
Pagi itu sebelum ke kantor, Dylan pergi menemui Yoo joon yang tengah berada di apartemen miliknya. karena semenjak Lesya tidak tinggal dirumah Guntara, Yoo joon pun turut pergi dan memilih tinggak disebuah apartemen yang bisa dibilang mewah.
"Dylan, ada apa? jika ada masalah pekerjan kita bisa bahas itu nanti dikantor." ucap Yoo joon sembari mengancingkan lengan kemejanya.
"ada yang harus aku bahas selain masalah kantor"
Yoo joom mengangguk mengerti, lalu ia mempersilahkan Dylan untuk duduk. "sebenarnya apa yang mau kamu bahas sepagi ini?"
"aku curiga, kalau kematian Friska bukan karena perbuatannya sendiri" Dylan menyipitkan matanya sembari memikirkan sesuatu.
"apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"
"karna aku menemukan ponsel milik Friska tapi dalam keadaan hancur"
"coba aku lihat"
Dylan segera memberikan ponsel itu kepada Yoo joon. Yoo joon mengamati ponsel itu dengan teliti, ia mengotak atik namun ponsel masih belum bisa menyala.
"sepertinya kita harus membawa ke ahlinya, siapa tau kita bisa menemukan petunjuk tentang ini"
"itu juga yang aku pikirkan Yoo joon"
setelah membicarakan hal itu, Dylan dan Yoo joom bergegas untuk memperbaiki ponsel milik Friska. Dylan menanyakan banyak hal dan usai denganurusan ponsel, Dylan kembali kedalam mobil.
"bagaimana?" tanya Yoo joon sembari melajukan mobil yang ia kemudikan.
"masih ada kemungkinam ponsel itu bisa diperbaiki. tapi butuh waktu beberapa hari!"
"ya sudah, lebih baik kita sekarang kembali melanjutkan rencana hari ini. yaitu mendatangi perusahaan milik om Darmawan"
_
seperti biasa Lesya masuk kerja dengan diantar oleh Saga. namun baru saja Lesya memasuki gesung perusahaan, ia sudah dapat pemberitahuan bahwa dirinya ditunggu oleh Arga di ruangannya.
sedangkan saat itu Arga yang sudah berada didalam ruangannya, entah kenapa ia menjadi sedikit gugup. ia kembali teringat dengan mimpinya dengan Lesya.
klek
hendel pintu terbuka, ketika cahaya yang masuk dari luar ruangan terlihat siluet dari seorang perempuan yang bertuh proporsional mulai memasuki ruangan tersebut.
tap
__ADS_1
tap
tap
terdengar langkah kaki yang berjalan dengan begitu elegan mendekat kearah Arga. saat itu Arga berusaha memasang wajah sedatar mungkin.
entah kenapa, dimata Arga terlihat rambut Lesya yang terpapar angin sehingga meningkatkan level kecantikam dari seorang CEO perusahaan G.PRO CORPORATION yang kini menjadi asistennya dikantor miliknya.
"permisi pak, apa bapak memanggil saya?" saat itu Lesya menatap Arga yang sedikit tidak fokus.
"emm gue memerlukan berkas yang akan kita bahas hari ini!" ucap Arga sembari mengaruk dahinya yang tak gatal.
"baik pak, akan saya ambilkan!" kemudian Lesya meletakkan berkas yang diminta oleh Arga diatas meja.
akhirnya setelah berusaha keras, Arga bisa menstabilkan keadaan dirinya agar tidak terlalu terlihat guguo dihadapan Lesya.
waktu berjalan cukup cepat, hari ini Lesya dan Arga menemui klien disebuah restoran. setelah selesai mebahas urusan pekerjaan, mereka mengadakan makan bersama.
ketika Arga tengah asik menyantap makanannya, pandangannya berhenti disebuah noda makanan yang ada disudut bibir Lesya. saat itu bayangan tentang mimpinya mulai mnyeruak didalam pikirannya.
"ini gak bisa dibiarin!" Arga menggeleng.
"emm begini tuan, aku ada urusan, jadi aku harus segera pergi!"
"oh baiklah tuan Arga, senang bisa bekerja sama dengan anda!"
setelah itu Arga segera keluar dari restoran dan disusul oleh Lesya. Lesya yang duduk disebelah Arga, ia masih belum menyadari bahwa ada sisa makanan disudut bibirnya. disepanjang jalan hal itu terus menyita perhatian dari Arga. hingga suatu kejaidan terjadi,
shiiittt
tanpa diduga Doni mengerem mobil secara mendadak sehingga saat itu Arga terhuyung ke arah Lesya. pandangan mereka saling bertemu, saat itu tiba-tiba saja Arga menyentuh bibir Lesya dengan lembut. Lesya yang menyadari hal itu, ia segera mendorong Arga agar menjauh darinya.
