It'S Perfect

It'S Perfect
Shampoo


__ADS_3

Saga terlihat sangat letih. ia merebahkan tubuhnya diatas sofa ruang tamu. Saga yang tersadar dalam keletihannya, ia beranjak menuju kamarnya untuk melihat Lesya.


ketika ia membuka pintu kamarnya, ia mendapati Lesya yang tengah terlelap. ia menyentuh pipi Lesya dengan lembut. saat itu Lesya menggeliat karena sentuhan daei Saga.


karena tidak ingin membangunkan Lesya, Saga memilih untuk langsung membersihkan diri.


setelah beberapa menit menghabiskan waktu untuk membersihkan dirinya, Saga yang masih mengenakan handuk sebatas pinggang duduk ditepian ranjang disisi Lesya. saat itu Saga kembali menyentuh wajah Lesya dengan lembut. karena merasakan tangan Saga yang dingin, Lesya mengerjap kemudian membuka matanya.


"Aaaa......maling.. maling mesum.." teriak Lesya histeris, dan karena gugup Saga menutup mulut Lesya dengan telapak tangannya. namun saat itu Lesya semakin memberontak membuat Saga kuwalahan.


"sayang ini aku, suami kamu!" seketika Lesya terkesiap dan saat itu Saga melepas tangannya agar tidak mengganggu pernapasan Lesya.


"fuh.." Lesya membuang nafas kasar "Saga.." ucapnya dengan suara bergetar. seketika saat itu Saga menarik Lesya kedalam dekapannya.


"hei tenang sayang.. kamu jangan takut, maafkan aku, aku sudah membuatmu takut!"Saga menenangkan istrinya sembari mengusap lembut rambut panjang Lesya.


Lesya kemudian menatap suaminya yang saat ini ada dihadapannya. "kamu baru pulang? kenapa kamu gak bangunin aku Saga.."


"aku gak tega sayang, kamu terlihat sangat letih!"


namun saat itu tiba-tiba Lesya menutup matanya dengan telapak tangannya. dan hal itupun membuat Saga bingung dan melihat kearah belekang badannya.


"ada apa sayang, apa yang bikin kamu takut?"


Lesya membuka celah jarinya untuk melihat Saga. saat itu ia menunjuk bagian depan tubuh Saga "kamu gak pakek baju Saga.."


"hufft.." Saga membuang nafas lega.


"ini.." dengan jahilnya Saga menarik tangan Lesya dan meletakkannya diatas perutnya dengan kotakan-kotakan yang tercetak disana. saat itu Lesya ingin menarik tangannya, namun tenaga Saga yang lebih kuat justru membuat tubuhnya tertarik kearah Saga.


Cup


gerakan tidak sengaja itu membuat bibir ranum Lesya menyentuh dada bidang Saga, sehingga saat itu terdapat gelenyar rasa yang membuat naluri lelaki Saga tergugah.


namun Lesya segera menarik dirinya dengan nafas yang tidak teratur. rupanya bukan hanya Saga yang merasakan, tetapi Lesya pun sama halnya dengan Saga.


melihat Lesya yang gugup, Saga semakin mendekatkan dirinya kepada Lesya. jemarinya mulai menyentuh pipi Lesya dengan lembut. dan perlahan tatapan mereka bertemu, dan tanpa aba-aba, Saga ******* bibir ranum Lesya. perlahan ia turun keceruk leher istrinya hingga akhirnya mereka melakukan salah satu ibadah sebagai suami istri.

__ADS_1


keesokan paginya, Saga bangun lebih awal. didapan Lesya yang masih baru bangun dsri lelapnya dengan muka bantalnya, Saga memyugar rambutnya yang basah dan tersenyum dengan membawa secangkir teh untuk Lesya.


"sayang.. kamu tidak perlu repot seperti ini Saga! harusnya aku yang melakukan ini sebagai istri kamu."


"no no no.. gak melulu semua pekerjaan rumah harus istri yang melakukan sayang. aku sebagai suami kamu juga harus membantu kamu. aku tau kamu sangat kelelahan karena semalam kan?"


seketika semburat merah timbul di wajah Lesya sehingga ia memasukkan dirinya kembali kedalam selimut.


"eh kenapa sayang, malu? buat apa malu, aku suami kamu sayang. please jangan malu okey?" Saga menyibak selimut yang masih menutupi tubuh Lesya.


glek


Saga kesulitan menelan salivanya karena saat itu Lesya masih mengenakan pakaian tidurnya yang tanpa lengan. dan sadar akan tatapan Saga, Lesya segera berlari kedalam kamar mandi. ia tidak ingin kejadian semalam terulang, karena hari ini ia akan pergi meeting menemani atasannya dikantor. dan ia tidak ingin sampai terlambat.


