It'S Perfect

It'S Perfect
Menangani Sebagian


__ADS_3

Dalam waktu beberapa menit Dylan bersama dengan yang lainnya sampai di sebuah pulau milik Arga, disana mereka disambut oleh beberapa pelayan dan juga sudah disiapkan banyak bodyguard untuk menjaga mereka.


"Dylan, secepatnya kamu urus mereka. jangan sampai Elgara kenapa-napa karena ulah mereka"


"dan jalan satu-satunya, kita hrus mengusik tentang usaha ilegal mereka" sahut Arga.


Dan ucapannya itu berhasil membuat Saga Lesya dan juga Dylan menoleh ke arahnya. ketiganya berpikir keras, namun saat itu Lesya segera mengambil keputusan.


"aku setuju, dengan kita mengusik bahkan bila perlu kita bongkar semua kejahatannya. agar fokusnya ingin mencelakai keluargaku terbagi dan mengurus bisnisnya" tegas Lesya.


"Tapi Lesya, itu bahaya. bisa jadi Agra akan lebih nekat"


"Biar aku yang mengurusnya, karena ini adalah aku yang penyebabnya" sahut Saga.


"tapi apa yang akan kau lakukan jika usahamu saja jatuh di tangan kakakmu?" timpal Arga.


"memang ada yang jatuh kenangannya, tapi tidak semuanya. dan semuanya masih baik-baik saja berkat istriku dan orang-orang terdekat kami yang membantu mengurusnya sejak aku tidak ada bersamanya. dan sekarang akan aku buktikan, kualitas apa yang ku miliki hingga usaha kecilku menjadi salah satu perbincangan dan menjadi seperti saat ini."


"lalu bagaimana caranya kau menangani Agra kalau kau fokus dengan coffee shop milikmu?" Lagi-lagi Arga mencecar Saga dengan pertanyaan-pertanyaannya.


"kau tidak perlu pusing memikirkannya tuan Arga, aku yang akan menanganinya"


Setelah mengucapkan hal itu, Saga menjauh dan menghubungi orang beberapa kali. dan hal itu membuat yang lain menjadi penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Saga.


_


Sementara itu saat ini Yoo joon dan Andi menangani perusahaan Lesya. setelah kembali ke kantor, Yoo joon menerima telfon dari Saga. saat itulah Saga mengatakan beberapa hal yang harus Yoo joon lakukan.


"Andi, aku harus ke kantor Ayahku yang ada di luar Negeri. aku harap kamu bisa menangani urusan di kantor ini. aku tidak akan lama, hanya beberapa hari saja"


"baik Pak, aku akan berbuatvsebaik mungkin untuk perusahaan ini"


Setelah Yoo joon meninggalkan Andi di mejanya, saat itulah Andi tertegun dengan kehadiran Via. Dengan segera Andi ingin menghampiri Via di mejanya. namun ia mengurungkan niatnya ketika mengingat disaat Via menandatangani surat perpisahan mereka. Dan Andi juga mengingat tentang apa yang dikatakan oleh Doni.


"Pagi Via, aku kesini untuk membantumu"


"bagaimana dengan Arles Company? bukankah tuan Arga sedang tidak ada? "


"aku akan menangani sebagian, sementara itu Arga akan menangani melalui laptopnya" Via mengangguki ucapan Doni dan kembali berkutat dengan komputernya.


Doni yang melihat ke arah Andi, ia segera mendatangi meja Andi. dimana saat itu Andi segera memperhatikan komputer didepannya meskipun pikirannya entah kemana.


"pagi Andi" sapa Doni

__ADS_1


"pagi pak Doni" balas Andi sembari mengerjakan sesuatu didalam komputernya.


"bagaimana keadaan disana? "


"mereka akan melakukan sesuatu untuk menangani orang yang ingin mencelakai bu Lesya. sementara perusahaan aku dan pak Yoo joon yang akan menghandlenya. tapi tadi barusan pak Yoo joon mengatakan akan ke luar negeri ke perusahaan ayahnya untuk mengerjakan sesuatu"


"baiklah, mari bekerja sama untuk perusahaan ini. kita tidak akan mencampur adukan masalah di luar kantor"


"memang kita memiliki masalah apa pak Doni?"


Pertanyaan Andi menghentikan langkah Doni yang hendak meninggalkan mejanya. saat itu Doni mengerutkan dahinya menatap Andi meminta penjelasan.


