It'S Perfect

It'S Perfect
Sebagian Memori Hilang


__ADS_3

Andi menemani Via untuk kembali ke dalam kamarnya. disana ia melihat Arga yang sudah berdiri di depan pintu kamar Via.


"siang tuan Arga" sapa Andi yang membawa beberapa kantung menuju kamar Via.


"ya, ada apa kau menyusul kemari?"Arga berpura-pura tidak tau alasan Andi, meskipun ia sudah mendengarnya ketika Andi bercerita dengan Via perihal kedatangannya menemui Via.


"begini tuan, bukannya saya mengganggu pekerjaan kalian. tetapi aku melihat istriku sedang mengidam, jadi aku sebagai suaminya harus selalu ada. terlebih lagi untuk calon anak kami"


"jadi, kalian sudah menikah?"


Andi mengakui ucapan Arga dengan seulas senyum di wajahnya.


"tuan Arga, ada apa anda didepan kamarku?" kini Via pun ikut berbincang.


Saat itu Arga terdiam sejenak memikirkan apa yang harus ia katakan. pasalnya ia datang hanya ingin melihat Via dengan Andi, dan kini ia harus mencari alasan kenapa ia berada di depan kamar Via.


"aku ingin mengajakmu membahas poin-poin tentang proyek yang kita bahas tadi siang bersma klien"


"sebelumnya aku minta maaf tuan Arga karena memotong pembicaraan kalian, tapi ini sudah malam tuan Arga. waktunya untuk istirahat bukan? "


"tentu saja istrimu ini akan istirahat, tapi setelah dia menyelesaikan tugasnya." tugas Arga dengan surat baritonnya yang sangat dingin.


"tapi tuan-"


"Andi, aku akan menyelesaikan tugasku. karena aku bukan orang yang tidak bertanggung jawab dengan apa yang sudah menjadi kewajibannya"


mendengar ucapan Via, Arga merasa Via sengaja mengatakan hal itu untuk seseorang. namun ia juga tidak mengerti kepada siapa ucapan Via ditujukan.


"baiklah Andi, kamu masuklah. aku akan kembali setelah selesai" ujar Via seraya mengulurkan kunci kamarnya kepada Andi.


"apa kalian akan tidur satu kamar? "


"tentu tuan Arga, karena ini sudah larut dan tidak memungkinkan untuk Andi pulang. dan Andi adalah suamiku, jadi tidak apa bukan kami tinggal satu kamar?"


"hmmm"


Arga mengajak Via menuju sebuah ruangan yang sudah ia siapkan untuk membahas apa yang ingin ia bahas dengan Via


di dalam Via hanya mengatakan apa yang perlu di katakan layaknya seorang sekertaris yang menjelaskan semuanya kepada bosnya.


setelah membahasnya kurang lebih dua jam, Via yang merasa sudah tidak urusan segera beranjak untuk meninggalkan ruangan dan hendak. membuka pintu.


ceklek


Setelah pintu hampir di buka oleh Via, seseorang mencekal tangannya dan menghentikan langkah kakinya.


"tuan Arga, tolong lepaskan. aku akan kembali ke kamarku"

__ADS_1


"jawab pertanyaanku lebih dulu! siapa ayah dari anak ini? "


Perasaan Via sudah tak karuan. ingin sekali ia menampar Arga ketika mengingat apa yang sudah dilakukan Arga yang seharusnya adalah Andi yang melakukannya. namun ia kembali menenangkan dirinya agar tidak mengatakan jika yang sebenarnya.


"maksud anda apa tuan? sudah kukatakan ku ini adalah anakku dengan suamiku. dan aku mohon anda tidak perlu membahas sesuatu yang anda sendiri tidak ingin bertanggung jawab"


"jadi maksudmu itu adalah anakku? "


"bukan, kutekankan sekali lagi dia adalah anakku dengan suamiku! " Via sengaja menekankan ucapannya.


Via menghempaskan tangan Arga dan segera keluar dari ruangan tersebut. sesampainya Via di dalam kamar, ia mendapati Andi yang tengah menyiapkan makan malam yang ia pesan sebelum Via datang.


"kita makan malam Via"


saat itu Andi mendudukkan Via di sofa dan ia sudah menyiapkan satu porsi nasi hangat dengan sambal dan ayam goreng kesukaan Via.


"huek.. huek.. "


Via berlari kedalam kamar mandi. setelah keluar dari dalam kamar Via terlihat sangat lemas. karena terus mual


Andi terlihat sangat cemas hingga ia terus menemani Via di dalam kamar mandi untuk memijat-mijat tengkuknya.