"huh..." Arga terkekeh.
"lo gak perlu GR, gua lakuin itu cuman gua gak mau kalo sampek ada mitra kerja gua yang lihat asisten gua gak punya manner. udah dewasa makan pakek gelepotan lagi!" ucap Arga dengan nada mengejek.
"emm maaf Pak, saya tidak sadar kalau ada noda makanan di wajah saya!" Lesya membersihkan noda itu dengan tisu, dan setelah itu ia tidak tau jika Arga memperhatikannya ketika ia menggunakam indra perasanya untuk membersihkan sisanya yang masih ia rasa belum bersih.
glek
'sial, kenapa gue gak bisa ngalihin pandangan gue dari Lesya? inget Arga, lo itu mai bikin dia tersiksa karena ditinggal suaminya. bukan lo yang tersiksa lihat Lesya sama suaminya'
__ADS_1
sementara itu Doni yang sedaei tadi memperhatikan bos sekaligus sahabatnya dari kaca kecil yang ada dihadapannya, ia memgerutkan dahinya. ia sangay mengenal Arga. Doni bisa langsung tau jika ada keanehan yang dialami oleh Arga.
'ada apa sama Arga? apa ada sesuatu yang bahaya? aku rasa tidak! karna orang yang menyeramgnya waktu itu tidak mungkin gegabah dengan menyerangnya kembali. atau aku tanyakan saja kenapa dia seperti ini sekarang? ah jangan-jangan, Arga sangat tidak suka jika aku menanyakannya dihadapan orang lain.'
akhirnya setelah bermonolog didalam pikirannya, Doni kembali fokus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. namun di tengah perjalanan pulang, Arga meminta Doni menghentikam mobilnya.
"Don, belikan aku minuman dingin. hari ini sangay panas!"
"baik bos" Doni lalu keluar dari mobilnya dan peegi kesebuah mini market. ia memilihkan minuman dingin dengan rasa lemon yang menyegarkan.
"ada apa sama Arga? hari ini bahkan tidak terlalu panas! apa dia sakit? ah sudahlah yang helas ada yang aneh sama Arga hari ini!" setelah membayar minuman yang ia beli, ia kembali kedalam mobil selain memberikannya untuk Arga, ia juga memberi Lesya dengan rasa yang berbeda yaitu rasa strowberry. Doni memang sangat pintar jika memilihkan sesuatu untuk orang lain.
"terimakasih doni!" Doni hanya mengangguki ucapan Lesya.
Lesya yang juga merasa haus ia segera meminum minuman yang sudah dibeeikan oleh Doni.
"kenapa punya lo kelihatan lebih seger? lo minum ini, biar itu gue yang minum!"
"tapi bos itu udah saya-"
"udah gak usah ngelawan" tanpa persetujuan Lesya, Arga sudah mengambil minumannya dan menenggaknya habis.
"seger"
'bener-bener ada yang aneh sama Arga. biasanya dia paling anti kalo minum milik orang lain. apalagi ini sudah terkena langsung oleh bibir Lesya! atau jangan-jangan? ah gak mungkin, aku tau tujuan Arga. dia cuman mau balas dendam buat bang Arvin!'
kini Doni kembali melajukan mobilnya dan setelah menempuh waktu beberapa menit, ia tengaj sampai di rumah Lesya. saat itu Saga sudah berada diteras rumahnya dengan pakaian santainya.
Lesya yang sudah keluar daei mobil itu, ia segera menghampiri Saga. Saga melihat seseroang didalam mobil yang sedang memperhatikannya, ia segera menggamit pinggang Lesya dan mengecup bibirnya sekilas.
"Saga" Lesya merasa malu karna saat itu masih ada mobil bossnya didepan rumahnya.
"itu vitamin buat mba istri yang pastinya capek pulang dari kerja!" sahut Saga dan kini meraih pinggang istrinya dan ia mengajak Lesya masuk kerumah dengan mesra.
tanpa Arga Sadari, ia mengepalkan tangannya. namun kali ini Aega tidak tau, dia merasa kesal karena Lesya melupakan kakaknya, atau karena Lesya sudah menjadi milik pria lain.
.
.
.bersambung
__ADS_1