It'S Perfect

It'S Perfect
Kisah Hidup Gua Kaya Drama


__ADS_3

Perlahan Arga semakin menarik pinggang Lesya kedalam dekapannya. meskipun Lesya meronta cukup kuat, namun tenagannya tidak bisa melawan tenaga Arga. sesuai dengan tubuhnya yang cukup berotot, membuat Lesya tidak bisa mengalahkannya.


"pak Arga.."


Arga menatap dalam-dalam kedua netra Lesya yang juga menatapnya lekat. perlahan Arga mendekatkan wajahnya, hingga nafasnya yanh yerasa hangat menyapu tiap inci permukaan kulit wajah Lesya.


saat itu dengan segera Arga mengikis habis jarak mereka. hingga apa yang membuatnya tertarik kini benar-benar sudah ia dapatkan. Arga ******* bibir ranum milik Lesya. awalnya Lesua tidak membalas sama sekali dengan akyifitas yang dimulai oleh Arga, namun lama-kelamaan Lesya men*km*ti sehingga membalas ciuman dari Arga.


nagas Arga semakin memburu, hingga ia menuusuri ceruk leher Lesya dan..


brug


"arghh.." Arga melihat sekelilingnya, saat itu ia merasa sangat malu.


"apa yang barusan terjadi? kenapa aku mimpi mencium Lesya! sshh" Arga mendesis. ia tidak mengerti kenapa Lesya bisa masuk kedalam mimpinya dan melakukan hal yang bahkan tidak pernah Arga bayangkan.


Arga kemudian berusaha bangkit, namun sialnya ia justru terbentur tepian kursi yang tadi membuatnya bermimpi. "huh, sepertinya aku sudah tidak waras" Arga kembali mengingat adegan didalam mimpinya, perlahan ia menyentuh bibirnya dan mengukir senyim tipis diwajahnya.


tuk


tuk


tuk


Arga mengetuk kepalanya beberapa kali, ia merutukki dirinya yang justru tersenyum ketika mengingat mimpi yang baru saja ia alami.


"dia itu harus kamu beri pelajaran bukannya kamu cium Arga, awas jika itu terjadi di kehidupan nyata" Arga kembali memperingatkan dirinya sendiri.


"astaga, kenapa aku baru sadar kalau ini sudah larut malam? berapa lama aku tertidur ditempat ini?" Arga berjalan memasuki kamarnya, saat itu ia memilih untuk membersihkan diri dan bersiap untuk pergi kesuatu tempat.


-

__ADS_1


Alden terbaring diatas ranjang. ketika ia membuka kedua matanya, disana ia melihat Dikta dan juga Lesya, Saga sudah berada didalam kamarmya.


"kalian? sejak kapan kalian ada disini?"


"sejak lu tiduran dijalan tadi!" tukas Saga.


"Saga!" Lesya menekankan ucapannya sembari melebarkan matanya. saat itu juga Saga hanya mengangkat kedua alisnya.


"lu kenapa keluar dari rumah Al? lu hampir aja ketabrak sama gua!" saat itu Dikta mengambil alih suara. ia kemudian berdiri disamping ranjang Alden.


"gua cuman mau cari angin, tapi gua gak lihat kiri kanan, jadi gua gak lihat kalo lu mau lewat Ta!" tutur Alden.


"gua tau lu keluar karna inikan?" Saga membawa selembar kertas, kemudian sesaat setelahnya ia meremas kertas yang ada ditangannya. "lu gak perlu perduli sama surat kaleng kek gini Al. mereka orang-orang yang pinter ngomong itu gak lebih baik dari lu kok. jadi sekarang lu gak perlu mikir soal itu. dan untuk masalah sekolah, nanti biar gua bantu omongin!" sambungnya lagi.


"lu gak bisa lakuin itu Ga, karna saat ini lu sama orang tua lu lagi gak baik kan hubungannya?" Dikta menimpali ucapan Saga.


"gak pa-pa gua emang pantes kok dikeluarin" sahut Alden dengan wajah muram.


saat itu Saga merasa bingung. benar saat ini dirinya memang tidak berhubungan baik dengan ibunya, namun saat itu juga Saga mendapatkan ide lain.


"aku setuju Saga, tapi yang oenting sekarang kita harus selidiki apa yang sebenarnya terjadi. itu lebih efektif untuk nyelametin Alden dari asumsi yang udah merugikan dia kan?" Lesya lalu duduk ditepian ranjang yang lain. "seperti yang Dikta katakan, dia menemukan batu yang bernoda darah. kalau kita nemu sidik jari disana, bisa saja Friska meninggal bukan karena mengakhiri hidupnya sendiri, melainkan ada yang sengaja melakukan itu dan melimoahkan semuanya sama Alden karna memang akhir-akhir ini skandal anatar Alden dan Friska baru terkuak kan?" tutur Lesya.


