
Saga memeluk mertuanya, ia begitu nyaman berada didekapan sang mertua.
"Saga akan buktiin kalo bukan Saga pelakunya ma!"
"mama harap kamu tidak akan mengecewakan kepercayaan mama sama kamu Saga."nyonya Guntara menatap dengan tatapan teduhnya.
"Saga akan buktikan ma, dan gak bakal bikin mama kecewa!" balas Saga meyakinkan.
"ya sudah, kamu istirahat dulu mama tinggal kekamar. semoga besok Lesya bisa lebih dewasa daripada hari ini ya sayang."
"iya ma, selamat malam ma" nyonya Guntara mengangguki ucapan Saga sembari mengukir senyum tipis di bibirnya .
Saga masih menatap kepergian Mertuanya hingga ia menutup pintu kamar dan kembali duduk ditepian Ranjang. Saga kemudian menyugar rambutnya keatas, hingga ia mengukir sedikit senyuman diwajahnya.
"gua baru sadar, gua beruntung nikahin Lesya. gua punya mertua yang sangat sayang sama gua, bahkan setelah gua cerita tentang Liyora, mama masih mau denger penjelasan gua dan mau nagasih kesempatan gua buat buktiin semuanya." Saga kini berbaring dan menatap langit-langit kamar yang temeram tanpa penerangan lampu utama.
"tapi, siapa sebenarnya yang hamilin Liyora?" Saga memijat keningnya yang terasa pening.
Sementara itu, Liyora begitu riang didalam kamar hotel yang ia tempati dengan seseorang. ia menuangkan anggur kedalam gelas kecil, satu untuknya dan satu untuk seseorang yang bersamanya.
"eits.. lo gak salah ngasih gue ini?" tanya seseorang yang heran melihat Liyora menyodorkan minuman.
"salah? maksud lo?"
"gue lagi bunting woe.. masa iya lo kasih gue alkohol kaya gini!" Liyora menepuk dahinya dan terkekeh menatap seseorang didepannya.
"astaga Friska, gue lupa! abis gue seneng banget, pasti sebentar lagi Saga bakal nikahin gue!"
"oke oke lo boleh seneng, tapi jangan lupa sama bayaran gue!"
"iya iya gue gak bakal lupa!" balas Liyora dengan tatapan ke arah jendela dengan memegang segelas anggur.
"kali aja lo lupa. yakan enak di elu Seret di gue! gue yang bunting lo yang di nikahin" kini Friska ikut terkekeh.
"eh tapi gue penasaran deh, siapa si bokap anak yang lo kandung Fris?" Liyora menatap penuh selidik kearah Friska.
"nanti ajalah, gue lagi milih!"
Liyora sontak membulatkan kedua matanya sempurna. ia tidak menyangka mempunyai teman yang sekonyol itu. "gila gila, ini beneran gila Friska! berapa cowo yang udah nidu*in lo, sampek lu mau milih segala?"
__ADS_1
"tidurnya si cuma sama satu cowo, tapi gue punya target buat gue jadiin suami gue nanti! atau bukan suami, tapi sebagai mesin ATM gue!"
"asli parah lo Fris, tapi gue makasih banget sama lo karna lo udah hamil. dengan begitu gue bisa bikin Saga balik ke gue lagi dan ninggalin cewe tua itu"
Liyora dan Friska kembali terkekeh bersama. mereka begitu menikmati kesenangannya diatas penderitaan banyak pihak.
💜💜
Malam sudah berganti pagi, Lesya membuka matanya yang sembab akibat menangis cukup lama. Lesya masih enggan turun dari tempat tidurnya, ia merasa tidak bertenaga.
namun saat itu juga seseorang masuk dengan nampan ditangannya yang bersisi semangkuk sup dan nasi lengkap dengan lauknya. senyum manis terukir dari wajah Saga dengan apron yang masih mengalung di lehernya.
Saga lalu meletakkan nampan diatas nakas, ia mendudukkan dirinya di samping Lesya yang masih berbalut selimut.
"sayang, kamu harus makan dulu."
"aku ti-"
"sstt.."Saga menempelkan telunjuknya dibibir Lesya "ingat, kamu baru saja melakukan kuretasi. aku mohon jangan tidak memperdulikan kesehatanmu hanya karna anak kecil brengs*k sepertiku. masih ada tempat yang harus dirawat demi calon anak kita nanti!" Saga mengelus perut rata Lesya dengan lembut.
mendengar ucapan Saga, Lesya merasa tertegun sekaligus ada rasa hangat di hatinya yang sempat membuat Lesya hampir luluh. namun Lesya kembali sadar akan yang menimpanya perihal Liyora yang mengaku tentang kehamilannya oleh Saga.
dengan cepat Saga memasukkan sesendok makanan kedalam mulut Lesya. meskipun cepat tapi tidak mengurangi kelembutan dari Saga yang penuh perhatian.
Lesya ingin menolak, namun ia enggan berhenti mengunyah. bisa diakui, masakan Saga memang selalu membuat lidahnya ingin terus mengulum makanan yang masuk kedalam mulutnya.
hingga suapan terakhir, Lesya tak bisa menghentikan kunyahannya.
