
Saka yang saat ini menggunakan tongkat segera menarik Liyora kelantai bawah. Setelah melihat keadaan yang dirasanya aman untuk berbicara, Saka mendudukkan Liyora di sebuah bar yang ada didapurnya.
"Apa rencana kamu Liyora?"
"Gue cuman mau meneruskan misi kita kak"
"Sstt.." Saka masih mengawasi agar tidak ada soeorangpun yang mendengar prbincangan mereka.
"Kamu masih mau meneruskan itu?"
"Ya, tapi kali ini harus dengan cara gue. Kak Saka tau kan? Rencana yang kakak buat selalu gagal terlebih sekarang kak Saka belum pulih"
Saka terlihat memikirkan semua perkataan dari Liyora. Memang benar apa yang dikatakan oleh Liyora. Mungkin kali ini ia memang harus menyetujui dan mengikuti semua rencana Liyora.
"Oh ya Liyora, bagaimana dengan uangku?"
"Kak Saka tenang aja semuanya udah gue atur, oh ya kak lebih baik kakak pura-pura pekek kursi roda aja dulu. Nanti kalo kak Saka cepet pulih. Gue gak bisa masuk rumah ini, bahkan mungkin kak Saka juga!"
Keduanya begitu terobsesi untuk menghancurkan rumah tangga Saga dan Lesya. Hingga apa yang mereka alami selama ini bukan mereka jadikan pelajaran, jusyru menjadikan mereka bertambah nekat.
Di tempat lain saat ini Samuel telah membuat rencana agar adiknya tidak meneruskan hubungan terlarangnya.
"Halo, Dikta. Aku ingin mengajakmu bertemu di club xx, bisa kami datang?"
"..."
"Baiklah aku tunggu disana jam delapan malam."
"..."
Dikta yang mendapat ajakan dari Samuel tidak merasakan kecurigaan apapun, karna Dikta memang sudah menganggap Samuel seperti kakanya sendiri.
Dikta kemudian memutuskan untuk melanjutkan aktifitasnya, dimana saat ini ia tengah melanjutkan tugasnya bersama dengan Nadia. Cukup lama mereka menghabiskan waktu berdua, namun Alden sudah tidak mencemaskan hal itu. Pasalnya Alden dsn Dikta sudah memutuskan untuk saling percaya satu sama lain.
Waktu berjalan cukup cepat hari ini, Dikta yang melihat ke arah jam tangannya teringat jika ia harus segera kembali kerumahnya untuk bersiap bertemu dengan Samuel.
Ditengah perjalanan menuju tempat uang ia tuju, ia melihat Alden yang duduk di sebuah cafe out door bersama dengan tunangannya. Seketika hal itu sempat membuatnya sesak, namun ia kembali mengingat apa yang dilakukan Alden hanyalah untuk bersandiwara terhadap orang tuanya.
Namun saat itu Dikta membulatkan kedua netranya ketika melihat tunangan Alden yang tiba-tiba mencium pipinya. Dan yang membuat Dikta meradang, karena tidak mendapat penolakan dari Alden, tunangannya mengecup bib*rnya. Dan saat itu lagi-lagi Alden tidak menolaknya.
Dengan kekesalan yang berhasil mencarut marutkan perasaannya, Dikta melajukan mobinya sangat kencang.
Lima belas menit pun berlalu dan kini ia menunggu Samuel disebuah meja bar sembari menikmati minuman.
Setelah melihat Dikta sesikit mabuk, saat itu Samuel datang dan duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Dikta, kamu udah nunggu lama ya?" Tanya Samuel yang berlura-pura tidak tau dengan yang dialami oleh Dikta.
"Ada yang mau aku bicarakan Dik-"
"Kepala ku dangat pusing kak, sepertinya aku tudak bisa membicarakan apapun"
"Aku cuma ingin membicarakan tentang Alden Dikta"
Seketika Dengan pandangannya yang mulai kabur, ia berusaha menatap Samuel.
"Aku cuma mau kau membantuku untyk menyiapkan pernikahan Alden. Karna aku tadi melihat Alden sepertinya sangat bahagia dengan tuangannya. Bahkan mereka sangat mesra."
Pyar
Dikta membanting gelas yang ada ditangannua dan berlalu pergi. Sementara itu, Samuel sebenarnya terpaksa membuat Dikta semakin cemburu. Karna ia sudah menyayangi Dikta sebagai adiknya sendiri. Namun Samuel tidak ingin Dikta benar-benar menjadi adiknya dengan hubungan yang menurutnya tidak tepat.
Samuel lalu memutuskan untuk mengikuti Dikta. Ia tau saat ini Dikta sedang mabuk, sehingga ada rasa khawatir juga jika Dikta melakukan hal-hal yang tidak bisa diinginkan.
