
Saga menghampiri Lesya yang saat itu tengah menatapnya lekat dengan matabyang memerah. namun Lesya berusaha menahan airmata agar tak jatu daeu pelupuk matanya.
"Lesya, aku bisa jelaskan semuanya!"
"sayang.. ayo kita kesana, Rere ngajakin kita fotokan tadi" belum sempat Lesya membalas ucapan dari Saga, Liyora sudah terlebih dulu menarik Saga sembari mengukir senyum menyeringai kepada Lesya.
'itu perempuan yang ada di sekolah waktu itu bukan? ternyata Arvin menjalin hubungan dengan perempuan itu!'
Lesya berjalan menuju area parkir kendaraan dengan diikuti oleh Saka di belakangnya. Saka lalu meraih lengan Lesya dan mengehentikan langkah kaki Lesya tepat di sebelah mobil miliknya.
"tunggu Lesya, tenanglah! kamu harus mendengar penjelasan dari Saga!"
"tidak ada yang perlu dijelaskan kak, semuanya sudah jelas saat Arvin memberi bunga perempuan itu dan memujinya."
"setidaknya kamu dengar apa yang ingin Saga katakan Lesya. mungkin saja dia punya alasan lain sehingga memberi bunga untuk Liyora, wajar jika Saga masih mncintainya karna Liyora memang wanitanya sejak sebelum menikahimu Lesya!" Saka memang membujuk Lesya untuk mendengar alasan Saga, namun apa yang dia perbuat? dia justru semakin membuat hati Lesya terbakar. ya, memang itulah tujuannya.
"apa? dia menjalin hubungan dengan perempuan itu sebelum menikah denganku kak?"
"emm lebih tepatnya saat kalian menikah, hari itulah Saga menjadikan Liyora sebagai kekasihnya." Saka kembali membuay hati Lesya semakin meradang.
'bagaimana bisa sepeeti itu? kenapa aku tidak pernah tau Arvin dekat dengan wanita lain! yang aku tau dulu Arvin hanya mencintaiku, dan dia jarang-' Lesya tercekat saat tiba-tiba ia teringat akan hal sebelum kecelakaan
"arghhh" Lesya memegangi kepalanya yang berdenyut hebat merasakan sakit yang teramat sakit.
"Lesya, tenanglah. lebih baik kita pulang, kamu harus isirahat!" Saka merangkul Lesya untuk mendudukkan Lesya di jok depan, tepat disamping pengemudi.
"bukannya itu mba Lesya?" ucap Dikta yang baru saja turun dari mobilnya bersama dengan Alden.
Alden yang mendengar perkataan Dikta, ia segera mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang yang ia rindukan beberapa hari terakhir.
"mana Ta, mana calon istri gua?"
"itu Alden, lu liat sebelah kiri"
dan benar saja, Alden juga melihat Lesya yang tengah masuk dengan seseorang yang membantunya untuk memasuki mobil tersebut.
"bukannya itu kak Saka! kenapa Lesya pergi dengan kak Saka? dan kenapa dia bisa di tempat ini?"
"mana gua tau Al, lebih baik kita masuk. kita cari tau apa yang terjadi didalam. karna kelihatannya mba Lesya gak baik-baik aja" Dikta segera bergegas menuju ruangan dimana disitu menjadi pusat acara, begitupun dengan Alden yang ikut masuk.
Ketika Dikta dan Alden masuk, mereka mendapati Saga tengah menggandeng Liyora.
__ADS_1
"pasti itu alasan Lesya kaya tadi!" ucap Alden sembari menunjukkan kepada Dikta.
"eh tadi Saga sama Liyora romantis banget ya.." itulah selentingan yang terdengar di telinga Alden dan juga Dikta. karena merasa penasaran Alden bergabung dengan kerumunan dimana banyak perempuannya, ya memang itu yang sangat di gandrungi oleh Alden.
"hai semua.." ucap Alden basa basi..
"Hai Alden, kamu baru datang?" ucap salah satu teman sekelasnya.
"iya gua agak telat ni. emm iya tadi denger-denger kalian lagi ngomongin soal Saga, emang ada apa si tadi ?"
"oh tadi itu impian setiap gadis kali Al! Alden ngasih mawar Liyora didepan semua orang udah gitu pakek muji segala! siapa si cewe yang gak mau sosweetyn kaya gitu!"
"oh gitu, thanks ya udah di kasih tau. gua cabut dulu mau nemuin Rere, dsri tadi gua belum ketemu sama yang punya acara."
bukannya langsung menemui Rere, Alden justru menemui Dikta yang masih berdiri di tempat yang tadi, saat mereka masuk.
"lu dengerkan Ta tadi yang mereka bilang?"
"hemmm" Dikta mengangguk, dan kini netranya menghunus tajam kearah Saga yang saat itu tengah bercengkrama dengan Liyora dan beberapa temannya.