Saga yang mendapati sikap Lesya, ia mengembangkan senyum di wajahnya. "dasar istri gua.. udah pernah lihat aja pakek malu-malu. istri.. istri.." Saga menggeleng dengan senyum yang masih tersungging.


_


hari itu seperti biasa Lesya datang dengan tepat waktu. ia menyiapkan semua berkas yanh diperlukan oleh atasannya.


namun ketika ia hendak pergi bersama dengan Arga, Arga menghentikannya. "Lesya, sebagai sekertaris pribadi gue. lo harus mengurus apapun yang gue minta. dan sekarang lo pasangin dasi ini di kerah baju gue!"


"jangan membantah" hardik Arga.


saat itu dengan kekesalannya, Lesya berusaha untuk memasangkan dasi dengan lembut di leher Arga. dan ketika Lesya tengah memasang dasi di leher Arga, suara ketukan terdengar.


"masuk" suara bariton Arga memerintah.


"maaf sepertinya saya datang terlalu cepat"


"tidak apa tuan Saka, anda bisa duduk sembari sekertaris saya selesai dengan pekerjaannya."


"baik.."


Saka terduduk, saat itu pandangannya terus menatap ke arah Lesya yang tengah memasang dasi untuk Arga. saat itu pula Arga menangkap tatapan yang seperti ingin membunuh dari Saka.


'gue yakin saat ini lo cemburu karna gue yakin lo itu suka sama ipar lo sendiri! huh, gue heran kenapa semua pria jatuh cinta sama cewe modelan pengkhianat kaya gini.'

__ADS_1


setelah memperhatikan Saka, Arga saat itu melihat kearah Lesya yang tengah sibuk memasangkan dasi untuknya. karena jarak mereka yang sangat dekat, Arga justru memejamkan matanya menikmati aroma dari rambut Lesya.


'wangi ini, wangi ini adalah kesukaan dari bang Arvin. bang Arvin dulu sering beliin shampoo yang aromanya seperti ini untuk pacarnya. dan aku tau ini karena setiap dia beli, dia selalu mengirim gambar. karena gue penasaran gue juga ikut beli.'


"sudah selesai pak!" ujar Lesya dan membuyarkan semua lamunan Arga tentang Arvin.


"eghem..." saat itu Arga hanya berdeham dan berjalan ke arah Saka.


"mari tuan Saka, kita akan bertemu dengan investor lain."


"mari.."


saat itu Lesya hanya mengekor dibelakang dari Arga dan juga Saka yang sibuk membahas projek baru yang akan mereka garap.


namun ketika ia berhenti disebuah lampu merah, pandangannya berhenti disebuah kerumunan siswi-siswi SMA yang sibuk mengambil foto dengan seorang siswa laki-laki yang tinggi namun membelakangi posisi Lesya.


'anak SMA itu posturnya mirip banget sama Saga. tapi kalo itu Saga, kenapa semua minta foto? ah mungkin aja itu orang lain. aku yakin Saga gak akan dengan mudah dideketin cewek-cewek apalagi berkerumun seperti itu.'


"huh..." Lesya mebuang nafas kasar.


"ada apa Lesya, apa kamu sakit?" tanya Saka yang saat itu tengah mengemudikan mobilnya. sementara Arga yang berada di jok belakang hanya menatap datar Lesya.


'oh ya mungkin ini saatnya gue ngetes Saka lagi.'


"lebih baik kamu minum Lesya." Arga mengulurkan botol air mineral untuk Lesya. saat itu ketika Lesya tidak sengaja menumpahkan air di kemeja yang ia kenakan, Arga membantu membersihkannua dengan sapu tangannya.


"makasih pak, tapi saya bisa sendiri"


'aku yakin dari sikapnya, tuan Arga sepertinya juga menaruh rasa buat Lesya. ini gak bisa dibiarin'


karena merasa kesal, Saka melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi sehingga secara spontan Lesya memegang erat lengan Arga.


'gue yakin lo makin cemburu sekarangkan Saka. dan ni cewek kayaknya ketakutan karna Saka ngebut. tapi kasihan juga si dia ketakutan, ah tapi biarin aja ini gak seberapa dari pengorbanan bang Arvin'


Lagi-lagi Arga menyangkut pautkan semua yang dialami Lesya sebagai pelajaran karna menurutnya Lesya menkhianati Arvin.


.

__ADS_1


.bersambung


.


__ADS_2