
Kedua netra Dylan membulat sempurna ketika ia mendapat informasi dari orang kepercayaannya.
"ada apa Dylan?" tanya Yoo joon yang saat itu tengah menyiapkan berkas yang akan ia gunakan untuk melawan perusahaan milik tuan Darmawan.
"Friska diduga bun*h diri!"
bagai di hantam batu beton didadanya, Dylan merasa sesak. pasalnya ia sudah menganggap Friska seperti adiknya sendiri harus meninggal dengan cara yang sangat miris.
"nugu, yeojacingu?"
Dylan mengerutkan dahinya. meskipun ia tidak bisa lancar berbahasa korea, namun ia tahu arti dari ucapan Yoo joon karena ia sempat beberapa kali mendengar dari Lesya ketika mengejeknya yang belum memiliki pasangan.
"Yoo joon, aku percayakan urusan hari ini. aku tidak bisa menemanimu menemui Saka, aku harus pergi untuk melihat Friska!" Yoo joon mengangguki ucapan Dylan.
saat itu Dylan segera bergegas untuk ke lokasi dimana Friska ditemukan tidak bernyawa. Dylan dibuat kesal oleh padatnya jalanan yang dipenuhi oleh lalu lalang pengendara sehingga menyebabkan kemacetan.
setelah melajukan kendaraanya seperti keong selama dua jam, akhirnya Dylan bisa melajukan mobilnya cukup kencang karena sudah berhasil melewati kemacetan.
setelah ia tiba disekolahan tempat Friska menempuh pendidikan, ia berlari ketempat Friska menghembuskan nafas terakhirnya. Dylan bingung melihat semua pihak yang berwajib pergi begitu saja.
"tunggu pak.." Dylan menghe tikan petugas dari kepolisian.
"baik, ada. yang bisa saya bantu?" tanya sang polisi.
"kenapa semuanya pergi? kenapa tidak ada seorang pun yang menyelidiki tempat ini?"
"begini pak, karena tidak ada pihak keluarga yang bisa dihubungi, pihak sekolah tidak ingin kami melakukan penyelidikan lebih lanjut"
"kenapa bisa begitu pak?"
"karena korban melakukan tindakan yang negatif dan hal itu bisa berpengaruh kedepannya, maka dari itu, kami tidak berhak untuk menindak lanjuti!"
Dylan mengangguki ucapan dari pihak berwajib. dan saat semuanya telah meninggalkan lokasi, Dylan mecari-cari sesuatu yang ada ditempat itu. namun ia tidak menemukan apapun, ia hanya melihat seseorang petugas keberhisan yang hendak mengambil kotak sampah untuk membawa sampah-sampah ke truk sampah yang datang setiap beberapa kali ke sekolahan.
saat itu Dylan mengerutkan dahinya melihat petugas kebersihan mendekat kearahnya.
__ADS_1
"maaf pak, saya menemukan ini di tong sampah!" ucap sang petugas kebersihan dan menyodorkan sebuah ponsel dengan layar ponsel yang pecah.
"ini..?" Dylan mengingat-ingat sesuatu, kemudian Dylan mengingat sesuatu dan membuka lebar kedua matanya.
dan dengan segera Dylan meraih ponsel tersebut, sebelum ia meninggalkan tempat tersebut, Dylan memberi beberspa lembar uang seratusan ribu untuk petugas kebersihan.
"saya tidak meminta imbalan pak" sergag sang petugas kebersihan.
"tidap apa pak, anggap saja itu rezeki bapak. kalau begitu saya permisi, dan terima kasih bapak menemukan benda ini. ini sangat penting" Dylan kemudian benar-benar meninggalkan lokasi tersebut.
-
Dikta menyelimuti Alden yang tengah terlelap, saat ini Alden merasa terguncang dengan masalah yang datang bertubi-tubi.
'gua kasihan sama lu Al, lu itu biasanya penuh energi dan ceria. ya walaupun lu juga nyebelin, tapi sekarang lu justru kaya gini. dan Friska, gua yakin dia gak bun*h diri. gua harus selidiki ini semua karena gua lihat ada batu yang berdarah disana!'
mengingat tentang batu yang terdapat noda darah, Dikta segera bergegas untuk kelokasi dimana ia melihat batu tersebut. "lu istirahat Al, ada yang harus gua urus!"