"gua heran sama Saga! apa si kurangnya Lesya? gua aja udah mau insaf, karna gua mau perjuangin Lesya setelah dia resmi cerai sama Saga. eh ini Saga yang udah jelas-jelas jadi suaminya, malah nyia-nyian dia! udah gitu sama Liyora? ratu drama!" Alden mengehembus nafas kasar "cantik si.. tapi kelakuannya bikin ilfeel."sambungnya lagi.
"gua mau ke rumah mba Lesya, lu mau disini atau ikut?" ucap Alden seraya berjalan menuju parkiran.
selang beberapa menit, Dikta dan Alden sampai di depan gerbang rumah Saga. saat itu Alden hendak turun dari mobil, namun Dikta menahannya lebih dulu. "jangan turun,kita lihat dari sini! kayanya itu mba Lesya lagi sama kak Saka!"
"gak, gua harus turun. gua mau keadaanya Lesya. selama ini kita tau kan dari cerita Saga,Ta. Lesya itu nganggep Saga pacarnya dulu, itu berarti saat ini Lesya sedang terluka. kalo Lesya sehat, kita gak perlu sekhawatir ini, tapi ini beda Ta. dia sedang rapuh."
Entah mendapat angin apa sehingga Alden bisa berpikir sematang ini. akhirnya Dikta dan Alden pun masuk menemui Lesya yang saat itu tengah memegangi kepalanya. tak lupa Saka masih merangkul Lesya untuk membantu Lesya berjalan.
"mba Lesya, kamu baik-baik ajakan?" tanya Alden yang membuat Lesya dan Saka menoleh bersamaan.
"iya Lesya, kamu gak pa-pa kan?" tambah Alden.
"kalian siapa?" tanya Lesya yang masih merasa pusing.
"oh kami sahabatnya Saga mba, mba Lesya jangan terpengaruh dengan kejadian tadi" ucap Dikta.
"tapi aku tidak mengenal kalian! dan kenapa kalian kesini, kenapa kian tidak ikut bersenang-senang dengan Arvin?" dada Lesya mendadsk sesak mengingat apa yang Saga lakukan disana dengan perempuan lain.
"lebih baik kalian pergi, ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu!" kali ink Saka yang angkat bicara.
__ADS_1
akhirnya Alden dan Dikta menuruti ucapan Saka. karna memang benar apa yang dikatakan oleh Saka, saat ini Lesya masih terluka. jadi bukan waktu yang tepat untuk membahsnya, karna itu sama saja menggores semakin dalam luka yang sudah ada.
sementara itu malam semakin larut, akhirnya Saga pulang dari acara tersebut. Saga perlahan membuka kenop pintu kamarnya dan menutupnya kembali. ia melihat Lesya yang tengah meringkuk di atas ranjang tanpa menyelimuti tubuhnya.
"maafin aku Lesya, aku sangat bersalah tadi. dan aku disana seperti tawanan yang tidak di izinkan pulang. dan bodohnya aku menuruti Liyora."
Flashback on_
"kalo kamu ngejar cewe tua itu6 besok pagi kami akan dapat kabar kematian aku!" ancam Liyora.
Saga tercekat mendengar ucapan Liyora. Saga ingin sekali mengejar Lesya, namun ia juga takut Liyora akan bertindak bodoh yang akan melukai dirinya sendiri.
Flashback off_
namun saat Saga menyibak rambut Lesya yang menutupi sebagian wajahnya, ia melihat keringat dingin keluar dari wajah Lesya.
"Lesya, apa kamu sakit?"
bahkan Lesya tidak menjawab pertanyaan dari Saga. Lesya justru seperti menahan sakit sehingga membuat wajahnya pucat pasi.
"Lesya, ada apa? " Saga mengguncang tubuh Lesya hingga akhirnya Lesya tersadar.
Lesya membuka kedua matanya, ia langsung mendorong Saga yang saat itu ada dihadapannya. "jangan sentuh aku Arvin, lebih baik kamu tidak memaksakan dirimu." ucap Lesya dengan suara yang bergetar.
"apa yang kamu bicarakan Lesya, suapa yang terpaksa? aku benar-benar tulus Lesya!"
"jangan katakan hal yang bahkam kamu tidak memahaminya Arvin! mungkin saja jika dulu kamu mengatakan hal ini, aku akan percaya! tapi setelah aku melihatmu tadi, aku tau akulah yang terlalu naif!" airmata Lesya mengalir deras.
"arghh..." lagi-lagi Lesya memegangi kepalanya. sekelabat bayangan-byangan suram membuat Lesya merasakan sakit dikepalanya.
hingga Lesya memejamkan kepalanya sesaat dan, "Saga.."
"tenag Lesya, tenangkan dirimu" Saga menarik paksa Lesya kedalam dekapannya. Saga memeluk Lesya posesif. hingga berontakan dari Lesya mulai berkurang. Saga berulang kali mencium puncuk kepala Lesya.
namun mata Saga membulat sempurna saat melihat cairan berwarna merah mengalir dari kaki bagian atas hingga bawah. "Lesya..."
.
.
.bersambung
__ADS_1
.