It'S Perfect

It'S Perfect
Nyeri Ulu Hati


__ADS_3

Dylan membawa Kenan kerumah sakit terdekat dari rumahnya, saat itu Dita terus menangis karena keadaan Kenan yang semakin memburuk.


"Tenanglah Dita, Kenan itu kuat!"


Dylan terus menenangkan Dita.


Selang beberapa menit dokter sudah membolehkan Dita untuk menjenguk adiknya yang masih belum sadarkan diri.


Saat itu Yoo joon juga tiba karena Dylan yang memberitaunya.


Melihat kedatangan Yoo joon, lagi-lagi Dita menghambur kedalam pelukannya seperti yang ia lakukan saat itu dirumah sakit ketika Dylan juga ada didalam ruangan tersebut.


"Kak Yoo joon, Kenan kak Kenan.."


Tangisnya pecah begitu saja.


Saat itu Yoo joon langsung menenangkan Dita yang terisak didslam pelukannya. "Hei.. jangan seperti ini. Kenan tidak akan suka melihat kakaknya sperti ini. Kamu harus semangat untuk membuat Kenan bertambah semangat okey.."


Dita menyeka airmatanya dan mengangguki ucapan Yoo joon. Dengan seketika hal itu membuat Dylan mengerutkan dahinya.


'Aku baru tau kalau mereka spertinya memiliki perasaan satu sama lain' batin Dylan.


Yoo joon lalu melihat Dylan yamg ada dibelakang Dita. Sontak apa yang ia lihat saat itu kembali menguasai pikirannya.


Yoo joon lalu melepas rengkuhannya.


"Emm sorry Dylan, aku tidak bermaksud"


Mendengar ucapan Yoo joon, Dylan dan Dita menatapnya penuh tanya.


'Aku memang mencintaimu cukup lama Dita. Tapi setelah aku melihatmu dengan Dylan, aku sadar aku harus merelakan kamu supaya kamu bahagia. Dan untuk perasaanku, biat aku yang memgatasinya.'


-


Saga melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang cukup kencang. Ia berulang kali melihat kebelakang melihat Lesya yang masih belum sadarkan diri.


"Ini kenapa jalanan malah macet banget?" Saga berulang kali menekan klakson mobilnya, namun karena padatnya pengguna jalan membuat mobilnya hanya melaju beberapa jengkal saja setiap lima menitnya.

__ADS_1


"Ini gak bisa dibiarin"


Saga kemudian keluar dari mobilnya dan segera menggendong Lesya. Ia mulai melewati tiap celah diantara kendaraan yang mengantri ditengah kemacetan.


"Kamu sabar sayang, sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit"


Saga sudah melewati sekitar satu kilometer antrian para pengendara karena kemacetan, dan juga melalui sekitar dua kilometer jalanan normal. Namun ketika ia mencari kendaraan umum, ia tidak mendapatkannya sama sekali.


Karena jarak yang sangat jauh, hal itu membuat langkahnya yang terpogoh-pogoh karena Lesya yang ada digendongannya. Namun saat ini Lesya mulai sadarkan diri, tetapi bukannya membaik Lesya justru semakin merasakan sakit diperutnya.


"Saga" lirihnya.


Seketika Saga melihat istrinya yang sudah membuka matanya namun masih sangat lemah. Saga bertambah cemas ketika melihat Lesya semakim pucat.


"Saga turunkan aku, kamu sudah sangat kelelahan." Dengan mengumpulkan tenaganya, Lesya mengusap peluh yang mengalir dari dahi Saga. Lesya merasakan tiap hembusan nafas Saga yang terengah. Saat itu pula Saga terus menatap dalam istrinya, ia mengulas senyum tipis diwajahnya.


"Hei.. mba Istri lupa, aku ini Saga! Suamimu yang sangat kuat. Dan aku akan membawa istriku kerumah sakit dengan cara seperti ini, karena apa? Karna aku cemburu dengan sofa mobil yang kau duduki"


Saga masih berusaha menutupi kekhawatirannya agar Lesya lebih enjoy dan mengurangi rasa sakit yang ia rasakan saat ini.


