
Dikta menatap lampu operasi yang masih berwarna merah. Kecemasan didalam hatinya semakin membuncah hingga akhirnya ia pun tak sanggup untuk duduk. Dikta bangkit sembari berdoa didepan pintu ruangan tempat Alden di operasi.
Drrtt Drrtt
Ponsel Dikta berdering, saat itu ia melihat nama ibu dari Alden yang menghubunginya yaitu bertuliskan tante Riana.
Saat itulah Dikta baru mengingat, kenapa orang tua Alden tidak ada yang menunggu Alden di rumah sakit. Dikta pun menggeser gagang telepon berwarna hijau untuk berbicara dengan ibu Alden.
"Iya halo tante"
"Halo kak Dikta. Tante mau nanya sama kamu, apa Alden sedang bersamamu? Karena sejak beberapa hari yang lalu tante nggak bisa menghubungi Alden maupun Dita. Ini tante sedang di luar kota" Jelasnya.
Saat itulah Dikta menyadari jika selain dirinya, Alden juga tidak memberitahukan tentang kondisinya kepada orang tuanya.
"Eum iya tante, Alden sedang.. " Dikta bingung harus mengatakan hal apa, sepertinya dia harus mengatakan yang sebenarnya. "Begini tante Riana, sebenarnya Alden ada di rumah-"
Mendadak ponsel Dikta di rebut oleh seseorang yang baru datang. Dengan dahi yang berkerut dan tatapan tajam, Dikta ingin memarahi orang tersebut. Tetapi emosinya mereda ketika melihat Lesya lah yang ada di hadapannya.
"Dengar Dikta, kamu harus merahasiakan ini dari tante Riana dan om Bian. Karena itu yang diminta oleh Alden" Liriknya sembari mengulurkan ponsel milik Dikta.
Dikta pun mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Lesya yang datang bersama dengan Saga.
"Maaf tante, tadi ponsel Dikta terjatuh"
"Oh iya gak papa Dikta, tante kira kamu kenapa. Oh ya, tadi kamu mau bilang apa Dikta? Alden di rumah siapa? " Sahutnya dari seberang telepon.
"Eum.. Ini Tan, Dita ngidam pengen ke rumah milik temen SMA nya yang dulu ada di dekat persawahan Jadi Alden nganterin dia kesana. dan mungkin karena mereka berdua disana, mereka tidak ingin di ganggu sekalian babymoon tante anaknya mereka susah dihubungi"
"Oh gitu ya, syukurlah kalo mereka baik-baik. Soalnya tante kepikiran sama Alden di sini"
"Alden nggak pa-pa kok tan, oh ya udah dulu ya tante. Ini Dikta lagi mau meeting tan"
"Iya kak Dikta. Makasih ya udah ngasih tau tante. Salam buat mama kamu ya"
"Iya tan, nanti Dikta samperin sama mama"
__ADS_1
Tut
Panggilan pun berakhir. Dikta kembali menunggu Alden yang masih belum keluar dari ruang operasi.
"Oh ya mba Lesya, kenapa Alden ngelarang buat ngasih tau tante Riana sama om Bian? "
"Kita juga nggak tau Dikta"
"Mungkin aja dia nggak mau orang-orang yang dia sayangi cemas, termasuk lo Ta" Sahut Saga yang berdiri di samping Lesya.
Dikta justru berdecak kesal ketika mendengar jawaban dari Saga. Ia merasa menjadi orang yang bodoh dan tidak berguna. Ia merasa sangat bersalah terhadap Alden ketika ia mengingat buruknya sikapnya beberapa hari terakhir.
-
Andi akhirnya mengikuti Via dan Doni masuk kedalam rumah. Ia duduk di sebuah sofa didekat Via.
Manik matanya gak henti memperhatikan Doni yang terus berbincang dengan Via. Sesuatu didalam hatinya terasa sesak. Entah mengapa Andi merasa keberatan jika Via tersenyum dengan Doni.
