
pagi itu suasana Sekolah gempar karena penemuan mayat seorang murid dalam keadaan mengenaskan. Dan disaat bersamaan dengan siswa yang berhambur ke area belakang sekolah, Alden memdapat panggilan dari pihak sekolah.
"duduk" titah dari kepala sekolah.
"maaf pak, dari tadi kan saya sudah duduk" memang benar apa yang dikatakan oleh Alden, bahwa memang ia sudah duduk diatas kursi roda. dan hal itupun membuat kepala sekolah menjadi sedikit kesal.
"jangan mengomentari ucapan saya Alden!"
"maaf pak saya tidak bermaksud!"
dan kini suasana menjadi mencekam, sang kepala sekolah berdiri ia sesikit membungkuk ke arah Alden dan me unjukkan video yang saat itu disebar luaskan oleh Liyora.
"bapak tidak habis pikir kamu bisa berbuat seperti itu Alden."
saat itu Alden hanya tertunduk karena ia memang menyadari kesalahan yang ia buat sudah sangat fatal. "saya memang bersalah pak, saya minta maaf!"
"kamu tau kamu salah, dan karena hal itu juga bapak terpaksa harus memberi kamu sanksi untuk itu." kepala sekolah kembali ke posisinya.
"saya akan terima semua konsekuensinya pak, karna memang saya pantas!" balas Alden lirih.
"kamu akan di keluarkan dari sekolah ini!"
tok tok
belum sempat Alden mengatakan apapun, salah seorang siswa mengetuk pintu dan memberitahu tentang penemuan siswi yang sudah tidak bernyawa di area belakang sekolah. dengan segera kepala sekolah ikut berlari kebelakang sekolah.
ketika itu, Dikta segera menyusul Alden kedalam. ia segera membawa Alden untuk melihat siapa sosok yang ditemukan dalam keadaan tidal bernyawa.
dan ketika Dikta dan Alden sampai, ia melihat gadis cantik dengan kulit pucat dan terdapat luka dikepalanya merasa sangat terpukul.
"Friska" lirih Alden
Dikta kemudian berlari meninggalkan Alden untuk mendekat kearah Friska yang masih tergeletak. Dikta menaruh kepala Friska dipangkuannya, ia mengguncang-guncangkan tubuh Friska yang sudah terbujur kaku dengan luka yang ada dikepalanya.
"siapa yang lakuin ini ke lo Friska, siapa?" mata Dikta memerah dengan rahang yang mengeras. "kenapa ada yang tega berbuat ini sama lo?" pekik Dikta.
gue yakin, Friska bun*h diri gegara dia malu video iti kesebar
ih kasihan banget si Friska harus mati dengan cara kek gini
wah ini si fix salah Alden yang udah gak mau tanggung jawab. pasti Friska jadi frustasi gara-gara video itu terus akhirnya dia bun*h dirikan?
itulah suara yang terdengar ditelinga Dikta, saat itu ia mengepalkan tangannya. namun ia tersadar seseorang dipangkuannya kini sudah tidak bernyawa.
__ADS_1
"tolong Dikta, kamu minggir dulu. biar pihak yang berwenang untuk mengevakuasi Friska" ucap salah seorang guru. namun sebelum ia pergi, Dikta melihat sesuatu yang menyita perhatiannya.
dan setelah itu Dikta akhirnya memilih untuk menyingkir, namun ia tidak mendapati Alden berada ditempat itu.
"argh.. lu kemana si Al?" Dikta berlari untuk mencari keberadaan Alden..saat itu ia hendak memeriksa Alden kedalam kelasnya, namun ia tidak menemukan Alden sama sekali. Diktapun lanjut menyusuri seluruh area sekolah, lagi-lagi ia tidak menemukan keberadaan Alden.
"oh ya, kenapa hari ini Saga gak masuk? mending gua telfon dia."
tut tut tut
"haiss kenapa nomor Saga gak aktif si?"
akhirnya Dikta kembali berlari. namun saat di area parkir, Dikta justru menabrak seseorang.
"aw.. sakit banget tangan gue" racau seseorang yang saat ini tengah terjatuh katena tertabrak oleh Dikta yang berlari cukup kencang.
"sorry gua gak sengaja" Dikta membantu seseorang yang ia tabrak.
"Dikta?" ucap seseorang yang ia tabrak.
