
setelah bell pulang sekolah, Saga bergegas untuk segera pulang. iapun segera menggandeng Liyora keluar dari kelas.
"Saga pelan dong, kenapa si buru-buru banget!"
"iya kita harus cepet pulang Yora!"
"gak Saga!" Liyora menarik tangannya dari genggaman Saga.
Saga lalu menggentikan langkahnya dan menatao Liyora. ia bingung dengan sikap Liyora yang tiba-tiba marah.
"kamu lupa, hari ini kamu janji mau ngajak aku jalankan Saga?!" Liyora mengerucutkan bibirnya dengan pipi yang menggembung.
"tapi mami udah telfon minta di anter pergi Yora. hari ini kita tunda dulu ya jalan-jalannya, aku janji besok kita jalan. apapun yang kamu mau pasti aku turutin okey?" Saga memegang kedua pundak Lesya dan menatapnya dengan kedua alisnya yang terangkat.
'kapan lagi Saga mau nurutin semua permintaan gue, oke kali ini aku akan nurutin kamu Saga.'
"oke, tapi aku gak mau lain kali kamu kaya gini lagi!"
"iya Yora aku janji!"
'maaf Yora aku harus berbohong dengan alasan mami. aku cuman ngerasa bersalah aja sama mba Lesya, dan aku harus ngecek keadaannya.'
setelah Saga mengantarkan Liyora sampai di depan rumahnya, kini Saga melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. ia begitu tidak sabar untuk menemui Lesya.
hanya memakan waktu lima belas menit ia sudah sampai di rumahnya.
"Saga, kamu cari siapa? mami lihat kamu mondar mandir kesana kemari!"
"emm.. Saga cari mba Lesya ma, apa mba Lesya masih belum pulang dari kantor?"
"buat apa kamu cari Lesya?" Nyonya Guntara tidak biasanya sedingin ini terhadap Saga. hingga Saga yang menyadaei hal itupun ia segera duduk disebelah Ibunya yang tengah menikmati secangkir teh.
"mami kenapa, mami marah sama Saga?"
"mami cuma tidak habis pikir sama kamu Saga, bisa-bisanya kamu nyuruh temen kamu buat anter Lesya! sampai-sampai Lesya harus menghadapi para berandal itu!"
'udah gua duga, mba Lesya pasti ngaduin ini sama mami. reseh banget si tu mba-mba'
"iya makanya ini Saga nyari mba Lesya, Saga mau minta maaf mi!"
"ya udah, kalo kamu bener-bener mau minta maaf susulin aja Lesya di kantornya."tukas nyonya Guntara.
Akhirnya setelah berganti pakaian, Saga oun menuruti saran dari ibunya untuk datang ke kantor Lesya. setelah ia sampai ia langsung masuk kedalam gedung untuk mendatangi Lesya.
"mending gua tanya sama orang itu ajalah dimana ruangannya, gua pangling sama kantor om Guntara. bisa berubah sebesar ini?"
"mas, dimana ya ruangannya mba Lesya?"
"oh ruangan istrinya ya pak?tinggal naik lif bapak turun dari lif di depan situ adalah ruangan istri bapak! ya udah ya pak saya harus melanjutkan kerjaan saya."
__ADS_1
"oh iya silahkan! terimakasih."
Saga pun segera masuk ke lif menuju ruangan Lesya. sesampainya didepan ruangan Lesya, tanpa mengetuk Saga langsung membuka pintu dengan kasar.
brakk
"baik, kalian bisa keluar. terima kasih atas kinerja kalian"
"baik bu, kami permisi."
dua karyawan yang baru saja berbicara dengan Lesya pun segera pergi dari ruangan Lesya dan menutup pintunya.
"Saga, kenapa kamu datang-datang bikin rusuh?" Lesya berdiri dari duduknya.
"dasar cewek ul*r!"
"jaga bicara kamu Saga!"
"awalnya aku datang ingin meminta maaf karena semalam gua gak nganterin lo. tapi niat gua buat minta maaf gua tarik.!" Saga mendekat dengan mata tajamnya yang terus menatap Lesya.
"bisa-bisanya ya, lo pakek cara murahan buat memanipulasi ingatan gua!"
