It'S Perfect

It'S Perfect
Mafia


__ADS_3

"Kita langsung kembali ke rumah Don, sepertinya kita belum aman!"


Dor


Dan benar apa yang dikatakan oleh Arga, keadaan memang belum aman. Dan hal itu terbukti seseorang menembak hingga terkena lengan Arga hingga mengeluarkan banyak darah.


"Pak Arga" pekik Lesya dengan sangat cemas melihat Lengan Arga yang terluka. Saat itu Lesya menekan luka Arga agar tidak terlalu banyak mengeluarkan darah. Mendapat perhatian seperti itu, tanoa sadar Arga terua memperhatikan wajah cemas Lesya.


"Cepat Doni!"


"Baik tuan"


Setelah melaju dengan kecepatan tinggi, Doni berhasil lolos dan membawa sahabatnya kembali dengan selamat meskipun dalam keadaan terluka.


Lesya dan Doni membantu Arga untuk masuk. Dengan segera Doni menyiapkan semua obat untuk Arga. Doni memang terbiasa untuk hal itu, sebagai pengusaha besar yang sangat berpengaruh, memang tidak jarang beberapa saingannya mengirim orang untuk mencelakai Arga. Namun hingga detik ini tidak satupun lawannya yang berhasil. Karena memang Arga sudah mempunyai bekal untuk itu. Tidak hanya menggunakan otak yang cerdas, latihan fisik juga dilakukan oleh Arga.


Saat itu Doni segera melepas jas dan juga kemeja yang dikenakan oleh Arga, seperti biasa Arga tidak ingin dibawa kerumah sakit. Karena ia tau jika dia dibawa ke rumah sakit, itu akan membuatnya tidak aman. Dan Doni lah yang biasa mengobati luka Arga. Beruntung, saat ini Peluru hanya menyerempet tangannya dan tidak bersarang didalam sana.


Sebenarnya Lesya sesikit canggung karena Arga yang bertelanjang dada, namun karena keadaan Lesya tetao berada disitu untuk membantu Doni.


"Tolong pegang ini nona, aku akan mengguntingnya!"


Dengan ragu Lesya memegang perban yang saat ini membalut luka dilengan Arga.


Tring..


Dering ponsel berdering, saat itu Lesya menyadari bahwa ponselnyalah yang berbunyi.


"Permisi pak, saya mau angkat telfon dari suami saya."ucapan Lesya hanya diangguki oleh Arga.


"Iya Saga.."


"Kamu dimana Sayang, aku berada didepan kantormu, tapi satpam bilang udah gak ada orang didalam?"


"Aku ada di rumah pak Arga Saga!"


"Apa? Buat apa kamu kesitu Lesya?"

__ADS_1


"Tadi waktu perjalanan pulang, ada yang nyerang kami Saga!"


"Oke, kalo gitu aku kesana, kamu shareloc alamatnya sekarang"Saga terdengar sangat cemas diseberang sana. Lesya pun segera mengirim alamat rumah yang ditempati oleh Arga.


Setelah beberapa saat Saga telah sampai ditemoat itu. Ketika ia melihat istrinya, Saga langsung memeluknya dengan begitu erat. Tiba-tiba ia teringat ketika mendemgar Alden mengatakan alasaannya tidak mengatakan dia yang menghamili Friska.


"Aku gak akan biarin kamu kenapa-napa sayang, aku juga gak akan biarin seorangpun ngelukain kamu bahkan ngerebut kami dari aku!" Ucap Saga dengan sesekali mencium puncuk kepala Lesya demgan lembut.


"Saga, gak ada yang lukain aku apalagi ngerebut aku dari kamu Saga.."Lesya berusaha menenangkan.


Setelah mendemgar ucapan Lesya, ia beralih menatap Arga yang terduduk dengan pakaian santainya.


"Gua heran, sebenernya lo itu orang yang gimana? Kenapa setiap istri gua pergi sama lo, selalu aja ada yang ngebahayain istri guam? atau jangan-jangan lu itu Mafia"


"Tolong jaga bicara anda dengan tuan Arga!" Hardik Doni


"Gua ngomong apa adanya! Gua curiga sama lo. Sebenernya lo itu orang kaya apa? Kenapa bisa ada penyerangan kaya gini?"


"Kamu tidak perlu tau, karna kamu bukan pegawaiku. Dan untuk kamu Doni, segera lakukan apa yang aku perintahkan!"


