It'S Perfect

It'S Perfect
Air Hujan


__ADS_3

Ditengah perjalanan pulang, mobil Arga mendadak berhenti. Arga kemudian memutuskan untuk segera memeriksa keadaan mobilnya, dan benar dugaannya, ternyata saat itu ada sesuatu yang salah. sebagai seorang CEO Arga memang sosok laki-laki yang bisa diandalkan diluar kantor.


"Lesya, lo bawa air minum atau nggak?"


"enggak pak, memang untuk apa?"


"gue butuh air buat bikin mobil kita jalan. tapi, kalo kaya gini kita gak bisa pulang karna gak ada air."


Lesya akhirnya mengikuti Arga keluar dari mobil, ia melihat sekelilingnya yang tidak ada rumah ataupun warung kecil untuknya mencari air.


"pak, gimana kalo bapak telfon Doni"


"ponsel gue mati, lebih baik kita cari air disekitaran sini. lo bantu gue cari!"


Arga dan Lesya menyusuri jalanan berharap akan segera menemukan air. "air pak" ujar Lesya.


"lo bener, itu air!"


akhirnya setelah menemukan air, Arga dan Lesya hendak kembali. namun saat itu tiba-tiba, "pak air..." lagi-lagi Lesya berkata air, namun kali ini air yang dimaksud Lesya berbeda dengan air yang pertama mereka temukan.


"iya air, air hujan!"


Arga dan Lesya berlari ke arah mobil yang sudah jau dari mereka. namun apa daya, niat hati mencari air untuk mobil, justru saat ini mereka berdualah yang basah terkena air hujan.


setelah berlari beberapa saat mereka sampai di mobil mereka. dengan segera Arga dan Lesya berteduh didalam mobil. dan saat itu jantung Arga berdenyut kencang ketika melihat kemeja Lesya yang basah.


mata Arga tertuju kepada leher jenjang Lesya yang basah terkena air hujan. ditambah kemeja yang basah dan membuat lekukan tubuh Lesya terlihat jelas membuat Arga merasa sedikit gerah meskipun ia dalam keadaan basah kuyub karena air hujan.


sekuat apapun rasa bencinya terhadap Lesya dan bersikeras untuk balas dendam, Arga tetaplah seorang laki-laki. melihat wanita yang ada dihadapannya dengan keadaan seperti saat ini pasti akan membuat nalurinya sebagai laki-laki akan timbul. untuk mengatasi hal itu, Arga melonggarkan dasi dan membuka kancing kemeja yang mendadak menjadi sesak dilehernya.


Arga memalingkan wajahnya dari Lesya dan memilih untuk menatap kearah depan. pikirannya yang mulai liar, kembali mendorongnya untuk melihat kearah Lesya. dan saat ia benar-benar melihat Lesya, ia mendapati Lesya yang juga menatapnya. melihat rambut Lesya yang basah, imajinasi Arga semakin diluar kontrol.


dar


Petir menggelegar, membuat Lesya terjingkat. mendadak petir ditempat itu semakin membuat suasana mencekam. melihat Lesya yang ketakutan, Arga berpindah di kursi belakang kesebelah Lesya.


"ada apa Lesya?"

__ADS_1


"emm gak pa-pa pak!"


mulut Lesya memang mengatakan ia baik-baik saja, namun terlihat dari bahasa tubuhnya saat ini ia tengah kedinginan. saat itu Arga ingin memberikan jasnya, namun itu tidak bisa karena jasnya pun basah terkena air hujan.


Arga kemudian menggosokkan telapak tangannya, dan setelah itu ia meletakkan telapak tangannya untuk menangkup wajah Lesya. seketika mata mereka saling bertemu.


"enghh.. pak Arga tidak perlu melakukan ini, saya bisa sendiri pak!" Lesya menyadari suasa canggung diantara mereka. ia segera menepis tangan Arga dan melakukan hal seperti yang dilakukan Arga untuk membuat suhu tubuhnya lebih hangat.


"lo gak perlu GR, gue lakuin itu karna gue gak mau lo mati kedinginan dimobil gue!" ucap Arga sinis.


