It'S Perfect

It'S Perfect
Cewe Kuat


__ADS_3

Disepanjang perjalanan pulang, Lesya hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun hingga membuat Alden merasa sangat ingin memeluk Lesya.


'kalo gua gak nyetir ni motor, udah gua peluk kamu Lesya. gua gak tega banget lihat kamu kaya gini. tapi gua akuin, kamu memang cewe kuat Lesya' batin Alden yang memperhatikan Lesya dari kaca spion motornya.


dan ketika mereka melintasi daerah yang jauh dari pemukiman, tanpa mereka duga beberapa orang menghadang mereka. ada yang berwajah sangat buruk akibat bekas luka ada juga yang bertubuh besar, ada juga yang menutup sebelah matanya.


dan secara mendadak Alden menghentikan laju motornya hingga Lesya membentur punggung Alden.


"Alden ada apa, kenapa mendadak kamu berhenti? ini bisa bahaya Alden, bisa-bisa kita jatuh" ucap Lesya tanpa melihat beberapa orang yang sudah menghadangnya dengan Alden.


"ini Lesya, emm maksud gua mba Lesya. ada orang yang nyegat kita didepan!"


setelah mendengar ucapan Alden, lesya segera turun dan mendekat ke arah orang-orang yang menghadangnya.


"kalian kenapa ngalangin jalan kita?"


"heeii cewe cantik, galak amat si.. tapi gak pa-pa abang malah makin suka" ucap salah satu daei merekanyang menutup sebelah matanya.


"jangan berani-beraninya kalian godain cewe gua. mending kalian pergi atau.."


"heh anak bau kencur, lo berani sama kita-kita.."


"i-iya beranilah emang kalian pikir gua takut" ucap Alden yang sedikit terbata melihat lawan yang saat ini dihadapannya benar-benar menakutkan


"mba Lesya kamu disini aja ya, gua mau beri pelajaran buat orang-orang itu"


perkelahianpun tak terelakan, awalnya Alden mampu melawan satu persatu berandal, namun karena kalah jumlah akhirnya Alden menjadi bulan-bulanan orang-orang itu. namun Lesya tidak tinggal diam, ia segera membantu Alden melawan hingga semuanya terpelanting.


"Alden, kamu baik-baik aja kan?" Lesya membantu Alden bangkit, namun saat itu ia melihat salah satu berandal ingin melukai Alden dari belakang akhirnya Lesya berusaha menangkisnya hingga pis*u yang mereka bawa mengenai telapak tangan Lesya.


dan melihat hal itu, Alden pun segera menghaj*r orang-orang itu hingga mereka tidak bisa bangun lagi.


"astaga, kamu terluka" Alden segera merobek kaos yang ia kenakan untuk membalut luka Lesya.


"tahan ya mba Lesya, ini hanya sementara. lebih baik sekarang kita buruan pergi dari pada mereka bangun dan nyerang kita lagi"


kini Alden dan Lesya kembali melanjutkan perjalanan mereka, namun setelah beberapa saat tiba-tiba hujan deras mengguyur mereka.


"kenapa berhenti Alden, ini hujan lo kita harus pulang sekarang?"


"gua cuma mau kamu pakek jaket gua okey, gua gak mau kamu kedinginan!"


"tapi Alden-"


"kalo kamu nolak, kita gak pulang-pulang ni" Titah Alden.


karena tidak ingin berlama-lama, akhirnya Lesya segera memakai jaket yang di berikan oleh Alden.


cukup lama mereka menempuh perjalanan dalam keadaan hujan deras. karena tidak ingin mangambil resiko untuk berteduh di daerah yang rawan, Alden terus melajukan motornya hingga akhirnya setelah empat puluh lima menit mereka baru sampai di kediaman Darmawan.


ceklek

__ADS_1


"Lesya, Alden! kenapa kalian basah kuyub? dan ini kenapa sayang, kenapa kamu bisa terluka? dan kenapa kamu pulang dengan Alden, dimana Saga?"nyonya Darmawan mencecar dengan beberapa pertanyaan hingga membuatbLesya menatap Alden.


