
"lu nyangka gak si Al, kak Saka? kak Saka hamilin Friska!" Dikta terduduk sembari memijat kepalanya yang terasa pening.
sejak Dikta mengetahui Saka ayah dari kandungan Friska, ia tak hentinya merasa seakan tidak percaya jika orang seperti Saka akan melakukan perbuatan yang sangat tercela.
"gua gak pernah si berpikir sejauh itu!"
entah kerena apa, sekelebat bayangan masalalu tentang Friska muncul begitu saja menguasai kepala Dikta. ia sangat ingat ketika ia pertama kali bertemu dengan Friska, ketika menjalani masa orientasi siswa saat smp.
Friska adalah gadis yang sangat ceria dan juga polos, Friska juga seorang gadis yang berani. Dikta langsung jatuh hati ketika Friska menolongnya dari gangguan kakak kelas yang saat itu ingin mengerjainya. dan dengan berani Friska memukul kakak kelasanya dan langsung menarik Dikta. saat itu Friska mengajaknya berlari dan bersembunyi di kantin sekolah yang begitu ramai lalu lalang siswa-siswi sekolah.
*tak
tak*
petikan jari seolah membuyarkan lamunan Dikta yang saat itu benar-benar tidak ingin ia lupakan.
"woe.. ngalamun aja lu Ta! lu kenapa, lu masih suka sama Friska mantan lo dari smp itu?" celetukan Alden berhasil membuat Dikta mengernyit.
"gak usah bahas soal itulah Al" Dikta menjeda ucapannya seraya merubah posisinya "gua cuman menyayangkan perubahan Friska Al. setau gua, dia dulu orangnya gak kaya gitu!"
"ya kali aja dia baik cuman dideket lu, kalo pas gak bareng lu emang lu tau kaya apa?"
'karna yang gua tau Friska itu cuman duit yang ada dikepalanya. untung aja tu anak bukan anak gua!'
"ya udahlah mending lu ikut gua, gua mau ke kantin, laper!" Titah Alden sembari berjalan keluar kelasnya.
[pagi hari di rumah keluarga Darmawan]
"mami gak habis pikir sama kamu Saka!" nyonya darmawan duduk di sofa didalam kamarnya. ia sengaja memanggil Saka untuk pergi kekamarnya, ia sengaja berbicara empat mata dengan putra sulungnya.
"apa yang membuat kamu seperti ini? mami kira kamu sangat mencintai istri kamu, karna saat itu kamu menolak menikahi Lesya demi Ella! tapi ini? ujung-ujungnya kamu berkhianat dengan menghamili Friska, yang masih seumuran adik kamu!" nyonya darmawan memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas dalam.
"kamu membuat mami kecewa Saka" sambungnya lagi.
"bukan gitu mi, bukan Saka yang hamilin perempuan itu!"
"entahlah Saka, mami udah gak bisa berpikir apa-apa lagi! dan sekarang lebih baik kamu pikirkan untuk tanggung jawab atas kehamilan Friska!"
'Huh, kenapa rencana yang harusnya bikin aku semakin dekat dengan tujuanku, justru malah jadi bumerang dan bikin semuanya hancur.'
tanpa megatakan apapun lagi, Saka pergi keluar meninggalkan ibunya dengan pikirannya yang kacau. Saka memutuskan untuk kembali kekamarnya, namun ketika ia sampai didalam kamar, ia mendapati Ella yang tengah duduk santai di dalam kamar dengan menikmati secangkir teh.
__ADS_1
Saka tidak habis pikir melihat tingkah istrinya yang justru sedang bersantai tanpa memikiriannya yang tengah kelimpungan untuk mengatasi Friska.
"bisa santai kamu ya Ella.. bukannya membantuku untuk meyakinkan mami sama papi!"
Ella justru terkekeh sembari menyeruout tehnya sesaat. "itu resiko kamu sayang, kamu yang bermain api kamu juga yang harus terbakar"
"bisa kamu berbicara seperti itu?!" Saka menarik lengan Ella hingga cangkir yang ada di tangannya terjatuh. tangan besarnya begitu kuat mencengkeram wajah Ella dengan kasar.
sang pemilik wajahpun mengerang kesakitan "lepas Saka!"
