
"apa yang kak Saka katakan, bercandamu itu membuat istriku terluka!" Saga menempelkan plaster dijari Lesya yang terluka.
Saga lalu mendudukkan Lesya di dekat ia berdiri. dikenakanlah celemek oleh Saga dan kini mulai meraih sayuran yang sudah di potong oleh Lesya.
"kamu mau apa Arvin?"
"kamu lihat saja apa yang suamimu ini lakukan untukmu" Saga menyunggingkan senyumnya dan kini berganti melirik Saka yang pergi dengan wajah kesalnya.
Saga menatap Saka yang kini memunggunginya berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas. 'sebenarnya apa tujuan kak Saka mengatakan hal itu kepada Lesya?'
setelah beberapa menit, Saga menyuguhkan semangkuk sup dan ayam goreng, Saga juga tak lupa menyiapkan sambal.
Saga lalu mengambil lauk dan juga Nasi dalam satu piring, ia duduk di kursi di depan Lesya. Saga dengan antusias hendak menyuapi Lesya, namun tangannya dihentikan oleh Lesya.
"Arvin, kamu dulu melarangku untuk memakan banyak sambal. tapi apa ini, kau menggodaku hemm?" Lesya mencembungkan pipinya menatap Saga.
'jadi Lesya sangat menurut dengan Arvin, bahkan apa yang menjadi kesukaannya, jika Arvin yang melarang dia akan menurutinya begitu saja!' sesaat Saga merasa cemburu mengetahui hal itu, namun ada senangnya juga di dalam pikirannya karna saat ini Lesya menganggapnya Arvin, dengan begitu Lesya akan menuruti apapun keinginannya.
"jadi kamu masih mengingatnya?" tanya Saga dengan mengangkat sebelah alisnya.
"tentu saja, apapun yang kamu inginkan selalu aku ingat Arvin!"
"lalu kalau mengenai yang romantis, apa yang kamu ingat dariku?" sambung Saga.
"huh, kau sangat kuno Arvin? kamu bahkan jarang memelukku saat kita pacaran dulu, kamu hanya menggengam tanganku itupun saat aku ketakutan karna ada petirkan waktu itu" Lesya mengerucutkan bibirnya sembari menatap lekat Saga.
"itu berarti Arvin tidak pernah menciummu Lesya?" Saga reflek mempertanyakan hal itu.
"hei Arvin.. memang siapa Arvin? kamu bisa menyebut dirimu dengan aku bukan seperti menyebut nama orang lain."
Saga lalu mengukir senyum di wajahnya dan mulai mendekat, "aku hanya bercanda sayang..."
seketika Wajah Lesya bersemu merah dengan senyum malu-malunya. "oh ya Arvin, kenapa dulu kamu bahkan tidak mau memelukku apalagi menciumku hemm? apa aku ini menakutkan!" begitu blak-blakan ucapan Lesya sebagai seorang perempuan. dan hal itu membuat Saga semakin mengembangkan senyumnya. bukan hanya karena sikap blak-blakan Lesya, namun ia juga lega karna dialah yang pertama dalam segela hubungan intens yang dialami oleh Lesya.
"katakan Arvin, apa alasanmu hemm?"
"sudahlah itu tidak penting sekarang, yang penting kamu harus makan sekarang okey?"
"Aaaa..."
"jadi sekarang aku boleh memakannya banyak-banyak Arvin?" Saga mengangguki ucapan Lesya dengan senyum manisnya.
sesuap demi sesuap masuk kedalam mulut mereka bergantian! dan sesekali Saga mengelap nasi yang ada disudut bibir Lesya. 'ternyata dibalik perfectnya Lesya, ada sisi manjanya juga. jadi bikin gumush' itulah yang ada di benak Saga.
seusai menyantap sarapannya, Saga dan Lesya sudah bersiap untuk kegiatan mereka masing-masing. namun sebelum berangkat, kali ini Saga memutuskan untuk mengantar Lesya ke kantornya.
