
ketika pukul setengah sebelas hujan baru saja reda, saat itu Andi bergegas untuk mencari Via ke lahan proyek yang terdekat. namun ketika ia baru membuka pintu rumahnya, ia mendapati Via yang basah kuyup keluar dari mobil seseorang. setelah Via menutup kembali pintu mobil, mobil tersebut segera meninggalkan pekarangan rumah.
Via sedikit terjingkat ketika mendapati Andi yang sudah berdiri didepan pintu dengan tangan yang bersedekap.
"astaga Andi, lo ngagetin gue! " selorohan Via membuat Andi tersadar dan segera kembali kedalam rumah bersama dengan Via.
sebelum Andi menanyakan apapun, Via sudah lebih dulu masuk kedalam kamarnya.
"ni anak kebiasaan, gue mau tanya malah dia keburu masuk ke kamar. ya udahlah gie tunggu disini"
Andi memutuskan untuk menunggu di ruang tengah, hingga beberapa menit Via tidak kunjung keluar dari kamarnya. hal itupun semakin menguji kesabaran Andi.
"oke kalo lo gak mau keluar, biar gue yang kedalem" Andi segera masuk kedalam kamar Via yang tidak terkunci.
saat itu Andi membelalakan matanya melihat Via yang baru keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk yang melilit sebatas dada.
"Andi.. cepetan keluar"
bukannya menuruti ucapan Via, Andi justru berdiri mematung. dengan segera Via mendorong Andi untuk keluar, namun karena kakinya yang masih basah, membuat ia terpelset dan terjatuh bersama dengan Andi.
tubuhnya menindih Andi yang saat ini tak lena terus memperhatikan leher jenjang Via yang saat ini dihadapannya. tanpa ia sadari jakunnya bergerak keatas dan kebawah sembari menelan salivanya dengan susah payah.
Via pun segera bangkit begitu pula dengan Andi yang saat ini tengah mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
"Andi, lo ngapain si pakek masuk-masuk kesini?
" gue cuman mau tau kenapa lo pulang selarut ini Via? lo itu perempuan dan lo justru pulang sampek larut malam dengan seorang laki-laki yang bahkan belum lama lo kenal! yang gue tau jam kerja itu hanya sampai pukul lima, tapi ini? "
mendadak Via merasa tersinggung dengan ucapan Andi yang terkesan menuduhnya tengah mendekatkan diri dengan Doni.
"lo tau gue kerja Andi. dan lo juga tau ini hujan! dan karena itulah gue harus pulang selarut ini karena gue nungguin ujan reda. dan karena ujannya gak kunjung reda, akhirnya gue sama pak Doni ujan-ujanan supaya bisa ke mobil dan cepet pulang! tapi lo, lo justru nanyain gue kaya gitu. lo pikir gue ini tipe perempuan kayak apa Apa si Ndi?"
dengan menahan rasa sesak, Via mendorong Andi keluar dari dalam kamarnya. sementara itu Andi tertegun mendengar penuturan Via.
"Andi lo bodoh banget si! kenapa lo pakek tanya kayak gitu? " Andi merutukki dirinya sendiri.
setelah menunggu beberapa saat Andi kembali mengetuk pintu kamar Via.
__ADS_1
"via, boleh gue masuk? " saat itu Via velum merespon Andi sama sekali. "gue masuk ya Via"
ceklek
Andi masuk kedalam kamar Via. ia melihat Via yang berbaring membelakanginya. Andi tau saat ini Via belumlah tidur, ia lalu duduk di tepian ranjang didekat Via.
"via.. maaf kalo perkataan gue tadi bikin lo tersinggung. gue gak maksud via, gue cuman khawatirin lo." Via masih belum merespon Andi sama sekali sehingga Andi memberanikan untuk menyentuh pundak Via.
