It'S Perfect

It'S Perfect
Depresi


__ADS_3

"apa aku salah ngelakuin itu Don? ternyata apa yang aku pikirkan selama ini tentang Lesya itu salah!"


"maksudmu apa yang salah Arga?"


Doni terlihat bingung ketika Arga membahas tentang Lesya, pasalnya saat itu Doni tidak ada di tempat ketika tuan Guntara menceritakan tentang Lesya.


"ternyata Lesya gak khianatin bang Arvin Don. dia bahkan sempet depresi waktu bang Arvin meninggal"


"tapi kenapa kalo dia gak khianatin Arvin, dia nikah sama bocah itu?"


"heh, kau pikir kalo orang ditinggal meninggal sama orang yang dia sayang, terus dia gak boleh nikah selamanya? pemikiranmu itu konyol Doni!" ucap Arga sembari terkekeh.


"siapa yang konyol? bahkan aku mendengar itu darimu, sekarang kau sendiri yang bilang itu konyol hemm?" sekarang Doni menyunggingkan senyumnya mengejek Arga yang termakan oleh kata-katanya sendiri.


"emm itu kau saja yang salah dengar" saat itu Arga segera mengalihkan pembicaraannya dengan Doni dengan mengajak Doni untuk pergi ke Coffee shop dimana Saga bekerja. sebenarnya bukan itu saja, melainkan Arga juga ingin apakah Saga masih bekerja ditempat itu atau justru Saga sudah benar-benar pergi.


setelah menempuh beberapa saat waktu perjalanan, Arga dan Doni kini tengah tiba di coffee shop tersebut. ia mencoba mencari keberadaan Saga di, namun ia tidak menemukannya sama sekali.


"coba kamu priksa didalam, siapa tau bocah itu ada didalam!" titah Arga.


"tunggu Arga, bukannya itu Lesya?" Doni menunjuk sebuah tempat duduk yamg berada disudut ruangan.


Terlihat Lesya yang tengah memegangi secangkir kopi. Lesya tidak terlihat menikmati kopi yang ia pesan, ia justru lebih tertarik melihat lalu lalang pengunjung yang datang ditempat itu. bahkan beberapa kali Arga melihatnya, Arga begitu penasaran kenapa pandangan Lesya terus mengarah kesebuah ruangan yang berada ditempat itu.


"Arga, kamu lihatin apa si?"


"sstt.. aku lagi mantau apa yang sedang diperhatikan oleh Lesya"


baru saja Arga menutup mulut, ia melihat Lesya memasuki ruangan yanh sedari tadi ia perhatikan. karena merasa penasaran, Arga memerintahkan Doni untuk mendekati ruangan tersebut. perlahan Doni berjalan kearah ruangan, namun ketika ia sampai didekat ruang dimana Lesya masukinya,salah seorang pegawai coffee shop menegurnya.


"maaf kak, ada yang bisa saya bantu?" tawar sang pegawai.


"eh ini mba, saya mau cari toilet, dimana ya?"


"oh, kakak tinggal lurus dan belok kekiri. disitu ada toilet khusus laki-laki kak!"


untuk menutupi niatannyan Doni sengaja menanyakan toilet kepada samg pegawai. dengan langkah cepat, setelah pegawai tersebut meninggalkan Doni, ia segera kembali bergabung dimana Arga menunggunya duduk.

__ADS_1


"sebenernya kenapa Lesya masuk kesana?" Arga terlihat sangat penasaran. apa yang dicari oleh Lesya? apakah ada hubungannya dengan Saga! atau apaun itu. yang jelas Arga berusaha untuk mengetahuinya.


"biar aku yang cari tau!" dengan cepat Arga sudah berada didekat pintu ruangan tujuannya. namun karena langkahnya yang terlalu cepat, ia sampai tidak melihat Lesya yang sudah keluar dari ruangan tersebut sehingga ia menabrak tubuh mungil Lesya. sontak hal itu membuat Lesya hampir terjatuh. sebelum Lesya benar-benar terjatuh, Arga sudah meraih pinggang Lesya terlebih dulu sehingga pandangan mata mereka kini saling terpaut.


dag dug dag dug


terdengar seperti genderang perang, saat itu detak jantung Arga terpacu lebih cepat dsri biasanya. lagi-lagi pandangan matanya berhentu disebuah bib*r ranum milik Lesya. Arga kembali mengingat kejadian yamg ia lakukan dengan Lesya saat mereka dialam mimpi Arga.


glek


Arga menelan salivanya dengan susah payah. untuk menetralisir perasaannya, Arga segera menjauhi Lesya untuk menghindari suatu hal bila terjadi itu akan membuat semuanya runyam.