"nanti ya mi, nanti aku ceritain. tapi aku harus cari baju ganti buat Alden, kasihankan haketnya aku pakek, terus kaosnya di robek buat balut luka aku!"


"udah kamu lebih baik bersih-bersih sayang, biar mami yang ambil baju buat Alden. dan kamu Alden, kamu bisa bersih-bersih di kamar Saga, nanti tante siapin ya.."


"oh iya tan makasih"


setelah keduanya sudah keluar dengan pakaian yang bersih, nyonya Darmawan segera mengambil kotak obat untuk mengobati luka yang ada di tangan Lesya.


"sayang.. mami anter kamu ke dokter ya, ini cukup dalam sayang lukanya!" Nyonya Darmawan begitu khawatir melihat luka yana ada di tangan menantunya itu.


"ga perlu mi, ini cuma luka ringan kok"


sementara kedua perempuan sedang berbincang, di sofa seberang meja, Alden begitu kagum dengan Lesya yang tidak pernah mengeluh karena rasa sakitnya. bahkan ia masih sangat tegar setelah melihat suaminya mebdekati perempuan lain, meskipun itu juga bukan kesalahn Saga yang amnesia.


'ini bener-bener gila! seorang Alden yang digilai banyak cewek, rela compang camping kaya orang gila demi seorang Lesya! kamu hebat Lesya bisa bikin gua kaya gini. ya walaupun gua harus panggil kamu Mba, tapi gua rela demi bisa deket terus sama kamu'


tanpa Alden sadari ia tersenyum mengingat semua yang sudah ia lakukan untuk Lesya.


"Alden, apa yang terjadi? tante mau tau dari kamu. karna tante tau kalau tante nanya sama Lesya, dia akan menutupi apa yang sebenarnya!"


"mami..."


"udah sayang kamu diem, mami lagi tanya sama sahabat suami kamu!"


Alden menatap Lesya dan bergantian menatap nyonya Darmawan. "begini tan, sebenernya tadi emang Saga sama kita. tapi karna dia masih mau kencan sama Liyora-"


"iya sabar dulu tante biar Alden terusin ceritanya okey" Alden berusaha membuat Nyonya Darmawan untuk sedikit tenang. "dan Saga nyuruh aku sama Dikta buat nemenin mba Lesya tante. dan karena Dikta ada urusan, jadi tinggal Alden yang nemenin mba Lesya. karena mba Lesya melihat Saga nembak Liyora jadi kami mutusin buat pulang. dan di tengah jalan kami di cegat sama empat orang tan!"


"argh.."nyonya Darmawan tiba-tiba merasa sangat pusing.


"mi, mami yang tenang ya.. sekarang biar Lesya anter mami ke kamar!"


nyonya Darmawan terus memegangi kepalanya yang terasa pening memikirkan Saga yang sudah berbuat sejauh itu. dengan di bantu oleh Alden, akhirnya nyonya Darmawan sudah berbarong di atas tempat tidur.


"Sayang maafin Saga ya, gara-gara dia kamu sampai seperti ini. dan mami tau pasti hati kamu lebih sakit sayang.."


"udah mami jangan mikir macem-macem ya. mami minum obat ini dan mami harus istirahat okey"


setelah memastikan ibu mertuanya istirahat, Lesya kembali keluar untuk menemui Alden yang saat itu duduk di ruang tamu.


"minumlah Alden, ini akan bikin badan kamu sedikit hangat." Lesya sengaja membuatkan wedang jahe untuk Alden yang memang ia rasa Alden membutuhkannya.


sruuup


Alden menyesap minuman yang dibuat oleh Lesya. melihat raut wajah dsri Alden, Lesya sedikit terkekeh.