"duh.. mba istri emang cerdas. istrinya siapa si ini..?" Saga mencubit hidung istrinya gemas.


"Saga.. kita sedang serius!" ujar Lesya memperingatkan suaminya yang memang moody banget saat bercanda. ia akan bisa bercanda dalam keadaan aoapun jika moodnya sedang bagus.


"oh ya Alden,Jangan pernah sekalipun kamu merasa rendah atau apapun itu. jadikan semua ini pelajaran dan pengalaman untuk kamu melangkah kedepannya. jika kamu membuat kesalahan, kamu harus berusaha memperbaikanya. semua orang pasti pernah berbuat salah! bukan cuma kamu yang pernah melakukan hal negatif, aku pun sama. jadi tetap semangat okey?"


Lesya mengusap punggung tangan Alden, ia tersenyum lembut menatap mata Alden yang penuh dengan sorot penyesalan. "aku memang pernah kecewa saat tau kamu ngelakuin itu sama Friska, dan tidak mengatakan apapun saat dia membuat masalah untuk keluargaku. tapi aku yakin kamu menyesali itu. dan sekarang saatnya kamu menunjukkan kamu lebih baik dari sebelumnya"


"ia simpatik si simpatik, tapi gak perlu pegang-pegang. orang ganteng juga bisa jaelous kali!"

__ADS_1


mendengar ucapan Saga, membuat Alden sedikit terkekeh. saat itu semuanya baru menyadari bahwa Saga bukam sembarangan bercanda, melaonkan ia hanya i gin membuat sahabatnya tersenyum meskilun saat ini kondisinya tidak mudah untuk ia jalani.


"emm Dikta kami harus pulang, tolong kami jaga Alden dengan baik!" ujar Lesya.


"iya Ta, gua nitip sahabat gua yang paling sok kegantengan ini! jangan sampek lu biarin kadar kepedeannya menurun cuman gara-gara omongan gak penting dari orang-orang diluar sana." ucap Saga dan berlalu pergi dengan menggandeng istrinya.


setelah kepergian Saga dan Lesya, Dikta membantu Alden untuk tidur. saat itu ia menemani Alden hingga terlelap. 'gua kasihan sama lu Al, disaat lu butuh tokoh seseoramg yang bisa jadi temoat lu bersandar, justru saat ini orang tua lu gak ada dirumah. bahkan saat ini cewe-cewe yang ngidolain lu, bisa buli lunkaya tadi!' nanar mata Dikta memperlihatkan bahwasannya saat ini ia tengah merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Alden.


ketika Dikta hendak meininggalkan Alden, saat itu Alden mencekal oergelangan tangan Dikta. Dikta menoleh ke arah Alden yang saat ini sudah membuka matanya kembali.


"Ta.."


"hemm?"


"gua laper Ta, apa lu tadi jadi bawain gua makanan?"


Dikta membuang nafas kasar. "makanannya udah gak tau kemana Al. tadi pas lu pingsan, gua udah gak perduliin makanan yang gua bawa. kenapa? lu laper sekarang?" Dimta memang sangat memahami Alden.


"iya Ta, ternyata ngadepin masalah ini gua jadi kelaperan Ta" ucap Alden.


"ya itu mah emang lu nya aja yang laper!" Dikta lalu bergegas keluar kamar, sementara Alden menjadi bingung. kenapa setelah cukup lama Dikta yang tidak membalas ucaapnnya dan justru pergi meninggalkan kamar Alden.


namuntelah beberaoa saat, Dikta masuk kedalam kamar Alden dengan sebuah nampan yang berisi makanan untuk Alden.


seketika Alden justru menangis, hal itu membuat Dikta terlihat sangay bingung."ada apa Al? ada yang sakit?" Dikta segera meletakkan makanannya diatas nakas temlat tidur. seteelah itu ia memeriksa Alden, Dimta menyentuh dahi dan leher Alden.


'Dikta, sebenernya oerasaan apa ini? ke ala gua seneng kalo lu perhatian sama gua kaya gini? tuhan tolong jangan bikin kisah hidup gua kaya Drama? apa mungkin gua suka sama Dikta?'


Alden masih belum bisa mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini.


.

__ADS_1


.


.bersambung


__ADS_2