It'S Perfect

It'S Perfect
Caramu Yang Terlalu Halus


__ADS_3

"oke, gue setuju"


setelah memikirkannya beberapa saat, akhirnya Dita menyetujui apa yang ditawarkan oleh Alden dan juga Dikta tanpa tau alasan sebenarnya apa yang membuat keduanya memintanya untuk menjadi calon tunangan untuk Alden.


"oke Dita kita sepakat" Ketiga berjabat tangan untuk kesepakatan yang mereka buat.


"oke, besok gue akan membawa surat kesepakatan. dan lebih baik kita segera kembali, atau nanti nyokap Alden curiga."


"tunggu Dikta, kita harus menjelaskan apa yang akan dilakukan Dita nanti"


Dikta mengangguki ucapan Alden.


Setelah Alden menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh Dita, kini ketiganya kembali ke tempat acara dimana yang lainnya tengah merayakannya. sementara itu Riana yang sedari tadi mencari keberadaan Alden, ia segera menarik Alden dan Dita untuk kembali naik ke panggung.


"baik gimana? kalian udah nemu kan hari yang bakal buat kalian tunangan? "


"emm sebelumnya aku minta maaf tante, aku belum bisa bertunangan karena aku harus mengurus operasi yang akan dilakukan oleh Kenan"


Saat itu Riana melihat kearah Kenan yang berada diatas kursi rodanya dengan wajah yang pucat. meskipun seperti itu, Kenan masih terlihat sangat tampan.


"tapi memang kalo boleh tante tau, Kenan sakit apa Dita? "


"Kenan sakit jantung tante, dan lusa rencanannya Kenan akan operasi transplantasi jantung "


"astaga, kasihan sekali Kenan. masih sekecil itu sudah merasakan rasa sakit yang sangat berat"


seketika pandangannya turun, Riana berjalan menghampiri Kenan yang duduk di kursi roda yang tengah menikmati pertunjukkan.


Riana lalu memeluk Kenan dengan lembut.


"Kenan, apa kau senang melihat ini sayang?"


"tentu, aku sangat suka. kak Dita sangat jarang mengajakku ketempat seperti ini tante. dia hanya sibuk bekerja dan itu gara-gara aku" seketika Kenan menunduk.


sontak perkataan Kenan begitu menyentuh hati Riana. "maka jadilah Kenan yang kuat ya sayang. nati pasti kakakmu akan mengajakmu ke banyak tempat yang akan kamu sukai"


Kenan langsung mengedarkan pandangannya mencari sang kakak "Kak Dita, apa tante ini benar?"


Dita mengangguki ucapan Kenan dengan senyum diwajahnya juga air mata di wajahnya yang mengalir.


_


Liyo mengerjap-erjapkan matanya yang terkena sinar matahari yang masuk melalui jendela kaca yang menghadap ke laut.


Liyora melihat Saka yang masih berada di atasnya.


"sshh kenapa kak Saka nggak bangun-bangun si? kak Saka ba-ngun-lah" Liyora mengguncang tubuh Saka hingga saat itu Saka membuka matanya.

__ADS_1


"Liyora? " dengan segera Saka bangkit. namun karena kakinya terpeleset selimut, ia justru kembali jatuh diatas Liyora hingga kini ia mengukung Liyora. pandangan mereka saling bertaut.


"ehem, maaf aku terpeleset. Saka kemudian bangkit kembali dan segera pergi ke kamar mandi.


Saka mengguyur tubuhnya dengan air shower yang mengucur. kepalanya yang tersiram air dingin sontak membuatnya mengingat kejadian semalam ketika dirinya tumbang dan menimpa Liyora hingga baru saja tersadar.


namun saat itu Saka mendadak Tersenyum ia mengingat ekspresi dari Liyora yang tegang ketika dirinya terpeleset dan menimpanya kembali.


"huh, aku tidak membayangkan semalaman Liyora menahan berat tubuhku" lagi-lagi Saka terkekeh dan kembali melanjutkan ritualnya untuk mandi.


tok tok


"kak Saka cepatlah, aku juga mau mandi tau!"


"sshh brisik sekali Liyora, aku sedang ingin bersantai sejenak."


"kak Saka cepatlah, aku juga ingin mandi. sebenarnya kau ini tidur atau justru sudah mati di dalam ha? lama sekali" Liyora terus menggerutu sembari berdiri didepan kamar mandi dengan tangannya yang bersedekap.


"kak Sahap...buih.."


Liyora meraup wajahnya yang basah karena disiram oleh Saka.


