
Yoo joon terus memandangi foto yang ada di atas nakasnya. Saat itu Lesya yang melihat itu segera meraih foto yang ada di tangan Yoo joon.
"kau tidak perlu melihat foto ini Joonie, dia adalah calon istri Alden. waktu itu aku yang membawanya kesini dan lupa mengembalikannya kepada Alden"
"ohh, aku kira ini foto siapa kenapa tiba-tiba ada didalam kamarku? " Yoo joon mengukir senyum tipis diwajahnya.
"oh ya Sya, dia terlihat sangat muda. dan kelihatannya di perempuan yang manis"
"iya dia manis seperti gula" pungkas Lesya dengan mulutnya yang mengerucut.
mendaoati sikap Lesya yang berubah, Yoo joon segera menangkup pipi Lesya dan menatapnya dengan mengukur senyum diwajahnya. "tapi tetap kamu yang paling manis Sya.." raut wajah Lesya berubah menjadi berseri mendapat pernyataan dari Yoo joon.
Di sisi lain Saga merasa tidak suka melihat Lesya yang terlalu dekat dengan Yoo joon. meskipun Saga tau bahwa mereka hanya bersahabat, namun Yoo joon tetaplah seorang laki-laki. dan Saga tidak rela melihat istrinya dekat dengan lelaki lain selain dirinya.
Dengan segera Saga melepas tangan Yoo joon dari wajah istrinya dan seketikaesya menatap Saga dengan wajah bingung.
"aku tidak suka kalian sedekat ini" itulah Saga yang berbicara apa adanya dengan perasannya.
"huh kau ini benar-benar konyol. kenapa dia masih saja menyebalkan seperti yang kamu ceritakan waktu itu Sya"
Ucapan Yoo joon menguak fakta baru dan ternyata Lesya sering bercerita dengan Yoo joon jika Saga orang yang sangat menyebalkan. dan saat itu Saga memandangnya dengan wajah kesal namun dengan sedikit menahan tawa, sementara Lesya menggamit bibirnya karena tertangkap basah oleh suaminya yang sering membicarakannya dengan Yoo joon.
"ehem, jadi apa yang dia bicarakan tentangku Yoo joon? " Saga duduk disebelah Yoo joon.
"aku sudah katakan kan Saga, dulu kau ini sangat menyebalkan. bahkan aku ingat kau mempunyai seorang kekasih. harusnya saat itu aku menawarkan diri untuk menjadi suaminya kan? "
Seketika kedua mata Saga membulat dan rahang nya mulai mengeras, dans aat itulah Lesya memegang tangan Saga dengan lembut. "Saga, Joonie hanya menggodamu! "
Saga menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar. "ya, aku hanya tidak suka jika. mendengar pria lain ingin menikahimu"
"ternyata selain menyebalkan, kau juga sangat cemburuan. dengan begitu aku akan semakin menempel pada istrimu yang harus merawatku untuk masa pemulihanku kan Saga" Yoo joon menggerakkan alisnya naik turun untuk menggoda Saga.
Saat itu Saga mencoba menenangkan dirinya. ia mengingatkan jika Yoo joon hanyalah menggodanya seperti apa yang di ucapkan oleh Lesya. namun itu semua tidak benar, karena saat ini Yoo joon tidak mengingat Dita, perasaannya hanya memikirkan tentang sahabatnya yaitu Lesya. seorang perempuan yang berhasil mendapatkan hatinya setelah ibunya.
'andai kau masih membuat Lesya sering menangis, aku akan benar-benar merebutnya darimu Saga. tapi sepertinya saat ini kau benar-benar mencintai sahabatku ini' batin Yoo joon tanpa sepengetahuan Saga dan juga Lesya.
Sementara itu ditempat lain kini Alden dan Dikta kembali ke restoran mereka. saat itu keduanya tengah bersama, namun seorang gadis menemui mereka dan kini berbicara di dalam ruangan Dikta.
__ADS_1
"ada apa Nadia? apa ada yang ingin kamu bahas mengenai tugas kita? tapi bukannya kita sudah menyelesaikannya? "
"aku ingin menanyakan sesuatu pada kalian berdua"
Saat itu Alden dan Dikta saling menatap. pasalnya antara Alden dan Nadia tidak pernah ada apapun, tetapi kenapa kali ini Nadia juga ingin bertanya kepada Alden.
"apa yang ingin lo tanyain sama kita Nad? "
"emm sebenernya gue malu si mau ngomongin ini, tapi gue mau Alden jadi saksi kalo gue suka sama lo Dikta"
"apa? lo becanda kan Nad? "
"gue gak becanda Dikta, selama inibgue ngerasa kalo lo juga punya perasaan yang sama kan sama gue? " Dikta benar-benar terkejut dengan pernyataan dari Nadia. pasalnya ia tau selama ini ia cocok bekerja sama dalam tugas dengan Nadia karena Nadia sama-sama pendiam seperti Dikta.
"jawab pertanyaan gue tadi Dikta."
Nadia bangkit dari duduknya dan meraih tangan Dikta. Dikta yang mendapat perlakuan seperti itu membuat ia bingung harus mengatakan apa, sehingga ia menanyakan kepada Alden dengan bahasa matanya yang tentu saja di mengerti oleh Alden.
