
Brakk
Seorang pegawai restoran tidak sengaja menabrak Dikta hingga semua barang yang ia bawa jatuh berserakan. Pegawai tersebut meminta maaf karena ia sudah menabrak bosnya dengan rasa takut di wajahnya.
Namun saat itu Dikta tidak memarahi ataupun membantu pegawainya untuk memungut barang-barang yang berserakan. Tetapi Dikta hanya melihatnya sekilas dan lanjut berjalan menuju ruangannya.
Saat itu Dita bersama dengan Lesya dan juga Saga melihat Dikta yang acuh pun merasa sedih. Mereka tidak menyangka jika kepergian Alden akan membawa Dikta ke dirinya dulu, bahkan kali ini jauh lebih dingin tanpa rasa perduli.
"Gimana ini, kenapa Dikta berubah seperti itu?" Dita menatap punggung Dikta yang hampir menghilang di balik pintu ruangan.
Lesya mendekat dan mengusap pundak Dita dengan lembut. Ia mengulas senyum tipis di bibirnya.
"Itu adalah Dikta beberapa tahun lalu sebelum menjalin hubungan dengan Alden. Tapi aku yakin, Dikta tidak akan seperti itu terus menerus jika kita membuatnya mengerti" Dita mengangguk ucapan Lesya.
Sementara itu Saga menyusul Dikta kedalam ruangannya. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan Dikta, dimana di sana tidak ada yang berubah sama sekali. Saga memahami hal itu, rungan Dikta tidak akan berubah karena yang mendesign dan mengatur setiap tata letaknya adalah Alden.
"Apa bakal kayak gini terus Ta? "
Dikta tidak mengerti dengan ucapan Saga. Ia mengerutkan dahinya dan menatap Saga penuh tanya
"Kenapa Ga, gue emang kayak gini kan?" Balasnya sembari melihat beberapa laporan tentang restoran miliknya bersama Alden.
"Lo sadar nggak si Ta? Dengan lo bersikap kayak gini, lo udah ngecewain Alden"
Mendengar Saga menyebut nama Alden, Membuat Dikta menghentikan aktifitasnya dan bangkit dari duduknya. Mendadak Dikta menatap Saga dengan tatapan yang tidak suka.
"Apa maksud lo bilang gue ngecewain Alden, Ga? Lo gak liat berapa hancurnya gue kehilangan dia. Dan gue berusaha bangkit buat nerusin usaha kami Ga?"
"Ya, mungkin aja lo bangkit buat nerusin usaha kalian. Tapi apa sikap lo harus kayak gini? "
"Apa yang salah sama sikap gue?"
"Astaga Dikta, lo itu bodoh atau apa? Lo itu udah gak ada rasa simpatik sama orang lain. Bahkan kewibawaan lo dan kebijakan lo itu hilang. Dan gue yakin Alden kecewa banget sama lo yang kayak gini" Dengan suara yang menunggu Saga mengungkapkan apa yang saat ini ia rasakan.
Bug
Dikta langsung memberikan bogeman kepada Saga tepat di wajahnya sehingga membuat sudut bibirnya berdarah. Namun Saga yang awalnya ingin membuat Dikta mengerti, ia justru tersulut emosi dan membalas pukulan dari Dikta hingga perkelahian tak terelakan.
Mendengar suara gaduh di dalam ruangan Dikta, Kesya dan Dita segera memeriksanya. Keduanya terkejut ketika antara Saga dan Dikta menarik kerah baju satu sama lain.
__ADS_1
"Saga, Dikta, apa-apaan ini?" Lesya melepas cekalan antara Dikta dan Saga.
Nafas yang memburu membuat keduanya belum menjawab pertanyaan Lesya saat ini. Dengan wajah yang sudah banyak bekas luka pukulan pun membuat keduanya terlihat sangat kacau.
"Kalian kayak anak kecil, sebenarnya masalah apa yang bikin kalian saling pukul kayak gini hmmm? "
"Dengar mba Lesya, aku tidak ingin membahasnya. Silahkan mba Lesya ajak suami mba Lesya pergi sekarang, sebelum aku benar-benar kehilangan kendali"
Karena tidak ingin terjadi keributan yang berlanjut antara Dikta dan Saga, Lesya mengajak suaminya pergi.
Saat itu Lesya yang mengemudikan mobil mereka dan berhenti di sekitar apotik untuk membelikan Saga obat.
