
Dikta duduk disamping tempat tidur didalam kamar milik Friska. disana ia memandangi wajah pucat Friska yang masih tertidur. Dikta merasa cemas karena Friska menolak untuk dirawat di rumah sakit, ia memilih untuk dirawat jalan.
Flasback on_
Friska terus memegangi perutnya, ia terus merintih kesakitan.
"sabar ya Fris, bentar lagi kita sampek rumah sakit"
"sakit Dikta.."
Dikta menggenggam tangan Friska, ia terlihat begitu cemas dengan Friska yang terus merintih kesakitan. ia terlihat sangat lemah hingga matanya yang mulai terpejam.
setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya Dikta membawa Friska kesebuah ruangan. cukup lama dokter menanganinya, hingga dokterpun keluar untuk meminta persetujuan terhadap Dikta.
"apa gak bisa diselamatin dengan cara lain dok? bukannya itu juga bisa membahayakan sang ibu? bisa saja ibunya syok kan dok?"
"jika bapak tau itu bahaya, harusnya bapak tidak membuat kekasih anda hamil saat kalian tau usianya yang sangat rentan untuk mengandung, kalian masih terlalu muda!" entah kenapa sang dokter justru berkata seperti itu, mungkin saja dokter mengira Dikta yang tengah membuat Friska mengandung.
sementara itu, entah apa yang ada dipikiran Dikta. ia justru melamun dan tak kunjung memberi jawaban kepada dokter.
"maaf bapak, bagaimana? apa sudah diputuskan?" tanya dokter kepada Dikta.
Dikta terlihat bingung, namun ia juga tidak lupa dengan apa yang sudah dokter katakan perihal keselamatan Friska.
'maaf Friska, mungkin lo bakal marah sama gue, tapi keputusan ini udah gue pikirin mateng-mateng' Dikta menghela nafas panjang ia lalu menatap dokter yang ada dihadapannya.
"lakukan yang terbaik dok, yang penting dia bisa selamat dok!"
"baiklah, bapak tolong tanda tangan!"
sang suster yang sudah membawa sebuah kertas lengkap dengan isinya, segera menyodorkan kepada Dikta. tanpa menunggu waktu lama, Dikta pun mengoreskan tinta di atas kertas sebagai tanda persetujuan.
-
perlahan netra Friska terbuka, ia memperhatikan disekelilingnya. terlihat asing dengan dinding putih, namun dia menangkap wajah yang tak asing baginya. jujur saja, wajah itu yang selalu ia rindukan dalam diamnya.
"Friska, lo udah sadar?"
"mmmhhh.." Friska mencoba untuk bangun, namun ia masih belum sanggup karena tindakan dari dokter membuatnya semakin tidak memiliki tenaga.
"Dikta.." lirih Friska, namun masih terdengar ditelinga Dikta.
__ADS_1
"ada apa, apa lo butuh sesuatu?"
Friska menggeleng pelan "aku hanya ingin tau bagaimana keadaanya?" Friska mengusap perutnya yang rata.
"tenang ya Friska, gue tau ini berat, tapi lo harus ikhlas karena.." mendadak tenggorokkan Dikta tercekat, ia merasa sangat berat untuk memberitahukan kepada Friska.
seolah tau kemana arah pembucaraan Dikta yang bahkan belum selesai, Friska menggeleng pelan dan tanpa ia sadari sebuah cairan terasa hangat di pipinya mulai menganak sungai.
"kenapa Dikta? kenapa bisa?"
"gue udah berusaha buat pertahanin dia, tapi.." Dikta meletakkan tangannya tepat di punggubg tangan Friska. "dokter bilang jika dia dipertahankan, itu bisa berbahaya buat lo Fris! karena usia lo yang masih sangat muda. jadi gue terpaksa menyetujui apa yang disarankan oleh dokter, jika saja gue masih kekeh mempertahankannya, itu bisa bikin lo dalam bahaya."
"tapi lo gak berhak renggut anak gue Dikta!" pekik Friska, meski keadaanya yang lemah iya terus berusaha mengeluarkan semua emosinya. "gue tau dia hadir dengan cara yang salah, tapi apa kita berhak merenggut kehidupan yang bahkan belum sempat merasakan dunia ini Dikta!"
