It'S Perfect

It'S Perfect
Mengutamakan Perempuan Lain


__ADS_3

Setelah bel istirahat, Dikta hendak menghampiri Friska yanh sedang berbincang dengan beberapa teman sekelasnya. namun saat itu Dikta melihat Liyora yang menghampiri Friska lebih dulu.


saat itu Dikta kemudian sedikit memundurkan posisinya.


"pinter juga lo fris?" Liyora bersedekap dihadapan Friska yang saat itu bercengkrama dengan siswa lain.


"maksud lo?"


"lo yakin nanya itu ke gue di depan semuanya?"


seakan tau Liyora ingin mengatakan hal yang penting, kini tinggallah Friska dengan Liyora. pasalnya semuanya kininmemutuskan untuk pergi ke kantin sekolah.


"oke Ra, maksud lo tadi ngomong gue pinter itu karna apa?"


"gue tau waktu itu lo masuk ke tempat lokalisasikan? dan gue yakin yang nganter lo tadi itu pasti pelanggan lo kan?!"


"itu bukan urusan lo, dan yang pasti dia itu pria baik!" Friska peri begitu saja.


dan hal itu membuat Liyora menarik salah satu sudut bibirnya tersenyum sinis.


sementara itu, Dikta tertegun ketika ia mendengar ucapan Liyora. bagai di hantam batu beton di dadanya yan merasakan sesak mengetahui seseorang yang dulu oernah mengisi hatinya, bertindak sejauh itu.


"apa yang gua denger tadi?" Dikta menatap kosong kearah depan. ia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Friska. namun Dikta segera menggelengkan kepalanya "gua gak bisa percaya gitu aja sama ucapan Liyora, gua harus cari tau tentang ini!"


"ternyata lu disini Ta!"


Dikta sedikit terkejut dengan kehadiran Alden secara tiba-tiba. melihat raut wajah Dikta, Alden menautkan kedua alisnya. "ada apa Ta, lu lagi ada masalah?"


"apaan si lu Al, emang lu cewek gua? perhatian banget lu sama gua!"


"idih amit-amit gua jadi cewek lu! kalopun gua belok, gua pilih-palih kali Ta!"


mendengar ucapan Alden, Dikta memicingkan kedua matanya dan bergidik ngeri."eh tapi kalo gua lihat-lihat lu cakep juga Ta"Alden tersenyum menyeringai menatap Dikta.


"wah ni anak minta di rukiyah"

__ADS_1


Alden dan Dikta pun terkekeh bersama menyadari sikap mereka sudah membuat mereka sendiri geli.


-


Saga mengetuk-ketukan jarinya di atas mejanya. menolak sekeras apapun Saga, namun tidak bisa dipungkiri saat ini pikirannya tersita oleh Lesya.


'ada apa sama gua, kenapa gua terus mikirin mba Lesya? dan kenapa gua kesel banget kalo gua inget dia di peluk-peluk sama tu cowok?'


Damn


Saga membogem mejanya hingga membuat tangannya memerah. ia sensiri bingun dengan sikapnya saat ini. pasalnya ia tau bahwa sirinya tidak menyukai istrinya, tetapi kenapa ia merasa semarah ini saat mengetahui seseorang pasang badan untuk istrinya.


'Apa ada persahabat antara laki-laki dan perempuan? huh gua yakin itu cuman alibi kalian untuk nutupin hubungan kalian!' Saga mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku kuku tangannya memutih.


'tapi kenapa gua malah marah? hrusnya gua senengkan? dengan begini gua gak repot bikin mba Lesya jauh dari gua dan gak ganggu hubungan gua sama Liyora!'


"ah iya Liyora! kenapa gua bisa lupa? gua masih harus cari tau tentang Liyora dan kak Saka, kenapa mereka bertemu diem-diem di belakang gua!"


perasaan Saga semakin campur aduk. disisi lain ia ngin Lesya menjauh, tapi daei lubuk hatinya yang terdalam ia begiti marah saat laki-laki lain mendekati Lesya. bukan hanya itu yang membuat kondisi hatinya tidak baik. ia juga merasa ada sesuatu antara kekasihnya dengan kakaknya yang ia tidak ketahui.