"heeeeuuuuu'" tanpa Lesya rencanakan ia bersendawa dihadapan Saga.
Saga lalu mengukir senyum diwajahnya hingga pipi Lesya bersemu merah menahan rasa malunya.
"jangan malu sama suami sendiri" Saga semakin menggoda Lesya.
"jangan menggodaku terus Saga! aku masih marah sama kamu" Lesya mengerucutkan bibirnya. dan hal itu semakin membuat Saga gemas.
'syukurlah.. meskipun masih marah, tapi Lesya sudah mau berbicara denganku. bahkan dia sudah mau makan masakanku!' ada rasa lega dibenak Saga. namun ia masih memikirkan bagaimana cara untuk menemukan siapa ayah dari kandungan Liyora yang membuat hubunganya dengan Lesya bersitegang.
Setelah cukup tenang, Saga meraih tangan Lesya. Lesya terdiam sesaat setelah Saga meraih tangannya dan menatap lekat manik matanya yang berwarna kecoklatan.
__ADS_1
"tolong jangan menjauh Lesya. aku sedang berusaha membuktikan bahwa aku bukan ayah dari anak yang dikandung oleh Liyora."
Lesya menarik nafas dalam-dalam, ia mencoba mencari kebenaran dari kedua mata Saga yang terlihat begitu tulus mengucapkan kata-katanya terhadap Lesya "mungkin aku akan mudah mempercayai ucapanmu, jika saja.." Lesya sempat menghentikan ucapannya sembari seperti memikirkan akan sesuatu dalam benaknya.
"jika apa Lesya?" tanya Saga yang dibuat penasaran oleh Lesya.
"jika saja aku tidak mendengar perbincanganmu dengan Liyora kemarin. tapi sekarang berbeda Saga, aku pikir kamu bersikap baik belakangan ini hanya karna kamu mengasihaniku karna aku baru saja keguguran!"
"dengarkan aku Lesya, apa anakmu bukan anakku?"
Lesya membulatkan kedua matanya dan,"tentu saja anakmu! kamu pikir aku wanita seperti apa Saga?"
"jika memang kamu tau akulah ayahnya, itu berarti kesedihanku sama juga dengan kesedihan yang kamu rasakan Lesya. aku sangat merasa kehilangan atas kepergian anak kita, jadi jangan berpikir aku bersikap baik karna aku kasihan! aku justru semakin cinta sama kamu karna aku tau kamulah wanita yang tepat untuk menjadi ibu dari anak-anak kita kelak,bukan yang lainnya."sambung Saga panjang lebar.
Saga lalu menarik Lesya kedalam dekapannya. kepala Lesya masuk kedalam ceruk leher Saga yang khas wangi maskulin. "aku mohon percayalah, aku akan buktikan dia bukan anakku. dan mengenai obrolan aku dan Liyora, itu hanya aku ingin membuat Liyora lengah dengan rencananya sehingga dia tidak berbuat yang lebih diluar dugaan kita!"
Lesya mendongak menatap netra suaminya yang sangat meneduhkan "jadi maksudmu semua yang kamu katakan itu hanya sebuah rencana?"pertanyaan Lesya hanya dibalas dengan sebuah angguka dari Saga.
"darimana aku tau kalau itu bukan kebohonganmu untuk membela diri?" tambahnya lagi.
"jika aku berbohong tentu saja kamu tau Lesya! aku tau walaupun belum satu tahun kita menikah, kamu sudah bisa mengetahui saat aku berbohong atau tidak kan? dan apa kamu melihat kebohongan dimataku?"
dengan perlahan Lesya menggelangkan kepalanya. ia lalu kembali masuk kedalam pelukan Saga. "aku akan menunggu kamu membuktikannya Saga, tapi jika kamu terbukti mengkhianati pernikahan kita, aku tidak akan memaafkanmu! karna ini bukan pernikahan kontrak seperti dua bulan lalu!"
"siap bidadariku" Saga mengeratkan pelukannya dan kini Lesya telah membalasnya.
Disisi lain, Dikta dengan Alden bersiap untuk kembali pulang. pasalnya mereka berlibur hanya ingin ikut Saga dan Lesya. namun apa mau dikata jika orang yang mereka ikuti justru kembali lebih awal.
"Dikta, bukankah orang yang bersama Liyora itu adalah Friska?" mendengar ucapan Alden, Dikta segera menoleh kearah seseorang yang Alden maksud.
"ada apa Dia kesini? dan dia bersama Liyora?" sebuah pertanyaan muncul dibenak Dikta, pasalnya Liyora dan Friska bukanlah teman dekat sehingga bisa berlibur bersama.
Dikta meengerutkan dahinya saat melihat kedua gadis yang tertawa lepas, terlebih ia melihat sebuah minuman beralkohol ditangan Liyora, yang notabenenya sedang mengandung. yang seharusnya tidak ia konsumsi, itu bisa membuat kandungannya dalam bahaya.
'ini aneh!' itulah yang ada di benak Dikta.
.
.bersambung
__ADS_1
.