"kak Saka, kenapa kau menyiramku? "


"itu hukumanmu karena baru saja kau mengatakan aku mati"


byur


Lagi-lagi Saka menyiram Liyora tepat diwajahnya. Liyora menatap Saka kesal dan hendak menyerang Saka dengan handuk yang biasa bawa, justru kini kakinya yang terpeleset hingga tangannya yang mencari pegangan justru menarik handuk yang melilit dipinggang Saka.


Liyora terjatuh dengan handuk ditangannya kemudian pandangannya perlahan naik sehingga kedua bola matanya membulat. "burung"


pluk


Liyora menutup mulutnya sekaligus matanya. Saka yang melihat miliknya Terekspose segera memungut handuknya dilantai dan segera pergi untuk berganti pakaian.


"sshhh dasar perempuan gila"


Liyora bangkit dan masuk kedalam kamar mandi. nafasnya yang memburu membuat badannya mendadak panas.


"astaga, kenapa ya di tanganku menarik handuknya? Haiisss aku benar-benar malu. dan kak Saka, kak Saka pasti sangat marah denganku." Liyora menenggelamkan dirinya kedalam bakal mandi karena merasa malu ketika mengingat kejadian yang ia alami bersama dengan Saka.


setelah berganti pakaian, Liyora menyusul Saka yang tengah sarapan di lantai atas. ia duduk dihadapan Saka yang menikmati roti sandwich dengan segelas coklat panas.


"kak Saka kenapa ninggalin aku si? aku juga mau sarapan kali"


"sstt jangan berisik, pesan saja yang kau mau! " ucap Saka yang tidak menatap Liyora dan fokus dengan makanannya.

__ADS_1


"setelah makanan Liyora datang, ia segera melahabnya, namun saat itu ia melihat Saga yang datang bersama dengan Lesya.


" kak, itu Saga sama Lesya kan? "


"kamu benar, cepat tutup wajahmu dengan ini" Saka memberikan buku menu untuk Liyora.


Saka dan Liyora terus memperhatikan Saga yang sedang memasakkan langsung untuk Lesya. seperti semalam, pagi ini Lesya juga menginginkan suaminya yang memasakannya.


"tu cewek ngerepotin banget si, pakek acara minta dimasakin segala sama Saga isshh"


"diamlah Liyora, apa kamu mau mereka tau kamu kita mengikuti mereka?"


"tapi aku kesel lihat mereka berdua romantis kayak gitu kak. harusnya itu aku yang lagi sama Saka"


"aku juga kesal melihat mereka romantis, tapi aku tidak berisik sepertimu Liyora. jadi sekarang kita lihat mereka mau apa, dan setelah itu kita buat rencana agar mereka tidak bersama."


saat itu Liyora melihat waiters membawa hidangan untuk pengunjung yang lain. dengan segera ia berlari dan menabrak pelayan tersebut hingga menumpahi pakaian Lesya.


"auh.. " Lesya mengusap tangannya yang terasa panas karena hidangan tersebut.


"Lesya, tanganmu terluka! " bahkan lika Lesya seperti luka terbakar. dengan segera Saga menghentikan aktifitasnya dan membawa Lesya untuk segera mendapat penanganan di hotel tersebut yang menyediakan medical.


Saga menemani Lesya yang tengah diobati. dan saat itu terjadi kejadian lucu dimana Saga menangis karena Lesya terbakar dan diobati.


"tenang tuan, istrimu hanya terkena makanan panas, di tidak separah itu tuan. dan ini sudah selesai ku obati"


"baik dok terimakasih, saya akan menenangkan suami saya"


Lesya kemudian mengajak Saga duduk dan memesan makanan kembali diaman disana mereka masih terus diawasi oleh Liyora dan Saka.


"Saga tenanglah, kenapa kau menangis? ini tidak apa-apa? "


"aku sangat mengkhawatirkanmu dan entah kenaoa rasanya aku yang kesakitan melihat tanganmu seperti itu Lesya"


"aku yakin ini bawaan bayi Saga, eh tapi kau sangat manis saat seperti ini"


Lesya mengacak rambut Saga gemas. dan Saga kemudian menyunggingkan senyumnya dan berhenti menangis.


"kau lihat Liyora, kau justru membuat mereka sakin mesra kan? dan kau membahayakan Lesya. lain kali jika kau melukai Lesya lagi, aku yang akan langsung memberimu pelajaran, mengerti! "


bukannya menjawab, Liyora masih melihat ke arah Saga dengan Lesya. api cemburu semakin membara dihati Liyora.


'aku gak perduli kalo cewek tua itu terluka atau apapun. yang jelas aku akan lakuin apa aja buat dapetin Saga lagi. dan maaf kak Saka, aku tidak bisa mengikuti caramu yang terlalu halus'


.


. bersambung

__ADS_1


__ADS_2