Friska terisak dalam tangisnya. perasaan yang carut marut membuat dirinya lupa apa yang baru saja menyebabkan dirinya kehilangan calon anaknya. mungkin memang benar Dikta yang menyetujui perihal tentang bayinya yang harus di hilangkan. tapi penyebab yang sebenarnya adalah hal lain, namun itulah hati. hati yang terlalu terluka akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya bisa membuat orang itu lupa apa yang benar-benar melukainya.
"tenanglah Friska, lo gak boleh kaya gini! gue tau lo sedih, tapi lo juga harus ingat sama kesahatan lo! aapa lo gak khawatir sama nyokap lo? apa lo gak mikir apa yang vakal nyokapnlo alami jika anak satu-satunya terjadi sesuatu?"Dikta menggenggam erah tangan Friska, hingga Friska menyadari kesungguhan Dikta yang benar-benar mencemaskannya.
Friska menarik nafas dalam, ia memejamkan matanya sejenak. dan ketika ia membuka matanya, ia menyeka air matanya kasar dan menatap lekat manik mata Dikta. "gue mau pulang Dikta, gue gak mau dirawat!"
"gak bisa Fris, lo masih lemah dan butuh perawatan!"
"gue gak mau mama gue tau soal kenapa gue dirawat Dikta, itu sama aja gue bikin mama gue kecewa karna gue hamil diluar nikah" Friska tertunduk lesu. Friska memang sangat menyayangi ibunya, ia tidak ingin ibunya tau tentang kehamilannya yang akan membuat ibunya hancur.
Flashback off_
"Dikta" suara Friska akhirnya membuat Dikta sadar dari lamunannya.
"gue minta sama lo, jangan sampek mama gue tau soal ini!"
"lo tenang aja Friska, tadi waktu nyokap lo tanya gue bilang lo cuman kecapekan"
"terus dimana mama gue sekarang?" Friska mengedarkan pandangannya kesetiap sudut kamarnya, namun ia tidak menemukan sosok yang ia cari.
"mama lo tadi si bilangnya mau nemuin seseorang, dan dia nyuruh gue buat temenin lo" tutur Dikta.
"ini tanggal berapa Dikta?"
"tanggal 12, emang ada apa lo nanyain itu Fris?"
'astaga, hari ini mama pasti nemuin rentenir jahat itu. mana gue udah gak punya duwit, duwit dari Alden waktu itu belum cukup, terus mama mau bayar pakek apa hutang sama rentenir itu?'
__ADS_1
melihat Friska melamun, Dikta menggerakkan telapak tangannya di hadapan Friska.
"lo baik-baik aja kan Fris! apa lo ngerasain sesuatu?"
"huh.. enggak kok Ta! oh iya lo kalo mau pulang lo pulang aja, gue gak pa-pa kok. gue bisa urus diri gue!" meskioun masih lemah, Friska berusaha terlihat kuat dihadapan Dikta
"gu-"
tring..
saat Dikta hendak berbicara, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"iya halo ma"
"..."
"emm tadi mendadak ada tugas kelompok yang Dikta lupa kerjain ma, makanya ini Dikta masih di rumah temen bentar lagi pulang kok ma"
"...."
"iya ma pasti"
Dikta pun mengakhiri sambungan telfonnya dengan ibunya, ia lalu kembali menatap Friska yang saat itu juga tengah menatapnya.
"pulang aja Dikta gue udah baikan. gue tau nyokap lo khawatir karna lo dari tadi nemenin gue, dan lo gak kasih kabar"
"lo yakin Friska?"
"iya Dikta gue yakin. oh ya gue terimakasih lo udah mau urusin gue dan nolong gue"
Dikta tersenyum tipis kemudian memutuskan untuk segera kembali kerumahnya.
sementara itu, Friska kini tiba-tiba teringat dengan sosok yang tadi mengejarnya.
"siapa orang-orang itu? gue gak pernah bikin masalah sama mereka?" Friska berpikir keras hingga kepalanya terasa pusing, namun ia akhirnya teringat akan sesuatu.
"tadi orang itu minta gue bilang kalo anak itu bukan anak kak Saka! apa itu artinya..."
.
.bersambung
__ADS_1
.