"mungkin awalnya akan terasa sesikit pedas Alden, tapi lama kelamaan akan enak kok!"


setelah beberapa kali menyesapnya, Alden memang merasa ucapan Lesya benar.

__ADS_1


dan saat itu Lesya tiba-tiba duduk di sebelah Alden, ia menatap wajah Alden yang seperti anak kecil yang mengalami mati lampu. terlihat sangat polos dengan matanya yang terbuka lebar.


"kamu diem, aku akan olesin salep buat luka lebam-lebam yang ada di wajah kamu!"


Alden hanya mengangguki ucapan Lesya dan pasrah saat Lesya mulai mengoleskannya.


'walaupun gua bonyok, gua rela kok Lesya demi keselamatan kamu. dan ternyata kamu juga sangat perhatian dengan luka gua Lesya.' lagi-lagi Alden di buat semakin terpesona dengan segala hal yamg dilakukan oleh Lesya.


di tempat lain, kini Dikta menemani Friska untuk chek up ke dokter. setelah mengalami peristiwa tempo hari, Dikta memang lebih dekat dengan Friska.


"syukurlah keadaan lo mulai membaik Friska" ucap Dikta sembari membantu Friska duduk di sofa ruang tamu, di rumah Friska.


Dikta mengedarkan pandangannya, ia mencari keberadaan ibu dari Friska. namun hingga beberapa saat ia tidak menemukan keberadaanya sekalipun itu hanya bayangan.


"lo cari apa Dikta?"


"emm nyokap lo gak di rumah?"


"nyokap gue ke tempat sodara gue Dikta, dia gak di rumah" ucapan Friska hanya di balas oleh anggukan dari Dikta.


'nyokap gue ninggalin gue waktu gue tidur Dikta! dia pergi karena banyak penagih hutang. dan gue, gue gak punya siapapun. cuman lo yang gue punya' ingin rasanya Friska menangis di pelukan Dikta. namun ia memilih untuk tidak mengatakan hal itu kepada Dikta. sama halnya seperti saat ibu Dikta menyuruhnya untuk meninggalkan Dikta dengan berpura-pura selingkuh.


💜💜


pagi itu di area parkir sekolah, Alden dan Dikta melihat kedatangan Saga bersama Liyora. Dikta mengerutkan dahinya saat Saga tiba-tiba mencium kening Liyora. sementara itu Alden, ia hanya memasang wajah datarnya.


"Emm Yora, kamu bisa ke kelas duluan. aku harus nyamperin Alden sama Dikta"


"okey.. kita ketemu di kelas ya babe."


setelah Liyora pergi, Saga segera bergabung dengan Alden dan juga Dikta.


"wajah lo kenapa Al, kok bonyok kaya gitu?"


"emang Lesya gak ngomong apa-apa sama lu Ga?" tanya Alden.


"gua gak sempet ngobrol sama dia! semalem gua seneng banget udah berhasil bikin Liyora jadi pacar gua, jadi waktu pulang gua sengaja gak mau ngbrol sama dia yang lagi nonton tv. gua gak mau mood gua ancur! dan kalo pagi tadi, kayaknya dia udah pergi duluan ke kantor!"


Alden hanya membuang nafas kasar. ia tau jika hubungan Saga dan Lesya semakin jauh itu akan bagus.tapi kali ini entah mengapa, ia tidak senang karena seseorang bersikap seperti itu terhadap Lesya.


"apa lu tau Ga, semalem Alden sama Lesya di hadang sama orang jahat entah mereka ber*nd*l atau apa bahkan Lesya sampek kena pis*u, dan lu sebagai seseorang yang dipercaya nyokap lu buat bawa Lesya. lu malah gak ngecek keadaannya bahkan sekedar nanya aja lu enggak sama sekali ga?" Dikta menggeleng heran dengan sikap Saga.


"jadi dia terluka?" raut wajah Saga berubah menjadi muram seketika saat mengetahui apa yang menimpa Lesya.


.


.


.bersambung


.

__ADS_1


__ADS_2