Setelah mendapatkan obat, Lesya mengajak Saga untuk duduk di sebuah bangku yang ada di taman. Disana Lesya mengobati luka-luka yang ada di wajah Saga.
Usai mengobati Saga, Lesya kembali mengajak Saga untuk melanjutkan perjalanan. Namun kali ini Saga lah yang mengambil alih kemudi.
Sudah sekitar 30 menit Saga berulang kali melirik istrinya yang diam dengan wajah masamnya. Bukan tanpa alasan Lesya bersikap semacam itu.
"Sayang, apa kamu marah?"
Lesya masih terdiam dan enggan menjawab pertanyaan dari suaminya. Ia justru membuang muka dan melihat keluar jendela.
Ketika Saga mencoba mengajak istrinya berbicara, namun tidak Mendapat jawaban. Saga membuang nafasnya berat dan terus mengemudi hingga akhirnya mereka sampai di rumah mereka.
"Jangan diamkan aku Lesya"
"Aku lelah Saga, aku harus segera kedalam dan beristirahat" Lesya kembali melepas tangan Saga dan melenggang masuk kedalam rumahnya.
Saga tidak berhenti dengan usahanya. Ia terus mengikuti istrinya hingga kedalam kamar. Saat itu Lesya yang tengah mandi di buat terkejut karena suaminya yang mendadak ikut masuk kedalam kamar mandi.
"Saga, apa yang kamu lakukan? Keluarlah aku sedang mandi"
"Ada apa Lesya, apa kamu malu? "
"Oh yang benar saja, aku sudah melihat semuanya" Imbuh Saga sehingga membuat Lesya semakin kesal.
"Dengar Saga, aku tidak ingin berdebat. Tapi jika sikapmu seperti ini, aku akan benar-benar marah"
"Itulah yang aku alami saat aku bersama Dikta, Lesya. Aku berusaha bersabar dan mengingatkannya, tapi sikapnya justru membuat emosiku tersulut"
__ADS_1
Akhirnya Lesya yang Sedari tadi berusaha menyingkirkan tangan Saga yang melingkar di perutnya, kini ia justru berbalik dan menatap Saga.
"Apa itu benar? Bukan karena hal lain? "
Saga menggeleng "aku berusaha membuatnya mengerti, agar dia sadar kalau sikapnya yang seperti ini akan membuat banyak orang sedih termasuk dirinya sendiri Lesya. Dan aku yakin Alden tidak akan suka jika dia tau kan? "
Sorot mata Saga terlihat sangat sedih mengatakan hal itu. Ia begitu terpukul. Selain ia harus kehilangan salah satu sahabatnya untuk selamanya, ia juga kehilangan Dikta yang sejak dulu menjadi sahabat yang bijaksana untuknya.
Melihat kesedihan itu Lesya teringat ketika dirinya kehilangan Arvin. Lesya memeluk suaminya dengan erat. Setelah itu Lesya memakai baju mandinya dan mengajak Ssga untuk duduk di ranjang.
Saga berbaring dengan berbantalkan pangkuan Lesya, dengan matanya yang terpejam menceritakan semua keluh kesah yang ia rasakan. Jari jemari lentik Lesya menyisir rambut suaminya perlahan sehingga membuat sebuah relaksasi yang membuat Saga lebih tenang.
Tok tok
Mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar, Lesya segera membukakan pintu. Dimana saat itu pembantunya membawa sebuah paket atas nama Lesya
"Ini dari siapa bik? "
"Saya juga tidak tau bu"
"Ya sudah bibik boleh pergi. Oh ya bik, nanti tolong belikan susu buat Elgara ya bik, persediaan susunya hampir abis"
"Oh iya bu, kalo begitu saya permisi"
Lesya kembali duduk dan memandang bingung ke sebuah bingkisan yang ada ditangannya. Melihat hal itu, Saga pun menautkan kedua alisnya.
"Apa itu? "
"Aku juga nggak tau Saga, ada yang mengirimnya"
"Ya sudah buka saja"
Dengan segera Lesya membukanya. Dimana saat itu sebuah gaun yang sangat cantik dan ukurannya sesuai dengan Lesya.
"Ada suratnya" Saga memungutnya karena terjatuh.
Ketika membaca surat tersebut, mendadak wajahnya berubah menjadi merah padam dengan tangan yang mengepal.
"Ada apa Saga? "
__ADS_1
"Ini bener-bener keterlaluan" Saga meremas kertas tersebut. Dan hal itu pun membuat Lesya menjadi heran, Apa yang membuat suaminya menjadi semarah itu.
Bersambung