"Via, lebih baik kamu tidurkan Rea. Kasihan Rea, Rea akan lebih nyaman jika tidur di atas tempat tidur nh ya kan? "
Hari sudah semakin malam, saat itu Doni pun segera berpamitan. Sementara Andi, Andi terpaksa harus ikut pergi karena Via yang menyuruhnya untuk pergi dari rumahnya.
Doni sebenarnya kesal jika Andi berada di tengah mereka. Tetapi Doni tidak bisa melarang karena dirinya sendiri pun tidak mempunyai hubungan khusus selain teman ataupun partner kerja.
Doni yang merasa kesal pun mendatangi Arga yang saat ini tengah menikmati makan malam bersama dengan Sharena.
Mata Arga menyipit karena melihat Doni datang dan langsung berbaring di atas sofa sembari meletakkan tangannya untuk menutup matanya di ruang tengah yang berada di dekat meja makan.
Arga yang tidak biasa berbicara sambil makan segera menghabiskan makanannya dan datang menghampiri Doni sembari menyalakan televisi di hadapannya. Sementara Sharena yang tidak tertarik dengan pembicaraan kedua orang yang sangat gila kerja pun segera pergi ke dalam kamarnya.
"Ada apa Don, kenapa lo keliatan kusut setelah lo pergi tadi sore" Tanya Arga sembari menatap ke arah televisi yang sedang menayangkan acara sepak bola.
"Gue lagi kesal, gue nggak akan ngomong apapun" Balasnya yang masih tetap berbaring tanpa membuka matanya dan melihat Arga.
"Apa ini ada hubungannya sama kerjaan? Atau masalah yang lain"
__ADS_1
Karena tidak tahan, akhirnya Doni bangkit dan duduk. Doni membuang nafas berat dan menatap Arga yang ada di sofa lain.
"Asal lo tau Ga, gue kesel sama Andi."
"Kenapa lo kesel? "
"awalnya gue juga kesel sama lo Arga. Gue kira lo bakal nikahin Via karena dia ngelahirin anak lo. Dan sekarang gue malah kesel sama Andi. Karna apa? Karna Andi terus berada dideket Via meskipun mereka udah cerai"
"Jadi lo tadi ke rumah Via? "
Doni mengangguk dan bergegas pergi setelah bercerita kepada Arga.
"Kenapa Andi terus deket sama Via? Bukannya dia yang nyeraiinVia."
"Karna Andi masih suka" Sahut Doni sebelum dirinya benar-benar menghilang di balik pintu rumah Arga.
Tanpa Doni sadari, ucapannya berhasil membuat Arga meradang. entah apa yang membuat Arga marah. jika ditanya bukanlah Via wanita yang ia inginkan, melainkan Lesya karena Lesya adalah orang yang sangat dicintai mendiang kakaknya. bahkan Arga sudah bersumpah untuk mendapatkan Lesya demi kakaknya itu. apa semua itu akan kalah dengan hadirnya seorang bayi yang adalah darah dagingnya sendiri dari perempuan lain. sehingga Arga melupakan sumpahnya, dan sekarang akankah Arga mengejar Via yang sudah melahirkan seorang anak untuknya?
"Mana bisa kayak gitu, gue nggak akan biarin orang lain jadi ayah dari anak gue! "
Ketika Arga mengatakan hal itu seseorang diam-diam menyunggingkan senyumnya dari lantai atas. sebuah pikiran liarnya membuat ia menyusun rencana. bahkan Sharena tidak perduli jika harus mengorbankan kakak sepupunya hanya demi cintanya terhadap Dylan. yang bahkan tidak pernah melirik yang sama sekali.
"Ini kesempatan gue buat bikin Via deket sama bang Arga. Dan gue yakin Dylan bakal jadi milik gue" Liriknya dan kembali kedalam kamar.
"Aaaaaa"
Suara teriakan terdengar setelah Sharena kembali kedalam kamarnya. Arga yang mendengar itu segera berlari untuk melihat Sharena.
Brak
Kedua mata Arga membulat sempurna melihat kondisi Sharena saat ini.
.
.
__ADS_1
Bersambung