It'S Perfect

It'S Perfect
Magnet


__ADS_3

Saga terus menatap Lesya yang tengah menikmati makanannya. sebegitu menikmantinya, Lesya hingga tidak menyadari jika Saga terus memperhatikannya.


dan sesekali Lesya pun memandangi Saga yang tengah menikmati makan siangnya dengan lahab.


"Saga, kamu kalo makan kebiasaan" belum sempat Saga membalas ucapan Lesya, Lesya lebih dulu mengusap pelan noda di sudut bibir Saga dengan ibu jarinya.


'ni cewe kok bisa ya kaya gini, abis bersihin bibir gua langsung makan lagi? emang dia gak deg deg-an gitu? ini kenapa malah gua yang jadi salting'


"abis ini gua langsung cabut ya mba, tapi mba Lesya jangan ngomong sama mami! nanti kalo mami tanya, mba Lesya bilang aja kalo gua lagi tidur di ruangan mba Lesya di kantor!"


mendengar ucapan Saga, seketika Lesya menautkan kedua alisnya. ia masih belum memahami kenapa Saga harus membohongi ibunya sendiri.


"memangnya kamu mau kemana Saga?"


"ya mau nyamperin cewe gua lah mba, mau ngapain lagi? ya kali gua nungguin mba disini!"tanpa memikirkan perasaan Lesya, Saga pergi begitu saja.


Saga menyusuri padatnya jalanan yang dipenuhi lalu lalang pengendara dan juga pejalan kaki. ketika Saga sampai disebuah persimpangan jalan, ia melihat Saka dengan seseorang yang saat ini ingin ia datangi di balik dinding kaca transparan disebuah kafe.


"ngapain kak Saka ketemu sama Liyora? apa ada yang gua gak tau?"


saat itu Saga langsung mendatangi Liyora yang duduk sendiri setelah kepergian Saka. sontak Liyoa berdiri karena melihat kedatangan Saga.


"hei babe, kamu kok tumben ke kafe ini?"


Saga lalu mengukir senyum dan mendudukkan Liyora di kursi yang tadi Liyira duduki. "apa aku gak boleh kangen sama pacar?"


"iya boleh dong Saga! tapi, kok kamu tau aku disini?"


"emm itu feeling dari pacar yang kangen sama pacarnya. dan satu lagi, daya tarik kamu kaya magnet kuat banget! makanya aku langsung ke tarik kesini"


"ih gombal deh Saga"


'apa tadi Saga lihat kak Saka disini ya?'


Liyora mengampit bibirnya merasa sesikit gusar.


"emm kamu disini sendirian Yora?"


"emm iya Saga, aku bosen dirumah makanya aku kesini. kamu si sering gak bisa diajak jalan, mana kemarin aku gak di anterin pulang!" Liyora menggembungkan pipinya sehingga terlihat sangat lucu.


"iya maaf Yora, kamu tau kan apa yang bikin aku gak bisa nganterin kamu!"


"iya gegara nyokap kamu belain si cewe tua itukan?"

__ADS_1


"udah jangah jangan kesel terus nanti keriputannya nambah banyak, kamu mau nanti cepet tua?"


"ihh amit-amit deh Saga! ya udah ayo jalan, aku mau belanja kamu temenin aku!"


"siap bu boss"


'sebenernya apa yang kamu tutupin sama kakak aku Yora? kenapa kamu gak jujur kalo abis ketemuan sama kak Saka?'


-


Dikta dan Alden tengah menikmati permainan game mereka masing-masing. namun lagi-lagi pikiran Dikta terus terpagut pada seseorang yang membuat perasaannya sesikit gundah.


"Al gua cabut dulu ya, ada urusan"


"yok santai cabut aja"


Dikta lalu melajukan motornya cukup cepat, karena jam sudah menginjak ja delapan malam jalanan masih ramai. ia harus sesikit bersabar untuk segera sampai pada temoat tujuannya.


setelah hampir 30 menit, Dikta akhirnya tiba. ia turun dari motor yang ia kemudikan. ia menatap kesebuah rumah yang pernah ia datangi. terlihat sepi tanpa kehidupan, konisi rumah pun dalam keadaan gelap tanpa penerangan.


"apa Friska gak ada di rumah? kenapa rumahnya gelap banget?" akhirnya Dikta memutuskan untuk bertanya dengan seseorang yang tengah berjalan kaki melewatinya.


