It'S Perfect

It'S Perfect
Perjamuan


__ADS_3

Hari ini Lesya bersama dengan Andi menghadiri sebuah pesta perjamuan disalah satu koleganya. namun pestabtidak diadakan didalam gedung melainkan disebuah tempa luar ruangan yang terletak didekat bibir pantai.


Lesya terlihat sangat berbeda dari hari biasanya sehingga berhasil membuat banyak orang berdecak kagum. memang dihari biasa Lesya hanya mengenakan atasan kemeja dengan blazer dengan bawahan rok ataupun celana namun masih terlihat modis. namun kali ini Lesya mengenakan dress seatas lutut dengan make up tipisnya selain terlihat modis, Lesya juga terlihat sangat menawan. bisa dikatakan Lesya selalu mengenakan pakaian sesuai tempat dan porsinya.


"Andi, apa ada masalah? aku lihat daei tadi kau terlihat seperti memikirkan sesuatu?"


"huh" Andi sedikit tersentak ketika Lesya bertanya padanya. "emm tidak bu, saya hanya berpikir seharuanya saya tidak ikut datang kesini. disini banyak sekali orang-orang penting, sedangkan saya hanya-"


"berhenti omong kosong Andi" potong Lesya. "jangan berpikir seperti itu Andi, jadikan ini kesempatan untuk kamu lebih mengenal siapa kolega atapun rekan-rekan kerja lainnya." sambungnya lagi.


Andi mengangguk dan tersenyum sembati menatap Lesya dengan lekat. 'kamu memang tidak pernah membedak-bedakan siapapun bu Lesya. dan hari ini kau benar-benar berhasil membuat perasaanku gusar. entah sampai kapan aku bisa menahannya? apa aku bisa menyembunyikan darimu bu Lesya? tapi aku sadar siapa aku, aku bukan siapa-siapa!' ditengah lamunannya; kehadiran seseorang membuat oerasaan Andi carut marut.


"selamat pagi mba istri.."


ya, kalian tentu tau siapa yang menyebut Lesya dengan sebutan itu kalau bukan suaminya, yaitu Saga.


Lesya memutar bola matanya dan bergegas pergi. namun Saga mencekal pergelangan tangan Lesya dan menariknya hingga Lesya berada semakin dekat dengan Saga, dengan tangannya yang melingkar dipinggang ramping Lesya, Saga terus mengikis jarak mereka.


bukan tahasia umum lagi jika Lesya adalah istri Saga. namun semua pun tau jika saat ini hubungan keduanya tidak baik-baik saja. dan karena hal itulah tidak sedikit pria yang mendekati Lesya, tetapi Lesya tidak pernah merespon kecuali untuk masalah pekerjaan.


"lepas Saga! disini banyak kolega dan rekan bisnis yang lain" lirih Lesya penuh penekanan


"mereka juga sudah tau kalau kita ini suami istri, Lesya. jadi kita tidak perlu sungkan"


Lesya terus meronta agar Saga melepasnya, namun Saga justru memlererat pengangannya. "mungkin mereka memang tau kita suami istri, tapi mereka juga tau kalau saat ini kita tidak berhubungan baik" ketus Lesya.


"oleh karena itu kita akan membuat image baru untuk hubungan kita sayang." Saga menarik ujung bibirnya membentuk tersenyum menyeringai. "kita buat image kalo kita ini pasangan yang ideal. kita ini pasangan yang perfect Lesya, kamu tidak bisa memungkiri itu!" Lagi-lagi ucapan Saga membuat Lesya jadi makin kesal.


"huh, lupakan soal itu Saga. dan kenapa kamu menghadiri acara ini? ini bukan bidang kamu Saga!"


"ah mba istri udah mulai ingin tau kegiatan suaminya ya?" Saga semakin menggoda Lesya.


"nggak juga! gak penting juga buat aku"


"gitu aja marah.. kalo marah mba istri tambah cantik lo!"


"Saga" Lesya menggeratkan giginya.


"sebenernya aku mewakili perusahaan Darmawan, karena kak Saka tidak bisa hadir."


'dan aku melakukan ini bukan benar-benar mewakili kak Saka, tapi karna aku ingin selalu dideket istri aku' batin Saga.


"lepaskan"


Dylan yang baru datang bersama dengan Yoo joon segera menarik Lesya hingga terlepas dari rengkuhan Saga. saat ini suasana menjadi panas, namun Lesya segera mengajak Dylan dan Yoo joon untuk berpindah tempat.


"Dylan, Yoo joon. lama kita tidak bertemu" sapa Saga.


"dan kami pun tidak ingin bertemu denganmu Saga!" ucap Dylan dengan datar. sementara itu Dylan terus menggenggam tangan Lesya, ia memang menjadi sangat protectif semenjak Saga meninggalkan Lesya. bukan tanpa alasan Dylan bersikap seperti itu, melainkan ia tidak ingin Lesya mengalami seperti apa yang dulu ia alami ketika Arvin meninggal.

__ADS_1


"hih, prngen aku jambak-jambak deh tu mantannya bang Arvin!" ketus Sharena yang memperhatikan dari jauh dengan ditemani Arga dan juga Doni.