"kau pikir kau bisa bicara sembarangan seperti itu denganku? ingat, kau hidup dengan uangku dan jangan sekalipun kau lancang denganku!" Saka kemudian menghempaskan kasar wajah Ella.
"ahh... " Ella memegangi pipinya yang memerah "ingat Saka, meskipun begitu kau juga jangan lupa, aku tau rahasiamu yang ingin membuat hancur rumah tangga adikmu. dan aku bisa kapanpun membongkarnya"
plak
sebuah tamparan mendarat dipipi Ella, tanpa melihat keadaan Ella yang kesakitan akibat ulahnya, Saka pergi begitu saja meninggalkan Ella yang sedang meradang.
Saka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya tak henti memikirkan Lesya yang saat itu begitu terkejut saat mendengar pengakuan dari Friska tentang kehamilannya.
"aku harus membuat perhitungan dengan anak-anak itu!"Saka lagi-lagi menambah kecepatan kendaraannya agar lebih cepat sampai pada tempat tujuannya.
tut...
"aku didepan rumahmu, aku ingin bicara!"
Saka menunggu cukup lama hingga ia merasa pegal, dan akhirnya Saka memilih untuk duduk didalam mobilnya, hingga suara ketukan jendela mobil terdengar.
"masuk" titah Saka.
"aku akan memberimu sesuai yang kau minta asalkan kamu bisa mengurusnya."
"baik pak, saya akan mengurusnya asalkan anda mengirimkan uang kerekeningku!" orang tersebut menunjukkan nominal di layar ponselnya terhadap Saka.
dengan senyum sarkasnya, Saka segera mengirimkan uang senilai duaratus juta. dan orang yang ia ajak bertemupun segera keluar dari mobil Saka dan berlalu pergi.
"lihat saja Friska, aku akan membuatmu bungkam! dan Lesya tidak akan memandang jijik terhadapku, karna memang bukan aku yang menghamilinya! " Saka menyugar rambutnya keatas dan menatap lurus kedepan "tapi siapa laki-laki yang menghamili Friska.?"
-
"eh guys nongkrong yuk, udah lama kita gak nongkrong gegara urusan kemarin kan?" Alden merangkul kedua sahabatnya yang tengah berjalan ke area parkir.
__ADS_1
"gua gak bisa, gua ada janji sama istri gua!" sahut Saga.
"sama gua juga gak bisa, gua mau nganterin nyokap gua!"
"ah gak asik lu pada, dan buat lu Saga, inget gua gak akan tinggal diem kalo lu sampek nyakitin Lesya gua ya!"
"berani lu ngomong kaya gitu?" Saga spontan menarik kerah baju milik Alden.
"eits.. santai.. gua becanda kali" Saga pun segera melepas tangannya.
"lain kali kalo lu ngomong dipikir dulu, gua gak suka ada yang becandain soal mba Lesya gua" Saga menyunggingkan senyum smirknya dan segera melajukan mobilnya.
💜💜
siang itu ketika libur sekolah, Dikta harus pergi kesuatu tempat untuk mengantar ibunya menemui temannya. ia memang sangat menyayangi ibunya, karena ibunya adalah satu-satunya orang yang selalu ada untuknya setelah ayahnya pergi memilih wanita lain.
"sayang, nanti jangan lupa berhenti di mall situ ya mama mau beli sesuatu buat temen mama!" ucap Renita
"iya ma"
setelah beberapa saat Dikta benar mengantar ibunya kesebuah mall, namun ia memilih untuk menunggu ibunya di dalam mobil. Dikta tau ibunya bisa berbelanja hingga berjam-jam hingga ia memilih untuk menunggu di area parkir.
Dikta seketika membulatkan kedua matanya setelah melihat seseorang yang tengah berlari dan setelahnya, ia melihat dua orang berbadan kekar mengikutinya.
dan akhirnya Dikta ikut berlari dan membuntuti orang-oramg itu hingga jauh dari area Mall yang tadi ia datangi.
"dimana Friska? gue tadi liyat mereka ngejar Friska kesini" Dikta mengedarkan pandangannya namun ia tidak menemui siapapun.
brakk
Dikta berlari ke arah suara, dan ia menemukan Friska yang sudah terkapar dengar darah yang mengalir dikakinya.
"Friska!"
.
.bersambung
.
.
__ADS_1