"lo makan ya Vi, biar lo gak lemes"


"gue gak bisa Andi, waktu gue liat makananya tiba-tiba perut gue mual banget Ndi"


"gue gak kuat jalan Andi, gue tiduran aja bisa gue gak mu.. huek" dengan segera Andi membawa Via ke kamar mandi.


"kita ke klinik sekarang"


Tanpa menunggu jawaban dari Via, Andi segera membawa Via ke klinik dengan menggendongnya.


ketika Andi berjalan keluar kamar, Arga berada didepan kamarnya dan melihat Andi menggendong Via.


Arga segera menghampiri Andi yang tengah membawa Via didalam gendongannya.


"kalian mau kemana? "


"Via terus muntah tuan Arga, aku aman membawanya ke klinik"


"apa ini ada hubungannya dengan dia memakan durian? "


"tidak, dia mual dengan makanan yang sudah kupesan tuan Arga."


Andi segera membawa Via karena Via sudah semakin lemas karena terus memuntahkan isi perutnya.


sementara itu Arga memperhatikan Andi yang membawa Via ke klinik depan.

__ADS_1


"sepertinya Via sangat lemah, apa dia akan baik-baik saja? tapi untuk apa aku perhatian dengannya, saat ini yang harus kupikirkan untuk mendapatkan Lesya. bukan untuk mengurus pegawainya! " kemudian Arga kembali kedalam kamarnya.


_


Lesya menghabiskan semua pisang cokelatnya dalam waktu sekejap, hingga Saga mengukir senyum di wajahnya yang sempat tertekuk karena memikirkan tentang kasus Alden dan juga Dikta.


"aku dimana? "


Suara tersebut membuat Lesya dan Saga saling pandang. kemudian keduanya melihat bersamaan ke arah Yoo joon yang ada di samping Lesya.


"Saga, Joonie Saga"


"biar aku panggilkan dokter Sayang"


Selang beberapa saat Saga datang dengan bersama dengan dokter yang biasa nenangani Yoo joon.


Setelah Dokter memeriksa, dokter menyuruh suster untuk melepas beberapa alat medis yang sudah tidak di perlukan lagi. dokter juga menjelaskan bahwa lusa Yoo joon sudah di perbolehkan untuk pulang.


Usai dokter pergi meninggalkan ruangan, Lesya terlihat begitu bahagia dengan sadarnya Yoo joon hingga menitikkan air mata.


"Akhirnya kamu bangun Joonie" Lesya memegangi tangan Yoo joon dengan lembut.


dan saat itu Saga segera mendekat,dan terlihat Saga juga senang dengan sadarnya Yoo joon dari komanya.


_


Hari ini tepat Yoo joon di perbolehkan untuk pulang. Lesya bersikeras untuk mengajak Yoo joon tinggal bersamanya, namun Yoo joon menolaknya dan meminta Lesya untuk mengantarkannya ke rumahnya.


sesampainya di rumah, Yoo joon justru terlihat bingung dengan soso perempuan yang ada di dalam kamarnya.


"Sya, kamu tau siapa perempuan ini? kenapa fotonya ada dikamarku? "


Lesya menoleh dan melihat siapa yang di maksud oleh Yoo joon. sontak kedua matanya melebar dan seolah bertanya dengan Saga.


"tunggu sebentar Joonie, aku harus berbicara dengan suamiku"


Lesya lalu mengajak Saga untuk berbicara di ruangan tengah agar tidak terdengar oleh Yoo joon.


Saga dan Lesya masih terkesiap mengetahui bahwa Yoo joon tidak mengingat perempuan yang ada di dalam kamarnya, yang jelas-jelas dirinya sendirilah yang memasangnya.


"kita harus bagaimana Saga, apa tidak sebaiknya kita katakan yang sebenarnya? "


"sepertinya kita jangan memberitahunya dulu Lesya. mungkin saja benturan yang mengenai kepalanyalah yang membuatnya kehilangan sebagian memorinya. lebih baik besok kita bawa Yoo joon ke rumah sakit untuk memeriksanya tentang itu. aku khawatir jika kita mengatakannya, akan menganggu masa pemulihannya. "


"kamu benar Saga. toh sekarang perempuan itu sudah memilih laki-laki lain, dan itu akan bagus jika Joonie tidak mengingatnya."


.

__ADS_1


. bersambung


__ADS_2