It'S Perfect

It'S Perfect
Banyak Keluhan


__ADS_3

"Astaga, Alden" pekik Lesya.


Alden yang mendengar suara Lesya, ia terkejut dan segera membuka kedua matanya. Saat itu Alden segera mengenakan bajunya, sementara dibalik pintu, Lesya dan Saga sama terkejutnya dengan Alden.


"bisa-bisanya Alden tidur gak pakek baju dan pintu kamarnya gak dikunci?" gerutu Lesya.


"itu bisa untuk laki-laki Lesya!" sahut Saga.


"lagi pula ini salahmu Saga, kamu sembarangan buja pintu si!"


"iya aku minta maaf sayang, tapi disini aku yang lebih dirugikan sayang"


"rugi?"


"iya rugi! Istriku jadi melihat otot perut pria lain!"


"Saga!" Lesya menekankan suaranya.


"kalian? Kalian ada disini! Dan mba Lesya?"


Dengan segera Saga menggamit pinggang Lesya dengan tangan kekarnya untuk menjawab pertanyaan yang baru daja Dikta lontarkan.


"jadi kalian sudah baikan?"


"seperti yang lu lihat Ta, gua sama mba istri baru aja baikan. Makannya kami kesini mau ngajakin kalian buat ngerayain" Saga menimpali ucapan Dikta.


Klek


Alden keluar dengan pakaian lengkapnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal ketika melihat ke arah Lesya.


"pagi.. Sorry ya tadi kalian harus liyat gua kaya tadi!" ucap Alden


"oh ya Ta, tadi lu kemana si, gua ngecek dikamar lu kok gak ada?" ucap Saga.


"gu-gu-gua di kamar mandi, lu aja yang buru-buru keluar dari kamar gua!"


"tunggu-tunggu, kalian beneran udah baikan?" Dikta sengaja mengalihkan pembicaraan agar tak membahas keberadaannya tadi pagi.


Lesya tersenyum menanggapi pertanyaan dari Dikta, semntara itu Saga justru melihat kearah Alden sehingga membuat Lesya mengernyit.


"kenapa Saga? Dari tadi kamu liyatin Alden terus?"Lesya mennggoyangkan lengan Saga dan seketika Saga melihat kearah Lesya.


"jangan cemburu sama Alden dong mba istri, aku ini laki-laki normal!" tanpa Saga sadari Alden dan Dikta merasa ada yang menyindir. Namun mereka tatap berusaha setenang mungkin.


_


Dylan yang selesai bersiap segera pergi ke rumah sakit, pagi ini ia sengaja bangun lebih awal agar bisa menemui Dita dan adiknya.


Dan setelah menempuh perjalanan duapuluh lima menit, ia sudah sampai dirumah sakit.

__ADS_1


Saat menuju ruangan kenan, Dylan tidak sengaja melihat Dita yang tengah mengeluarkan sebuah buku tabungan dari dalam tasnya dari balik pintu ruangan.


Alisnya yang bertaut perlahan mengeluarkan keringat dari dahinya dengan fokus yang tinggi, itulah yang Dylan lihat dari Dita.


"Untuk apa dia membawaitu? Dsri yang aku lihat itu adalah sevuah buku tabungan!"lirih Dylan yang terus memperhatikan Dita yang tengah menghitung nominal dari tabungannya.


"Ini masih sangat kurang"


Itulah yang samar-samar terdengar dari telinga Dylan.


"Ini baru 75 juta, dan aku butuh 250 juta lagi untuk operasi Kenan. Tapi apa kak Dylan udah nemu donor jantung buat Kenan?"


Dylan begitu simpati melihat Dita yang begitu bersemangat untuk kesembuhan adiknya.


Akhirnya tanpa berlama-lama, Dylan memasuki ruang rawat Kenan.


Tok tok


Ceklek


Dengan segera Dita memasukkan buku tabungannya didalam tasnya kembali.


"Pagi kak Dylan" sapa Dita sembari membenarkan rambutnya yang acak-acakan karena memang ia belum menyisir rambutnya karena bangun kesiangan. semalaman Dita terjaga karena adiknya yang terus merasakan banyak keluhan.


"Pagi Dit, apa kamu semalaman tidak tidur?"


Bisa dikatakan Dylan adalah idaman para wanita dengan tubuh yang berotot namu tidak berlebihan dengan tinggi 180an, terlebiu dia adalah CEO dari perusahaan yang ia rintis sendiri namun saat ini sudah sangat berpengaruh di dunia bisnis properti. Dan terkadang Dylan juga sempatkan untuk membantu Yoo joon diperusahaan G.PRO CORPORATION di cabang yang satunya yang ada di kota yang sama.


"Dita.." Dylan menggerakkan tangannya dihadapan Dita.