"ouh..." Lesya mengusap dahinya yang membentur dada bidang milik Arga. "pak Arga?" sambung Lesya sembari menatap Arga dengan dahi yang berkerut.


"oh ternyata kamu sudah sembuh? lalu kenapa kamu tidam berangkat kekantor, dan justru kamu berada disini?" ucap Arga sembari mengangkat sebelah alisnya.


"iya maaf pak Arga, saya bersalah. tapi saya memang harus mengurus sesuatu yang penting pak"


"kamu ini seorang CEO di sebuah perusahaan ternama, harusnya kamu bisa profesional kerja! jangan bertingkah seenaknya. satu hal yang harus kamu tau, saat ini kamu bukanlah CEO lagi, melainkan hanyalah bawahanku. mengerti?!"


"tapi pak-"


_


Yoo joon tengah meeting bersama dengan Dylan. kali ini mereka meeting bukam tentang masalah pekerjaan, melainkan membahas tentang kasus Friska.


saat ini mereka melihat ponsel milik Friska yang sudah diperbaiki.


"lebih baik kita periksa apa isi dari ponsel ini Yoo joon"ujar Dylan yang terlihat sudah tidam sabar.


"kamu benar Dylan."


dengan wajah serius, Yoo joon mulai membuka Ponsel milik Friska. saat itu mereka menemukan bukti baru, yaitu ketika Liyora yang terekam disaat ia berusaha merebut ponsel tersebut disebuah aplikasi keamanan ponsel.


disana terdengar Liyora yang tengah mengancam Friska tentang keseriusannya mengh*b*si siapa saja yang berusaha menghalanginya.


"ini adalah bukti kuat Dylan, lebih baik kita segera pergi dan menyerahkan bukti ini"

__ADS_1


"kamu benar Yoo joon"


saat itu Dylan dan juga Yoo joon bergegas untuk pergi menyerahkan bukti kepihak yang berwajib. dan ketika mereka tengah sampai disana, melihat Alden dan juga Dikta yang baru keluar dari tempat itu. tidak menyia-nyiakan kesempatan, Yoo joon menghentikan langkah kaki Dikta bersama Alden.


Namun saat itu ada yang lebih menarik perhatiannya, yaitu seseorang yang bersama dengan Dikta dan juga L


Alden.


"kalian, ada apa kalian kesini?"


"kami ingin meminta pihak kepolisian untuk menangani kasus Friska, karena kami menemukan sebuah bukti bahwa Frisma tidak bun*h diri." ucap Dikta.


"kalian juga menemukan bukti?" tanya Dylan yang baru saja bergabung.


"apa maksud dari juga ? kalian menemukan bukti?" sambung Alden


"ya, kami menemukan ini" Yoo joon menunjukkan rekaman yang ia lihat tadi bersama Dylan.


Dan ketika Alden dan Dikta mengetahui siapa pelakunya, mereka benar-benar geram. bukan sekali dua kali Liyora melakukan kejahatan, namun kali ini Liylra sampai menghilangkan nyawa seseorang.


"bukankah perempuan itu yang aku lihat bersama dengan Friska di sebuah kafe saat mereka membuat janji bertemu dengan kakak dari suami mba Lesya? aku kira mereka berteman" sahut Dita yang angkat bicara.


"apa maksudmu, jadi Saka juga pernah bekerja sama dengan mereka?" tanya Dylan.


"ya sepertinya begitu, waktu itu kayaknya masalah kehamilannya" ucap Dita.


"apa mungkin kak Saka juga terlibat dalam hal ini?" celetukan Alden membuat semuanya berpikir demikian.


"ya sudah kita bisa tau setelah polisi menyelidikinya. saat ini biar aku menyerahkan bukti ini terlebih dulu suoaya polisi bisa membekuk Liyora" ucap Dylan dan melenggang pergi meninggalkan semuanya.


'apa mereka sedekat ini?'


Yoo joon mengerutkan daginya melihat Dita yang berbincang dengan Dikta dan juga Alden cukup akrab.


.


.

__ADS_1


.bersambung


__ADS_2