"apa maksud kamu Saga?"
"halah gak usah sok polos deh mba Lesya, lo sengaja kan nyuruh karyawan lo buat bilang gua suami lo. apa lo gak malu? setelah kakak gua nolak lo, lo malah ngejar-ngejar gua. mana pakek cara kaya gini lagi"
Lesya mengusap dahinya, ia lalu menatap dalam-dalam jedua manik mata Saga. Lesya tidak habis pikir dengan penilaian Saga terhadap dirinya.
"hentikan Saga, kamu nyakitin aku!" Lesya segera menarik tangannya yang berdarah.
Saga sempat melihat tangan Lesya yang berdarah, namun ia memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu dan meninggalkan Lesya dengan luka yang kembali berdarah. tanpa Lesya sadari, ia menitikkan airmata.
"aku gak nyangka Saga, kamu bisa berpikir seperti itu."
-
[malam hari dikediaman Darmawan]
ketika nyonya Guntara dan kedua putranya tengah menikmati makan malam, Saga justru pergi karena kedatangan Lesya.
"Saga kamu mau kemana, duduk kita makan sama-sama!" ucap nyonya Guntara. selama tuan Darmawan di luar negeri, memang nyinya Guntaralah yang mengambil alih tuga suaminya.
"Lesya, tangan kamu kenapa?" Saka menghentikan aktifitas makannya. ia memperhatikan tangan Lesya yang dibalut oleh perban.
"ini hanya kecelakaan kecil" ucap Lesya.
"apa kamu udah ke dokter?"
"luka seperti ini tidak perlu dibawa kedokter" Lesya pun hendak memegang sendoknya, namun tiba-tiba sendok yang ia bawa terjatuh.
__ADS_1
'sepertinya karena tadi Saga terlalu kencang meremas tanganku, jadi terasa lebih sakit'
"apa sangat sakit sayang?" nyonya Guntara terlihat cemas "apa mau mami suapi?"
"Lesya bisa kok mi"
Lesya berusaha menutupi rasa sakitnya.
'kenapa gua baru sadar kalo mba Lesya itu panggil mami itu mami? ini gak bisa di biarain, dia gak ada hak buat manggil mami itu kaya maminya sendiri.'
"bisa gak si mba Lesya jangan panggil mami gua itu mami!"
"Saga.." sahut nyonya Guntara.
"kenapa mi? apa yang Saga bilang itu bener mi, dia gak ada hak manggil mami dengan sebutan itu. dia bukan siapa-siapa, dia hanya aja yang gak tau malu tinggal di rumah orang lain"
"Saga" kali ini Sakalah yang angkat bicara.
"kenapa kak Saka, kenapa kakak belain dia. bahkan dia itu udah pakek cara murahan dengan mengatakan ke semua karyawannya kalo aku suami dia! dan caranya itu nunjukin kualitas dirinya yang mur*han"
"hentikan Saga!" bentak nyonya Guntara.
"tukan, mami yang selama ini gak pernah bentak-bentak Saga sekarang jadi sering bentak Saga. aku yakin semua ini oengaruh dari perempuan ul*r itu kan mi!"
plak
karena tidak tahan mendengar semua yang di ucapkan oleh putranya, nyonya Guntara langsung men*mpar anak bungsunya.
"perempuan yang kamu katain ul*r itu adalah istri sah kamu Saga. kamu lihat ini kan?"
nyonya Guntara menunjukkan foto pernikahan yang ia simpan dilaci ruang tamu yang baru saja ia ambil. melihat apa yang ditunjukkan oleh nyonya Guntara, semuanaya terperangah.
"mami.."lirih Lesya.
"Arrggghhh...." namun tiba-tiba Saga memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Saga kamu kenapa?" tanya Saka yang melihat adiknya terlihat lemah.
"perempuan yang pakai cara mur*han ini bukan istri aku mi!" pekik Saga sembari menunjuk tepat di wajah Lesya.
tanpa aba-aba air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata Lesya. kali ini ia benar-benar hancur dengan apa yang dikatakan oleh suaminya sendiri.
"Saga!" lagi-lagi nyonya Guntara memekik dan,
Brugh
.
.
__ADS_1
.bersambung
.