Saga mengantar Lesya tepat di depan kantor Lesya. disana sudah ada seorang pria yang tengah berjalan menuju ke arah mereka.
"Lesya.." seketika Lesya menoleh, matanya menyelidik siapa seseorang yang tengah berjalan dengan gagah ke arahnya.
matanya membulat, dan senyum di wajahnya mulai terlihat. Lesya berlari lalu memeluk pria tersebut sehingga membuat Saga menautkan kedua alisnya. "sekarang kau sudah dewasa ya.. dasar lele manja!" ucap pria tersebut.
"isshh, berhenti memanggilku dengan nama ikan.. wanita secantik aku mana mungkin cocok dengan sebutan itu, dasar nyebelin!" Lesya dengan gencar menggelitiki pria tersebut hingga pria itu menyerah. kini mereka terkekeh bersama tanpa perduli Saga masih di tempat itu.
__ADS_1
"eghem... Sayang, kamu tidak mengenalkan siapa dia denganku?" karena merasa tak tahan, akhirnya Saga lebih dulu membuka pembicaraan.
"astaga Arvin, kamu lupa?" Lesya mngernyitkan dahinya menatap Saga penuh selidik.
"aku tidak ingat Lesya"
"aku Dylan, sepupu Lesya. sepertinya kau banyak berubah Ar-vin" ucapnya ragu-ragu ketika menyebut nama Arvin.
"senang bertemu denganmu" Saga mengalihkan pandangannya kepada Lesya. "emm Lesya sayang, aku harus berangkat. kamu hati-hati disini!" Saga menatap Lesya dan berganti menatap Dylan dan berlalu pergi.
disepanjang perjalanan, Saga masih memikirkan tentang Dylan. selain ia masih penasaran, Saga juga sedikit takut jika Dylan akan memberitahu Lesya bahwa dirinya bukanlah Arvin. "dari yang aku tau dari kata-katanya tadi, sepertinya Dylan pernah bertemu dengan Arvin. namun ia tidak mengingat dengan baik rupanya."
"huff.. aku harap dia tidak akan mengingat Arvin yang asli, dan kalaupun dia ingat nanti, semoga papa dan mama sudah memberitaunya."
Saga kini memarkirkan Motornya ditempat biasanya. dan disana Saga sudah ditunggu oleh Liyora dan juga kedua sahabatnya.
"sayang..." Liyora langsung bergelayut manja di lengan Saga. dan hal itu hanya dibalas oleh senyum tipis dibibir Saga.
"sayang, nanti malam aku mau kamu jemput aku ya!"
Saga menatap Liyora yang tengah menyandarkan kepalanya di pundak Saga."memang nanti malam ada acara apa Liyora?"
"Saga, nanti malam itu ada party ulang tahunnya Rere temen sekelas kita. Alden sama Dikta juga kesana kok!"
Liyora melirik Alden dan juga Dikta.
"gua gak dateng, gua ada urusan sama Dikta. iyakan Ta?!" Alden mengedipkan sebelah matanya mengisyaratkan kepada Dikta untuk menyetujui ucapannya.
"kita lihat entar" sahut Dikta
"untuk apa si Liyora..?" Saga sedikit memprotes permintaan dari Liyora.
"biar semua tau kalo kamu milik aku, bukan milik cewe tua itu!"
"lebay banget si lu Ra, lagian Lesya juga gak mau kali sama pacar lu"sahut Alden yang mulai geram.
"siapa yang tau.. gue gak mau ya kalo sampek Saga tergoda terus punya anak sama cewe itu! ih amit-amit banget" ketus Liyora menimpali ucapan Alden.
💜💜
jarum jam sudah menunjuk angka 7 malam, dan saat itu ponsel Saga berdering. Saga segera mengangkat telfon dari seseorang.