"jaga bicara kamu Sharena. dan satu yang perlu kamu tau, Lesya bukanlah mantan bang Arvin. saat bang Arvin meninggal, ia masih sangat mencintai Lesya bahkan ia rela berkorban demi Lesya."


"bodo amatlah, yang jelas aku gak suka sama tu orang. sukanya tebar pesona kesana kemari buat menarik perhatian cowok-cowok. atau jangan-jangan bang Arvin juga tertarik lagi sama tu orang?" Sharena menatap Arga penuh selidik.


"kamu tidak oerlu mengurusiku Sharena. lebih baik kamu urus saja urusanmu sendiri"tukas Arga.


"hih nyebelin banget si bang Arga!" Sharena memutar vola matanya malas. "ya udah aku mau ngawasin cewek itu biar gak deketin teeus gebetan aku"


"siapa yang kamu maksud Sharena?"


"itu urusanku, bukan urusan bang Arga!" balas Sharena dan berlalu pergi.


"Don, menurut lo siapa cowok yang ditaksir sama Sharena?"


"kayaknya kalo gue perhatiin, sepupu lo itu suka sama Dylan." ucap Doni sembari menunjuk kemana arah Sharena melihat.


"Dylan?"


Arga terlihat tidak suka ketika Doni mengatakan hal itu.


"kenapa lo kelihatan gak suka Arga?"


"gue cuman khawatir kalo Dylan nolak Sharena. lo tau kan Don, Sharena itu masih kekanakan. sementara Dylan? Dylan seorang CEO yang cukup berpengaruh. dia tegas dan juga terkenal pemilih untuk masalah perempuan."


"cukup Doni" potong Arga dengan bola mata yang melotot.


"peace.." ucap Doni sembari mengangkat dia jarinya.


"Arga coba lo lihat Sharena, dia mau ngapain? kayaknya dia mau ngelakuin sesuatu sama Lesya" sontak Arga dan Doni berlari ke arah Sharena yang sudah bersiap mendorong Lesya yang berdiri didekat tebing yang berada dibibir pantai dan,


byur


_


pukul 06:30 pagi, seseorang hendak membuka pintu ruangan dari luar. Dikta yang menyadari hal itu, ia segera memakaikan kembali kemeja Alden.


"kenapa kalian baru datang?"


"maaf pak, kami memang biasa datang setiap jam segini pak."


"apa kalian tau, aku dan Alden terkurung semalaman karena pintu macet tidak bisa terbuka."


"ada apa ini pak Dikta?" tanya Dita yang bafu datang.


"aku dan Alden terkurung disini Dita, tapi itu tidak penting. aku harus membawa Alden ke ruanganku." dengan segera Dikta mengangkat tubuh Alden untuk ia bawa kekamarnya yang ada diruangannya.


"biar saya bantu pak Dikta"

__ADS_1


"tidak perlu Dita, lebih baik kamu urus restoran. sebentar lagi pengunjung akan datang." ucapan Dikta di angguki oleh Dita. ketika Dikta bergegas untuk naik ke ruangannya yang berada dilanti dua, Dikta memanggil Dita kembali.


"Dita, tolong kamu cari orang untuk memperbaiki pintu Chilled room agar tidak ada yang terjebak lagi didalamnya."


"siap boss" kini Dita benar-benar sudah meninggalkan Dikta yang masih menggendong Alden.


didalam kamar, Dikta terlihat sangat cemas. namun sesaat setelah ia memeriksa keadaan Alden, Dikta justru terkekeh. ia menyadari saat ini Alden tidaklah pingsan melainkan tertidur pulas dan sedikit mendengkur.


Dikta mengingat ketika ia didalam ruangan pendingin bersama dengan Alden.


_Flashback On


"Lepas Dikta, singkirin tangan lo dari baju gua!" lirih Alden yang terus meronta.


Alden memang sudsh lemas karena kedinginan. berbeda dengan Dikta yang mengenakan kaos dan juga jaket, sedangkan Alden hanya mengenakan kemeja tipis sehingga ia akan mudah kedinginan.


"jauhin tangan lu dari gua Ta" dengan sisa tenaganya Alden terus meronta, namun Dikta tidak menghiraukan ucapan Alden. ia justru melepas kancing kemeja hingga kini terlepas dari Alden. setelah melepas kemeja Alden, Dikta segera melepas jaket dan kemeja yang ia kenakan.


"lu ngapain Ta?"


Dikta langsung menarik Alden kedalam pelukannya. "udah lu diem Al, ini satu-satunya cara biar lu gak kedinginan." tegas Dikta.


"kita Dikta, bukan cuma aku yang kedinginan!" lirih Alden.


"iya iya kita, ya udah lu peluk gua erar biar lu gak pingsan gara-gara dingin"


"tapi Ta"


"udah lakuin yang gua suruh Alden!"


Akhirnya tanpa berdebat, Alden menuruti ucapan Dikta.


_Flashback Off


saat ini Dikta memilih untuk langsung mandi. setelah cukup lama ia mandi, ia mendapati Alden yang tidak ada didalam ruangan.


tok tok


"masuk"


"pak, pak Alden pak!"


"ada apa sama Alden?"


.


.bersambung


.

__ADS_1


__ADS_2