"denger Vi, lo itu sahabat gue. bahkan sekarang status lo itu istri gue, gue gak mau lo dimanfaatin sama orang yang baru lo kenal. gue cuman mau jagain lo aja"
mendengar ucapan Andi, Via akhirnya menghadap ke arah Andi namun masih dalam posisi badan yang sama yaitu berbaring.
"gue cuman gak suka lo ngeraguin gue! dengan lo bertanya seperti itu, sama aja lo mempertanyakan harga diri gue Andi! " kini Via sudah bangkit dan duduk dihadapan Andi.
"iya gue minta maaf Via.. please maafin gue. dan please lain kali lo kabarin gue, buat gue gak berpikiran yang macem-macem."
"tadi itu gue mau ngabarin lo Andi, tapi apa yang hampir jumpa gue Andi? karna gue mau telfon lo, gue hampir celaka. untung aja pak Doni segera melempar ponsel gue, kalo nggak, mungkin gue udah gak ada karna tersambar petir."
Andi pun cemas mendengar penuturan Via baru saja. dan ia pun memeriksa Via. "tapi sekarang lo baik-baik aja kan Vi? apa ada yang sakit? atau apa-"
"Andi tenang.. gue gak pa-pa. lo liyat sendiri kan gue sehat." potong Via sehingga membuat Andi terbungkam.
"sssttt.. " Andi meletakkan jarinya dibibir Via sehingga membuat Via tercekat. dan saat ini keduanya hanya saling menatap satu sama lain dalam hening.
-
ting tung
bunyi belum rumah beberapa kali membuat Saga dan Lesya terbangun. keduanya kemudian bergegas untuk membukakan pintu ruang tamu.
ceklek
plak
"auw... " Lesya memegangi pipinya yang terkena tamparan.
"mami, mami kenapa tiba-tiba nampar Lesya? dan kenapa mami sama papi gak bilang kamu mau pulang?"
__ADS_1
"dengar Saga. kamu masih mau hidup dengan orang yang udah bikin perusahaan kita bangkrut? "
"apa maksud mami? "
"Saga, mami udah tau semua. mami tau perusahaan kita colabs dan hal itu karena perbuatan dari sepupu Lesya kan? "
"iya Saga, yang mami kamu katakan itu benar kan? " sambung tuan Darmawan.
"lalu kenapa mami menyalahkan Lesya? kenapa mami tidak menyalahkan CEO yang memimpin perusahaan kita hmm? " saat itu pandangan Saga membidik seseorang yang duduk di kursi roda yang baru saja tiba.
"sini sayang, kamu duduk disini. "Saga mendudukkan istrinya dan mengusap lembut pipinya yang terasa nyeri Lihat tamparan dari nyonya Darmawan.
" kamu jangan mencari kambing hitam
hanya untuk membela istri dan keluarganya Saga" kini tuan Darmawan kembali berbicara.
"saga tidak mencari kambing hitam, tapi apa yang Saga katakan adalah sebuah kebenaran."
"mami sama papi tau? kak Saka bekerja sama dengan Arles company. dan karena ia terlalu ceroboh membaca kontrak sehingga ia ditipu oleh tuan Arga?! "
"iya mi ini emang salah Saka
Saka udah bikin kita bangkrut!makanya Saka sangat merasa bersalah sehingga Saka kecelakaan dan mengalami seperti ini. "
sementara Saga dan nyonya Darmawan berbicara, Saga justru lebih memilih mengurusi istrinya dengan mengusap lembut wajahnya yang terkena tamparan.
nyonya Darmawan tidak menyukai hal itu sehingga ia segera mendekat ke arah Saga dan menariknya.
"tidak perlu mengkhawatirkannya, lebih baik kau berpisah dengan seseorang yang ingin melihat keluarga kita hancur Saga! "
sontak hal itu membuat Liyora tersenyum dan melihat ke arah Saka dengan ibu jari yang terangkat. begitupun dengan Saka menarik sebelah ujung bibirnya tersenyum smirk.
'kalian pasti akan berpisah' batin Saka
.
.
__ADS_1
. bersambung
.