It'S Perfect

It'S Perfect
Harga Diri Gak Murah


__ADS_3

Sinar matahari yang menyeruak dari celah tirai mulai mengusik alam mimpi Saga, ia membuka matanya perlahan. saat kedua matanya terbuka sempurna sosok Lesya lah yang pertama kali ia lihat.


"kamu udah bangun Saga?"


"seperti yang mba Lesya lihat, oh iya jam berapa sekarang mba?"


"baru jam setengah tujuh" setelah memberi tahu, pandangan matanya yang awalnya memperhatikan hal lain kini menatap Saga penuh selidik. "jangan bilang kamu mau berangkat sekolah Saga!"


"emang kenapa si mba kalo gua sekolah, emang gua kan masih sekolah!"


"apa kamu beneran udah merasa lebih baik?"


"yaelah mba, gua ini cowok kuat yang di gilai banyak cewek! mana mungkin cuman demam aja harus berhari-hari!"


"lalu apa hubungannya demam sama di gilai banyak cewek Saga?"tanya Lesya sembari melipat kedua tangannya bersedekap dengan sebelah alis yang terangkat.


"ya adalah mba! udah mba Lesya jangan banyak tanya, Frekuensi kita beda. jadi sulit kalo di jelasin" sahut Saga dan berlalu ke kamar mandi meninggalkan Lesya yang tengah membereskan kamar Saga.


seusai dari kamar mandi seperti biasa, Saga hanya memakai handuk yang meilit sebatas pinggang. saat itu Lesya yang baru mengantar saraoan untuk Saga, seketika menutup kedua matanya dengan nampan yang masih ada ditangannya.


"Saga, cepet pakek baju!"


menyadari atas sikap Lesya, Saga menggunakan hak itu untuk melancarkam kejahilannya.


"kenapa si mba, mba malu liyat badan gua yang bagus" Saga terus menyunggingkam senyumnya melihat Lesya yang terus memejamkan mata sembari mencari tempat untuk menaruh nampan yang ia bawa.


"katanya dulu kita saling cinta, itu berarti kita udah itu kan mba? terus kenapa sekarang mba Lesya malu?" Saga terus terkekeh saat menggoda Lesya yang semakin salah tingkah.


'ini kenapa si.. Saga pakek bahas itu, walaupun kita udah suami istri tapi keadaannya sekarang kan beda. bahkan dia gak inget sama sekali kan! duh ini gimana biar Saga berhenti iseng'


"Saga jangan becanda, cepet pakek baju kamu!" sekali lagi Lesya menuruh Saga untuk segera mengenakan pakaiannya, namun bukan Saga jika ia tidak semakin jahil.


Saga lalu meraih nampan dari tangan Lesya dan meletakkannya di atas meja. sesaat setelahnya, Saga semakin mendekat ke arah Lesya.


meskipun Lesya menutup kedua matanya, ia masih bisa merasakan Saga yang semakin dekat karena aroma maskulin dari tubuhnya menyeruak di indera penciumannya yang semakin kuat.


"Saga apa yang kamu lakukan?" Lesya kini menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


"hahaha.." Saga tertawa terbahak-bahak melihat Lesya semakin malu. "makanya mba gak usah ngaku-ngaku kalo kita dulu saling cinta, kalo kita saling cinta, gak mungkin mba Lesya masih malu lihat gua gak pakek baju!"

__ADS_1


'lagian gua yakin kalopun gua pernah hamilin mba Lesya. itu pasti ada sesuatunya bukan dasar dari cinta, karna cinta gua dari dulu cuman buat Liyora. mungkin semalam gua hampir termakan sama sikapnya yang perhatian sama Gua! tapi untung aja gua cepetan sadar!'


"terserah apa pendapat kamu Saga. kalau begitu kau makanlah, aku akan keluar." masih dengan mata yang tertutup Lesya berusaha keluar, hingga.


brugh


kedua mata Saga tak henti melihat Lesya yang saat ini berada di dalam pelukan Yoo joon. entah kenapa dadanya terasa sesak melihat hal itu.


"woe.. kalo mau pelukan jangan di kamar gua kali!" celetukan Saga membuat Yoo joon dan Lesya segera membenarkan posisi mereka.


"ada apa Sya, kenapa kamu jalan dengan menutup mata"


"emm gak pa-pa Yoo joon, aku harus segera keluar" Lesya berlari meninggalkan Saga bersama dengan Yoo joon.