"Ah iya kak, iya semalem Kenan banyak keluhan jadi aku harus jagain dia kak. Dan ini dia belum lama baru bisa tidur kak"


"Kamu yang sabar ya Dita, aku akan usahakan secepatnya Kenan akan mendapat donor yang tepat. Dan baru saja Dokter bilang, lusa Kenan sudah dibolehkan pulang"


Dita mendongak menatap namar Dylan yang ada disampingnya, kemudian Dita melihat adiknya yang masih terlelap. "terimakasih kak, kakak udah banyak nolongin aku. Kalo gak ada kak Dylan waktu itu, entah apa ya g akan terjadi sama Kenan" sambung Dita sembari mengusap lembut adiknya.


Sementara itu kino Yoo joon masih setia mendatangi rumah Dita. Meskipun ia seseorang yang sibuk, namun Yoo joon tidak akan membiarkan seseornag yang ia cintai hilang tanpa kabar.


"lebih baik aku datang ke restoran tempat dia kerja" Yoo joon lalu melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Sesampainya disana ia memutuskan untuk menanyakan keberadaan Dita.


Namun ketika ia sampai, ia melihat kebersamaan antara Lesya dan juga Saga. Saat itu Yoo joon mendatangi meja mereka yang tengah berbincang dengan Dikta dan juga Alden.


"Lesya.."


Sontak Lesya dan beberapa orang mencari sumbe suara.


"Joonie, kau disini?"


"ya, aku memamg biasa kesini Sya. Kau dan Saga.." ucap Yoo joon menelisik apa yang terjadi sehingga Lesya sudah berbaikam dengan Saga setelah sekian lama mereka berselisih paham.

__ADS_1


"kami sudah baikan Joonie, ternyata apa yang dulu aku tau itu bukan yang sebenarnya terjadi Joonie."


"kamu yakin itu Lesya?" Yoo joon menatap Saga pemuh selidik, ia belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh Lesya. Pasalnya Yoo joon memang sangat perhatian dan perduli dengan Lesya, sehingga ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Lesya.


sementara itu Dikta justru terus memperhatikan Alden yang melihat Yoo joon tanpa berkedip, sehingga saat itu timbul perasaan tidak suka dari Dikta.


"Al, kayaknya kita harus ngecek dibelakang!" ujar Dikta.


"nanti dulu Ta" Alden lalu berdiri "dari pada kau ragu sama sahabat kami, lebih baik kau ikut kami sarapan" sambung Alden sembari menatap Dikta untuk memberi kode. Namin karna rasa cemburu, Dikta tidak memgerti apa yang dimaksud oleh Alden.


'kenapa Ald2n malah nyurih Yoo joon ikut gabung? Apa dia emang sengaja mai deket-deket sama Yoo joon?' Dikta menatao Alden bergantian menatap Yoo joon.


"tidak perlu, aku datang kesini karna aku mau menanyakan soal Dita" tukas Yoo joon.


"ko gak tau soal Dita" ketus Alden


"permisi pak" ucap menajer restoran "begini pak Dikta, pak Yoo joon. Kemarin Dita meminta izin untuk tidak berangkat karna adiknya masuk rumah sakit" sambungnya lagi.


"rumah sakit? Maaf pak, kalo saya boleh tau di rumah sakit mana Kenan dirawat?"


"oh maaf pak, saya kurang tau. Kalau gitu saya permisi" ucapan manajer itu di angguki oleh Dikta dan juga Alden.


"permisi, aku harus pergi" Dylan pergi begitu saja meninggalkan semunya.


"Dikta, Alden, kalian ini gimana si? Dita itu pagawai kalian, kalian malah gak tau kalo Kenan dirawat. Kenan itu punya penyakit jantung" Lesya mengomeli Dimta dan juga Alden.


"Saga ayo temani aku kesana"


"tapi sayang.."


"ayo Saga.."


"siap mba istriki sayang.."


Saga dan Lesya pun menyusul Yoo joon yang juga pergi ke rumah sakit.


"weh tu bucin, main ngeloyor aja ninggalin kita Ta!"


"pakek ngatain orang lain bucin, lu sendirk juga"


"huh gimana Ta?" Alden mastikam karena memang ia tidak terlalu mendengar ucapan Dikta yang menyindirnya.


Dikta justru tersenyum smirk sembari menatap lekat Alden. 'oke Al, gua mau tau seberapa lama lu nyimpen perasaan lu sama gua. Tapi kalo lu emang gak mau nyatain perasaan lu ke gua, gua yang bakal bertindak. Gua gak perduli orang-orang mau bilang apa, yang jelas lihat lu perhatiin oramg lain aja gua gak tahan. Apa lagi kalo sampek lu dimilikin orang lain'


.


.bersambung


.

__ADS_1


__ADS_2