
Dalam keadaan mabuk dan emosi yang tinggi, melihat Saka lah yang berdiri di hadapannya, membuat Saga mengepalkan tangannya dan menarik kerah baju Saka. namun dalam keadaan mabuk kekuatannya justru berkurang dan membuatnya sempoyongan hingga menjadi tertawaan untuk Saka yang saat itu bersama dengan Liyora.
"wah.. wah kenapa ini sayang? kenapa mantan adik tercinta kamu kacau kayak gini? "
"mungkin saja dia sedang kehilangan cintanya yang dulu dia bela dan membuang kakaknya sayang"
Liyora berjalan dan berkacak pinggang dihadapan Saga yang saat itu dalam dikuasai emosi.
"Kenapa Saga? lo baru tau kalo Lesya itu cewek mur*han sana sini mau"
"jaga bicara lo Yora, atau gue bakal lupain kalo lu itu cewek"
Saga menunjuk Liyora dengan kesal.
"jangan beraninya kamu membentak istriku Saga" pekik Saka
"dan jangan berani menghina istriku di depanku Liyora! " balas Saga dan berlalu pergi dengan langkah gontainya.
Saat itu Saka dan Liyora memilih untuk pergi menemui seseorang yang sudah menunggu mereka di sebelah restoran yang sudah di sepakati.
Sesampainya di Restoran tersebut Saka dan Lesya mengatakan perihal pertemuannya dengan Saga yang terlihat sangat kacau. orang tersebut sangat senang dengan apa yang di katakan oleh Saka dan juga Liyora. Dan orang itu adalah Zora.
Zora tersenyum miring. saat itulah Liyora dan Saka mengerutkan dahinya. keduanya begitu penasaran dengan reaksi yang diberikan oleh Zora.
"kenapa kamu tersenyum seperti itu?"
"aku tidak perlu menjelaskannya, apa yang perlu aku lakukan sudah ku lakukan. sekarang tugas kalian hanya membuat Saga semakin yakin jika Lesya mengkhianatinya"
Keduanya saling menatap satu sama lain dengan pemikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Karena rencana sudah dijelaskan, kini Saka dan Liyora segera pergi dari restoran.
Di perjalanan pulang Saka menurunkan Liyora sebelum sampai dirumahnya karena ia harus pergi menemui kliennya terlebih dulu, dan mau tidak mau Liyora harus pulang dengan menggunakan kendaraan umum.
Setelah menurunkan Liyora, Saka memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat. "untung tadi Liyora percaya kalo aku akan bertemu klien. dengan begini dia tidak akan mencurigaiku, jika aku memutuskan untuk mencari Lesya."
Saka turun dari kendaraan yang dan mendatangi kantor milik Yoo joon. disana ia menanyakan keberadaan Yoo joon, namun ia tidak mendapati Yok joo dan memutuskan untuk pergi ke kantor milik Lesya. Dan lagi, Saka tidak menemukannya sama sekali.
Saka kemabli melakukan mobilnya. matanya tidak berhenti mencari keberadaan Lesya, dari taman tempat biasa Lesya pergi dan juga restoran langganan Lesya, hingga ke apartement milik Lesya dan Saka yang lama tidak mereka tempati.
"aku harus cari Lesya kemana? " mendadak Saka teringat satu tempat yang belum ia datangi.
Kemudian di lajukannya mobilnya dalam kecepatan tinggi. hingga setelah menempuh waktu perjalanan sekitar duapuluh menit, Saka berhenti didepan rumah mewah yang bernuansa putih.
"maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya sang satpam.
"aku ingin menemui Yoo joon, apa dia di rumah? "
"apa dia Lesya?"
"sepertinya begitu tuan"
"kalau begitu itu tidak masalah, karena Lesya adalah adikku"
"ah baiklah kalau begitu akan saya bukakan pintu gerbangnya tuan"
Dengan segera Saka masuk kedalam pekarangan rumah Yoo joon. tanpa mengetuk pintu Saka masuk begitu saja tanpa permisi dan langsung mencari keberadaan Lesya. dan disaat itulah ia mendengar suara tangisan, dan sesekali meracau.
"sepertinya itu suara Lesya"
__ADS_1
Saka pun mencari semakin mendekat ke sumber suara. pintu berwarna putih yang terbuka sedikit menarik perhatian Saka dan segera melihatnya.
Ketika sampai didepan pintu dan berusaha melihatnya, Saka melihat didalam sana ada Lesya yang tengah menangis didalam pelukan Yoo joon. tangan Saka mengepal, ia merasa cemburu melihat Yoo joon memeluk Lesya. Dan disaat itulah pikiran jahatnya mulai muncul dan memotret Lesya. tidak hanya sebatas itu, Saka segera memotret keduanya yang tengah verpelukan didalam sebuah kamar.
"lebih baik gue pergi, dan melihat reaksi apa jika Saga melihat foto ini" sambungnya lagi.
Sak pun menguringkan niatnya untuk bertemu Lesya dan kembali ke kantornya. didalam kantornya ia terus tersenyum sembari memikirkan sesuatu.
"lihat Saga, aku akan membuatmu semakin jauh dengan Lesya. dengan begitu, aku akan segera mendapatkan Lesya"
-
Disisi lain saat ini ini Alden terlihat cemas menunggu keadaan Dita saat ini. hingga dokter pun keluar dengan diagnosinya.
"keluarga pasien? "
"iya saya dokter"
"maaf, apa anda suaminya" dengan segera Alden mengangguki ucapan sang dokter.
Dokter pun menjelaskan tentang sakit yang dialami oleh Dita. ia menjelaskan jika Dita terlalu stress dan syok.
"Saya sarankan istri anda harus dibawa ke sebuah suasana baru agar dia tidak terlalu tertekan dan stress tuan"
"baik dok" sahutnya
"jika stress terus berlanjut, kalian bisa kehilangan bayi kalian"
"apa? "
__ADS_1
.
. bersambung