Setelah memastikan Dikta kembali dengan aman, Samuel memutuskan untuk pergi menemui Alden yang saat itu berada di cafe.
Saat itu Alden terduduk sendirian karena tunangannya harus pergi lebih dulu.
"Boleh alu duduk?"
"Kenapa kau terihay sangat murung?"
"Aku sangat tidsk suka dengannya kak, kamu baru mengenal tapi dia bahkan berani menciumku!"
"Bukannya hal itu yang biasa kau lakukam dengan mantan kekasihmu dulu"
"Sshh.." Alden berdecak kesal dengan yang diucapkan oleh kakanya. Memang benar Alden dulu adalah salah seorang pemain dalam hubungan. Tetapi saat ini ia tengah berusaha menjaga perasaan seseorang yang ia cinta meskipun ia harus menyembunyikan dari semua orang.
_
Keesokan harinya Alden datang lebih pagi ke rostorannya, disana ia mendapati Dikta yang masih tertidur dikamarnya dalam keadaan berantakan. Bahkan Alden menemukan botol minuman yang sudah kosong.
"Astaga Dikta, kamu mabuk?"
Alden mengangkat tubuh Dikta keatas temlat tidur yang semula tertidur dilantai kamar.
"Dikta.." Alden berusaha membangunkan Dikta, namun hingga beberapa kali Dikta belum terbangun. Mungkin saja iyu pengaruh dari minuman yang sudah ia habisnkan.
"Aku gak tau masalah apa yang kamu alami Dikta.."
Alden kini meminta pegawainya untuk membawakan bubur dan minuman untu Dikta dengan telepon di restorannya.
__ADS_1
Melihat keadaan Dikta saat ini membuat Alden bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Dikta, tidak biasanya Dikta melampiaskan dengan minuman. Bahkan beberapa temannya harus memaksa jika ingin melihat Dikta minum.
Karena tidak kunjung bangun, Alden memutuskan untuk melepas sweeter yang dikenakan Dikta saat ini. Saat itu memang pakaian Dikta sangat kotor terkena minuman dibeberapa bagian.
perlahan Alden membukanya hingga terlihat kotakan-kotakan diperut Dikta. Seketila hal itu membuat Alden ingin melakukan lebih dengan bagian itu. Tangannya mulai bergeilya menyusuri setiap kotakan, tanpa ia sadari seseorang menariknya dan membuatnya lebih dekat.
Ya, Dikta sudah membuka matanya. Ia menyipitkan matanya dan menatap Alden yang saat ini ada didatasnya. Perlahan Dikta menyentuh wajah Alden. Namun saat itu ia teringat kejadian dimana seseorang menyentuh miliknya didepan umum. Seketika Dikta mendorongnya dengan kasar.
mendapat perlakuan seperti itu Alden bangkit begitupun dengan Dikta yang hanya mengenakan celananya.
mendadak Dikta menariknya kasar dan ******* bib*r Dikta dengan rakus.
Alden segera mendorong Dikta, ia menyentuh bibirnya yang berdarah karena perbuatan Dikta.
"kamu kenapa si Ta? Kamu masih mabuk?" tamyanya semvari menyentuh lengan Dikta dan menatapnya dalam.
"aku gak nggak mabuk, aku cuman mau bersihin milikku agar tidak terkontaminasi dengan milik orang lain!"
Sebagai orang yanh berpengalaman, Alden langsung mengetahui apa yang dimaksud oleh Dikta stelah mendengar perkataannya.
"apa kau melihatnya Dikta? Kau melihat dia menciumku?"
"huh, dan kau sangat menikmati itu!" Dikta menatap Alden seperti tatapan jijik, dan juga kecewa.
Alden sendiripun sangat kecewa dengan kejadian itu. Seandainya Dikta melihatnya, ketika Alden menggosok bibirnya beberapa kali dan menvucinya dengan air saat itu, mungkin saja Dikta tidak akan semarah ini.
"aku memang salah Dikta, tapi apa yang kamu pikirkan itu salah! Aku tidak menolaknya karna saat itu ak-"
Srup
Lagi-lagi Dikta tidak membiarkan Alden melanjutkan perkataannya dan justru ******* bibirnya kembali. Bahkan saat ini ia justru merobek kaos yang dikenakan oleh Alden. Ia menyentuh kotakan-kotakan yang dimiliki oleh Alden sehingga timbul desiran-desiran dari keduanya. Dan hal itu menuntut keduamya untuk melakukan lebih.
Tok tok
"permisi pak saya bawa pesanan yang bapak minta" sontak keduanya menatap was-was ke arah pintu.
"saya masuk ya pak"
Ceklek
.
.bersambung
.
__ADS_1