"kenapa lu ke kamar gua? gua gak ada urusan sama lu!"


"aku kesini cuma ingin memberitahumu, jika kamu terus menyakiti perasaan Lesya, kamu akan berurusan langsung denganku!" hardik Yoo joon dengan mata tegasnya menatap Saga yang tak kalah tajam dari Yoo joon.


"memang apa urusan lu pakek ngancem-ngancem gua? gua gak pernah cari ribut ya sama lu, jadi gak usah ikut campur sama kehidupan gua!"


"aku tidak memiliki niat mencampuri kehidupan kamu! tapi jika ada sesuatu yang menyangkut dengan Lesya, apalagi nyakitin dia, aku orang pertama yang akan memberi pelajaran pada siapapun itu, tidak terkecuali dirimu!" Ujar Yoo joon sembari keluar dari kamar Saga.


"Saga, kamu udah sembuh babe?" Liyora memeluk Saga dihadapan teman-teman sekolahnya.


saat itu banyak sekali perbincangan yang membicarakan antara Saga dan juga Liyora. pasalanya sesisi sekolah mengetahui bahwa Saga sudah beristri dan sudah tidak memiliki hubungan dengan Liyora. tetapi akibat sikap Liyora saat ini berbagai asumsipun muncul dari siswa siswi yang ada.


"kalian bisa gak si kalo pacaran jangan di sekolahan" ucap Dikta yang baru bergabung


"apaan si Ta, lagian Yora itu kaya gini karna khawatir sama gua!"


"iya gua tau Ga, tapi lu kan tau lu udah punya istri. jadi semuanya heranlah liyat lu masih pacaran sama Liyora!"


"Dikta.. semuanya juga tau kalo gue pacaran sama Saga itu lebih dulu dari pernikahan Saga sama Lesya kan? udah mending lo gak usah ribet deh!" kali ini Liyora yang mengambil alih.


"iya lah Ta mending kita gak usah ikut campur, nanti kalo ingatannya udah pulih palingan si Saga juga nangis-nangis curhat ke kita" sahut Alden menimpali ucapan Liyora.


"dasar lambe murah lu Al, ngarang aja lu!" Saga menoyor kepala Alden sehingga membuat Alden mengusap-usap rambutnya.


"mending juga lambe yang murah, asalkan harga diri gak murah"

__ADS_1


"eh apa ya maksud lo bilang kaya gitu Alden?" Liyora menatap nyalang Alden yang saat ini tepat di sebelah kanannya.


"yang jelas lu tau hal itu tanpa gua harus jelasin!" tukas Alden.


"ngomong sama gua Al, apa maksud dari ucapan lu barusan!" Saga menarik baju Alden.


"gini deh Saga, coba lu fikir deh. kalo cewek tau cowoknya udah punya istri tapi tetep mau pacaran itu namanya apa hemm?"


"jaga bicara lo ya Alden, gue tau lo mau jelek-jelekin gue didepan Saga kan?"


"udah Yora mending kita pergi dari sini! aku tau Alden ngomong kaya gitu karna dia suka sama mba Lesya, jadi dia belain mba Lesya."


Saga menggenggam tangan Liyora dan berlali pergi.


"gua emang suka sama mba Lesya, mungkin ini bukan yang pertama, tapi gara-gara mba Lesya gua pingin insaf jadi playboy. hati gua udah berhenti sama mba Lesya!"


"udah gak usah mimpi, mending kita ke kelas."


saay Dikta dan Alden berjalan daei area parkir tiba-tiba Alden meneouk-nepuk pundak Dikta. "Ta Ta, bukannyanitu Friska!"


Dikta lalu melihat ke arah jari Alden menunjuk. dan benar saja orang yang di maksud Alden tidak lain adalah Friska.


"Friska di anterin siapa? kalo di lihat kayaknya dia lebih dewasa dari Friska!"


"itu bukan urusan kita Alden" Dikta melanjutkan perjalanannya menuju kelas. meskioun begitu, kedatangan Friska dengan seseoramg yang tidak ia kenal, membuat pikirannya bertanya-tanya.


'apa Friska beberapa hari ini gak berangkat kesekolah itu karena pergi sama pria tadi? apa jangan-jangan pria yang tadi itu yang bikin Friska hamil?!'


.


.


.


.


.bersambung


.

__ADS_1


__ADS_2