"aku tau kau mempunyai perasaan kepada Via, tapi apa kau lupa pak Doni? masalah sebenarnya ada pada tuan Arga, dia yang menghamili Via, dan dia tidak mau mengakuinya. bukankah dia bisa sekaligus sahabatmu kan tuan Doni? tapi kenapa dia tetap melakukan hal itu kepada Via ha?"


Andi meninggikan suaranya hingga membuat Via tersentak dan segera mendatangi Andi dengan Doni.


"kenapa kalian membawa masalah ini ke kantor? tolong jangan permalukan aku disini!" Via menatap sendu kedua lelaki yang tengah bersitegang.


"bukan begitu Via"


'apa mereka sudah sedekat itu hingga pak Doni memanggil Via tanpa sebutan Nona seperti dulu?'


"terserah kalian saja, sekarang aku tidak perduli"


melihat Via terjatuh, Dikta segera keluar dan membantu Via.


"astaga, maafkan aku Via. biar aku bantu berdiri"


Ketika Via hendak berdiri,kakinya terasa sakit dan ia tidak bisa berjalan. dengan segera Dikta menggendongnya dan membawanya dengan mobilnya.


"kenapa Dikta membawa Via? " tanya Andi dan Doni bersmaan.


"neng Via tadi lari terus nabrak mobilnyanya pak Dikta, pak. sepertinya tadi terkilir" ujar satpam kantor.


"apa? nabrak? "


"heh, kamu mau kemana Andi? " tanya Doni


Melihat Andi yang hendak berlari ke area parkir, Doni segera memanggil Andi.


"kamu tidak bisa meninggalkan kantor Andi, ingat tanggung jawabmu disini?"


Setelah mendengar kata-kata dari Doni, Andi ingat saat ini tidak ada Lesya dan Yoo joon. bahkan Dylan juga tidak ada, maka ia harus mengurus kantor tersebut. akhirnya Andi menuruti ucapan Doni dan kembali ke dalam kantor.

__ADS_1


Sementara saat ini Dikta membawa Via ke dokter. setelah menunggu beberapa menit, Via keluar dengan Medicrepe di kakinya dan juga tingkat di tangannya.


"biar aku bantu Via"


"Terima kasih pak Dikta"


"sebelumnya aku minta maaf karena aku tadi tidak melihatmu" Dikta merasa sangat bersalah.


"tidak pak, aku yang bersalah karena aku muncul tiba-tiba"


'semua ini karena gue yang mikirin Alden terus, sampek gue nggak liat Via lari tadi'


"tapi kenapa kamu berlari Via? "


Via berjalan dengan melamun, hingga ketika ada seseorang di hadapannya ia terus melangkah. karena Dikta yang mengetahui hal itu, ia segera menarik Via hingga hampir terjatuh, namun Dikta menangkapnya.


"kau tidak pa-pa Via? " tanya Dikta sembari membantu Via berdiri.


"tidak pa-pa pak Dikta, Terima kasih kau sudah menolongku"


"maaf sebelumnya, tadi kami-" ketika meminta maaf kepada orang yang ia tabrak, tenggorokannya terasa tercekat.


"Dikta" ucap orang yang ada dihadapannya.


Dikta sempat terdiam, namun ia segera menetralkan dirinya agar tidak terbawa suasana.


"Dita, kenapa kau ada disini? " Dikta menatap Dita dan Alden di hadapannya dengan datar.


"gue mau-"


"kita mau memeriksakan kandungan Dita" sahut Alden yang memotong ucapan Dita.


"Iya Dikta, lalu kenapa lo disini? "


"Gue nganter temen gue, kakinya terkilir. ya sudah Dita, gue mau anter Via pulang"


Dikta membantu Via dengan menuntunnya. sementara itu Alden dan Dita hanya melihat kepergian Dikta bersama dengan Via.


"lo kenapa si Al, kenapa lo nggak bilang sama Dikta kalo semalem lo pergi ke rumah pacar lo terus pacar lo itu ngusir lo, sampek lo nunggu di luar sampek lo sakit. siapa tau Dikta bisa bantuin lo Al?"


'andai aja lo tau kalau orang yang lo maksud itu Dikta, Dita. entah lo bakal mandang gue gimana nanti'


.

__ADS_1


. bersambung


__ADS_2