendadak bergemuruh. Saat itulah Andi menduga jika sebenarnya Arga sudah menaruh hati terhadap Via.
'Apa Arga benar-benat jatuh hati dengan Via?'
.
__ADS_1
. Bersambung