"saya tau pak, terimakasih karna bapak sudah membantu saya" Lesya berusaha bersikap lembut meskipun Arga terus melontarkan kata-kata kasar dan dingin terhadapnya. Lesya juga tidak mengerti kenapa bosnya bersikap demikian.


sedangkan Saga saat ini berdiri didekat jendela coffe shop. ia mencemaskan keadaan istrinua yang belum ia ketahui saat ini. Saga melihat air hujan yang mengalir dari kaca bening yang ada dihadapannya.


tanpa Saga ketahui, saat ini Elsa sengaja berdiri dibelakangnya. ia memerintahkan seseorang untuk mengambil fotonya, setelah selesai berfoto, ia segera kembali ke meja yang ia duduki. Elsa melihat hasil foto yang di ambil oleh temannya. ia mengukir senyum lebar diwajahnya, disana ia terlihat seolah tengah memeluk Saga dari belakang.


"mending gue unggah, biar fans gue yakin kalo gue emang jadian sama kak Saga. dengan begitu gue bakal gunain kesempatan ini buat bikin kak Saga jadi pacar gue beneran." Elsa tersenyum licik.


"lagian gue lebih pantes ketimbang istrinya itu buat jadi pasangan kak Saga kan?!"


saat itu Elsa sengaja menyuruh sahabatnya untuk membawa ponselnya. dan setelah itu ia pergi menuju manager tempat itu.


"terus gimana dong pak, hp itu penting banget buat saya"


mendengar keributan, Saga akhirnya datang dan melihat. ternyata orang yang saat ini tengah ribut adalah Elsa dan beberapa temannya.


"ada apa ini?"


"begini Saga, ponsel nona ini hilang. dan dia bilang ponsel itu sangat penting. saya sudah mengatakan akan membantu mencarinya, namun dia ingin ponsel itu ditemukan saat ini juga!"


"memang terakhir kali ponselnya di taruh dimana?"


"ada ditas kak, tapi waktu mau aku ambil ternyata udah gak ada. mana akses ke akunku belum aku keluarkan. aku gak tau kalo sampek ada yang berniat gak baik!"


"biar gue bantu cari"


sudah beberapa kali Saga dan beberapa pegai yang lain mencarinya, namun Saga tidak menemukan ponsel milik Elsa. akhirnya Elsa menyuruh Saga dan yang lainnya untuk tidak mencarinya lagi. ia berharap tidak ada yang memanfaatkaan ponselnya untuk berbuat jahat.

__ADS_1


"makasih ya kak, kak Saga udah bantuin aku cari hp aku!"


"iya tapi hp lo gak ketemu, sekali lagi gue minta maaf karna kami gak bisa ketemuin hp lo!"


"iya kak gak pa-pa kok! ya udah kak karena ujannya udah reda, aku harus pulang." Elsa memyunggingkan senyumnya dan berlalu pergi.


-


"ini bener-bener keterlaluan banget si Saga, dia lagi-lagi sama cewe ini!"


Dikta menautkan kedua alisnya melihat Alden yang mengomel dengan ponselnya. akhirnya Dikta menanyakan hal itu karena ia mendengar Alden menyebut nama Saga disana.


"lo kenapa si Al?"


"ini Ta, gua kan sengaja ngikutin akun media sosial cewe selebgram itu. dan bener feeling gua, dia emang ada apa-apa sama Saga!"


"maksudnya gimana Al?"


"lu lihat postingan ni cewe!"


Dikta menatap layar ponsel Alden dengan sebelah alis yang terangkat, dengan rahang yang mengeras. ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.


"gua harus omongin ini sama Saga, mba Lesya gak pantes diginiin sama dia!"


"gua ikut Ta"


setelah didalam mobil, Dikta menginjak pedal gas. ia melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi.


'gak biasanya lu kaya gini Dikta, apa yang gua lihat dulu apa itu beneran kalo lu suka sama mba Lesya?' saat ini dibenak Alden bertanya-tanya tentang perasaan Dikta terhadap Lesya. entah mengapa dari pada rasa marahnya terhadap Saga, Saga justru lebih gusar ketika memikirkaan perasaan Dikta terhadap Lesya.


.


.


.bersambung


.

__ADS_1


__ADS_2