"tentu Dikta mau lo jadi pacarnya dong Nad, karena yang lo bilang tadi itu bener. Dikta emang punya perasaan yang sama kaya yang lo bilang tadi"
Alden dan Nadia tersentak mendengar nada suara Dikta yang tidak seperti biasanya, kali ini suaranya meninggi.
"tenang Nadia, Dijta kayak tadi karena dia malu gue ngomong sebenernya. jadi lo gak perlu takut. kalian sekarang udah jadian kok, gue saksinya"
Nadia masih terdiam, namun Alden menarik tangannya dan menyatukan dengan tangan Alden. dan karena melihat Dikta hanya diam, akhirnya Nadia memeluk Dikta.
"gue gak nyangka sekarang kita jadian Dikta. karena jujur sebelumnya gue paling gak pingin yang namanya pacaran. tapi setelah gue kenal sama lo, gue tau bahwa masih ada cowok baik didunia ini. dulu gue nganggep semua cowok kayak bokap gue, yang suka nyakitin nyokap gue dan milih perempuan lain sampek bokap gue juga lupain gue Dikta"
'apa yang kamu lakuin Al, lo udah permainan hati cewek yang pernah trauma dengan sikap orang terdekatnya. dan apa yang bakal Nadia alami kalo dia tau gue gak ada perasaan apapun sama dia'
Ketika Nadia masih memeluk Dikta, Dikta terus menatap Alden. ia ingin meminta penjelasan kenapa Alden melakukan hal itu. yang jelas-jelas, Dikta sendiri tidak ingin melakukannya.
Perlahan Dikta melepas pelukan dari Nadia, ia menatap Nadia yang saat ini tengah bahagia.
"Ya udah ya Nad, sekarang lo balik. gue gak enak kalo pegawai gue tau PACAR gue disini. takutnya gue ngasih contoh yang gak baik"
Nadia mengulas senyum diwajahnya "gue emang gak salah jadiin lo orang yang berhasil ngebuka hati gue Dikta, sikap lo yang kayak gini yang bikin gue suka sama lo. ya udah, gue balik."
__ADS_1
Setelah Nadia meninggalkan ruangan Dikta, dengan segera Dikta menarik Alden hingga jarak mereka begitu dekat.
"apa yang kamu lakuin barusan Al, apa kamu gak mikirin perasaan Nadia kalo dia tau kalo gue gak ada perasaan apapun sama dia"
"Dikta, apa yang aku lakuin tadi itu udah bener. dengan kamu pura-pura pacaran sama Nadia, semua orang bakal berhenti berspekulasi yang nggak-nggak karena kejadian waktu itu kan Ta"
"apapun itu aku gak suka sama apa yang baru kamu lakukan"
"Please Dikta, kami harus percaya sama aku. dan kamu harus lakuin sama seperti kayak aku dengan pura-pura pacaran sama Dita kan? dan kamu jangan kayak tadi Ta, tadi kamu kaku banget waktu Nadia meluk kamu, harusnya kamu tunjukin kalo kamu itu kesannya suka sama dia. ini demi hubungan kita Dikta"
Saat itu niat hati Alden ingin menenangkan Dikta dengan mengecup dahi Dikta. namun setelah Alden melakukan hal itu Dikta tidak membalas dan justru melepas pelukan dari Alden.
"baiklah, kalo memang kamu bilang aku harus menunjukkan kalau aku seperti orang yang menyukai seorang gadis, aku akan menunjukkannya. sekarang kamu ikut aku"
Dikta menarik Alden keluar dari ruangannya, saat itu jalannya begitu cepat dan berhenti tepat di hadapan Nadia yang masih di depan restoran.
"Dikta, Alden, kalian kenapa? apa ada yang ingin kalian omongin sama gue? "
Dikta berjalan mendekati Nadia dan menatap Dikta lekat. kemudian ia berganti menatap Alden yang ada didekatnya.
"gue cuman mau Alden jadi saksi kalau gue emang suka sama lo"
Cup
Tanpa berkata apapun dengan Alden, Dikta mengecup kening Nadia dengan lembut. dan setelah itu Dikta mengecup beberapa detik bibir ranum Nadia sehingga membuat Alden membulatkan kedua matanya sempurna.
Sementara itu Nadia tertegun dengan apa yang dilakukan oleh Dikta terhadapnya. "sekarang lo balik ya Nadia, maaf gue gak bisa nganterin lo balik. Hati-hati di jalan okey? " Nadia mengangguk perlahan.
Seusai melakukan hal itu Dikta dan Alden kembali ke dalam ruangan Dikta. namun saat itu Alden terlihat sangat marah dengan apa yang ia lihat.
"apa yang kamu lakuin yadi itu bikin aku matahari Dikta"
"dan apa yang aku lakukan tadi hanyalah mengikuti saranmu agar aku terlihat sangat menyukai kekasihku Alden! jadi mulai sekarang kau harus terbiasa melihat kedekatanku dengan pacar pura-puraku" Dikta berlalu pergi meninggalkan Alden yang masih sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh Dikta.
"aku emang nyuruh kamu bersikap agar terkesan menyukai Nadia, Dikta. tapi bukan berarti kamu bisa bebas mencium orang lain didepanku Dikta" pekik Alden dengan matanya yang memerah.
. bersambung
__ADS_1