Alden yang mendengar itu membuka kedua matanya "lu mau kemana Dikta?" lirih Alden.
"ada yang harus gua lakuin Alden, ini juga buat kebaikan kita semua!"
Alden mengernyitkan dahinya, ia belum bisa sepenuhnya mencerna ucapan Dikta yang menurutnya seperti teka teki yang sulit ia pecahkan dalam keadaan kacau seperti ini.
"apa yang sebenernya lu maksut Ta? jangan bikin gua bingung!"
"nanti setelah jelas semuanya, gua pasti kasih tau sama lu Al. yang penting sekarang lu istirahat, jaga diri lu. kalo lu butuh sesuatu, lu jangan sungkan hubungin gua!" Alden mengangguki ucapan Dikta.
"emm lu belum kasih tau soal Friska ke Saga Ta?"
Dikta menggelengkan kepalanya "semenjak semalem nomor Saga gak aktif. ya udah Al,lu istirahat. nanti gua balik bawa makanan buat lu."
Dikta melajukan mobilnya cukup kencang. saat itu ketika ia hampir sampai, ia melihat mobil yang ia kenal keluar dari sekolahannya. "kenapa dia kesini? apa dia juga mau menyelidiki soal Friska?!" akhirnya Dikta melanjutkan untuk masuk. saat itu sekolah sudah sangat sepi karena memang muridnya dipulangkan ketika terjadi insiden penemuan mayat.
namun disana masih tersisa beberapa guru, staf sekolahan dan petugas kebersihan. Dikta tidak memperdulikan keberadaan orang-orang tersebut dan langsung pergi menuju kebelakang sekolah.
__ADS_1
Dikta terheran ketika ia tidak menemukan garis polisi dilokasi tersebut. ia juga tidak menemukan keberadaan pihak yang berwajib berada di lokasi tersebut.
"kenapa tidak ada garis polisi? dan kenapa tidak ada polisi yang menyelidiki ini semua?"
"karna itu tidak perlu dilakukan!" sahut seorang guru yang berdiri dibelakang Dikta. seketika Dimta menoleh ke sumber suara yang membalas pertanyaannya.
"tapi kenapa pak? kita seharusnya menyelidiki ini sampai tuntas!"
"jika itu diselidiki, ini akan membuat anak-anak sekolah kita takut Dikta. dan itu tidak baik! selain itu Friska mati karna keinginannya sendiri, untuk apa kita susah-susah menyelidikinya."
"apa bapak sadar dengan ucapan bapak? apa bapak tidak memiliki nurani sehingga bapak berkaya seperti itu?" Dikta tidak menyangka ketika gurunya berkata demikian.
"jaga ucapan kamu Dikta, saya ini guru kamu. dan.kamu harus menghormati saya!" hardik sang guru. Guru itu pergi begitu saja meninggalkan Dikta yang masih mematung ditempat itu.
dan saat itu juga Dikta kembali melihat batu yang sempat ia lihat pagi tadi. dengan segera Dikta memungut batu itu, namun sebelum itu Dijta sudah membawa kaos tangan plastik dengan kantung plastik juga yang ia sedikan sebelum ia menuju tempat ini.
"gua yakin lo gak ngelakuin hal itu Friska!" Dikta memandang lurus kedepan, sorot matanya seperti sebuah pedang yang menghunus tajam.
sementara ditempat lain saat ini Yoo joon tengah membuat Saka tidak berkutik. beberapa saham di perusahaan Saka jatuh ditangannya karena kepintarannya. hal itu membuat Saka semakin kesal.
"baik, aku rasa pertemuan kita cukup hari ini tuan Saka. saya harus undur diri" ucap Yoo joon dan melenggang pergi.
ketika Yoo joon hendak keluar dari tempat ia meeting, ia menerima sebuah panggilan dari Dylan.
"jadi menurutmu gadia yang bernama Friska itu di bunuh?"
"..."
"yasudah, aku akan segera datang!" setelah memasukkan ponselnya di dalam saku jasnya, Yoo joon bergegas untuk menemui Dylan.
dan saat itu Saka tertegun mendemgar ucapan dari Yoo joon yang mengatakan pembunuhan Friska.
'siapa orangnya? apa selain aku, ada orang lain yang ingin dia lenyap?' batin Saka.
.
__ADS_1
.bersambung