
"Sudah ku katakan, cepat lakukan sekarang. Aku sedang mengawasinya. Ini waktu yang tepat untuk kalian melakukan apa yang aku perintahkan" Tegas Sharena berbicara dengan seseorang di balik telepon.
Dengan semangatnya yang membara ingin mencelakai Via, Sharena sudah menunggu anak buahnya untuk menabrak Via yang nantinya akan berjalan keluar dari kantor untuk membelikannya tinta di seberang kantor.
Sharena memang sengaja menyurih Via membeli tinta baru meskipun ia masih memilikinya. hal itu, hanya untuk mempermudah anak buahnya untuk menbrak Via.
Sembari mengawasi Via yang berjalan ke arah jalan, Via memberi aba-aba melalui telfon kepada anak buahnya.
"Sekarang" Titahnya
Dalam waktu beberapa detik, sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi.
Saat itulah Via tersadar sebuah mobil melaju ke arahnya. Namun sudah terlambat untuk menghindarinya.
Brak
Mobil itu menghantam badan seseorang hingga terpental dan membuat korbannya terbentur ke aspal hitam. Darah merembes kepermukaan aspal yang panas.
Semua terpusat dengan tabrakan yang terjadi di tengah hari, sehingga semua pegawai, atau pekerja apapun yang mencari makan siang menghambur ke arah korban yang tergelatak di jalanan.
Melihat keramaian tersebut, semua yang ada di kantor termasuk Lesya dan yang lainnya merasa penasaran dengan apa yang terjadi di depan kantor.
"Apa ada kecelakaan? "
Tanya Dylan yang berjalan sembari melepas kancing lengan kemeja yang ia kenakan.
"Entahlah Dylan, aku juga merasa penasaran" Sahut Lesya
"Kalau begitu lebih baik kita lihat"
Lesya bersama dengan Saga dan juga yang lainnya yang hendak mencari makan siang pun berbondong-bondong pergi untuk melihat apa yang tengah terjadi.
__ADS_1
Hingga akhirnya mereka tengah sampai dan melihat apa yang terjadi.
"astaga"
Lesya menutupi mulutnya yang sedikit terbuka dan menahan nafas sejenak.
"Benar yang aku bilangkan, terjadi kecelakaan" Dylan menimpali ucapan Lesya.
Saat itu hanya bekas darah di atas aspal lah yang di lihat oleh mereka tanpa melihat siapa korban yang tertabrak.
"Tetapi siapa yang mengalami kecelakaan di sini, bukan staf kita kan? " Tanya Saga sembari. elihat semua yang ada di dekatnya.
Saat itulah Andi tersadar jika Via tidak berada di antara mereka. Hingga perasaan Andi mulai gusar.
"Via tidak ada pak Saga" Itulah yang terucap dari mulut Andi yang terpikir di dalam benaknya.
"Tadi sepertinya bu Sharena meminta Via untuk membelikan tinta, makanya Via tidak ada di sini" Sahut Dinda.
"Memang tidak pak. tapi tadi kebetulan waktu Via menerima telfon dari bu Sharena ketika menyuruhnya membeli tinta, saya ada di dekatnya pak"
"Fuh"
Lesya bernafas lega ketika mendengar ucapan dari Dinda.esya merasa lega setelah ia yakin bukanlah salah satu dari stafnya yang mengalami kecelakaan.
Semua orang yang melihat sisa darah yang ada di jalan pun merasa ngeri. Entah bagaimana keadaan korban yang mengalami kecelakaan seperti itu. Mereka pun beranjak pergi untuk mencari makan siang.
Setelah berpikir cukup lama Di dalam mobil, pilihan mereka jatuh tepat di sebuah restoran yang menjual makanan Japanese food.
Setelah menghabiskan semua makanan yang sudah mereka pesan, saat itulah mereka memutuskan untuk segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Alden yang tengah di rawat pasca operasi.
Di sana mereka melihat Dita yang begitu cemas. Menemani Alden yang belum sadarkan diri semenjak operasi dilakukan.
__ADS_1
Saat itulah Lesya dan juga Saga tau perasaan apa yang saat ini dirasakan oleh Dikta. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apapun, karena tidak mungkin jika Dikta akan mengatakan jika dirinya tidak suka seorang istri merawat suaminya.
Tentu saja hal itu membuat Dikta semakin hancur. Dikta perlahan berjalan masuk dan mendekati Dita. Dita yang tidak tau jika Dikta datang pun merasa terkejut.
"Dikta"
Ucap Dita yang menunggu Alden meskipun masih di atas kursi roda.
"Gue bakal pergi, lo bisa nungguin Alden sekarang"
Dita memutar kursi roda yang ia naiki, namun Dikta menghentikan Dita dan menarik kursi dan duduk disebelah Dita.
"Kenapa,Ta?"
"Maafin gue karena udah bikin lo kayak gini" Ucap Dikta penuh penyesalan.
"Gue tau lo kayak gitu karena lo cemas Dikta, jadi lo jangan khawatir kalo gue bakal sebel sama lo" Balas Dita.
Sementara itu yang lainnya hanya diam melihat keadaan Alden saat ini sembari mendoakan untuk kesembuhannya.
_
Hosh.. Hosh.. Hosh
Itulah suara nafas dari Sharena yang baru saja menutup pintu kamarnya dengan nafas yang terengah.
"Bukan gue, gue nyuruh mereka untuk mencelakai Via kan bukan orang lain? Bukan gue yang bikin dia kecelakaan dan parah"
"Kalau sampai meninggal gimana? nggak.. nggak boleh" Sharena meremas rambutnya di sudut kamarnya dengan penuh kecemasan.
"Aaaaaa.. " Sharena berteriak frustasi
__ADS_1
Bersambung