"permisi bu, apa ibu tau dimana gadis yang pernah tinggal di rumah ini?"


"iya bu, Friska!"


"kemarin dia si usir sama anak buah rentenir, bahkan nak Friska sempat di hajar sama anak buah rentenir karena gak bisa bayar utang, dan sekarang saya juga gak tau dia kemana."


"terus warga disni gak ada yang bantuin Friska bu?"


"gak ada yang berani dek, kalo sampek ada yang berani nolongin pasti langsung di buat babak belur sama orang-orang itu, bahkan mereka mengancam akan mengganggu keluarga kami jika menolongnya dek!"


"tapi emang kalian gak kasihan lihat gadis di perlakukan seperti itu? dimana nurani kalian?"Dikta menggebu-gebu dan membuat orang yang ditanyainya sedikit takut sehingga,


"maaf ya dek saya harus pergi!" tanpa menunggu balasan dari Saga orang itu langsung berlari karena mulai takut dengan Dikta yang entah sejak kapan bisa semarah ini.


"lo dimana Friska, kenapa lo gak ngubungin gua. kenapa lo gak bilang jika harus menghadapi masalah seperti ini?besok gua harus cari dia!" Dikta menggertakkan gigi-giginya dengan rahang yang mengeras.


disisi lain Friska begitu kesal karena ditinggal sendirian di sebuah kamar apartemen. karena merasa bosan, Friska memutuskan untuk keluar kamar. pandangannya menyusuri tiap sudut ruangan dengan nuasa maskulin khas apartemen pria.


Friska berdecak kagum ketika mendapati ruangan yang tertata sangat rapi dengan desain interior yang elegan namun tidak berlebihan.


"gue gak lihat ada pembantu disini! tapi apartemen ini bersih dan sangat rapi.!"

__ADS_1


"Friska!"


Friska menoleh ke sumber suara yang tadi memanggilnya. "Aaaaaa..."Friska menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


"kak Dylan buru masuk ke kamar kakak, cepetan pakek baju sana" masih dengan mata yang tertutup, Friska meneriaki Dylan untuk segera mengenakan pakaiannya.


"ah iya sorry Friska" Dylan pun menyadari bahwa dirinya hanya mengenakan handuk yang melilit bagaian bawahnya sebatas pinggang, iapun segera menutup pintu kamarnya.


selang beberapa saat Dylan keluar kamarnya. Dylan mendapati Friska yang duduk di ruang tv sekaligus ruang tempat ia biasanya bersantai.


Dylan lalu berjalan kearah Friska dengan membawa plaster dan beberapa salep untuk mengobati Friska.


"kak Dylan hutang penjelasan sama aku!" Friska menatap Dylan yang saat itu ada di sampingnya.


"memang apa yang harus aku jelaskan Friska?" tanya Dylan dengan fokus yang tertuju pada luka yang ada di tangan Friska.


"kak Dylan kenapa bikin aku di pecat dari kerjaan aku" pekik Friska memekakkan telinga Dylan yang ada disebelahnya.


"kamu bilang itu pekerjaan Friska?" Dylan menatap lekat manik mata Friska yang saat itu terluhay sangat lesal terhadapnya.


"itu bukan pekerjaan Friska, itu adalah jalan keliru yang membuat orang akan semakin terjerumus!"


"ya, mungkin dimata kakak itu jalan keliru. tapi itu satu-satunya jalan supaya aku bisa pertahanin rumah peninggalan ayah aku kak! dan aku sekarang harus kehilangan rumah itu karena aku tidak bisa membayar hutang!" Friska begitu menggebu-gebu penuh emosional.


"masih banyak jalan buat dapetin uang, tapi bukan berarti kamu harus mengorbankan diri kamu Friska. masa depan kamu masih panjang!"


"masa depan? untuk perempuan sekotor aku, gak ada yang namanya masa depan!"


"jangan anggap dirimu rendah! karna kamu tidak tau jika kamu berharga untuk orang lain!"


"tapi aku-"


Dylan menarik Friska kedalam pelukannya, entah kenapa sejak bertemu Friska ia merasa begitu simpatik terlebih saat ia tau fakta kehidupan yang Friska alami.


"menangislah, anggaplah aku seperti kakakmu sendiri" mendengar ucapan Dylan, Friska semakin membenamkan wajahnya didalam pelukan hangat Dylan seolah membuat Friska berada didalam dekapan saudara kandungnya.


.


.bersambung


.


.

__ADS_1


__ADS_2