"Dita? sorry Dit, tadi gua gak sengaja nabrak. inigua buru-buru gua harus pergi!"
Saga hendak berlari, namun saat itu ia dihentikam oleh Dita. karena tidak suka saat ia dihentikan, Dikta menghempaskan tangan Dita dengan cukup kasar.
"tapi ini penting Dikta, tadi waktu gue mau berangkat kerja, gue lihat Alden lagi di buli banyak cewek. dan gue kesini mau minta bantuan sama lo"
"hiss kenapa lo gak bilang dari tadi Dita.. terus sekarang Alden dimana?" tanya Dikta dengan tergesa.
"Alden ada diseberang tempat gue kerja Dikta!"
"apa? itu cukup jauh dari sinikan Dita? gimana bisa Alden sampek disitu!" Dikta mengusap wajahnya kasar.
"gue juga gak tau Dikta mending kita sekarang langsung kesana"
Dikta mengangguk cepat dengan dahi yang berkerut, setuju akan ucapan Dita. saat ini mereka berlari tergesa-gesa untuk membantu Alden. Dikta dan Dita berlari hingga nafas yang terengah-engah.
"astaga Alden!" Dikta segera membantu Alden dan mendudukannya diatas kursi roda.
"lebih baik bawa Alden ke resto aja Dikta"
_
Alden meletakkan gelas diatas meja. ia membuang nafas panjang.
__ADS_1
"sebenernya apa yang terjadi sama lu Alden? kenapa lu bisa disitu? padahal tadi lu itu lagi dibelakang sekolahan sama gua!" Dikta menatap Alden penuh selidik
"waktu lu lihat Friska, beberapa cewe bawa gua keluar. dan saat itu mereka maki-maki gua karena mereka anggap Friska itu bun*h diri karena gua!" Alden memijat pangkal hidungnya.
"apa? Friska itu cewe yang pernah ngobrol sama cewe yang bernama Liyora waktu itu kan?"Dita terhenyak mengetahui gadis muda dan cantik seperti Friska mengakhiri hidupnya.
"dan itu semua salah gua!" Alden tertunduk penuh rasa bersalah. mata Alden memanas.
plak
plak
bug
bug
"eh apa yang lo lakuin Alden? Dikta, lo bantuin gue dong, Alden kenapa? kenapa lo kaya gini?" Dita berusaha menghentikan Alden untuk menyiksa dirinya sendiri. sementara Dikta saat itu tertegun ketika melihat aksi Alden.
sekelebat kebersamaannya bersama Friska, menguasai ingatan Dikta. ia ingat saat itu tertawa ria dengan Friska. dan setelah mengingat masa indah mereka, ia tiba-tiba mengingat apa yang dikatakan oleh siswi-siswi saat ia berusaha membuay Friska yang sudah tidak bernyawa.
"Dikta" pekik Dita hingga membuat Dikta tersadar dan menghentikan Alden memukuli dirinya sendiri.
"Emm Dita, gua bawa Alden balik ya. lo lebih baik kerja lagi, gua gak enak sama atasan lo. gua juga makasi tadi lo udah bantuin kita" Dita mengangguk dan tersenyum.
ketika sampak dirumah Alden, ia mendudukkan Alden diatas sofa ruang tamu. saat itu Dikta mulai mengobati eajah Alden yang lebam-lebam akibat ulahnya sendiri.
Dikta memmperhatikan Alden yag hanya terdiam dengan pandangan mata Alden yang kosong. "Alden, kenapa lu diem aja si?"
hingga beberapa kali Alden tidak membalas ucapan Dikta. ia justru kembali memukuli dirinya sendiri.
"cukup Alden, jangan siksa diri lu kaya gini" mendengar ucapan dari Dikta, Alden menatap Dikta dengan sorot mata yang dalam.
"gua bener-bener ancur Ta, kaki gua patah. dan setelah itu gua dikeluarin dari sekolah, itu emang salah gua, gua pantes dapetin itu. tapi Friska, gara-gara gua Friska harus kehilangan nyawanya Dikta!"
"lu di keluarin Al? gak, gua gak bisa biarin lu dikeluarin. walaupun lu udah ngelanggar norma, tapi lu berhak dapet kesempatan kedua Al. dan untuk masalah Friska, gua yakin ada sesuatu!" Dikta meyakinkan dan berusaha menenangkan Alden yang sedang kacau.
.
.
.bersambung
.
__ADS_1