"iya halo Ra"
"sayang kamu buruan deh jemput aku, aku gak mau ya kalo kita telat" ucap Liyora diseberang sana dan menekan tombol merah dan mengakhiri telfonnya.
"sshhh" Saga berdecak kesal karena menanggapi sikap kekanakan dari Liyora.
"ada apa Arvin, kenapa kamu sepertinya kesal?" tanya Lesya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Saga yang mendapati Lesya sudah berada dihadapannya, ia merasa sedikit gugup saat tiba-tiba Lesya menanyakan tentang kekesalannya. tidak mungkinkan jika Saga harus menceritakan tentang Liyora dihadapan Lesya.
"emm ini sayang, aku harus mengambil materi ditemenku karna tugasnya harus diselesaikan malam ini juga!"
__ADS_1
"oh gitu, jadi malam ini kamu gak bisa anter aku buat ke acara pesta anak klien aku?"
"emm sorry banget ya sayang aku harus pergi sekarang" Saga mengecup kening Lesya dan segera pergi untuk menjemput Liyora.
setelah kepergian Saga, Lesya pun kini sudah bersiap. saat ia sampai di ruang tamu, ia bertemu dengan Saka yang saat itu hendak keluar.
"kak Saka, kakak mau kemana?"
"aku akan pergi ke acara ulang tahun mitra bisnisku, pak Budi Lesya. kau mau kemana?"
"oh aku juga akan kesana, bagaimana jika kita pergi bersama kesana kak?"
"tentu saja, ya sudah ayo berangkat!"
"tunggu" Lesya menghentikan langkah kakinya sehingga Saka pun ikut terhenti. "kak Ella mana?" sambungnya lagi.
"emm dia sedang ada acara, jadi dia tidak bisa ikut!" Saka hanya beralasan. pasalnya dirinyalah yang menyuruh Ella untuk pergi berbelanja agar tidak ikut dengannya ke acara itu. karena ia tau Lesya pun juga akan pergi kesna.
-
Lesya dan Saka berjalan menuju ke ruangan utama acara ulang rahun rekan bisnis mereka. Netra Saka tak lekang dari Lesya yang terlihat begitu menawan.
"acara anak muda memang seperti ini ya kak?" Lesya menatap Saka yang ada di sebelahnya.
"ya memang Lesya. tapi kamu juga masih sangat muda, tapi kamu sudah punya bisnis besar dan tidak mengandalkan orang lain!" Saka mengukir senyum sembari menatap Lesya.
"ah kak Saka berlebihan, aku juga bisa seperti ini karena orang tua aku kak.." Lesya mengedarkan pandangannya, ia menemukan sebuah kerumunan yang menyita perhatiannya. karna disana seperti ada hal yang menjadi pusat perhatian.
"kita liyat kesana kak, aku sangat penasaran ada apa disana?"
"tentu, mari!"
Saka dan Lesya membelah kerumunan dan ikut menyaksikan. terlihat seorang pria yang memunggungi mereka dengan bunga mawar yang ia ulurkan kepada seorang wanita cantik yang mengembangkan senyumnya.
"bunga yang cantik untuk orang yang cantik.."
Gadis itu meraih Bunga mawar dan menciumnya sekilas. lalu ciumannya berpindah tepat di pipi sang pria.
"romantis ya kak, tapi sepertinya pria itu kalo dilihat dari belakang mirip seseorang ya?" Lesya mendongak menatap Saka yang mengernyitkan dahinya.
"hei kalian, foto dong sama yang punya acara" seketika dua sejoli itu menghadap kearah pemilik acara yang kebetulan berada di sebelah Lesya.
prank..
gelas yang ada di tangan Lesya terjatuh saat ia tau dua sejoli tersebut tak lain adalah Saga dengan perempuan lain.
"Arvin.." lirih Lesya, namun masih bisa terdengar oleh telinga Saga. dan sontak pandangannya bertemu dengan netra Lesya yang mulai memerah.
"Lesya.."
.
.
__ADS_1
.bersambung
.