"Baik tuan Arga, dan untuk kalian berdua, lebih baik kalian tetap disini karena saya mendapat laporan masih ada beberapa orang mengintai rumah ini." Sahut Doni dan segera melenggang pergi.


Saat itu Lesya dan Saga segera masuk kekamar tamu yang sudah disiapkan. Saga kembali memeluk erat istrinya. Ia merasa sangat cemas . "Apa kamu benar-benar tidak pa-pa sayang?"


"Aku sangay takut Saga, aku pikir aku tudak bisa bertemu sama-"


"Ssstt.. jangan ngomong kaya gitu, sekarang kamu aman. Ada aku disini okey?"Lesya mengangguki ucapan Saga.


Namun saat itu Saga melihat pakaian Lesya yang terdapat noda darah.


"Sayang, kamu bersihkan diri kamu. Pasti sangat tidak nyaman dengan pakaian yang terkena darah itu kan?"


"Sebenarnya aku memang sangat ingin mandi Saga, tapi akau gak ada baju ganti."


Saga memikirkan sesuatu, namun ia segera memberi solusi untuk Lesya.


"Kamu pakai kaos aku, nanti kalo baju kamu udah kering, kamu bisa pakek itu lagi"

__ADS_1


Karena tidak ada pilihan lain, Lesya menyetujui saran dari suaminya. Dan setelah mengahbiskan waktu beberapa menit, Lesya sudah keluar mengenakan kaos Saga yang terlihat kebesaran. Namun hal itu justru membuat Lesya terlihat sexy dimata suaminya.


Saat itu Saga segera menyuruh Lesya untuk segera berbaring disampingnya. Karena masih merasa takut karena kejadian yang baru menimpanya, dengan senang hati Lesya tidur disamling Saga.


Saga yang menyadari ketakutan diwajah Lesya, ia segera menarik isyrimya kedalam dekapannya. Dan Lesya akhirnya terlelap dengan memeluk suaminya.


Sementara itu di tempat lain, Dikta tengah menenangkan Alden yang sangat merasa bersalah dengan Saga. Ia merasa apa yang saat ini menimpanya adalah sebuah karma baginya karena sudah menelantarkan calon anaknya.


"Alden, lebih baik lu istirahat. Ini udah larut malam, gak baik buat kesehatan lu!" Titah Dikta, namun Alden tidak mengindahkan ucapan Dikta dan justru pergi kebalkon kamarnya menggunakan kursi rodanya.


"Gua belum nagntuk Ta, kalo lu mau tidur, lu tidur aja duluan. Gua masih mau disini!"


Dikta akhirnya mendekat kearah Balkon, Dikta kemudian memutar kursi roda hingga Alden saat ini duduk menghadap kearahnya.


"Semua orang pasti pernah ngelakuin kesalahan Alden. Tapi orang itu akan berusaha memperbaikinya, bukannya lemah kaya lu sekarang!"


"Gua gak lemah Dikta!"


"Kalo lu gak lemah, kenapa selarut ini lu masih bengong dan lu gak mau istirahat. Lu justru nyalahin diri lu sendiri kaya gini hemm?"


"Itu karna gua nyesel pernah berbuat kaya gitu Dikta! apa gua bilang aja soal kak Saka?" Alden sedikit berteriak.


"kalo lu emang nyesel, gak kaya gini caranya Alden. sekarang lebih baik kita cari cara supaya Saga mau denger penjelasan lu. jangan terus lu berlarut meratapi kesalahan yang udah lu lakuin. itu gak guna sama sekali! gua juga gak mau lihat Saga sama kak Saka berseteru. lebih baik kuta pantau kak Saka, kalo emang dia udah melebihi batas, gak ada pilihan lain Al"


setelah mengucapkan hal itu, Dikta langsung memgangkat tubuh Alden dan membawanya keranjang Alden. namn saat Dikta hampir sampai, ia justru tersandung karpet sehingga ia menimpa Alden diatas ranjang dengan bibir yang menempel tepat di ceruk leher Alden.


deg deg deg


entah kenapa saat itu detak jantung Dikta menjadi tidak beraturan. menyadaei hal itu, ia segera bangkit dan segera membantu Alden untuk duduk.


"sorry Al gua kesandung, apa kaki lu sakit?" tanya Dikta sedikit terbata


"enggak kok Ta, maaf gua ngerepotin lu terus." entah kenapa saat ini suasana menjadi sedikit hening dan canggung.


.


.bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2