Mereka terus berbincang hingga setelah beberspa menit mereka telah sampai di lobbi rumah sakit.


Saat itu Saga segera membawa Lesya untuk segera ditangani oleh dokter.


Setelah melakukan pemeriksaan, Saga menanyakan banyak hal kenapa istrinya bisa merasakan sakit seperti itu.


"Begini pak Saga, Nyeri ulu hati saat hamil juga cukup umum terjadi, terutama di trimester kedua dan ketiga kehamilan. Keluhan ini bisa disebabkan oleh melemahnya katup pada lambung dan tenggorokan, sehingga asam lambung mudah naik ke kerongkongan (refluks).


Untuk mengurangi nyeri ulu hati, Bumil bisa makan dalam porsi kecil, tapi lebih sering, kurangi atau batasi konsumsi makanan pedas dan berlemak, hindari kebiasaan berbaring setelah makan, dan coba gunakan bantal agar kepala berada lebih tinggi dari kaki saat berbaring"


Penjelasan dari dokter akhirnya membuat Saga teringat ketika Lesya sebelum berangkat ke kantor. Saat itu Lesya memasak nasi goreng dengan menambahkan banyak cabai kedalamnya.


Didalam perjalanan pulang ketika didalam taksi, Saga terus mengusap perut Lesya dengan lembut. Sesekali ia juga mengecup puncuk kepala Lesya.


"Saga.." lirih Lesya, ia merasa tidak enak dengar driver taksi yang mereka tumpangi.


"Gak papa kan ya bang kalo saya perhatian sama istri saya yang lagi hamil?" Saga justru menanyakannya langsung kepada sang supir.

__ADS_1


"Iya gak papa mas, justru harus lebih perhatian mas. Dulu saya malah disurih pakek daster sama istri saya"


Seketika Lesya mencubit pinggang Saga untuk menghentikan Saga. Sontak hal itu membuat Saga sesikit terjingkat, namun Saga kemudian mengembangkan senyumnya melihat Lesya yang tersipu malu.


Sesampainya di rumah, Saga langsung membaringkan istrinya diranajang untuk beristirahat. "Sayang aku mandi dulu ya, setelah ini aku yang masak biar kamu gak banyak-banyak masukin cabe nya"


"Hemm.." sahut Lesya yang mulai terbawa dialam bawah sadar.


Dan tanpa mereka sadari. ketika Lesya terlelap, Liyora masuk kekamar mereka secara diam-diam. Disana ia membawakan minum untuk Lesya. Namun semua itu hanyalah alasannya, saat ini ia sebenarnya mencari keberadaan Saga.


Selang beberapa menit Saga keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaiannya dan rambutnya yang basah. Seketika hal itu membuat Liyora terperanjat kagum dengan keindahan yang ada dihadapannya.


"Dina? Ngapain kamu masuk kekamar saya?"


"Eh ini mas Saga, saya cuman mau nganterin minuman"


"Oh ya udah taro aja di meja Din. Sebenernya ini bukan tugas kamu, disini kamu cukup perhatiin kak Saka aja biar dia bisa lebih cepet pulih"


"Nggak pa-pa mas, saya kan juga mau mba Lesya cepet sembuh. Oh ya emang mba Lesya sakit apa si mas Saga?"


"Oh itu Din, Lesya hanya mengalami aoa yang biasa dialami oleh perempuan yang sedang hamil muda"


"Gitu ya mas, ya sudah saya permisi ya mas Saga." Liyora segera bergegas pergi.


Dan ketika ia sampai diluar kamar Saga, ia begitu kesal karena lagi-lagi rencananya untuk membuat Lesya keguguran ternyata gagal total. Dan hal itu justru membuat Saga semakin perhatian dengan Lesya.


"Lihat aja gue gak akan nyerah. Jangan panggil gue Liyora kalo gue nyerah gitu aja!"


"Jadi kamu Liyora?"


Sontak Liyora membulatkan kedua matanya karena Saka mengetahui identitasnya.


.


.bersambung


.

__ADS_1


__ADS_2