_


"apa sama sekali kamu gak mikirin perasaan aku saat kamu mengatakan hal itu Saga? memang seberapa terkenal kamu dikalangan remaja di sekolahmu?"


drrttt drrttt


Lesya melihat ke arah layar ponselnya. ia lalu menggeser gagang telfon berwarna hijau.


"halo ma, Lesya kamgen banget sama mama sama papa!"


"hei, kenapa sayang. kalau kamu kangen sama kita, kamu main ke rumah dong? ajak suami kamu juga!"sahut nyonya Guntara diseberang sana.


"iya ma,? nanti Lesya bicara sama Saga. semoga dia mau Lesya ajak kerumah mama! oh ya ma, mama tumben telfon Lesya di jam segini, apa ada yang ingin mama bicarakan sama Lesya?"


"begini sayang, kamu inget gak sama tante kim yamg dulu tetangga kita?"

__ADS_1


Lesya menautkan kedua alisnya setelah mendengar ucapan dari ibunya yang tiba-tiba menanyakan hal itu kepadanya."inget ma, emang kenapa ma?"


"itu lo sayang, kamu inget gak sama anaknya yang bungsu. itu sahabat kamu waktu kecil sayang"


" iya Lesya banget dong ma, emang ada apa si ma kok mendadak mama tanyain itu sama Lesya?"


"gini lo sayang, kemarin tante kim itu ceeita sama mama. katanya anaknya balik ke indonesia lo sayang!"


"oh itu ma, Lesya udah tau kok ma!"


"baguslah kalo kamu udah tau sayang, mama minta kamu undang dia buat makan malem sama kita ya sayang. kamu nanti juga ajak Saga."


"tapi ma, kenapa mama tiba-tiba oengen ngundang Yoo joon?"


"iya kita kan udah lama banget gak pernah ketemu sayang, kamu tau kan Yoo joon,saat kita ke korea kita gak pernah ketemu karna dia yang ikut papanya di amrik?"


"oh iya ma, nanti Lesya bakal atur kapan Yoo jon bisa datang ke rumah kita." akhirnya pembicaraan antara ibu dan anak itu berakhir.


setelah selesai menghubungi Lesya, nyinya Guntara menatap suaminya yang sedari tadi berada di sampingnya. nyonya Guntara menatap suaminya dengan raut wajah yang sulit di artikan.


"apa papa yakin mau lanjutin rencana papa?"


seakan tau kegundahan yang dirasakan oleh istrinya, tuan Guntara tersenyum dan menatap lekat istrinya.


"papa lakuin ini demi putri kita ma! apa mama rela lihat putri kita sesih terus menerus?" nyonya Guntara menggeleng pelan.


"tapi apa semua yang papa ketahui itu bisa di percaya?"


"sangat bisa ma! karena orang yang papa pekerjakan ini sudah profeaional. dan selain itu papa juga dengar langsung dari Saka ma, kakak dari Saga sendiri!"


"tapi jika itu benar, kenapa Lisa dan Darma tidak menghentikan perbuantan Saga? padahal mereka tau kan hati Lesya pasti terluka saat suaminya harus mengutamakan perempuan lain pa!"


tuan Guntara lalu menarik istrinya kedalam pelukannya, ia menepuk-nepuk pundak istrinya. "itulah yang membuat papa bertindak seperti ini ma! papa tidak ingin persahabatan kami hancur jika papa langsung terang-terangan menyuruh Lesya menyerah dengan pernikahannya. dengan cara ini kita tidak perlu memaksa Lesya meninggalkan Saga, kita bisa mendekatkan mereka perlahan. jadi jika nanti Saga tetap bertindak seperti sekarang ini, kita dengan mudah membujuk Lesya!"


.

__ADS_1


.


.bersambung


__ADS_2